
Seperti hari sebelumnya, Shen menjalani rutinitas seperti biasanya. Menyiapkan sarapan untuk Asha dan yang lain, mengantar Asha ke sekolah, lalu menunggunya pulang juga dengan kesibukannya sendiri. Entah itu bertemu Zera, juga kadang dia memilih berbelanja kebutuhannya dan juga Asha.
Seperti hari ini, dia memilih untuk membeli beberapa pakaian untuk Asha dan juga dirinya. Tak lupa, dia juga membelikan beberapa aksesoris kepala untuk Asha, dan juga make up untuk dirinya.
Lelah, itulah yang Shen rasakan. Katanya berbelanja adalah obat suntuk, tapi kenapa dia malah merasa lebih suntuk dengan kegiatan itu? Apakah ini karena dia berbelanja sendiri, sedangkan orang lain berbelanja dengan pasangan, atau juga teman, dan saudaranya.
Shen mendesah sebal saat lagi-lagi melihat pasangan tengah memilih pakaian di ujung sana. Cemburu, dia juga ingin sebenarnya pergi bersama pasangannya, berbelanja, ngopi, dinner, atau hal-hal romantis lain. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau harus meminta Arnold menemaninya, dia juga akan sedikit canggung karena tidak biasa juga.
" Hei, Darling? "
Shen memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya setelah mendesah sebal. Lagi, tentu saja itu suara Damien.
" Kenapa kau ada disini? " Tanya Shen tapi enggan menatap Damien.
" Ya mengikuti mu lah. Aku sebenarnya sudah dari tadi membuntuti mu, tapi karena kau terlihat lelah, lesu, lunglai, seperti orang yang terserang anemia, jadi aku cepat-cepat menghampirimu. " Damien lagi-lagi tersenyum seperti biasanya saat di depan Shen.
" Kenapa kau harus mengikuti ku? "
" Karena aku ingin merasakan bagaimana kalau berduaan berbelanja denganmu. "
Shen tersentak dalam diam. Ya Tuhan, bahkan dia juga memikirkan hal yang kurang lebih sama dengan yang Damien katakan.
" Damien, kapan kau akan kembali ke negaramu? "
" Saat kau sudah menjadi janda, dan saat kau memberikan tanganmu untuk menyambutku masuk ke hatimu. "
Lagi-lagi Shen mendesah sebal, tidak tahulah! Rasanya yang keluar dari mulut Damien memang hanya rayuan gombal yang menyebalkan. Memang tidak tahu bagaimana dia kalau di depan wanita lain, tapi anggapan Shen pastilah sikap Damien akan sama seperti saat bersama dengannya.
" Damien, berhenti menggangguku ya? Kau sudah membuang banyak waktu mu. "
" Hah! Iya, iya, baik. Jangan cerewet lagi, Darling. Ayo, aku bantu membawa belanjaan mu. " Damien merebut semua belanjaan Shen dam berjalan begitu saja.
" Damien! " Panggil Shen dengan nada membentak. Sontak semua orang menoleh padanya karena kaget. Tapi yah dilakukan Damien malah diluar dugaan.
" Hah! Nek, lihatlah istriku! Dia sangat suka marah-marah. Aku sudah membawakan seluruh belanjaannya, tapi tetap saja dia kesal padaku. " Ucap Damien kepada dua orang nenek yang tengah melihat mereka.
" Ya ampun anak muda, jangan terlalu di ambil hati kalau istrimu marah. Cukup peluk, dan rebahkan saja di tempat tidur untuk melakukan ritual ehem-ehem, pasti dia tidak akan marah lagi. " Ujar sang Nenek lalu tersenyum lucu.
" Benar, Nek? Kalau begitu Kan kucoba nanti. "
" Damien! " Shen melotot marah, dia segera berjalan cepat untuk mendekati Damien, dan kalau bisa dia ingin memukul kepala pria itu.
Grep...
" Jangan marah-marah, kita belanja saja layaknya teman, bagaimana? " Damien merangkul Shen lalu berkata demikian.
Entahlah, rasanya Shen tidak perlu lagi memarahi si laki-laki brengsek itu. Tidak masalah berteman dengan Damien, yang penting tidak akan lebih dari teman, batin Shen.
" Masih ada dua jam lebih sebelum anakmu pulang kan? Mau kemana lagi? " Tanya Damien.
Sebenarnya Shen tidak biasa berbelanja bersama pria, tapi dari pada dia sendirian dan merasa suntuk, maka Damien juga lumayan untuk teman meskipun harus mendengar mulut berisik pria itu.
