Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 57



" Kau boleh saja tidak menghormati ku sebagai kakakmu, tapi apakah pantas seorang anak menghakimi orang tuanya seperti itu? Marisa, kau bisa hidup dengan baik semua karena kerja keras kami, bukanya seharusnya kau berterimakasih dan jangan banyak mengeluh. " Mona menatap Marisa kesal. Sebenarnya dia tidak ingin memiliki hubungan buruk sama sekali dengan saudari satu-satunya itu, tapi ucapan Marisa yang terus memojokkannya seolah membuatnya enggan untuk menahan emosi.


" Oh ya? Berapa harga untuk menunjukkan terimakasih itu? " Ucap seorang pria yang lumayan banyak mendengar perdebatan diantara mereka tadi . Dia berjalan mendekat dengan penampilan yang agak berantakan, mendekati Marisa yang menatapnya marah, lalu tersenyum sembari mengalungkan lengannya ke pundak gadis itu.


" Bekerja sama lah denganku jika ingin memberikan pelajaran kepada mereka, dan aku juga tidak perlu repot-repot membuat keluargamu mati karena kelaparan. " Bisik Digo kepada Marisa.


Sebenarnya Marisa sudah ingin sekali menepis tangan Digo, lalu menamparnya lagi sampai dia puas. Tapi kata-kata Digo barusan benar-benar sukses membuat Marisa tak berdaya, dan juga hanya bisa diam. Memang benar dia marah dengan perlakuan keluarganya, tapi kalau sampai orang tuanya menderita karena kelaparan, tentu saja dia tidak akan bisa menerimanya.


Mona terkejut hingga matanya memerah melihat bagaimana perlakuan Digo kepada Adiknya.


" Kau, jangan bilang kalau kau- "


" Kenapa? Baru sadar sekarang? "


Mona menatap Marisa dengan tatapan sedih. iya tentu dia tahu apa maksud Digo mendekati adiknya, tapi kalau melihat lagi penampilan Marisa dan Digo sekarang ini, kenapa dia merasa kalau Marisa sudah mengalami hinaan.


" Kenapa kau melakukan ini?! Apa salah adikku padamu?! Dia sama sekali tidak ada urusannya dengan semua yang terjadi! " Mona menatap Digo marah, seluruh tubuhnya nampak bergetar, begitu juga dengan air matanya yang lolos tak tertahankan.


Digo terkekeh menatap Mona, dan Arnold bergantian.


" Semua yang terjadi ini adalah karena kau, kau dan laki-laki brengsek itu yang memulainya. Coba sekarang kau pikirkan baik-baik, lihatlah seberapa besar kebencian yang timbul karena ulah kalian berdua, dan lihatlah efek dari dosa yang kalian pikir itu indah. " Digo mengakhirinya dengan senyum miring.


" Mona, siapa pria ini? " Tanya Ibu.


" Dia kakaknya Shen. "


Ibu dan Ayahnya Mona mendelik kaget, sekarang dia sudah mulai bisa menerawang apa yang di alami oleh anaknya selama dia menghilang.


" Seberapa dalam kau menyakiti adikku? " Mona mengeratkan kepalan tangannya dengan tatapan yang sepertinya dia sendiri tidak akan siap menerimanya jika itu semua seperti yang dia pikirkan.


Digo tersenyum miring sebelum menjawab.


" Menyakiti? Ah, itu belum seberapa. "


" Brengsek! " Maki Mona karena merasakan sakit di dadanya. Iya, dia tahu kalau egonya yang menginginkan Arnold terlalu berlebihan, tapi dia sama sekali tidak tahu kalau pada akhirnya dia akan membuat adiknya dalam bahaya.


" Marisa, kita pulang ya nak? Biarkan Ibu dan Ayah yang merawat dengan baik. ",Ibu menyodorkan dua tangannya berharap anak bungsunya mendekat dan memeluknya.


" Marisa, Ayah janji akan menjadi Ayah yang baik mulai sekarang, kita pulang dan biarkan kami merawat mu dengan baik ya? " Bujuk lagi Ayah agar Marisa tak merasakan ragu.


" Heh! Sayang sekali, aku belum mengizinkan Marisa pergi. Kami belum puas bermain-main, dan lagi, aku juga harus menunggu bayi kami lahir, baru nanti akan aku pikirkan mengembalikan Marisa kepada kalian. Iya, itu kalau Marisa mau. "


Mona menutup mulutnya rapat-rapat menahan suara tangis yang tercekat di tenggorokannya. Ayah dan Ibu mereka juga sama terkejutnya hingga tak kuasa menahan luka, dan kecewa yang luar biasa.


