
Shen awalnya ingin segera kembali ke sekolah Asha untuk menunggunya pulang, tapi karena Arnold memintanya untuk tinggal lalu meminta Andre untuk menjemput putri mereka, maka Shen memenuhi keinginan Arnold.
Sesungguhnya Shen amatlah gugup karena tidak pernah berada di dalam ruangan kerja Arnold sebelumnya, ditambah lagi kata-kata Arnold barusan cukup membuatnya merasa canggung.
Sejenak Shen menghela nafas, matanya menatap ke arah jendela kaca yang menyuguhkan sinar matahari yang menembus masuk kedalam ruangan itu. Sudah hampir tiga puluh menit dia menunggu Arnold menyelesaikan pekerjaan sesuai permintaannya.
" Kau mulai bosan? " Tanya Arnold.
" Diam saja begini membuatku bingung. "
Arnold tersenyum tipis.
" Sebentar lagi selesai, nanti kalau Asha sudah pulang, baru kita berangkat ke pusat belanja sembari menunggu waktu makan siang. "
Shen menanggapinya dengan senyum.
Setelah beberapa saat, Arnold mulai bangkit dari kursinya karena pekerjaan yang harus segera diselesaikan itu sudah rampung, dan itu juga berbarengan dengan datangnya Asha.
" Ayah, Ibu! " Panggil Asha begitu pintu dibuka dan dia melihat orang tuanya disana.
" Asha? "
Arnold tersenyum bahagia, dia menyambut sang putri yang lari ke arahnya sembari menjulurkan kedua tangannya.
" Hei, anak Ayah? Bagaimana sekolahmu hari ini? "
" Semuanya baik, aku juga menyelesaikan tugas hafalan bernyanyi dengan baik. "
" Benar-benar anak Ayah yang pintar. "
Shen tersenyum melihat kedekatan keduanya. Iya, dia tahu benar jika Arnold selalu menjadi Ayah yang baik untuk Asha. Rasanya juga tidak mungkin bisa menggantikan sosok Arnold untuk putrinya, jadi mana mungkin dia akan membiarkan wanita jahat menjadi Ibunya Asha lalu menguasai Ayahnya? Bukankah itu sama saja menempatkan Asha dalam bahaya?
" Karena kau sudah sangat hebat, bagaimana kalau kita membeli boneka kesukaanmu di pusat belanja? Kita juga bisa makan siang bersama setelah itu. "
Asha mengangguk cepat dengan wajah bahagia.
Tak mau membuang waktu, kini Arnold menggandeng tangan Asha untuk segera menuju lobi karena Andre sudah menunggu disana. Sepanjang jalan menuju Lobi, Mereka bertiga sungguh mencuri perhatian. Wajah tampan Arnold yang biasanya dingin kini berubah sumringah, aura seorang ayah juga jelas terpancar di wajahnya. Shen yang dulu meninggalkan kesan tidak baik dengan sifat kasar, kini terlihat begitu lembut, tubuh tambun dan make up tebal itu juga telah digantikan dengan tubuh proporsional dan make up natural yang cocok dengan usianya. Ditambah lagi Asha, Gadis kecil berwajah cantik itu memang selalu mencuri perhatian bagi yang menatapnya.
" Maaf, Nona Mona, sepertinya Presdir dan keluarganya akan pergi. " Ucap salah satu resepsionis yang diminta Mona untuk mengabari jika dia ingin menemui Arnold.
" Apa?! Tidak mungkin! "
" Itu, itu Presdir dan juga Nyonya Presdir, beserta putri mereka. "
Mona menoleh ke arah resepsionis itu menunjuk,dan iya! Benar saja, itu adalah Arnold bersama dengan Shen dan juga Asha.
" Sialan! Shen pasti tahu kalau aku akan datang kesini. " Mona menatap Shen dan yang lainya dengan perasaan marah. Dia juga mengepal kuat, sampai tak sadar satu kakinya menghentak lantai.
" Cih! Dasar tidak tahu malu! Sudah tahu Presdir punya anak dan istri, masih saja mencoba untuk menggoda Presdir. " Gumam salah satu resepsionis karena kesal juga dengan Mona yamg selama ini bertingkah layaknya Nyonya sungguhan.
