
Jika Tuhan berkata jadi, maka siapa yang akan bisa membantahnya? Seperti apa yang terjadi di dalam hidup setiap insan, tidak selalu bahagia, juga tidak melulu tentang kesedihan. Boleh merasa terpuruk, tapi tetap tidak boleh menyalahkan Tuhan, belajarlah dari semua luka yang kau rasakan agar bisa mengantisipasi agar tidak lagi terjadi di masa depan, menjadikan pribadi lebih dewasa dalam bersikap, juga membentuk diri agar menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Tapi jika kau merasakan kebahagiaan, maka nikmatilah semua itu, jangan mengingat luka lama agar kau tidak melewatkan sedetikpun kebahagiaan yang tengah menyelimuti hidupmu.
Seperti sepasang anak manusia yang kini tengah bersiap untuk melangsungkan acara pernikahan, meski berada di ruangan yang berbeda, nyatanya mereka merasakan yang sama. Berdebar, gugup, juga bahagia menjadi satu, pernikahan bukanlah untuk pertama bagi Shen, tapi sungguh ini jauh lebih mendebarkan dari yang dia rasakan dulu. Semetara di ruangan lain, Damien kini tengah menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya perlahan terus menerus tapi rasanya tak sedikitpun mengurangi kegugupannya.
" Sialan! Kenapa juga lutut ku lemas dan bergetar? " Damien memijat-mijat kedua lututnya seraya mengatur nafasnya terus menerus.
Alice terkekeh melihat bagaimana adiknya gemetar gugup seperti sekarang ini, jujur di dalam hati Alice merasakan kebahagiaan yang amat dalam dengan bersedianya Damien untuk menikah setelah trauma masa kecil yang selama ini ia rasakan. Tak perlu bertanya seperti apa Shen, sopan atau tidakkah, atau bisa memasak, atau kaya, berpendidikan, dan apapun yang biasa menjadi standard sebuah keluarga ketika ingin menerima menantu karena bagi Alice, kebahagiaan Damien adalah hal yang utama untuknya.
" Are you nervous? "
" Of course! "
Alice berjalan mendekat, memeluk adiknya yang kini duduk memegangi kedua lututnya dari belakang, dia mencium kepala Damien dan menyeka air mata harunya.
" Ini hari bahagia, hanya fokuslah kepada wanita cantik yang akan segera kau nikahi, fokuskan mata juga pikiranmu kepada hal bahagia agar tidak terpengaruhi oleh yang lain, lalu menimbulkan kegugupan seperti ini. "
Damien mengangguk, lalu memegang tangan kakaknya yang terasa dingin.
" Kak, aku akan bahagia, aku juga harap kakak bahagia, dan lupakan penghianat itu. Lihatlah dunia yang dipenuhi pria-pria tampan, kau akan menyesal kalau tidak segera membuka hati. "
Alice terkekeh seraya membenarkan posisinya untuk duduk berhadapan dengan adik laki-lakinya.
" Aku bukanya tidak ingin membuka hati, hanya saja putraku Elshon, dia tidak mudah untuk akrab dengan pria lain selain dirimu, Damien. Aku tentu ingin menikah, tapi pria itu haruslah bisa meluluhkan hati Elshon terlebih dulu. "
Damien menghela nafasnya, sebenarnya trauma dengan hubungan pernikahan bukan hanya karena apa yang terjadi dengan Ayah dan Ibunya, tapi juga karena Alice merasakan hal yang sama, suaminya berselingkuh dengan adik tirinya sendiri, lalu hamil di saat Alice juga hamil muda. Melalui kehamilan tanpa suami, melahirkan tanpa suami, bahkan membesarkannya pun tanpa suami, untunglah Damien ada di setiap momen tersulit di hidupnya. Menjaga Alice, memenuhi ngidamnya, menemani ke dokter kandungan untuk check, bahkan dia juga menemani saat Alice melahirkan melalui bedah sesar, dan yang paling berjasa nya adalah, Damien rela dipanggil Ayah oleh keponakannya sendiri, juga memenuhi tanggung jawab sebagai Ayah yang baik bagi keponakannya.
