Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 25



Bug......


Arnold memukul dinding ruang kerjanya karena terus saja merasa pusing untuk semua masalah yang terjadi. Rumit, berkelit, dan seperti tumpukan kesalahpahaman yang terus menggunung, dan menghajarnya dari berbagai sisi. Bahkan, dia selalu saja merasa tidak leluasa melakukan apapun.


Waktu terus berjalan, tapi kebimbangannya juga masih berada di garis yang sama. Bukan tidak ingin mengakhiri perasaan yang terombang-ambing tidak berpendirian, hanya saja dia sudah terlalu dalam masuk kedalam jurang, ingin merangkak naik rasanya sudah sangat sulit. Tapi kalau dia diam dan menerima saja jurang itu menelannya, dia akan kehilangan hal berharga yang tidak akan bisa ia beli meskipun dia memberikan seluruh harta, bahkan nyawanya sekalipun. Iya, dia adalah Asha.


Asha hadir ditengah-tengah keterpurukannya, manjadi bintang indah yang membawa kebahagiaan dan menerangi hatinya yang gelap dan kosong. Tawanya, senyumnya, cara ia menatap dengan polos, cara dia manja, cara dia mengerti keadaan orang tuanya, semuanya terekam jelas di kepalanya.


Tapi kebimbangan tak berhenti sampai disitu, hatinya yang dulu acuh kepada Shen, perlahan-lahan tergerak tanpa sadar memperdulikan saat Shen mulai mengacuhkannya. Ditambah lagi, Shen mengalami kecelakaan, semua itu jelas dia ingat dan membuatnya tersadar seberapa besar luka hati yang dia torehkan kepada wanita yang juga adalah korban dari perjodohan para kakek mereka. Ingin menyerah dan membiarkan Shen memiliki pria lain agar dia bahagia, tapi hatinya juga tidak rela saat ada yang menggantikan posisinya, apalagi Asha harus menyebutnya Ayah juga. Lagi, dia begitu dilema karena kesalahan yang dia lakukan bersama Mona sudah sangat dalam, dia ingin mengakhiri segalanya, tapi semua itu tidak mudah juga untuknya.


" Bagaimana aku bisa bertahan dengan semua kekacuan yang aku buat sendiri? Bagaimana mengatasinya agar semuanya baik-baik saja? " Arnold menjambak rambutnya karena tidak tahan lagi dengan rasa pusing di kepalanya. Ini sudah pukul dua puluh satu malam, tapi dia masih berada di tempat kerjanya karena kebimbangan di hatinya terus menyiksanya tiada henti.


Tring....


Suara pesan masuk kembali terdengar setelah beberapa pesan yang dikirim Mona. Tapi kali ini Shen lah yang mengirimnya.


Arnold, kenapa belum pulang? Apa ada pekerjaan penting? Jangan lupa makan malam, kesehatan mu lebih penting dari apapun.


Arnold meletakkan ponselnya, dia menunduk dan mulai sesegukan. Rasanya begitu sakit menerima pesan dari Shen yang terus saja memperhatikannya, seolah itu semua menjadi tamparan keras akan kenyataan masa lalu, bahkan juga masa kini yang masih saja tak bisa membalas perhatian itu kepada Shen.


***


Setelah menemui Digo, Marisa kini kembali kerumah sakit untuk menjaga Mona agar dia tidak melakukan apapun lagi yang akan mencelakai dirinya. Sejenak dia melihat bagiamana keadaan kakaknya, tapi karena kakaknya sudah tidur, pikiran Marisa kembali melayang memikirkan ucapan Digo beberapa saat lalu.


Kecewa, dan juga malu dengan apa yang kakaknya lakukan. Padahal, dia dulu adalah wanita yang menjunjung tunggi harkat dan martabat sebagai seorang wanita, dan dia jugalah yang sering menasehati pentingnya menjaga diri dari pria brengsek diluar sana. Tapi apa ini? Orang yang selama ini dia anggap sebagai panutan, orang yang selama ini meraih banyak prestasi, bahkan namanya juga dikenal banyak orang karena prestasinya. Meskipun bukan dari keluarga kaya, nyatanya Mona adalah sosok yang membawa orang tua, serta adiknya menikmati indahnya hidup karena usahanya selama ini.


" Kakak, aku bisa gila memikirkannya. " Marisa mengusap wajahnya kasar. Dia ingin marah dan melampiaskan rasa kesal dan kecewanya, tapi dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan semua itu kepada kakak yang selama ini berjuang untuk memperbaiki ekonomi keluarganya. Tak menampik, Marisa juga menikmati itu semua.