" Hus! Jangan bicara sembarangan, kalau dia dengar bagaimana? "
" Hah! Maaf, aku hanya kesal saja dengan tingkahnya selama ini. "
***
" Ayah, aku ingin beli boneka yang bisa menangis itu! " Tunjuk Asha kepada boneka bayi yang memiliki perlengkapan layaknya bayi hidup sungguhan.
" Tentu saja. "
Mereka bertiga berbelanja dengan perasaan gembira, meski Shen tiba-tiba mengingat Damien entah mengapa.
Sementara tak jauh dari mereka, Rupanya Mona mengikuti mereka sampai di pusat belanja. Tak ingin ketahuan, Mona sengaja menggunakan kaca mata hitam, dan juga topi yang dia beli beberapa saat lalu.
Masih disebuah toko boneka, Asha kini sibuk memilih lagi boneka mana yang akan dia beli selain boneka bayi. Tak ingin mengganggu Arnold dan Asha, Shen memilih untuk menatap mereka saja.
Bruk!
" Ah! " Pekik Shen.
" Maaf, Darling. " Ucapnya pelan.
Shen mengeryit melihat wajah pria yang tentu saja tidak asing tengah menahan tubuhnya.
" Damien? "
Damien tersenyum, lalu membantu Shen untuk berdiri dengan benar.
" Shen, kau tidak apa-apa? " Tanya Arnold yang baru datang dengan wajah khawatir.
" Tidak! Aku tidak apa-apa. " Shen menepis tangan Damien, lalu tersenyum meski terlihat memaksakan.
" Kau yakin? " Tanya Arnold.
" Iya. "
" Kalau begitu, ayo kita- " Ucapan Arnold tertahan saat melihat pria yang kini berada di dekat Shen. Iya, dia hafal benar laki-laki yang mendekati Shen selama di luar negeri, bahkan Arnold juga tahu kalau pria itu pernah berciuman dengan Shen.
" Arnold, kita temui Asha saja. " Shen meraih lengan Arnold, lalu membawanya pergi untuk bergabung dengan Asha.
Tubuh boleh saja menjauh, tapi wajah Arnold masih menoleh kebelakang memperhatikan wajah Damien dengan tatapan tajam.
Cih! Mau matamu keluar aku juga tidak takut! Gumam Damien di dalam hati.
***
Disebuah kamar hotel, Anya dan Max kini tengah berada di tempat tidur untuk sejenak beristirahat karena kelelahan dengan aktivitas ranjang yang baru beberapa saat lalu mereka lakukan.
Sudah bukan hal yang mengejutkan, karena mereka sudah sering melakukannya selama dua minggu hubungan mereka berjalan. Awalnya memang malu-malu seperti kebanyakan para gadis polos pada umumnya, tali karena rayuan maut yang Max berikan, ditambah barang mewah yang diberikan padanya atas nama Max, Anya menjadi semakin menggila dengan cinta yang dia anggap sebuh kesungguhan.
" Babe, kita sudah sejauh ini, kapan kau akan menikahi ku? " Tanya Anya seraya mengusap dada bidang Max yang ada di dekatnya. Dia juga tak segan memberikan ciuman di dada bidang itu dengan mimik yang menggoda.
Max tersenyum miring, ditahannya tangan Anya yang mulai nakal disana, karena malam nanti dia juga harus menemui seorang wanita, jadi dia tidak akan menghabiskan tenaganya hanya untuk Anya saja.
" Tidak usah buru-buru, Babe. Kita masih punya banyak waktu, dan lagi aku juga ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. "
" Kita bisa menikah dengan acara yang biasa saja. Tidak akan memakan banyak waktu kok. "
" Aku tahu, tapi aku harus keluar negeri beberapa waktu lagi, menikah juga bukan hal yang sederhana kan? Aku juga harus mengenalkan mu dengan keluargaku dulu, baru kita bisa menikah. " Ujar Max seraya menatap Anya dengan tatapan lembutnya.
" Jadi kapan kau akan mempertemukan aku dengan keluargamu? "
" Belum waktunya, Babe. Sabar saja ya? "
Anya menghela nafasnya, dia menjalin hubungan bersama Max juga baru dua minggu sih, sepertinya memang benar kalau dia harus bersabar terlebih dulu beberapa waktu ini.
" Max, apa kau tidak ingin melakukan lagi? "
Max tersenyum miring saat Anya tak melihatnya.
" Aku ada meeting nanti, Babe. Jadi kita lakukan besok lagi ya? " Bujuk Max seraya mengusap lembut kepala Anya.
Bersambung.....