Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 32



Ibunya Mona tertunduk bingung karena tak tahu apa yang harus dia katakan terhadap seorang wanita yang kini duduk diseberang meja.


Dia tahu benar jika apa yang akan dia katakan adalah hal yang jelas akan menyakiti hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah seharian dia mencoba untuk bertemu Arnold, tapi pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan mengabaikannya yang sudah menunggu sedari pagi di kantor.


Sejenak tak ada yang bisa ia katakan selain diam dan memikirkan bagaimana caranya menyampaikan maksud memalukan itu.


Apalagi saat melihat wanita di seberang meja yang tak lain adalah Shen, dia bisa dengan jelas melihat bahwa Shen bukanlah orang yang mudah untuk dibujuk. Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah cara yang bisa ia lakukan setelah tak berhasil menemui Arnold, maka dia terpaksa menghubungi Shen, lalu meminta untuk bertemu karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan secara langsung.


" Kira-kira, berapa lama lagi anda akan diam? Ini sudah semakin malam, saya harus menjemput putri saya yang saya titipkan dirumah orang tua saya, dan segera kembali ke rumah suami saya. Kalau anda mengajak saya bertemu hanya untuk diam, anda benar-benar sudah membuang waktu berharga saya. " Ujar Shen dengan tatapan datar meski dia merasakan sebal karena sedari tadi, dia hanya bisa menatap wanita paruh baya di hadapannya yang terus saja menunduk.


Dengan gugup Ibunya Mona menegakkan pandangan meski terlihat rasa tidak percaya diri dari wajahnya. Tangannya yang dingin itu memegang erat tentengan tasnya, dan mencoba memberanikan diri demi putrinya.


" Be begini, Nona Shen. Putriku, Mona, dia dalam keadaan yang sangat menyedihkan karena frustasi dengan cintanya. Dia mengatakan bahwa, dia dan juga suami anda saling jatuh cinta. Putri saya sungguh frustasi, dan mengancam untuk bunuh diri lagi kalau tidak bisa menikah dengan Arnold. "


Shen menghela nafas. Bibirnya tersenyum tipis seolah mentertawakan Mona yang semakin gila dengan rasa cintanya yang tidak bisa dia atasi.


" Lalu? " Shen menatap Ibunya Mona dengan tatapan yang seolah menekan agar mengatakan apa maksud sebenarnya.


Meski dia tahu memalukan, tapi semua ini juga terpaksa dilakukan agar putrinya tidak mencelakai dirinya, maka buang saja harga diri yang tidak sepenting putrinya.


" Nona Shen, bolehkah putriku menjadi istri kedua suamimu? "


" Pft..... " Shen menutup mulutnya yang akan tertawa lepas. Sejenak dia memperbaiki posisi duduk, menyibakkan rambut yang terurai panjang dan indah, lalu menatap kedua bola mata wanita paruh baya yang begitu merendahkan harga dirinya hanya untuk seorang putri yang mengedepankan egonya saja hingga tidak perduli bagaimana Ibunya mengemis memalukan seperti ini.


" Ini pertanyaan, atau permintaan sebenarnya? " Shen menyunggingkan senyumnya.


Ibunya Mona nampak gelisah karena dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana dan mengatakan apa.


" Dengar, Nyonya. Arnold bukanlah milikku seorang, dia juga adalah milik putriku. Sama sepertimu, aku juga seorang Ibu yang akan memperjuangkan apa yang putriku miliki. "


" Nona Shen, aku tahu ini sangat tidak pantas. Sungguh aku hanya ingin putriku bahagia dan tidak menyakiti dirinya lagi, aku tersiksa melihat putriku menderita. " Ibunya Mona tertunduk pilu karena tak kuasa menahan sedih mengingat bagaimana Mona beberapa hari terakhir yang begitu murung.


" Ternyata, anda dan juga putri anda sama saja ya? "


Ibunya Mona menegakkan pandangan menatap Shen dengan artian untuk menanyakan maksud ucapan Shen barusan.


