
Dibelahan dunia lain, Asha dan Shen kini tengah bermain sky bersama-sama. Winter tahun ini benar-benar memberikan banyak pelajaran hidup bagi seorang Shenina. Hampir dua puluh tujuh tahun dia hidup, dan kemarin sempat merasakan bagaimana rasanya sakit yang hampir membuatnya gila. Iya, semua itu sudah berlalu, Sekarang wanita yang sempat akan gila itu sudah menjadi sosok yang kuat, juga tidak lagi hanya memikirkan bagaimana caranya membuat suaminya jatuh cinta padanya.
" Ibu, aku sudah lelah. Aku akan bermain salju saja, dan aku akan menyusul bibi Zera. "
Shen tersenyum, dia mengusap pipi Zera yang memerah karena hawa dingin yang lumayan menusuk tulang.
" Baiklah, hati-hati, jangan berlari, dan minta susu hangat segera ya? "
" Baik, Ibu! "
Shen tertawa kecil melihat Asha yang nampak bahagia dengan liburannya satu pekan ini. Shen kembali menatap hamparan salju yang membentak luas di hadapannya. Dia kembali mengingat saat liburan pertama kali bersama dengan Asha dan Arnold, iya! Mereka juga pergi ke tempat ini. Sejenak dia menghela nafas karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan Arnold secara tuntas di dalam hatinya.
Arnold memang bukan pria yang setia dan baik dalam segala hal, tapi tentu dia paham benar bahwa Arnold adalah Ayah yang baik untuk putrinya. Hanya saja, kebimbangan Arnold terus saja membuatnya enggan untuk bertahan. Padahal, saat dia pulih beberapa bulan lalu, dia masih tetap bersikeras untuk mempertahankan rumah tangganya.
Tes....
Tanpa Shen sadari air matanya jatuh begitu mengingat tentang Arnold. Bohong jika hatinya tak sakit saat melihat dia membawa Mona kerumah, bohong jika dia tak cemburu saat masih membiarkan Mona bebas keluar masuk ke rumahnya, tapi hati yang terlanjur sakit berkali-kali itu juga mulai menolak Arnold meski dia juga tidak rela melepasnya.
" Ibu! "
Panggil Asha, dia berlari dengan senyum yang merekah.
" Ibu, aku sudah meminum susu hangat, sekarang giliran Ibu ya? " Asha meraih tangan Shen, menggenggamnya, lalu menariknya untuk ikut agar bisa meminum susu hangat.
Asha....
Shen tersenyum seolah kegundahannya menghilang seketika karena senyum merekah dari wajah putrinya.
***
Setelah pesta pernikahan selesai, kedua orang tua Marisa, juga Mona juga sudah dipersilahkan pulang, dalam artian diusir secara halus.
" Biarkan aku bertemu Marisa dulu. " Pinta Mona seraya menatap Digo.
" Biarkan saja, Digo. " Ucap Ibu Lean yang ingin membiarkan Marisa dan Mona bicara dari hati ke hati, karena mau bagaimana pun juga, Mona adalah kakaknya.
Marisa berjalan tanpa kata mengarahkan Mona untuk ikut dengannya. Sementara orang tua mereka masih duduk dengan menunduk, tak tahu apa yang mereka pikirkan.
" Digo, tadi ibu kaget sekali melihat Mona. Kok dia bisa berubah seperti itu ya? "
Digo tersenyum miring.
" Shen yang melakukanya, dia pasti ingin membuat Mona merasakan bagaimana menjadi dirinya dulu. " Ucap Digo pelan.
" Apa yang ingin kakak bicarakan? " Tanya Marisa tanpa ekspresi.
Mona menghela nafas, lalu menutup pintu kamar itu dan menguncinya.
" Ayo kita kabur dari sini! " Ajak Mona dengan tatapan sungguh-sungguh.
" Tidak, aku tidak ingin lari kemanapun. " Jawab Marisa masih tanpa ekspresi.
" Kau gila?! Mereka semua adalah orang licik dan jahat yang hanya akan memanfaatkan mu saja! Kau pikir mereka akan tetap merawat mu saat anak yang kau kandung sudah lahir? Tidak, dia akan menendang mu keluar seperti sampah, dan kau baru akan menyesali saat tidak bisa bersama anak itu lagi! "
Marisa menepis kedua tangan Mona, masih tak mau menunjukkan emosi apapun dari wajahnya.
