Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 27



Arnold berjalan pelan setelah kembali dari kantor. Ini sudah pukul dua puluh tiga, dia juga tahu benar bahwa Asha sudah tidur, tapi dia ingin menemui sang anak lalu tidur sembari memeluknya. Maka bergegas Arnold berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri, barulah dia menuju kamar Asha.


Setelah meraih handle pintu, perlahan Arnold membukanya karena takut akan mengganggu tidur sang anak.


Deg...


Langkah kaki Arnold terhenti begitu dia melihat Shen juga ada disana tengah tertidur di samping Asha. Sejenak dia mematung memandangi wajah keduanya dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa ia jelaskan melalui kata-kata. Setelah beberapa saat, dia berjalan pelan menuju tepat tidur Asha, lalu duduk dipinggiran tempat tidur. Kembali dia menatap wajah Shen dan Asha bergantian.


Wajah yang damai, dan juga Polos. Itulah yang terlihat dari wajah keduanya. Cukup lama Arnold memandangi wajah Shen dan Asha, hingga tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja. Segera dia menyeka, lalu mulai membaringkan tubuhnya disana. Memang tidak seluas tempat tidurnya, tapi rasanya begitu hangat dan nyaman bisa tidur bertiga seperti ini.


Arnold memiringkan tubuh Asha menghadap dirinya, memeluknya, agar dia juga bisa menatap wajah Shen dengan leluasa. Iya, ini adalah kali pertama mereka tidur bertiga, dan ini juga kali pertama Arnold bisa dengan leluasa menatap wajah cantik Shen yang sebelumnya tidak pernah ia lihat dengan sedetail ini.


Bermimpilah indah, Asha ku, dan juga kau, Shen.


Arnold menggerakkan tangannya perlahan untuk memegang tangan Shen, setelah pasti Shen tidak terbangun, dia mulai memejamkan mata untuk menyusul mereka ke alam mimpi. Dan disaat itulah, Shen membuka mata, lalu kini dialah yang menatap wajah Arnold, lalu menatap tangannya yang digenggam olehnya.


" Semoga mimpi indah, Arnold. " Shen kembali memejamkan mata.


Pagi harinya.


Asha terbangun dengan perasaan yang amat bahagia. Ternyata tubuhnya bangun sepagi ini adalah untuk membuatnya melihat bahwa dia semalam tidur bersama Ayah dan Ibunya. Iya, ini benar-benar pertama kalinya Asha tidur bersama Ayah dan Ibunya, alias bertiga. Karena rasa bahagianya yang luar biasa, dia memberikan kecupan sayang di pipi Arnold dan Shen secara bergantian.


" Asha? Sudah bangun? " Shen bertanya seraya mengucek matanya saat merasai pipinya dikecup oleh sang putri.


Asha mengangguk sembari tersenyum bahagia.


" Apa aku mengganggu tidur Ibu? "


Shen tersenyum lalu menggeleng.


" Tentu tidak dong, sayang. Ibu juga harus bangun segera, dan membantu Ibu dapur untuk memasak. "


Arnold menggeliat karena terusik dengan obrolan Asha dan Shen.


" Ayah? " Asha memeluk tubuh sang Ayah.


" Ayah, terimakasih karena sudah tidur dengan ku dan Ibu ya? " Ucap Asha dengan wajah yang begitu bahagia, bahkan ini adalah pertama kalinya Asha terlihat sangat bahagia.


Arnold terdiam sesaat, lalu tersenyum dan mengelus kepala Asha.


" Iya, Ayah janji akan sering tidur bersama Asha dan Ibu. "


Shen terdiam, bukan tidak ingin membuat Asha bahagia, hanya saja dia takut kalau dia sering bersama dengan Arnold di atas tempat tidur akan membuat hatinya goyah. Tapi mau dihindari juga bagaimana bisa? Selain Arnold suaminya, wajah bahagia Asha barusan cukup membuatnya sadar bahwa Arnold lah satu-satunya sosok Ayah yang diinginkan Asha.


Tak ingin terlalu lama larut dalam pemikiran galaunya, Shen mulai bangkit perlahan untuk menuju kamarnya. Tentu tujuannya adalah untuk mandi, dan merapihkan diri sebelum pergi ke dapur.


Beberapa jam setelahnya.


Kenapa anak ini? Sudah beberapa hari ini seperti orang gila, jatuh cinta kah? Cih! Kasihan sekali laki-laki itu karena telah jatuh cinta dengan salah satu penyihir jahat.