Hal ini mungkin bisa disebut keberuntungan bagi Alice, tapi bagi Damien seolah menambah keinginannya untuk tidak menikah saat itu.
" Tapi harapan terbesarku adalah, kau tidak akan bertemu brengsek yang lain, dan berakhir seperti Ibu. Kakak satu-satunya saudariku, jadi jangan menemukan brengsek penghianat agar kau hidup bahagia dengan pasanganmu sampai kalian tua nanti. "
Alice tersenyum seraya menghela nafasnya. Damien memang dua tahun lebih muda darinya, tapi dia benar-benar mampu menggantikan sosok suami, bahkan juga Ayah yang hilang dari hidupnya.
" Damien, bolehkah kakak meminta satu permohonan besar lagi? " Alice menatap Damien dengan mata berkaca-kaca.
" Tel me! "
Damien mengeratkan genggaman tangan mereka, lalu menatap dengan sungguh-sungguh.
" I'm promise. " Alice tersenyum, dan Damien menyeka air mata kakaknya.
" Sudah tua masih saja cengeng. " Alice terkekeh, lalu memeluk erat Damien.
" Pengantin pria? Acara sudah akan dimulai. " Panggil Ibu Lean seraya tersenyum menatap keduanya yang kini telah mengurai pelukannya.
" Baik, calon Ibu mertua. "
Alice dan Damien berjalan keluar untuk menuju telat dimana pernikahan akan segera di gelar, sementara Ibu Lean berjalan sembari menatap punggung keduanya dengan perasaan pilu. Sebenarnya dia sudah sampai ke ruangan Damien sedari tadi, tapi karena dia melihat kakaknya ada disana, dan memeluk Damien, dia membiarkan saja dan diam untuk menunggu. Tapi siapa sangka kalau dia malah akan mendengar banyak sekali kesedihan yang di alami keduanya. Sejenak dia berpikir, bagaimana bisa Damien dan juga kakaknya sekuat sekarang? Jika itu terjadi pada dirinya, mungkin dia tidak akan mau hidup lebih lama lagi. Tapi setidaknya apa yang dia dengar barusan semakin membuatnya yakin kalau Damien adalah pria yang pantas untuk dia menitipkan putrinya.
Damien, jaga dan cintailah putriku dengan sepenuh hatimu, aku akan memperlakukanmu dengan baik, sebaik kau memperlakukan putriku.
Damien kembali menarik nafas dan menghembuskan perlahan karena rasa gugup itu datang lagi setelah berada di atas altar untuk menunggu Shen datang. Tak lama pemberitahuan akan datangnya pengantin wanita terdengar, Damien bersiap untuk menyambut Shen dengan tegap meski dia merasakan gugup yang luar biasa.
Musik mengiringi langkah kaki Shen menuju altar, bukan hanya Shen, tapi juga Ayah Gani, Asha yang nampak sangat cantik dengan dress putih, dan rambut dihiasi pita putih yang lucu, juga Elshon yang nampak sangat tampan dengan tuksedo hitam, juga dasi kupu-kupunya.
Tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan rasa bahagianya melihat Shen yang sangat cantik dengan gaun pengantin putihnya, Asha juga tak kalah cantik, juga ada Elshon yang tersenyum dengan wajah tampannya, tak tahan lagi menahan air mata harunya, bahkan dia juga sampai menutup bibirnya yang seolah ingin mengeluarkan suara tangis.
" Kenapa kau menangis? " Tanya Shen begitu sudah dekat dengan Damien.
Damien menghembuskan nafas kasarnya, tersenyum, lalu menyodorkan tangannya untuk menyabut pengantin wanitanya.
" Karena aku tidak pernah merasa sebahagia ini. " Shen memberikan tangannya dengan mata yang berkaca-kaca.
" Me to! " Ucap Shen lalu tersenyum agar bisa membuat Damien berhenti menangis.
Ayah Gani tersenyum bahagia dengan mata yang juga berkaca-kaca.
Berbahagialah anak-anakku.
Bersambung....