
Anya menatap langit malam yang mendung tanpa ekspresi. Sudah berbulan-bulan, bahkan sebentar lagi juga sudah hampir satu tahun, tali mengapa hatinya masih tidak bisa tenang? Mengapa rasa, juga sakit itu tak sekalipun mau menghilang? Mungkin jalan hidup, juga takdir Tuhanlah yang membentuk Anya seperti sekarang ini. Meskipun kecewa dengan apa yang terjadi, setidaknya Anya selalu berusaha menerima, juga melihat sisi positif yang kini ada pada dirinya.
Dulu, dia sangat suka menghamburkan uang, menilai seseorang dari harta, merendahkan orang yang tidak punya, dan memilih-milih teman karena merasa jika ada teman yang miskin, derajatnya akan turun. Tapi semua itu telah tergantikan dengan Anya yang sederhana, lebih suka berbaur dengan orang biasa yang mudah sekali bahagia dengan hal-hal kecil. Hanya dengan satu lolipop, atau satu potong roti saja dia bisa melihat wajah bahagia anak-anak yang ramai diseberang tempat tinggalnya.
Meski tak menampik duka itu masih utuh membelenggu hatinya yang kian rapuh, nyatanya Anya harus membuka mata lebar-lebar, dunia ini luas, dunia indah jika kau melihatnya dengan hati yang bahagia, jangan hanya karena secuil penderitaan kau harus mengakhiri hidupmu. Anya, gadis itu mampu melewati segala rintangan, mematahkan niatnya yang selalu ingin bunuh diri, dan mencoba memposisikan dirinya sebagai orang yang dibutuhkan, juga dicintai agar tak merasa sendiri dan tak bisa berbagi beban hati.
" Sebentar lagi hujan, kau masih ingin disini? "
Anya menoleh ke arah sumber suara yang mulai dia hafal siapa pemilik suara itu.
" Kenapa kau ada disini? " Anya bertanya tanpa ekspresi, mungkin bagi pria itu hal biasa muncul dimanapun Anya berada, tapi bagi Anya, dia justru merasakan sesak yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata setiap kali melihat pria menatapnya, lalu tersenyum, tentu saja itu semua terus mengingatkan dengan wajah Max saat merayu dulu.
" Aku kan pindah di sebelah kamar mu. " Pria bernama Arthur itu tersenyum, matanya terus saja menatap wajah Anya seolah enggan untuk beralih pandang.
Anya terdiam dengan tatapan marah yang tak terlalu ia tunjukkan, dia memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket tebal yang ia kenakan, lalu kembali menatap langit malam. Tahu, udara malam ini sangat dingin, tapi Anya masih enggan untuk masuk karena langit gelap seperti malah ini adalah gambaran bagaimana suasana hatinya, dan biarkan dia menatapnya lebih lama lagi dengan pikiran yang tenang.
" Anya, padahal kau sangat cantik saat tersenyum, kenapa kau selalu berwajah dingin? "
Deg.....
Anya sayang, kau sangat cantik saat tersenyum.
Seperti itulah rangkaian kata-kata yang Max gunakan untuk semakin menerobos masuk ke dalam hatinya, membuat gila, menodainya, lalu menyakitinya dengan sangat dalam.
Anya menatap Arthur dengan tatapan marah, bahkan tanpa dia sadari dia sudah menjatuhkan beberapa air mata ke pipinya.
" Terserah saja jika kau tetap akan disini, tapi jangan mengatakan apapun, terlebih aku paling membenci kata-katamu tadi. " Anya yang tak mau lagi membuang waktu untuk marah dia bergegas masuk, dan meninggalkan Arthur yang menatap punggungnya dengan tatapan bingung.
" Apakah memuji gadis cantik itu kesalahan? Haruskah aku katakan dia tampan? "
Setelah menutup pintunya rapat-rapat, Anya membuang semua bantal, guling, mengacak-acak sprei, bahkan memukul-mukul tempat tidur sembari menangis. Masih sama, sakit itu benar-benar masih begitu terasa setiap kali ada seseorang yang membuatnya mengingat itu. Sudah pergi sejauh ini, tapi tetap saja tidak mampu menghilangkan rasa sakit itu, batin Anya seraya memukul-mukul dadanya yang terasa sesak dan sakit.
