Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 60



Hari terus berlalu membawa kesedihan yang sama bagi Mona. Pikiran stres, butuh liburan, tapi tidak bisa kemana-mana karena setiap kali dia keluar rumah, orang akan meliriknya sinis lalu bergunjing saat matanya terarah padanya, ada juga yang terang-terangan memakinya.


Perusak rumah tangga orang, tidak tahu malu, gendut, jelek, mirip babi, wanita gila, dan masih banyak lagi umpatan yang dia terima asalkan kakinya melangkah keluar rumah.


Mona menghela nafas sebalnya karena sudah dua bulan terakhir ini dia menghabiskan banyak uang, dan tidak ada pemasukkan sama sekali. Apalagi saat tubuhnya bertambah gendut setiap harinya, jangankan acara TV, acara kecil saja tidak ada yang mau mengundangnya datang.


" Bagaimana ini? Kalau aku tidak bekerja, lama kelamaan aku juga bisa melarat. " Gumam Mona sembari menatap ke arah luar melalui jendela kamarnya. Dulu, selain menghasilkan uang sendiri, dia juga dibebaskan memakai kartu kredit milik Arnold, sialnya itu semua hanya dulu.


" Aku harus mengembalikkan bentuk tubuhku, kalau tidak aku juga akan kesulitan mencari uang, dan kembali membuat Arnold melirik padaku. " Mona meraih ponselnya, mengecek berapa nominal dana yang ia miliki, lalu menghela nafas lega karena masih cukup untuk membiayai program dietnya.


" Aku harus jadi lebih cantik dari pada Shen, barulah bisa memberi pelajaran kepada dia. Berani-beraninya membohongiku, dan gara-gara saran darinya aku jadi gila makan sekarang. " Kesal Mona.


Hari yang menyedihkan juga dilalui Arnold. Semenjak Asha dan Shen pergi dari rumah, yang dia lakukan adalah mondar-mandir mencari mereka berdua, sisa waktunya hampir dia habiskan untuk bekerja. Entah bagaimana membuatnya bisa melupakan sejenak tentang kesedihan itu selain bekerja, bekerja, lalu mabuk saat dia sudah sangat kacau.


" Shen, Asha, kalian ada dimana? " Arnold terduduk lesu sesegukan setelah memandangi photo anak dan istrinya. Menyesal sudah tiada arti, ingin kembali meraih, tapi tak berdaya karena sosok nya entah kemana. Hanya air mata penuh penyesalan, juga rasa marah terhadap dirinya yang sulit untuk dia tahan. Mungkin, jika mati akan membuat mereka bertemu, maka Arnold juga ingin melakukannya, tapi sedikit keraguan juga ada bahwa kalau dia mati, lalu Asha datang mencarinya bagaimana?


" Arnold, istirahatlah nak. Ini sudah malam, Ibu tahu kau sedih, tapi kalau kau seperti ini terus, mana bisa kau menemukan mereka? " Ucap Ibu Resa yang baru saja tiba untuk melihat bagaimana keadaan Arnold.


" Tidak bisa, Ibu. Aku tidak bisa tenang, bahkan disaat aku tidur aku sulit memejamkan mataku. Aku seperti mendengar suara Asha memanggilku, Aku selalu melihat bayangan Shen yang tidur di sebelahku, memelukku seperti biasanya. "


Ibu Resa berjalan mendekat, dia menyentuh pundak Arnold dan memegangnya erat.


" Mereka pasti akan kembali, nak. "


" Mungkin, disaat mereka kembali, aku bukan lagi Ayah yang diinginkan Asha, aku bukan lagi suami yang dicintai Shen. Aku bukan siapa-siapa bagi mereka berdua, dan aku juga tidak sanggup kalau itu terjadi. "


Ibu Resa menyeka air matanya.


" Asha adalah putri kandungmu, selama ini kau mencintai, dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Mana mungkin dia akan melupakan, dan tidak menginginkan mu? "


" Di dunia ini, bahkan manusia memakan kepalanya saja mungkin akan terjadi, jadi bagaimana aku bisa tenang? " Arnold tahu benar jika akan banyak pria yang mendekati Shen, juga pasti akan dengan senang hati menerima putrinya yang cantik, juga sangat penurut.


