
" Happy birthday to you... " Nyanyian untuk memperingati hari lahir itu terdengar riang dan indah, tawa bahagia terpancar dari wajah anak-anak yang menghadiri acara ulang tahun Asha. Bahagia juga nampak dari wajah Asha yang terus tersenyum meski beberapa saat sebelum acara berlangsung dia terus menanyakan apakah Ibunya akan datang kepada Arnold dan keluarga Shen.
Setelah Nyanyian itu selesai, semua teman-teman Asha mulai menyerahkan hadiah dari mereka, dan ternyata ada satu hadiah lagi yang dikirim ke rumah itu sebagai hadiah ulang tahun untuk memperingati hari lahir Asha.
" Siapa yang mengirim hadiah ini? " Tanya Ibu Lean dengan dahi yang mengeryit bingung.
" Tidak tahu, bu. Tidak ada keterangan siapa pemiliknya, hanya saja ini ditujukan untuk Asha. "
" Nenek, mungkinkah itu dari Ibu? " Tanya Asha dengan wajah sumringahnya.
" Ibu? " Teo, Ayah Gani dan Ibu Lean kompak mengeryit bingung. Mungkinkah?
" Buka saja Nek, kek, dan paman! Biarkan teman-temanku lihat, Ibuku mengirim hadiah untukku. " Pinta Asha yang mendapati usapan lembut di kepalanya oleh sang Ayah.
" Ok, tuan putri! " Jawab Teo sembari membuat sebuah bulatan dengan jari telunjuk dan jempolnya.
Dengan cepat Teo mulai membuka pembungkus itu karena Asha terlihat tidak sabar. Tapi bagaimana terkejutnya mereka begitu melihat hadiah ulang tahun itu. Photo Asha yang berukuran besar di siram dengan cat minyak berwarna merah darah, dan bertuliskan ' you must die! '
" Ayah! "
Arnold segera meraih tubuh Asha, menggendongnya dan membuat Asha membelakangi photonya itu. Sekencang mungkin Asha menangis karena takut, dan sebagai seorang Ayah Arnold hanya bisa menenangkan putrinya sembari menahan marah yang luar biasa tak terbendung.
" Buang! " Pinta Ibu Lean yang juga terkejut dengan isi dari hadiah itu.
Tak jauh dari mereka, Mona yang sedari tadi berdiri bersama Ibu Resa dan Anya, kini tersenyum tipis dan nyaris tak terlihat. Dia hanya bisa menyembunyikan kebahagian itu sendiri selagi semua orang terkejut karena ulahnya. Huh... Baginya indah sekali pemandangan saat Asha menangis histeris seperti sekarang ini.
" Siapa yang berani membuat putri Ibu menagis seperti ini? "
Deg........
Suara tangis Asha sontak berhenti di barengi tatapan kaget semua orang yang kini menoleh ke arahnya. Tak terkecuali Mona, Ibu Resa, dan Anya yang menatapnya kaget hingga tanpa sadar terperangah.
Perlahan Asha menoleh ke arah sumber suara, meski sejujurnya dia sangat hafal bahwa itu suara Ibunya, tapi dia juga takut untuk banyak berharap.
" Ibu....! " Teriak Asha, lalu melorot dari gendongan sang Ayah, dan berlari menuju Shen yang kini sudah merentangkan tangan menyambut sang buah hati yang berlari ke arahnya.
Iya, meski penampilan Shen sangat jauh berbeda, tapi karena Asha selalu melakukan panggilan video dengan Ibunya, tentu saja tidak sulit baginya untuk mengenali Ibunya.
" Shen? " Ibu Lean menutup mulutnya yang tidak tahan menyembunyikan kebahagiaan atas kembalinya sang putri. Begitu juga dengan Ayah Gani, dan juga Teo. Rasanya dia begitu bahagia hingga tidak tahu harus bagaimana selain meneteskan air mata haru.
" I missing you so much, my Queen. " Shen menangkup wajah Asha, berkali-kali memberikan kecupan di pipi, hidung, mata, dahi juga bibirnya. Sudah delapan bulan, dan itu terasa seperti delapan abad bagi seorang Ibu yang tidak bertemu langsung dengan putrinya.
