Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 73



Setelah jam belajar Asha selsai, Shen berdiri di dekat pintu gerbang agar bisa langsung menyambut putrinya saat dia keluar sekolah nanti.


" Berada di lingkungan anak-anak seperti ini ternyata menyenangkan juga ya? " Ujar Damien yang dengan percaya dirinya masih saja membuntuti Shen, padahal juga sudah diminta pergi oleh Shen.


" Kalau kau tidak menyia-nyiakan cairan milikmu, mungkin anakmu juga sudah sebanyak murid di sekolah ini. " Ujar Shen tersenyum meski tidak menatap wajah Damien.


" Yah, mau bagaimana lagi? Menitipkan cairan seperti itu juga tidak boleh disembarang wanita kan? Tapi saat kita menikah nanti, bukanya tidak akan terbuang sia-sia? "


Shen mendesah sebal.


" Siapa juga yang mau menikah denganmu? "


" Tentu saja kau. You, and me, together, and kikuk, lalu jadilah anak. " Ucap Damien menggerakkan tangannya mengiri ucapannya, dia bahkan terkekeh sendiri setelahnya.


" Menggelikan! " Shen menatap sinis Damien sebentar, lalu kembali melihat ke arah sekolah untuk menunggu Asha.


" Ibu! "


" Sa- " Shen berhenti bicara karena melihat mata Asha yang memerah seperti telah banyak menangis. Disampingnya juga ada guru sekolah yang berjalan sembari menggandeng Asha juga beberapa kali mengatakan, it's ok, kau adalah anak yang hebat dan kuat, everybody's loving you.


" Asha, kenapa matamu memerah? " Shen berjalan cepat menghampiri Asha, menangkup wajahnya, juga mengusapnya pelan.


" Ibunya Asha, hari ini teman-teman Asha mengatakan hal yang membuat Asha menjadi sangat sedih. "


" Apa yang mereka katakan? "


" Tentang perceraian anda, juga tentang seorang wanita. " Seraya mengatakan itu, guru Asha menutup telinga Asha agar tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.


" Teman-temannya yang lain sudah saya beri pengertian, begitu juga dengan Asha. Mungkin ini memang akan berlangsung beberapa hari, tapi saya juga akan membantu sedikit menghibur Asha. "


Shen memaksakan senyumnya, dia mengangguk dengan perasaan pilu.


" Asha, bagaimana kalau kita pergi bermain di taman sebelah? " Ajak Shen meski sulit juga menyembunyikan rasa sedihnya.


" Halo, gadis kecil? Bagaimana kalau ikut paman membuat kastil untuk kita tinggal? "


Asha menatap Damien penuh tanya.


" Paman siapa? Kastil apa? "


Damien mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Asha.


" Mulai hai ini, paman adalah teman mu. Jadi paman ingin membawamu membuat kastil, lalu kau akan menjadi putri tercantik disana. "


Asha nampak berpikir.


" Memang paman bisa membuat kastil? "


" Bukan paman, tapi kita yang akan membuatnya, bagaimana? "


" Sungguh? " Asha berbinar karena merasakan semangat datang padanya.


" Tentu saja. "


Dengan mata berbinar bahagia, Asha menatap Ibunya meminta pendapat. Kalau melihat bagaimana wajah Asha setelah beberapa saat lalu sangat sedih, tentu saja Shen tidak mungkin mematahkan kebahagiaan bocah kecilnya.


" Baiklah, mari kita pergi dan membuat kastil. "


" Ok! Lets go! " Damien meraih tubuh Asha, lalu menggendongnya dengan bahagia.


" Paman, turunkan aku! " Pekik Asha.


" kenapa? Kau tidak suka paman menggendong mu? "


" Bukan, aku kan sudah besar, aku juga pasti berat. "


Damien tertawa kecil. Dia mencubit pelan hidung mungil Asha.


" Tenang saja, bahkan Ibumu juga bisa paman gendong dengan satu tangan. "


" Benarkah? " Asha menatap kagum.


" Iya dong. "


" Wah, paman hebat sekali! "


" Tentu saja. "


Beberapa saat kemudian.


" Paman, bagaimana kalau kita buat dua penjaga di depan gerbang utama kastil? " Tanya Asha sembari menunjuk gundukan pasir yang sudah disulap menjadi bentuk kastil yang sangat indah.


" Tentu saja, untuk menjaga tuan putri secantik dirimu, kastil ini harus banyak penjaganya dong. " Mereka akhirnya membuat orang-orangan mini dengan perlahan di dekat gerbang kastil yang terbuat dari pasir.