"Anakku tidak bersalah, kenapa kau menghukumnya?! " Protes sang Ayah sembari mencengkram kuat kerah kemeja Digo.


Digo menepis tangan itu, lalu tersenyum mengejek.


" Adikku dan keponakan ku juga tidak bersalah, tapi kenapa kalian menghancurkan hidupnya? "


Orang tua Mona tak sanggup lagi berbicara, dan memilih untuk diam dengan tatapan pilu.


" Pertama, putri pertama kalian yang datang menghancurkan hidup adikku dan keponkanku, lalu yang kedua, kalian juga ikut membantunya. Yang ketiga, kalian mengedepankan ego putri pertama kalian dengan dalih cinta orang tua. Tapi kalian terus saja mengabaikan perasaan yang lain meski kalian paham itu adalah kesalahan. Kalian juga mengabaikan perasaan Marisa, tapi kenapa tiba-tiba begitu peduli? " Digo mengeluarkan selembar cek kosong yang sudah ia tanda tangani.


" Ini, isi sesuai nominal yang kalian inginkan, anggap saja aku membeli tubuh putri kalian, dan juga anak yang akan lahir nanti. "


" Bajingan! " Teriak Mona yang tidak tahan dengan penghinaan yang diberikan Digo padanya, dan juga kedua orang tuanya, terlebih itu pasti sangat menyakitkan bagi Marisa.


" Marisa, kita pulang ya nak? Biarkan Ayah dan Ibu yang merawat mu dan bayimu nanti. Ibu janji tidak akan menyakitimu lagi. " Mohon Ibu sembari menangis, dia bahkan membuang jauh cek kosong itu dari tangannya.


" Tidak, aku tidak ingin lagi. " Marisa menatap kosong mata Ibunya.


Digo tersenyum, lalu segera membawa pergi Marisa sembari melambaikan tangan kepada Mona dan tangannya yang kini sudah berada di balik punggungnya.


" Brengsek kau Digo! Aku akan membalas semua ini! " Ucap Mona laku kembali menangis pilu.


Arnold terdiam karena merasakan rasa bersalah yang luar biasa. Sekarang dia benar-benar paham bahwa apa yang dia lakukan dengan mengkhianati Shen telah menimbulkan banyak korban, adiknya, Marisa, Shen, Asha, orang tua Shen, Digo, Teo, Mona, juga dirinya sendiri.


Sungguh dia tidak berpikir sepanjang ini saat akan berselingkuh dulu, dia hanya memikirkan bagaimana bisa dia menghilangkan penat karena rumah tangga yang tidak ia inginkan, dia hanya ingin bahagia dengan wanita yang katanya memiliki banyak kelebihan, iya dia sempat bahagia beberapa waktu, tapi dia juga mengabaikan luka yang akan dia dan orang-orang rasakan akibat perselingkuhannya. Hidupnya, istrinya, anak, juga keluarga besarnya terluka hanya karena kebodohan itu.


***


Hari terus berlalu, rumah yang dulu terasa hangat karena adanya Asha, kini terasa sangat dingin dan sepi bak kastil tanpa penghuni. Setelah pernikahan Arnold dan Mona dibatalkan beberapa hari yang lalu, Ibu Resa hanya bisa diam memandangi photo keluarga yang tergantung di kamarnya saat merindukan keramaian.


Arnold juga seperti orang gila karena tidak berhenti mencari tahu dimana Shen dan Asha pergi. Bahkan dia sampai rela menunggu di depan rumah orang tua Shen, tidak perduli kehujanan atau kepanasan. Dia juga sudah mecoba menyewa beberapa detektif, tapi hasilnya selalu saja nihil.


***


Keadaan di rumah Mona dan keluarga juga sama. Semenjak pernikahan itu dibatalkan, Mona dan orang tuanya dirundung rasa sedih dan bersalah kepada Marisa. Tapi apa mau dikata, untuk membawa Marisa juga bukan hal yang mudah. Selain karena penjagaan dirumah Digo sangat ketat, Marisa juga seolah menutup diri, dan memutuskan semua kontak untuk berhubungan dengan keluarganya.


Bersambung....