" Aku juga! Aku merindukan Ibu, setiap hari. " Shen terkekeh lalu kembali mendekap sang putri.
Tak lama Teo, Ibu Lean, dan juga Ayah Gani ikut memeluk mengelilingi mereka dengan perasaan bahagia yang luar biasa.
Semoga setelah ini kau bisa mendapatkan laki-laki yang mencintaimu, dan menjagamu, serta memberikan banyak kebahagiaan, Shen. Terimakasih karena sudah melahirkan Asha, dan menjadi Ibu yang baik untuknya.
Arnold tersenyum melihat bagaimana keluarga Shen bahagia atas kembalinya Shen ke keluarganya.
" Sekarang Shen sudah kembali, persiapkan surat cerai yang tertunda itu. " Entah sejak kapan, tapi kehadiran Digo beserta ucapannya sukses membuat Arnold mati kutu. Benar, sudah selama ini dia menunda untuk kembali mengajukan perceraian, tapi saat mengingatnya itu juga cukup membuatnya dilema. Dia takut Shen akan mengalami hal yang sama seperti dulu.
" Tidak perlu merasa bersalah, Shen yang sekarang tidak selemah Shen yang dulu. Mendapat surat perceraian lagi tentu tidak akan membuatnya hilang akal seperti saat itu. " Timpal Digo yang sama sekali tidak sudi menatap Arnold dan memilih menatap anggota keluarganya yang masih saling memeluk melepaskan rindu.
" Aku akan membicarakan ini dengan Shen nanti, tolong bersabarlah. " Ucap Arnold yang tentu tidak memiliki pilihan lain selain kembali membahas soal perceraian dengan Shen setelah apa yang terjadi di antara mereka.
" Bergegaslah, aku tidak memiliki banyak kesabaran seperti Shen. "
Mona mengepalkan tangannya kuat karena marah. Iya, marah! Marah sekali hingga tidak sadar telah mengigit bibir bawahnya dengan kuat. Rasanya sudah gila saat dia melihat bagaimana penampilan Shen saat ini, hatinya mulai tak tenang dengan sejuta pertanyaan yang entah dimana dia akan mendapatkan jawaban.
Bagaimana bisa Shen kembali dengan tubuh yang begitu proporsional? Bagaimana bisa Shen berubah menjadi sangat cantik? Bagaimana bisa dia menjadi begitu stylish setelah penampilan anehnya selama ini? Bagaimana bisa? Semua pertanyaan itu hanya bisa tertahan di dalam hati, dan menumpuk kekesalan serta iri hati yang tak terbendung.
Tidak boleh! Shen jelek dan gendut saja sudah bisa membuat Arnold berubah. Aku harus segera bertindak, kalau tidak, aku benar-benar akan kehilangan Arnold.
Setelah cukup puas berpelukan bersama dengan keluarga, kini Shen mulai memperhatikan sekitar, dia melihat Arnold yang masih terdiam seperti tak berniat menghampirinya. Tatapan mata Shen kini kembali mengedar mencari seseorang, dan iya! Mona adalah orang yang dia cari.
Jadi karena dia kau tidak menghampiriku?
Shen menoleh ke arah hadiah yang tadi membuat anaknya menangis, lalu dia menatap ke arah Mona yamg terlihat sangat kesal.
Shen kini tahu siapa pengirim itu setelah sebentar memikirkannya. Dia tersenyum tipis dengan tatapan yang tidak biasa.
Kau salah karena mengusik anak seekor singa. Sekarang lihatlah bagaimana singa betina ini akan memberimu pelajaran.
Shen kini mengalihkan pandangan menatap Arnold, dia tersenyum lalu berjalan cepat menghampiri pria yang selama ini dia rindukan.
Grep....
Shen memeluk Arnold erat, tak hanya sampai disitu, Shen juga mengecup singkat bibir Arnold.
" Aku merindukan mu. " Ucapnya lalu kembali tersenyum.
Arnold terdiam dengan dahi mengeryit. Sementara Mona, wanita itu mencengkram kuat jemarinya hingga kuku panjangnya menusuk dan mengeluarkan darah segar dari telapak tangannya.
Aku benar-benar membencimu, Shen.
Bersambung.......