Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 103



Satu tahun kemudian.


Rumah milik Ayah Gani dan juga Ibu Lean kini tengah ramai karena tegah merayakan tujuh hari lahirnya cucu kedua mereka, ditambah lagi mereka juga antusias menyambut Shen Damien dan Asha yang sudah satu tahun menetap di luar negeri, tepatnya negara kelahiran Damien.


" Marisa, berikan Marvel kepada Ibu, kau makan saja duluan ya? "


Marisa tersenyum, lalu mengangguk setuju. Akhirnya dia benar-benar menjadi seorang Ibu yang bisa merawat anaknya, juga merasakan kebahagiaan sebagai seorang menantu yang disayang, bahkan rasanya jauh lebih baik dari pada tinggal di rumah orang tuanya dulu. Tak sampai disitu kebahagiaan yang ia rasakan, Digo yang sebelumnya hanya akan manis saat mengajak melakukan hubungan badan, kini berubah menjadi sangat perhatian, apalagi setelah bayi mereka lahir, dia benar-benar berperan sebagai Ayah yang baik, juga sekaligus suaminya baik, idaman pula.


" Ini makananmu. " Digo membawakan sepiring nasi, beserta saur juga lauk pauk untuk Marisa sesuai anjuran Ibu juga Dokter agar asi Marisa tetap lancar juga sehat karena kandungan vitamin yang di hasilkan dari makanannya.


" Terimakasih. " Ucap Marisa lalu tersenyum.


" Mau minum susu juga tidak? "


" Nanti saja. "


" Ok, nanti kalau sudah selesai panggil aku, atau letakkan saja piringnya di meja. Aku mau melihat Marvel yang sedang di mandikan oleh Ibu. " Digo mengusap kepala Marisa sebelum meninggalkannya disana.


Terimakasih karena tetap mempertahankan ku meski sulit, Digo.


Setelah dua jam berlalu, sebuah mobil datang dan semua tahu jika itu adalah Shen, Damien, dan juga Asha. Sudah satu tahun, mereka semua tidak melihat secara langsung, benar-benar sangat rindu sekali, batin mereka kompak.


" Ayah, Ibu? Hai kalian? " Sapa Damien saat keluar lebih dulu dari mobil, lalu di susul oleh Asha.


" Ya ampun, akhirnya kita bertemu lagi! " Ucap Ibu Lean bahagia begitu melihat Damien, lalu Asha, dan kini tinggal Shen.


Senyum yang tadinya ceria merekah indah di wajah mereka, kini nampak bengong karena kaget melihat bagaimana penampilan Shen yang sekarang ini.


" Ayah, Ibu, kakak, dan semuanya! " Shen melambaikan tangan dengan wajah yang begitu bahagia.


Ayah tersenyum, lalu berjalan memeluk putrinya yang sudah satu tahun tidak ia lihat. Tapi Ibu Lean, Digo, Teo, juga Marisa terbengong melihat Shen. Bagaimana tidak? Shen sekarang ini menjadi sangat gemuk, bahkan hampir tidak bisa dikenali.


" Shen, ke kenapa jadi begini? " Tanya Ibu Lean.


" Memang kenapa? Kakakku tetap cantik kok. " Teo berjalan mendekat, lalu erat-erat memeluk kakaknya yang sebenarnya sulit untuk kedua tangan itu melingkari tubuh kakaknya.


" Benar-benar adik yang manis. " Shen menepuk punggung sang adik karena merasa rindu juga padanya.


Setelah saling melepas rindu, mereka kini melanjutkan kegiatan dengan makan siang mereka.


" Shen, maafkan Ibu bertanya seperti ini, tali apakah Damien tidak masalah dengan bentuk tubuhmu? " Bisik Ibu Lean bertanya.


Shen tersenyum, lalu menatap Ibunya.


" Tidak, dia mengatakan jika aku hanya perlu bahagia, aku juga pernah bertanya, apakah tubuhku yang seperti ini membuatmu muak? Dia bilang, yang paling penting bahwa aku bahagia, karena kebahagiaannya adalah aku. Untuk urusan wanita jal*ng, aku selalu cepat berundak sebelum mereka mendekati Damien. "


" Bagaimana bisa kau yakin? Kau lihat Damien, dia sangat tampan dan tubuhnya bagus, pasti banyak wanita yang mengincarnya. "


" Ibu, tidak usah khawatir. Aku sangat mempercayai Damien, aku tidak merasakan hal ini saat bersama Arnold dulu, sudah begitu juga Damien selalu ada kapanpun aku dan Asha membutuhkannya, kalau pun harus keluar kota atau keluar negeri untuk urusan bisnis, dia selalu mengajakku dan Asha. "


Ibu Lean bernafas lega.