Pagi hari.


Pagi yang cerah bagi sebagian banyak orang, tapi juga tidak untuk sebagian yang merasa harinya kacau. Seperti Mona, sedari bangun tidur dia sama sekali tidak bicara, dia mengabaikan Ibu dan Ayahnya yang terus membujuk agar Mona mau memakan sarapannya, tak henti-hentinya juga mereka menanyakan apa yang terjadi? Apa yang harus mereka bantu? Begitulah kebanyakan orang tua saat anak mereka dalam kegundahan.


" Mona, katakan kepada kami, nak. Apa yang harus kami lakukan agar kau kembali seperti dulu? Hati kami hancur melihatmu seperti ini. " Ibu Mona meraih tangan Mona, lalu menggenggamnya erat.


" Kalau begitu, bawa Arnold kemari, dan suruh dia untuk menikah denganku. " Mona menatap kedua netra Ibunya dengan tatapan yang seolah memaksa. Tidak ada air mata yang menetes dari bola matanya, hanya saja tatapan kosong tanpa hasrat kehidupan begitu menyiksa bagi seorang Ibu untuk melihatnya.


" Mona, laki-laki yang tidak mencintaimu mana mungkin bisa dipaksa untuk menikahi mu, nak? " Ibu Mona berucap sembari menyeka air matanya yang tak tertahankan.


" Dari mana Ibu tahu dia mencintaiku atau tidak? Dari awal dia memang tidak pernah membicarakan tentang cinta, tapi aku tahu dia nyaman dan menyukaiku! Jadi bawa dia kesini, dan suruh dia menikahiku! " Mona menepis tangan sang Ibu, matanya membelalak tajam seolah dia menyangkal tegas ucapan Ibunya yang dirasa tidak sejalan dengan pikirannya.


" Mona, "


" Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? " Ibu Mona menyeka air matanya karena bingung dan sedih dengan apa yang menimpa putri pertamanya itu.


" Ayah akan menemui pria bernama Arnold itu. " Ujar Ayahnya Mona.


" Jangan! " Marisa memekik tidak setuju begitu mendengar ucapan sang Ayah. Dengan nafas yang memburu dia meletakkan tiga boks makanan ke tempat duduk yang tak jauh dari sang Ayah.


" Ayah tidak boleh menemui, Arnold! "


Ayah dan Ibunya Mona mengeryit bingung.


" Kenapa? Kalau tidak menemuinya, bagaimana dengan kakak mu? "


Marisa menghela nafasnya, sepertinya memang tidak mungkin untuk tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tuanya kalau situasinya seperti ini.


" Ayah, Ibu, Arnold itu sudah memiliki anak dan istri. "


Ucapan Marisa barusan benar-benar membuat dada kedua orang tuanya sesak. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa putri yang selama ini mereka bangga-banggakan akan melakukan hal semacam ini?


" Tidak mungkin, tidak mungkin Mona melakukan hal rendah semacam itu. " Ibu bangkit laku mencengkram kuat kedua pundak Marisa dengan tatapan menuntut.


" Kau bohong kan?! Kau sedang bercanda kan?! "


" Ibu, apakah aku terlihat bercanda? "


Ibu melepaskan pundak Marisa sembari menggeleng karena dia tidak mau mempercayai itu.


" Kalau kau yang melakukan itu, mungkin Ibu bisa percaya! Tapi kalau Mona, itu tentu saja tidak mungkin! "


Deg...


Marisa menatap kecewa tanpa bisa berkata-kata lagi. Iya, dia sadar bahwa dia tidak se-pandai kakaknya, dia tahu kalau dia tidak sehebat kakaknya, tapi kenapa perbedaan kepercayaan, kasih sayang, begitu berbeda hanya karena dia belum bisa menghasilkan uang seperti Mona.


" Ibu, terserah apapun yang ingin Ibu lakukan. Lakukan saja sesuka hati Ibu, dan aku doakan agar Ibu tidak membuat keputusan yang salah. " Marisa berjalan menjauh dari kedua orang tuanya, sudah cukup! Percuma saja apapun yang dia lakukan tidak akan pernah berarti di mata Ibunya.


" Apa yang kau lakukan? Kau sudah menyakiti hati Marisa dengan begitu dalam, kau sangat tidak bisa berpikir dengan jernih. " Ayah mengusap wajahnya yang kusut tak berdaya.


Bersambung.......