" Demi ego putrimu, kau bahkan tidak perduli berapa banyak hati yang akan terluka, demi keinginan tidak masuk akal putrimu, kau mengabaikan perasaan sepasang Ibu dan anak, dan keluargaku juga. Nyonya, yang dimiliki oleh seorang wanita hanyalah sebuah kehormatan, jika putrimu saja tidak menghormati dirinya sendiri hingga meminta Ibunya untuk memelas menyodorkan dirinya agar menjadi istri kedua, lalu bagaimana orang lain akan melihatnya? "


Ibunya Mona terisak pilu.


" Aku tahu, Nona Shen. Tapi aku hanyalah seorang Ibu yang tidak tahan melihat putrinya menderita. "


" Nyonya, anda memohon hal seperti ini, apakah anda sama sekali tidak perduli dengan harga diri putri anda dan juga keluarga anda? Nyonya, aku paham kau mencintai putri anda. Tetapi, cinta yang membuat seseorang menjadi bodoh, pada akhirnya akan membuat hidup menderita. Aku mengatakan itu karena aku mengalaminya, jadi pikirkan baik-baik semua ucapan ku. Saya permisi! " Shen bangkit, meraih tasnya dan berjalan meninggalkan Ibunya Mona yang menangis pilu disana.


Tak jauh dari meja mereka, seorang pria kini tengah melepas kaca mata hitamnya. Iya, dia adalah Damien sang penguntit yang akan mengekor kemana Shen pergi.


Shen, kau pasti menderita dengan hidup yang seperti ini. Tapi kenapa kau masih saja bertahan? apa karena cinta bodoh mu?


Damien bangkit dan keluar dari kafe itu, lalu berjalan keluar menuju parkiran.


Setelah menjemput Asha dari rumah orang tuanya, tak berapa lama Mereka kini telah sampai di rumah Arnold. Susananya masih sama, sepi. Apalagi semenjak Anya sering keluar malam dan menginap entah dimana, rumah itu jadi semakin sepi.


" Shen, kita bicara sebentar ya? " Ucap Ibu Resa yang sepertinya sudah menunggu kepulangan Shen di ruang tengah.


" Iya. " Jawab Shen.


" Asha, pergi duluan ke kamar ya? " Pinta Shen, lalu datanglah seorang pelayan yang Shen minta untuk mengantarkan putrinya sampai ke kamar.


Shen menatap gelagat Ibu mertuanya yang tidak biasa, tali sudahlah! Hal mengejutkan apa sih yang belum dia alami selama berada di rumah itu? Shen kini sudah berada di posisi duduk berhadapan dengan Ibu mertuanya.


" Apa yang ingin Ibu mertua katakan? "


Ibu Resa meletakkan secangkir teh hijau yang baru saja ia seruput.


" Shen, siang tadi Ibunya Mona menghubungi Ibu. Dia menceritakan keadaan Mona yang buruk belakangan ini, dan juga bagaimana Mona terus mengancam ingin mengakhiri hidupnya. Dia meminta agar menikahinya, dan tidak masalah kalau harus menjadi istri kedua. Bagaimana menurutmu? "


Shen menyunggingkan senyumnya. Ternyata usaha Ibunya Mona cukup keras juga ya? Batin Shen.


" Ibu, kita sama-sama adalah seorang perempuan dan juga seorang Ibu. Aku yakin Ibu tahu apa yang akan aku katakan, tapi jika Ibu bersikeras, dan juga Arnold tidak menolak, maka aku bisa apa? "


Karena kalau semua itu terjadi, maka kalian semua adalah sampah yang harus aku injak-injak dan membuang ke tempatnya.


" Ibu akan bicarakan ini dengan Arnold. "


Shen terdiam dengan tatapan dingin.


Lihat saja apa yang akan terjadi nanti.


Bersambung......