" Lalu, kapan rencana kalian untuk memiliki anak? "


" Damien bilang, kapanpun aku mau saja, dan tidak usah terlalu banyak dipikirkan. "


Ibu Lean terperangah sendiri.


" Pantas saja tubuhmu mengembang pesat, Damien benar-benar memanjakan mu. "


Shen terkekeh.


" Tapi aku berencana tinggal agak lama, aku ingin diet dengan menjalani hidup sehat, lalu aku akan mulai program hamil setelahnya. "


Ibu Lean bernafas lega.


" Iya, memang harus begitu. "


Setelah makan siang selesai, sekarang Digo, Ayah Gani, juga Teo berada di teras samping rumah sembari berbincang-bincang dan menikmati kopi.


Damien menghela nafasnya, lalu menatap mereka bertiga satu persatu.


" Perasaanku ya tentu saja belum berubah, lebih tepatnya tidak akan berubah. "


" Kau mengatakan ini karena mau takut kepada kami? Lalu kenapa kalian menunda bayi sampai sekarang? " Tanya Digo dengan tatapan menyelidik.


" Tubuh Shen adalah tubuhnya, yang akan hamil kan Shen, jadi itu hak Shen ingin hamil atau tidak, atau mungkin dia masih ingin menundanya. Aku tidak bisa memaksa dia untuk melahirkan anak, aku menikahi Shen kan bukan hanya untuk berkembang biak, tapi karena ingin bersama Shen sampai akhir hayat. "


Ayah Gani tersenyum tipis, begitu juga dengan Digo yang merasa tenang degan jawaban Damien. Yah, meskipun selengek-an saat bicara, tapi cara dia memperlakukan Shen sungguh sangat cocok dengan ucapannya.


" Kakak ipar, aku mencintaimu! " Teo merangkul Damien, bahkan hampir saja menciumnya kalau Damien tidak segera mendorong wajahnya.


" Amit-amit, aku tidak mau dicintai olehmu! "


Teo berdecih sebal.


" Sudah tau kata amit-amit segala ya? "


" Itu semua karena kakakmu, dia akan memarahiku dan mengatakan itu setiap kali aku melakukan kesalahan. "


" Bagaiamana kakak ipar bisa betah dengan kak Shen yang cerewet itu? "


Damien tersenyum dengan wajah yang antusias.


" Itu karena dia sangat hebat, juga sangat keren saat kami berada di atas ranjang untuk me-. " Teo merona malu tanpa bisa berkata-kata.


" Damien! " Ayah Gani dan Digo kompak melotot kesal.


" Eh, maaf aku kelepasan. " Ujar Damien tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya.


" Sayang? " Panggil Shen.


" Iya, sayang? Ada apa? " Damien segera bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Shen yang berdiri di tengah pintu.


" Sekarang istirahat dulu ya? Nanti sore kita antar Asha untuk bertemu Arnold. "


Damien tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya untuk berbisik.


" Tapi kita anu-anu dulu sekali ya? "


Shen mencubit perut Damien dengan tatapan sebal.


" Apa yang ada di otakmu hanya itu? "


" Sekarang sih iya, terus kau tidak mau nih? "


" Mau! "


Damien terkekeh, seraya merangkul istrinya untuk masuk dan menuju kamar lamanya.


" Asha dimana, sayang? " Tanya Damien seraya menjalankan kakinya bersamaan dengan Shen.


" Dia tidur dengan Ibu, Ibu bilang rindu dan masih ingin memeluk, jadi ya sekarang Ibu disana menemani Asha tidur. "


" Benar-benar situasi yang mendukung. " Ujar Damien.


" Tapi tahan suara ya? Kamar itu kan tidak ada peredam suara seperti di rumah kita. "


" Tidak bisa janji deh, itu kan tergantung bagaimana aksimu. "


" Apa aku harus seperti orang mati dan membiarkan kau saja yang bekerja agar mengurangi suara? "


" Tidak mau, sayang! "


Bersambung...