" Anya? "


Shen dan Anya kompak menoleh ke arah sumber suara. Iya, dia adalah Mona. Shen tersenyum miring, hanya sejenak dia menatap Mona karena cukup merasa salut juga dengan kegigihannya.


" Kak Mona? Kakak sudah sembuh? Maaf ya aku tidak sempat menjenguk kakak. " Anya bangkit dari duduknya lalu menepuk ruang kosong di sampingnya.


" Tidak apa-apa, aku sudah baik-baik saja kok. " Ujar Mona seraya berjalan mengambil posisi duduk, matanya melirik tajam melihat Shen yang seolah tak perduli dengan adanya dia disana. Mona menatap detail tubuh Shen dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, Perfect! meskipun dia enggan mengatakannya, tak bisa dipungkiri jika tubuh Shen memang sangat bagus, ditambah lagi wajahnya yang sangat cantik. Sial! semakin lama dia memerhatikan Shen, dia malah semakin kesal dan cemburu. Padahal niat memperhatikan Shen adalah untuk mencari kekurangannya saja, tapi malah kalau dipikir-pikir, dia kalah dengan Shen secara penampilan.


" Kakak mau bertemu kak Arnold? " Tanya Anya.


" Apa dia ada? "


" Ada, tapi aku tidak akan membiarkan dia mendatangimu. " Shen sejenak menatap Mona sembari tersenyum dengan mimik yang begitu aneh bagi Mona.


" Kak Shen, kakak Mona adalah tamu, kakak tidak boleh tidak sopan begitu! " Anya mendelik kesal. Sebenarnya Anya bukan lagi kesal karena Shen yang memalukan, tapi dia kesal karena Shen berubah menjadi sangat cantik, bahkan wajah Shen sangat tidak pasaran seperti wajahnya.


" Oh, tamu ya? Kalau tamu juga harus tahu diri. Mana ada tamu datang dengan niat menggoda suamiku. "


Mona menggigit bibir bawahnya menahan kesal.


" Jaga bicaramu! Kau hanyalah istri di atas kertas, jadi jangan terlalu bangga dengan status itu. "


" Pft.... " Shen membalikkan tubuhnya, yang otomatis membuat selang air mengarah kepada Mona dan Anya.


" Ah! " Pekik Mona dan Anya saat air menyembur ke arah mereka.


Mendengar ada suara teriakkan, Arnold dan yang lainya berlari keluar rumah. Seperti yang diperhitungkan oleh Shen, dia yang kini sudah berdiri di dekat keran air terus saja memutar agar kran semakin terbuka, bahkan air itu sampai keluar dari celah keran dengan derasnya.


" Ah! " Pekik Shen berpura-pura kebingungan menahan air yang keluar dari celah keran saat Arnold dan yang lainya sampai disana. Tak memperdulikan Anya dan Mona, Arnold bergegas menghampiri Shen, melepas bajunya, lalu menutup keran itu dengan baju yang ia gunakan tadi.


" Kau tidak apa-apa? " Tanya Arnold khawatir.


" Ti tidak. " Ucap Shen berpura-pura menggigil.


Awalnya Arnold ingin meminta Shen untuk masuk dan mengganti bajunya, tapi melihat pakaian tipis yang digunakan Shen, dia melotot kaget seraya menelan salivanya sendiri. Iya, penutup dalam yang berwana serba hitam itu nampak jelas saat semua pakaian tipis yang digunakan Shen basah semua. Jika Arnold yang pernah melihatnya secara langsung tanpa penutup saja merasa tidak karuan, lalu bagaimana kalau sampai tukang kebun, penjaga, dan pelayan pria kalau sampai melihatnya?


Arnold menarik lengan Shen, menempelkan tubuh mereka, lalu memeluk pinggangnya erat-erat.


" Lain kali gunakan pakaian yang lebih tebal, dan juga mulai sekarang jangan lagi menyiram tanaman, kau kan tahu sudah ada tukang kebun, untuk apa membuang waktu untuk pekerjaan yang bukan tugasmu? " Arnold mengomel sembari menuntun tubuh Shen untuk masuk kedalam. Tak hanya diam, Shen juga memeluk erat tubuh Arnold, lalu menoleh kebelakang, tepatnya untuk menunjukkan kepada Mona bahwa istri di atas kertas juga tidak patut untuk diremehkan. Shen tersenyum miring, lalu menjulurkan lidahnya.


" Bye.... " Ucap Shen tanpa suara.


Bersambung.....