Apakah memang kematian adalah akhir dari sebuah penderitaan yang di akibatkan siksaan batin? Seperti itulah setiap kali Anya mengingat segala hal tentang Max. Mati, hanya itu yang dia inginkan, tapi untungnya Tuhan selalu saja membuatnya teringat keluarga, juga senyum anak-anak yang tinggal di seberang rumahnya. Meski sudah pernah memegang karter dan hampir membelah kulit pergelangan tangannya, nyatanya semua itu Tuhan gagalkan dengan caranya.
" Bagaimana lagi caranya agar aku bisa membuang rasa sakit dan bersalah ini? Sesak, seakan sekarat, tai nyatanya aku tetap hidup. Tuhan, jika memang sesakit ini, bagaimana aku bisa yakin bahwa aku mampu menjalaninya lebih lama lagi? " Ucap Anya lalu kembali menangis.
Anya, bisakah jangan begitu terluka? Aku juga sangat sakit melihatmu seperti ini.
Selama ini Max terus mengikuti Anya kemanapun pergi, tentu saja dia tahu bagiamana Anya, juga dengan siapa saja Anya dekat. Anya akan tersenyum, tapi jika ada pria yang mendekatinya, dia akan menjadi dingin, juga memproteksi dirinya agar tidak lagi menjadi incaran pria. Rasanya sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan, karena kini dia tahu seberapa besar luka serta trauma yang dirasakan Anya hingga tidak lagi bisa membiarkan siapapun mencoba masuk ke hatinya.
***
Damien tersenyum ramah kepada orang tua Shen yamg kini duduk diseberang mejanya. Di sana juga ada Asha yang tersenyum bahagia melihat kedatangan Damien.
" Jadi, apa tujuanmu datang kerumah ini? Ada perlu denganku, atau dengan yang lain? " Tanya Ayah Gani yang terlihat dingin juga tegas.
Damien memaksakan senyumnya, dia menelan salivanya karena merasa gugup menghadapi Ayahnya Shen. Padahal, Asha bilang kakeknya adalah orang yang sangat baik dan ramah, tapi dimana yang namanya ramah itu? Dari awal mereka bertemu, yang ada Ayahnya Shen terus menatap dengan tatapan tajam sembari menyelidik.
" Em, maksud kedatangan saya kesini, saya ingin meminta izin dari paman dan bibi. Saya ingin menikahi putri paman dan bibi. " Ah, benar-benar tidak tahu lagi bagaimana caranya bosa-basi, padahal itu adalah ahlinya kan? Tapi tidak juga salah, soalnya tatapan Ayah Gani benar-benar membuat orang tertekan.
Ibu Lean terdiam sembari memcuri pandang ke arah Shen yang nampak malu meski sebisa mungkin menutupi dengan wajah acuhnya.
" Maksudnya, paman akan menjadi Ayahku juga? " Tanya Asha yang kini berubah ekspresi, dan tak lagi terlihat sebahagia sebelum Damien menyampaikan maksudnya.
" Apakah boleh begitu? Paman tidak berniat menggantikan Ayahmu, Arnold tentu saja masih Ayahmu, dia akan mnejadi Ayahmu selamanya, dan paman akan menjadi teman, kakak laki-laki, juga paman akan menemanimu bermain saat Ayahmu sedang tidak bisa, bagaimana? " Ini adalah cuplikan naskah dari novel yang ia baca tentang pria pengejar cinta janda muda. Hah, ampuh tidak ya? Batin Damien.
" Sungguh? "
" Tentu saja. " Damien memberikan jari kelingkingnya untuk saling mengikat janji, dan dengan senang hati Asha menyambutnya.
Ayah Gani menghela nafas, menatap lagi Damien dengan lebih tajam.
" Seberapa besar kemungkinan adanya perselingkuhan kalau benar kalian menikah? "
Damien tersenyum, kalau ini sih tidak perlu tegang, dia bisa menjawab dengan santai kok, batin Damien.
" Tidak perlu khawatir paman, anu ku sudah lelah berkelana kok. "
Bersambung....