Shen, sedari tadi tidak banyak membantu. Matanya asik memerhatikan keduanya, bibirnya juga membentuk lengkungan indah untuk mengekspresikan suasana hatinya yang merasa senang bisa melihat putrinya begitu semangat.


" Yeay... Sudah selesai! " Asha bertepuk tangan gembira, lalu dia memberikan telapak tangannya kepada Damien untuk beradu tos karena membuat kastil dilakukan berdua. Tentu saja Damien segera menyambut tangan itu dengan senang.


" Bagaimana? Kastilnya indah kan? "


Asha mengangguk dengan senyum lebar yang menghiasai wajah cantiknya.


" Paman, kalau begitu aku yang akan menjadi tuan putrinya! "


" Tentu saja! Dan Ibumu akan menjadi ratunya, bagaimana? "


Asha mengangguk.


" Ibuku adalah ratu, dan aku adalah tuan putri kecil yang cantik! " Asha melompat-lompat sembari bertepuk tangan dengan bahagia.


" Ibu ratu, ayo cepat kesini! " Pinta Asha berlari menyambar tangan Ibunya, lalu membawanya mendekat ke pasir yang sudah berbentuk kastil yang indah.


" Ibu, lihat! Bagus tidak? "


Shen mengangguk dengan bibir tersenyum, dia juga mengelus rambut Asha pelan.


" Bagus, indah sekali. "


" Sekarang Ibu adalah ratu, dan aku adalah anak ratu, yaitu tuan putri. Oh iya, lalu paman jadi apa dong? " Asha menatap Damien sembari berpikir.


" Em, paman jadi apa ya? Kalau jadi penjaga ini bagiamana? " Tunjuk Damien kepada pasir berbentuk penjaga pintu kastil.


" Tidak bisa, kan kita sudah membuat penjaga yang banyak. Oh aku tahu! Bagaimana dengan raja? Paman bisa menjadi raja kok! "


Damien tersenyum bahagia tentunya. Ah, ingin sekali cepat mengangguk setuju. Tapi yah, tidak boleh terlalu transparan juga mengekspresikan bagaimana hatinya merasakan juga kan?


" Eh? Kalau paman jadi raja, apa Ibumu setuju? "


Shen mengalihkan pandangan. Apa-apaan?! Sial! Jantungnya berdegup seketika saat Asha meminta Damien menjadi raja. Raja kan berarti suaminya ratu, aduh! Walaupun cuma sebuah permainan, kenapa juga jantungnya berdegup kencang?


" Ibu, paman Damien boleh menjadi raja kan? " Tanya Asha dengan tatapan memohon.


" Ehem! Iya, boleh boleh saja, kan cuma bermain saja. " Ujar Shen merona malu hingga tak berani menatap Damien yang dia yakini pasti tengah tersenyum bahagia.


" Yeay.... "


Mereka bertiga kini sibuk bermain bersama dengan kastil buatan mereka. Tidak ada lagi Asha yang terlihat sedih, karena Asha setelah bermain bersama Damien nampak sangat bahagia. Anehnya, Asha dan Damien sama sekali tak memiliki rasa canggung, seperti seseorang yang sudah lama kenal saja.


" Damien, terimakasih untuk hari ini. " Ucap Shen agar lirih karena tidak ingin membangunkan Asha yang kini tengah tertidur di pangkuannya.


" Tidak usah sungkan, aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Tapi kalau kau mau berterima kasih dengan sungguh-sungguh, kau hanya perlu menerima cintaku saja kok. " Ucap Damien terkekeh pelan seraya mengemudikan mobilnya menuju kediaman keluarga Shen.


" Menerima cinta hanya untuk terimakasih? Cara memeras mu memang luar biasa ya? "


" Ah, mau bagaimana lagi? Mencari kelonggaran didalam kesempitan kan tidak mudah, kalau-kalau mau dipikirkan dulu juga boleh kok. "


" Berhentilah mengatakan banyak omong kosong. "


" Hah, iya maaf. "


Sesampainya di sana, Arnold ternyata sudah menunggu di depan pintu gerbang.


" Arnold? Kenapa malam-malam ada disini? " Tanya Shen.


Arnold menatap Damien yang membukakan pintu mobil untuk Shen dan Asha dengan tatapan tidak suka.


" Menjauh lah dari anakku, dan juga Shen. "


Bersambung.....