" Kita beli es krim dulu yuk! " Ajak Damien. Dia memindahkan semua belanjaan Shen, ke tangan kirinya,lalu tangan kanannya meraih tangan Shen dan menuntunnya untuk menuju ke tempat penjualan es krim. Tadinya Shen ingin menepis tangan Damien, tapi dia sungguh tidak berdaya karena Damien terus saja menariknya.
" Hai cantik? " Sapa Damien kepada penjual es krim yang adalah seorang gadis.
" I iya? " Jawab penjual es krim itu malu-malu.
" Dasar hidung belang! " Ujar Shen.
Damien menoleh ke arah Shen, lalu tersenyum.
" Cih! Siapa juga yang perduli.
Sejenak Damien terkekeh.
" Aku mau rasa coklat satu ya? Kau mau apa Shen? "
" Mau pulang! "
" Oh, istriku bilang mau Vanila satu. "
Eh? Bukanya katanya mau pulang ya? Batin si penjual es krim.
" Jangan sembarangan menyebut istri! " Kesal Shen sembari mencubit perut Damien yang sejujurnya sangat sulit diraih itu. Iya, maklum saja, perut itu sangat kencang dan six pack.
" Iya, iya! ? Maaf, calon istri alias Darling. "
" Sudahlah, bicara denganmu sama saja aku bicara dengan burung unta. " Shen membuang muka karena sebal.
***
Mona memangku wajahnya mengingat kembali semua hal menyedihkan yang terjadi. Rasanya sudah lewat beberapa minggu, tapi kenapa Arnold belum juga kembali padanya seperti dulu?
Mona mendesah sebal, rasanya memang tidak mudah membuat Arnold kembali padanya kalau masih ada Shen. Tapi, dia juga tidak mungkin membunuh Shen kan? Hello, meskipun dia gila cinta, dia juga masih takut dengan hukuman yang akan diberikan negara kalau sampai dia membunuh.
Sejenak dia mencoba berpikir, tapi sepertinya memang akan sulit.
Tok Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan segala pemikiran Mona.
" Nak, sudah makan? " Tanya Ibunya setelah membuka pintu untuk memastikan makanan anaknya sudah berkurang, bahkan kalau bisa habis sesuai dengan harapannya.
" Sudah. " Jawab Mona singkat.
Ibunya menghela nafas, perlahan dia berjalan mendekati Mona, lalu mengusap kepala sang anak.
" Ada apa denganmu? Ceritakan saja kepada Ibu, apa yang bis Ibu bantu untukmu, nak? "
Iya, ini dia! Mona kini memiliki sebuah ide yang patut di coba.
" Bu, aku jatuh cinta dengan seseorang. Dia awalnya mencintaiku juga, tapi saat istri yang selama ini tidak ia cintai kembali, tiba-tiba sikapnya berubah, dan semakin menjauh. Aku tidak rela, dan aku juga tidak bisa hidup tanpa dia, Ibu. "
Ibu sejenak memegangi dadanya yang terasa nyeri. Rasanya sakit sekali mendengar pengakuan sang anak yang selama ini ia yakini bahwa Mona adalah anak yang paling baik, sopan, bermartabat, cerdas, lugas, dan beretika baik. Tapi hari ini dengan sadar dan tanpa beban dia menceritakan hal yang sangat tidak pantas. Sebagai seorang Ibu tentu dia merasa gagal mendidik sang anak, tapi kalau dia menyalahkan Mona, dia juga takut kalau Mona akan mengulangi tindakan bunuh dirinya seperti beberapa waktu lalu.
" Mona, tapi dia kan sudah memiliki istri. "
Mona meraih kedua tangan Ibunya, menatapnya pilu, juga berharap.
" Mereka tidak saling mencintai, Ibu. Mereka bertahan hanya karena anak mereka. Ibu, tolong temui Arnold, minta dia untuk menikahi ku, tidak apa-apa sebentar menjadi istri kedua, aku akan sabar menunggu sampai dia siap menceraikan istrinya. "
" Mona, tapi itu sangat- "
" Ibu, aku mohon.... Kalau Arnold tetap tidak menikahi ku, maka aku juga tidak ingin hidup lagi. "
Ibu jadi gelagapan karena takut dan khawatir.
" Mona, jangan bicara begitu! Baik, Ibu akan menemui Arnold, lalu memintanya untuk menikahi mu. "
Bersambung....