" Mungkin benar suatu hari aku akan ditendang dari rumah ini, tapi setidaknya aku sudah menitipkan anakku dengan orang yang tepat. "
Mona terperangah tak percaya dengan ucapan enteng Marisa.
" Marisa! Sadarlah! Aku ini kakakmu, kita juga memiliki orang tua yang sama, mana mungkin mereka bukan orang yang tepat untuk merawat bayimu?! "
Marisa mengepalkan tangannya, matanya memerah.
" Kak, ada beberapa hal yang kadang kau pikir pantas, pada nyatanya sama sekali tidak. Ada hal yang kau pikir benar, nyatanya juga adalah kesalahan. Kau, Ayah, dan juga Ibu, kalian semua adalah satu kesatuan, satu pemikiran, di dalam banyak hal. Meskipun Ayah dan Ibu memiliki pendapat, pada akhirnya pendapat mu lah yang akan diutamakan. Aku tidak ingin dia menjadi sepertimu, atau juga menjadi sepertiku. Aku ingin dia hidup dengan baik, memiliki pribadi yang ceria, dan akan ada orang yang menuntunnya dengan benar agar bisa hidup selamat. Aku ingin dia tumbuh bersama orang-orang yang mampu membentuk pribadi anakku menjadi baik. "
Mona menurunkan tangannya dengan tatapan tidak percaya, juga ada air mata yang jatuh dari sana.
" Apa sebegitu buruk kah kami di matamu? Apa kami benar-benar seperti itu? "
Marisa menatap bola mata Mona dengan buliran air mata yang mulai berjatuhan di pipinya.
" Iya. "
" Marisa, kau sadar dengan apa yang kau katakan? Apa kau lupa seberapa besar pengorbanan ku untukmu, dan juga orang tua kita?! " Mona menyeka air matanya yang mulai deras mengalir.
" Aku belajar pagi, siang, sore malam, hanya untuk mendapatkan beasiswa, memenangkan perlombaan yang berhadiah uang agar kalian semua tidak kekurangan apapun! Kenapa kau hanya bisa melihat keburukan ku hanya karena satu tindakan salahku? Apakah kau tidak pernah sedikitpun melihat sisi posistif ku? "
" Tentu, itulah mengapa aku menjadikanmu panutan ku. Tahu kah kau kak? Aku selalu mencoba untuk menyepadankan diri denganmu, tapi orang tua kita sama sekali tidak mendapatkan rasa puas dari usahaku. Aku lelah, kakak. " Marisa menatap Mona dengan tatapan pilu yang selama ini sama sekali tidak pernah ia lihat dari adiknya.
" Aku lelah hidup dengan orang-orang yang selalu menuntut ku untuk mengerti yang lain, tapi apakah satu di antara kalian ada yang mau mengerti apa yang aku rasakan? Aku sudah sangat lelah, dan aku tidak ingin anakku mengalami apa yang terjadi di hidup kita, terlebih aku juga tidak ingin dia seperti Ayah dan Ibu. Tolong hargai aku, meskipun aku tidak hidup dengan bahagia dirumah ini, setidaknya itu lebih baik dari pada harus terus tersiksa dengan batin sendiri. "
Mona memundurkan langkahnya dengan tatapan kecewa. Benar, pemikiran Marisa tentang dia, dan juga kedua orang tuanya memang sudah sangat buruk, apapun yang coba dikatakan sekarang ini tentu tidak akan berpengaruh, apalagi bisa membuat Marisa mengikuti sarannya. Mona keluar dari kamar dengan air mata yang masih tertinggal.
" Ckck.... Sedih ya? " Digo terkekeh, entah sejak kapan dia berdiri diluar pintu, tapi sepertinya dia juga cukup mendengar banyak.
Mona melihat ke arah Digo dengan tatapan tajamnya.
" Aku tidak akan diam saja saat kau menyakiti adikku! "
Digo terkekeh.
" Yakin? Kalau aku bisa membuatmu kelaparan besok pagi, dengan cara apa kau akan membalas ku? Oh, apakah kau akan mengejarku dengan tubuhmu yang seperti badut ini? " Mona mendelik tajam.
" Eh, tidak mungkin ya? Ya sudah, nikmati saja hari-hari dengan tenang sebelum tanganku gatal ingin mengotak-atik hidupmu. Sudah ya? Aku ingin bermain dengan adikmu dulu. " Digo meninggalkan senyum, lalu masuk ke dalam kamar.
" Bajingan! " Mona kembali terisak pilu.
Bersambung....