Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 38



Pagi hari, pagi yang mengawali hari dengan berbagai kegiatan manusia, juga mahluk hidup lainnya.


Berbeda dengan pagi sebelumnya, Shen terbangun, membuka mata, dan yang ia lihat adalah Arnold. Iya, pria itu tak keluar dari kamarnya setelah dia mendapatkan yang dia inginkan. Sungguh itu sangat tidak biasa, tapi juga tidak bisa menolaknya.


Shen menatap wajah Arnold yang masih terpejam dengan tenang. Benaknya mulai mengingat hari-hari dimana dia menghabiskan waktu untuk menarik perhatian Arnold, mencoba merayunya dengan berbagai cara, memakai gaun cerah merekah sesuai anjuran Anya yang ternyata adalah pembohongan. Memakai make up tebal, membuat rambut lurusnya keriting tak beraturan, bahkan dia selalu menggunakan parfum yang baunya menyengat. Sungguh bodoh! Tapi untunglah semua masa lalu menyedihkan itu sudah berlalu, dan pria yang dulu ia kejar, kini berbalik mengejarnya.


Bahagia? Tentu saja, Tidak! Bagi Shen, rasa yang ada pada Arnold hanyalah karena bagaimana dirinya saat ini. Boleh tersenyum, boleh terlihat manis, tapi semua itu hanyalah kedok untuk menutupi seberapa besar rasa dendam yang menggebu menguasai hatinya. Sebenarnya dia dulu sangat mengidamkan bagaimana kalau Arnold mencintainya, pasti hidupnya akan sangat bahagia. Tapi, setelah itu terjadi dengan penampilannya sekarang, kenapa dia merasa hatinya tidak menerima?


" Kenapa masih memejamkan mata? Kau sudah bangun kan? " Tanya Shen yang menyadari jika Arnold hanya berpura-pura tidur saat Shen terus menatapnya.


" Kau menyadarinya? " Arnold langsung membuka matanya.


" Iya. "


Wajah mereka kini berada di jarak yang begitu dekat, bahkan hembusan nafas yang hangat bisa mereka rasakan di kulit wajah mereka. Shen tersenyum, sementara Arnold, pria itu nampak merona seolah malu dengan situasi yang canggung ini. Benar, dulu mereka memang pernah melakukannya beberapa kali, tapi karena waktu yang lama, rasanya dia seperti pengantin baru.


" Arnold, "


Belum sempat Shen mengatakan maksudnya, Arnold sudah lebih dulu mengecup bibirnya, lalu menatapnya dengan tulus.


" Shen, maaf karena semalam aku tidak bisa menahan diri. Kau tidak marah kan? Aku hanya berpikir, hubungan kita ini tidak sehat selama bertahun-tahun. Aku ingin memperbaiki semua meski sudah terlalu dalam aku menyakitimu, bisakah kau memberikan kesempatan untukku? "


Shen terdiam sesaat, lalu dia tersenyum.


" Aku sudah memberikan kesempatan itu. "


Tanpa tahu apa maksud Shen yang sebenarnya, Arnold tersenyum bahagia karena merasa jika Shen mengiyakan permintaannya.


***


Mona menghempaskan keranjang buah yang Ibunya beli sebelum kembali menemui putrinya, Mona. Dengan perasaan kesal dia melampiaskan kepada barang-barang yang ada disana, bahkan bantal juga tak lepas dari kebrutalannya.


" Mona, nak, tolong jangan begini, bersabar dan jangan marah lagi ya? "


Mona masih tak mau mendengarkan ucapan Ibunya. Padahal dia sudah berkorban sampai sejauh ini berkali-kali, kenapa Shen masih saja menang?


" Ah.....! " Setelah semuanya berantakan, Mona kini memukuli kepalanya karena tidak bisa lagi menahan emosi yang membludak. Semalam dia dengan jelas mendengar suara Shen dan Arnold yang tengah melakukan hubungan badan karena Ibunya menekan pengeras suara sesuai dengan permintaannya. Lagi, Anya mengirim pesan pagi-pagi tadi, dia mengatakan bahwa Arnold tidak kembali ke kamarnya, dan Shen juga masih belum keluar dari kamar.


