
Shen tersenyum menatap Mona yang kini masih berbaring di brankar rumah sakit. Wanita itu nampak enggan mengindahkan adanya Shen disana, dia lebih memilih memiringkan tubuhnya untuk membelakangi Shen.
" Kenapa? Apa melihatku membuatmu muak? Ataukah, wajahku membuatmu silau? "
Mona masih enggan untuk membalikkan tubuhnya, dia justru menarik selimut itu tinggi-tinggi dan menutupi seluruh tubuhnya.
" Baik, tidak masalah jika kau tidak mau melihatku. Tapi, ada pesan yang harus aku sampaikan padamu dari suamiku. "
Mona mencengkram kuat kain selimut, lalu mengigit bibir bawahnya dengan mata yang mulai memerah.
" Ini buah untukmu, dan juga cek dariku untukmu. "
Mona sontak bangun dari posisinya, lalu menatap Shen penuh tanya.
" Cek untuk apa? " Mona bertanya dengan nada kesal.
" Untuk apa? Ya tentu saja untuk pergi ke Paris. " Shen tersenyum, sementara Mona melotot kesal.
" Siapa yang memberitahumu?! Ini adalah janji kami berdua, kenapa kau bisa tahu?! "
" Karena, Arnold tidak ingin aku salah paham, jadi dia memberitahuku tentang permintaanmu itu. Dia sangat menjaga perasaanku, jadi jangan marah padaku, juga jangan menyalahkan suamiku. "
Mona mencengkram hingga tangannya gemetar, lalu menghempaskan selimutnya kelantai dengan wajah marah.
" Pergi! Aku bilang, pergi! " Teriak Mona karena tidak ingin mendengar apapun lagi yang akan membuatnya semakin frustasi.
" Kenapa? Apa kau membenciku karena aku menyampaikan apa yang suamiku katakan? " Shen menghela nafas seolah dia tengah merasakan betapa sedihnya Mona saat itu.
" Mona, kau tahu apa yang membuatmu tidak menarik lagi? " Shen berjalan mendekat, lalu menyelipkan anak rambut Mona ke belakang telinganya.
" Itu karena dia bosan dengan rasamu. Aroma tubuhmu, sikap sok lembut mu, penampilanmu, juga bentuk tubuhmu yang sekarang semakin kurus. Kau pikir, laki-laki hanya akan mengabaikan wanita gemuk? Tidak! Laki-laki juga tidak menyukai bentuk tubuh yang terlalu kurus kering seperti tubuhmu sekarang. Lihatlah bibirmu yang mengelupas dan sedikit gelap dari biasanya, kalau dibandingkan dengan kau dulu, tentu saja semua orang akan enggan menoleh ke arah dirimu yang sekarang. "
" Kau sedang menjebak ku?! "
Shen tersenyum, lalu menjauhkan dirinya.
" Terserah kau saja, toh hidupmu kau sendiri yang menentukan. Aku hanya memberimu saran, tapi bukan untuk kau gunakan agar suamiku tergoda. Aku memberimu saran agar kau menemukan laki-laki lain yang akan mencintaimu seperti Arnold yang mencintaiku saat ini. "
Setelah mengatakan itu, Shen meninggalkan Mona yang terdiam dengan pemikirannya. Begitu keluar dari ruangan itu, Shen segera menyeka lipstik warna merah terang yang sengaja di gunakan sebelum masuk ke kamar Mona, eyeshadow berwarna merah sama seperti bibirnya juga sudah ia hapus. Iya, dia ingin membuat Mona melihat bagaimana penampilannya, dan menjadikan dia sebagai sosok yang harus ia ikuti. Dengan kata lain, Shen ingin Mona menjadi dirinya yang dulu.
Mona mengigit kuku Ibu jarinya, memikirkan segala ucapan Shen yang memang terdengar aneh, tapi apa yang Shen ucapkan sepertinya juga bukan hal buruk untuk dicoba. Kalau dilihat kembali, tubuh Shen memang sedikit berisi darinya, bagian dada dan bokongnya juga dibilang sangat proporsional. Dengan segera Mona meraih ponselnya, lalu menghubungi pelayan yang bekerja dirumahnya.
" Berikan aku pil penggemuk badan, dan juga lipstik merah yang agak terang, juga semua make up ganti dengan variasi yang banyak warna berani. "
Shen tersenyum karena masih bisa mendengarnya meski tidak terlalu jelas.
Mona, mungkin yang kau pikirkan hanyalah tentang sedikit gemuk saja, tapi mari kita lihat bagaimana penampilanmu nantinya.
