
Pagi hari.
Marisa ikut membantu Ibu Lean menyiapkan sarapan meski sebenarnya sudah ada pelayan. Tapi Marisa benar-benar merasa salut dengan Ibu mertuanya yang sangat rajin. Jika Ibu mertua saja se-rajin itu, tidak mungkin juga dia diam saja, lagi pula menyiapkan sarapan juga adalah hal yang biasa dia lakukan selama tinggal bersama dengan keluarganya.
" Bagiamana rasanya menikah? Enakkan? Tidur sudah ada yang menemani, pulang ke rumah sudah ada yang menunggu, makan juga ada yang melayani. " Ayah tersenyum meledek Digo yang sedari tadi mencuri pandang ke arah Marisa.
" Ehem! " Digo memperbaiki ekspresinya karena tahu jika Ayahnya memperhatikannya sedari tadi.
" Tidur biasanya ada guling yang menemaniku, makan ada Ibu dapur yang melayani, kerja di antar satpam sampai gerbang, pulang juga disambut oleh satpam. Tidak ada yang berubah, hanya saja berbeda objek saja, tidak terlalu berpengaruh. Kalaupun kesepian juga ada Teo yang bisa dijadikan pelampiasan. "
" Uhuk! Uhuk! " Teo melotot kesal, dia meraih segelas air lalu menenggaknya habis, dan menyeka mulutnya dengan selembar tisu.
" Dasar gila! " Ujar Teo kesal.
Berbeda dengan Ayahnya yang terkekeh geli, Ibu Lean justru menatapnya dengan tatapan mengancam.
" Kalau begitu, mulai hari ini kau tidak perlu melayani suamimu, Marisa. Kalau dia melakukan banyak hal dengan satpam, biarkan saja satpam itu juga menemaninya tidur mulai malam nanti, kau bisa tidur dikamar Shen lagi. Atau kau mau menemani Teo bermain game juga boleh saat malam. "
Teo melotot heran dengan ucapan Ibunya, sementara Digo mengeryit sebal tapi juga tidak berani membantah Ibunya. Marisa menahan bibirnya agar tak membentuk senyuman, sementara tangannya terus bekerja menyendok kan nasi untuk Digo.
" Ide Ibu bagus juga, kalau Ayah perhatikan, sebenarnya Digo cukup dekat dengan satpam rumah kita. "
Digo menatap kesal Ayahnya sembari mencubit pelan perut Ayahnya yang duduk disampingnya.
" Ayah, jangan lupa kalau aku adalah anak mu. " Digo tersenyum dengan tatapan mengancam. Iya, maksudnya agar tidak mempermalukannya di hadapan Marisa.
" Oh iya, Marisa. Setelah Ayah dan Digo pergi, kita pergi belanja ya? Sebentar lagi juga perutmu kan akan membesar, jadi kita siapkan dari sekarang saja. Nanti kalau sudah mendekati bulannya, kita baru belanja keperluan bayinya. " Ajak Ibu Lean.
" Baik, Ibu. "
Digo menatap Ibunya, lalu menggerakkan kakinya untuk menyenggol kaki Ibunya. Digo sebisa mungkin menyampaikan kepada Ibunya kalau dia juga mau di ajak belanja bersama Marisa lewat isyarat matanya.
" Aduh! Kakiku gatal. " Ibu Lean meraih pergelangan kaki Digo, lalu mencubitnya dengan kuat.
" Ah! " Pekik Digo reflek membenahi duduknya.
" Marisa, enaknya kita belanja berdua atau bertiga saja ya? "
" Berdua saja, Ibu. Karena yang ketiganya biasanya kan setan. " Ujar Marisa yang sepertinya paham dengan maksud pertanyaan Ibu mertuanya itu.
***
Arnold kini menjadi buah bibir para karyawannya setelah perubahan sifat yang begitu drastis. Dalam waktu tiga minggu terakhir dia selalu saja bersikap dingin, bukan hanya pada karyawannya saja, bahkan dengan beberapa mitra kerja sama juga begitu. Terbukti juga beberapa hari yang lalu dia dengan dingin mengusir sekretaris cantik dari rekan bisnisnya yang di utus untuk mendekati Arnold sebagai hadiah dari kerja sama mereka.