" Kau kan tahu, Shen sangat mencintaimu, dia hanya marah. Nanti juga akan kembali padamu. " Ujar Ibu Resa.


" Ibu, orang yang memiliki kekuatan paling besar untuk menyakiti adalah orang yang kita cintai. Bayangkan saja saat dulu Ibu sangat mencintai Ayah, dan Ayah berselingkuh, membawa wanita selingkuhannya kerumah, mengenalkan pada anaknya, bahkan masih terus menyakitinya setelah Ibu mengalami banyak penderitaan. Apakah Ibu akan tetap mencintai Ayah? Tidak! Besarnya rasa cinta itu pasti akan menjadi kebencian yang jauh lebih besar. "


Ibu resa menunduk pilu.


***


" Dengar ya, ini adalah batas yang sudah ditentukan, jadi jangan melewati batas. " Ucap Digo seraya menepuk bantal guling yang ada ditengah-tengah tempat tidur mereka.


" Tenang saja, lebih baik kau peringatkan dirimu sendiri untuk jangan melewati batas. Asal kau tahu, semalam kau memelukku terus menerus. "


Digo mengeryit dengan tatapan yang tak terima.


" Gila ya? Mana mungkin aku begitu? Kau pasti yang sudah menarik tubuhku kan? "


Marisa kembali menghela nafasnya.


" Maaf, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu. " Ucap Marisa seraya merebahkan tubuhnya, lalu miring dan membelakangi Digo.


" Hei! Orang hamil kan hanya boleh tidur miring ke kiri. " Protes Digo. Cih! Padahal dia sengaja dengan posisi itu supaya Marisa miring dan menatap ke arahnya kan?


" Aku sudah membaca banyak Artikel tentang kehamilan, kau tidak perlu mengatakan apapun. "


Digo kembali menatap kesal punggung Marisa. Rasanya sudah ingin membalikan saja tubuh itu dengan tangannya, tapi dia kan juga tidak boleh melanggar aturan yang dia buat sendiri.


" Tetap saja, kau harus membiasakan diri dari sekarang! "


" Nanti saja membiasakan dirinya, sekarang-sekarang ini masih mual melihat mu. "


Digo terperangah kesal tanpa mendapatkan pelampiasan.


***


Anya menatap suasana pagi yang terbilang cerah setelah semalaman turun salju. Cuaca boleh cerah, tapi suhunya masih sedingin hatinya yang masih belum sembuh dari luka yang ia dapatkan.


Mungkin dia hanya bisa diam saat merasakan luka ketika dia mengingat kenangan bersama Max. Tapi siapa yang tahu kalau setiap detik dia selalu memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri demi menghilangkan luka yang kini menjadi beban dihatinya.


Tak ada yang spesial, karena pilihan Anya untuk hidup sederhana, bahkan dia juga menghabiskan waktunya untuk bekerja sebagai pegawai mini market saat siang hingga malam hari. Entahlah, mungkin keinginan untuk berfoya-foya seperti dulu sudah lenyap berbarengan dengan rasa cintanya kepada Max. Tidak tahu mau sampai kapan dia menetap disana, tapi setidaknya tempat itu cukup jauh untuk melupakan Max secara perlahan.


Hampir satu bulan dia berada disana, satu bulan juga ia tidak memberi kabar kepada keluarganya. Bukan tidak perduli, hanya saja dia sangat malu menghadapi keluarganya dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu.


Suara dering ponsel menghentikan lamunan Anya, segera dia meraih ponsel dan menerima panggilan itu.


Anya, bisa kau datang? Hari ini tidak ada yang membantuku untuk menyortir barang.


" Iya, aku datang. " Anya memutuskan sambungan teleponnya, lalu tersenyum setelah menghela nafasnya. Sungguh tidak pernah ia bayangkan akan hidup se-sederhana ini, tapi berkat kegiatan ini juga dia sudah mulai bisa mengurangi rasa sedih, juga rasa ingin bunuh diri itu.


Bersambung.....