Shen berjalan meninggalkan tempat itu, ternyata mendatangi Mona bukanlah hal yang sulit. Selain Ibunya yang harus mondar mandir dari rumah kerumah sakit, ditambah lagi Ayahnya yang katanya sibuk mencari putri kedua mereka, Cih! Mona benar-benar tidak beruntung karena bertemu dengan Shen pagi ini.
" Lancar, semua akan terjadi seperti yang kita harapkan. "
" Bagaimana kau bisa yakin? " Zera mengeryit penuh tanya.
Shen tersenyum, lalu mencubit pelan pipi Zera.
" Orang yang meminum pil atau ramuan penggemuk badan, nafsu makannya tidak akan terkontrol, dia pasti akan mengabaikan seberapa banyak makanan yang sudah dia konsumsi demi memuaskan nafsu makannya. Mari kita lihat saja nanti, karena sudah akan ada orang yang membantu untuk melancarkan rencana ini. "
Zera tersenyum memamerkan barisan giginya, tak lupa dia mengacungkan kedua jempolnya tinggi-tinggi untuk mengapresiasi apa yang dilakukan sahabat baiknya itu.
" Shen bolehkah aku jatuh cinta padamu? " Zera bergelayut manja di lengan Shen.
" Menjijikan! " Shen menjauhkan Zera dari lengannya, lalu kembali berjalan meninggalkannya yang justru terkekeh geli dengan ucapannya tadi.
***
" Aku merindukan orang tuaku, tapi aku masih tidak mau menemui mereka. " Marisa menatap jendela kaca dari sebuah apartemen yang disediakan Digo untuk Marisa tinggal.
" Kau bisa datang, dan melihat keadaannya. Setidaknya untuk memberitahu mereka bahwa kau baik-baik saja. " Digo memeluk pinggang Marisa dari belakang, lalu mendaratkan sebuah kecupan di tengkuk wanita yang ia perlakukan dengan amat lembut. Iya, lembut sampai wanita itu terbang ke nirwana, dan barulah menjatuhkannya sampai ke dasar yang paling menyakitkan.
Marisa menghela nafasnya, sebenarnya dia juga merindukan orang tua dan kakaknya, tapi kata-kata menyakitkan dari mulut Ibunya terakhir kali benar-benar sangat membekas di hati dan sulit untuk dilupakan. Sudah satu pekan lebih dia tinggal di apartemen itu, dan melakukan apa yang dilakukan suami istri saat Digo datang. Tapi hanya sebatas itu, karena Marisa juga tidak sempat membagi keluh kesahnya kepada pria yang menjanjikan kebahagiaan untuknya.
" Sudah larut, apa kau tidak ingin pulang? " Tanya Marisa karena tumben sekali Digo masih betah berada disana. Padahal, biasanya dia hanya akan datang paling lama dua atau tiga jam, lalu pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
" Apa kau keberatan aku bermalam disini? " Digo membenamkan wajahnya diceruk Marisa, lalu mengeratkan pelukannya.
" Aku tidak keberatan, hanya saja itu tumben sekali. "
" Kalau begitu, ayo buat malam kita menjadi indah. " Digo membalikkan tubuh Marisa agar mereka saling berhadapan, lalu mulai mendekatkan wajahnya.
" Digo, tapi aku sedang dalam suasana hati yang tidak baik. " Marisa mencegah bibir Digo yang sudah hampir sampai ke bibirnya.
" Bukankah kau hanya perlu menemui orang tuamu besok? " Digo meraih tangan Marisa yang menahan bibirnya, lalu mencoba mulai kembali mendekatkan bibirnya.
" Tunggu, Digo! Bukan, tapi Ibuku mengirim pesan bahwa kakakku di rawat dirumah sakit. Lagi-lagi dia gila karena cinta buta, dan mengorbankan dirinya. " Ucap Marisa dengan wajah sedih dan kecewa.
Digo tentu melihat bagiamana ekspresi itu benar-benar tidak dibuat-buat oleh Marisa, rasanya dia mulai menyadari jika Marisa sangat jauh berbeda dengan Mona.
" Menurutmu, kakakmu itu orang yang seperti apa? "
Marisa menghela nafasnya terlebih dulu.
" Dulu, dia adalah sosok yang hebat dan aku kagumi. Tapi apa yang dia lakukan sekarang benar-benar membuatku malu. Aku bahkan masih merasa malu saat menatapmu, lalu bagiamana jika aku bertemu dengan adikmu? Jika aku adikmu, mungkin aku akan menggila, bahkan akan melaporkan perselingkuhan mereka ke polisi. Tapi adikmu terlalu baik, dan itu semakin membuatku merasa bersalah. "
Digo terdiam dengan semua pemikirannya.
Bersambung.....