Andre juga tak kalah bingung dengan perubahan yang terjadi dengan pria yang sudah ia layani selama delapan tahun ini. Padahal, dulu dia adalah orang yang lumayan hangat meski sesekali juga bersikap dingin. Tapi semenjak kepergian Istri dan Anaknya dia menjadi begitu berubah. Dia tidak akan segan memberi hukuman, memaki, juga dengan mudah mengambil keputusan. Untunglah, semua keputusan yang ia ambil tidak terlalu memberikan efek pada perusahannya.
" Tuan, ini sudah pukul sembilan malam, apa anda masih ingin disini? " Tanya Andre setelah beberapa kali mengetuk pintu tapi tak mendapatkan jawaban, jadi langsung saja dia masuk kedalam ruangan Arnold. Dan lagi, pria itu berdiri, terdiam memandangi dinding yang terbuat dari kaca disebagian ruangannya.
" Pulanglah, aku masih ingin disini. " Ujar Arnold tanpa mengalihkan pandangannya.
" Tuan, maafkan saya kalau terlalu ikut campur dengan urusan pribadi anda, tapi anda juga tidak boleh mengabaikan kesehatan anda. Saya tahu ini berat, tapi kalau anda sakit, anda bisa saja tidak bisa meyambut kedatangan Nyonya muda dan putri anda. "
Arnold terdiam sesaat, pandanganya masih terpaku dengan apa yang sedari tadi lihat.
" Aku ingin istirahat, tapi obat tidur yang aku beli satu botol besar bersisi enam puluh butir juga tidak mampu membuat ku tidur. Kalaupun bisa, yang ada di dalam mimpiku adalah, Shen, dan juga Asha mereka menemukan laki-laki yang menggantikan posisiku. Aku selalu bermimpi Asha memanggil Ayah, berlari kencang tapi bukan ke arahku. Dia merentangkan tangan menuju seorang laki-laki yang tengah menggenggam tangan Shen. Menurutmu, apakah aku bisa tenang dengan istirahat? Tidak! Aku tersiksa dengan mimpiku, rasanya menyesakkan dada, hingga aku tidak ingin hidup lagi. "
" Bisa saja laki-laki itu adalah anda sendiri. "
" Bagaimana kalau bukan? Hanya mengandalkan kemungkinan, tidak akan ada yang pasti. Aku juga tidak akan bisa tenang sebelum menemukan mereka, membawa mereka pulang meski aku juga tidak bisa menghapus segala hal buruk yang sudah kulakukan. "
Andre terdiam karena tidak tahu harus bagaimana lagi menasehati Arnold. Awalnya dia mengira jika Mona satu-satunya wanita yang bisa menerobos masuk ke dalam hati Arnold, tapi tanpa dia duga, Shenina, atau istri dari Arnold sendirilah yang telah memenuhi ruang di hati pria itu.
" Tuan, saya memang tidak mengenal dekat Nyonya Shen. Tapi rasanya saya tahu satu hal, dia adalah wanita yang baik, dan juga sangat mencintai anda. Tapi jika cinta itu memang berkurang karena luka yang ada berikan, maka buatlah dia jatuh cinta lagi. Tidak benar jika hanya mengandalkan kata kemungkinan, tapi anda juga tidak boleh lupa, kemungkinan juga bukan berarti tidak akan memberikan hasil nyata. " Andre tersenyum memandangi punggung Arnold, lalu memohon izin untuk keluar dari ruangan.
Arnold terdiam karena merasa jika panjang lebar dia menjelaskan juga belum tentu orang akan memahami perasaan dan hatinya yang selalu saja tak bisa merasakan tenang.
***
Max memandangi photo-photo yang dikirimkan dari orang yang dia suruh untuk mencari tahu dimana Anya sekarang ini. Setelah tiga minggu mencari, kini dia sudah mendapatkan hasilnya.
" Apa yang kau lakukan dengan menjadi pelayan mini market? Bukankah keluarga mu kaya? Sejauh ini kau pergi, hanya untuk ini? " Max mengusap wajah Anya yang tersenyum sembari menyerahkan tas belanja kepada pelanggan mini market.
" Jika aku menemui mu, apakah kau akan sudi berbicara denganku? "
Bersambung....