" Mona, cukup! " Bentak Ibunya, tapi karena masih tak mau mendengar ucapannya, ditambah lagi selang infus yang terlepas hingga mengeluarkan darah, Ibunya Mona menampar pipi Mona dengan kuat.


Plak!


" Cukup, Mona! "


Hening, Mona terdiam begitu tamparan keras itu mendarat ke pipinya. Iya, perlahan dia mulai sadar dan kembali teriak dengan pelan seraya meminta Ibunya untuk memeluk melalui tangisannya.


" Ibu, kenapa dia tidak datang padaku? Padahal aku sudah melakukan banyak hal untuk membuatnya bertahan, tapi kenapa aku kalah dari shen? Padahal dulu akulah yang selalu diutamakan. Ibu, aku tidak ingin semua jadi seperti ini, aku ingin Arnold, aku tidak ingin melihat wanita itu bahagia di atas penderitaan ku, Ibu. " Mona menangis sesegukan memeluk tubuh sang Ibu yang tengah menahan tangis.


Ibu mengusap rambut Mona dengan lembut. Sebenarnya dia tahu apa yang dinginkan oleh putrinya adalah sebuah kesalahan. Tapi dia juga tidak bisa diam saja saat anaknya ingin mencelakai dirinya sendiri. Merasa gagal? Tentu, tapi dia tidak ingin kehilangan anaknya yang ia cintai, dan juga yang sudah melakukan segalanya agar hidup keluarganya membaik seperti sekarang ini.


" Mona, laki-laki itu bukan untukmu, nak. Laki-laki itu bahkan tidak memiliki prinsip di dalam hatinya, sejenak dia menyakiti istrinya demi dirimu, lalu menyakiti mu demi istrinya. Lihatlah ke arah yang lain, meskipun tidak setampan, dan sekaya Arnold, masih banyak pria yang akan dengan senang hati membahagiakan mu. "


" Tidak, Ibu. Arnold hanya tergoda sesaat saja. Dia pasti akan kembali padaku, dia akan datang, lalu menceritakan bagaimana pilu hidupnya seperti dulu. Dia menderita dengan pernikahan itu, Ibu. Dia tidak sunggguh-sungguh mencintai wanita itu! "


" Mona, kau sendiri tahu apa yang terjadi semalam kan? Kau juga dengar apa yang dia katakan kan? baginya, sekarang ini kau hanyalah orang asing, nak. "


Mona menjauhkan tubuhnya dari dekapan Ibunya. Dia mengabaikan tangannya yang berdarah karena bekas jarum infus yang terlepas, dengan tatapan kosong dia memeluk erat kedua lututnya.


Frustasi, tapi dia juga tidak ingin menyerah. Ingin mundur, tapi dia tidak siap akan sakitnya, ingin maju terus, tapi dia juga tidak memiliki banyak kekuatan lagi. Jadi harus bagaiman? Siapa yang bisa dia andalkan? Siapa yang akan dia jadikan jaminan agar dia bahagia bersama Arnold? Tidak ada! Bahkan Ibunya sendiri memintanya untuk mundur.


" Ibu, pergilah! Aku ingin sendiri. " Ucap Mona dengan posisi yang sama, tatapanya juga mulai kosong saat ini.


" Mona, tolong jangan terlalu memikirkan ini, kita bisa melewati bersama-sama, nak. "


Mona terkekeh pilu.


" Bagaimana caranya? Sekarang orang memandang ku seolah aku wanita rendahan. Mereka melirik, bukan karena iri denganku lagi, tapi mereka merasa kalau aku adalah sampah. Semua itu, tentu karena Shen! Wanita itu menghancurkan segalanya! Dia tiba-tiba saja kembali dengan penampilan baru, merebut hati Arnold pelan-pelan, lalu membuatku kehilangan nama baikku hanya dalam satu malam. Aku tidak bisa menerimanya, dia juga harus merasakan apa yang aku rasakan, dengan begitu semua akan impas kan?! "


Ibunya Mona menggeleng pelan sembari menangis. Iya, dia menyadari benar jika putri yang dia banggakan karena perilaku baik, dan prestasinya itu kini terlihat seperti seekor monster yang sangat jahat.


Bersambung.....