Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 82



Marisa terus menerus menangis setelah Dokter mengatakan bahwa kondisi bayi nya semakin memburuk. Shen, Digo, Teo, dan juga orang tua mereka berkumpul untuk menguatkan Marisa, juga Digo yang amat sedih meski mereka juga merasakan kesedihan itu.


" Maafkan kami jika harus mengatakan ini, tapi akan lebih baik jika bayinya diberi nama sekarang saja. " Ujar Dokter itu dengan suara dan wajah yang seolah menggambarkan sebuah hal yang menakutkan bagi Marisa dan semuanya.


" Tidak, aku akan memberikan nama bayiku setelah dia sehat, aku tidak mau memberi naman sekarang! " Marisa menggeleng dengan tangis histeris yang tak bisa ia tahan.


" Nyonya, tolong maafkan kami karena harus mengatakan ini, tapi detak jantung bayi anda sudah sangat lemah, kami juga sudah mencobanya, tapi- "


" Tidak! Kalian kan Dokter, kalian pasti bisa menyembuhkan bayiku! " Marisa bersimpuh meraih kaki Dokter sembari terus menangis pilu.


" Tolong selamatkan bayiku, aku mohon. " Pintu Marisa tak menghentikan tangisannya, bahkan dia juga mengabaikan sakit bekas operasi di perutnya hingga berdarah pun dia sama sekali tak merasakannya.


Digo meraih tubuh Marisa, bersamaan dengan Dokter yang memintanya untuk bangkit.


" Marisa, tolong jangan seperti ini. " Digo sebenarnya juga tak tahan lagi untuk menangis meraung-raung, tapi dia juga harus tenang agar Marisa tak semakin histeris.


" Nyonya, tolong cepatlah, waktunya sudah tidak banyak lagi. " Ucap lagi dokter itu sembari terus berupaya untuk sang bayi. "


Marisa menatap bayinya yang tak bergerak sama sekali, detak jantungnya juga sudah terdengar sangat lemah. Dengan segenap tenaga, kesabaran di saat hati seorang Ibu tersayat seolah tak lagi berbentuk, Marisa menyentuh wajah bayinya, dengan tatapan lembut meski dia menangis dia menyebutkan sebuah nama yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hati.


" Tidurlah dengan tenang, anakku, Morisson. "


Tit........


Digo, dan semua anggota keluarganya kompak menangis pilu maki tak bersuara. Sementara Marisa, dia masih setia menatap sang bayi dengan lelehan air mata yang ia abaikan. Dia terus menatap memperhatikan sang bayi berharap Tuhan memberikan keajaiban dan membiarkan bayinya hidup. Tapi sampai semua alat terlepas dari tubuh bayi seberat seribu dua ratus gram itu, tak ada juga yang namanya keajaiban.


Marisa meraih tubuh mungil bayinya, membawa kedalam dekapannya dengan hati-hati. Menepuk lembut punggungnya sembari menyanyikan lagu pengantar tidur.


" Morrison anakku, tidurlah dengan tenang dan nyenyak ya? Mimpikan Ibu, dan hadir juga di mimpi Ibu agar kita bisa bermain bersama. " Ucap Marisa tenang meski air matanya bisa menjelaskan bagaimana suasana hatinya saat ini.


Digo menyeka air matanya, berjalan mendekat, memeluk Marisa dan anaknya bersamaan. Dia memberikan kecupan di kepala, juga tangan bayinya yang tak lagi bernyawa.


Maafkan Ayah ya sayang? Maaf karena membuatmu menderita, bahkan juga membuatmu tidak bisa melihat indahnya dunia, juga tidak bisa menghabiskan waktu bersama. Tunggu kami datang menemui mu suatu nanti, dan kita akan bersama-sama selamanya.


" Kakak ipar, kita kembali ke rumah ya? " Ajak Shen lembut.


" Rumah siapa? Aku tidak punya rumah untuk ditinggali lagi. " Jawab Marisa dengan tatapan matanya yang masih terpaku menatap pusara sang anak, tangannya menyentuh gundukan tanah yang baru saja terbentuk.


" Kakak, tentu saja rumah kita. "


Marisa tak lagi menjawab, entah sudah berapa juta air mata yang menetes dari matanya. Tapi entah mengapa dia masih saja tak bisa menghentikan itu meski dia sudah mencobanya.


" Marisa, kita pulang dulu ya? Aku janji setiap hari kita akan datang mengunjungi anak kita. " Digo mencoba meraih tubuh Marisa agar segera bangkit karena dia tahu benar jika bekas operasinya pasti akan mendapatkan gesekan dan itu juga bahaya.


Ucapan Marisa barusan sungguh membuat tubuh Digo bak kehilangan seluruh nyawanya. Sejujurnya dia juga seolah tak kuasa menahan kesedihan kehilangan bayinya, tapi demi Marisa yang saat ini sudah seperti tak ingin hidup, Digo terpaksa menyembunyikan kesedihannya agar bisa menguatkan Marisa.


Ibu Lean menyeka air matanya karena tak tahan dengan segala yang terjadi. Rasanya dia masih belum bisa menghilangkan rasa sakit karena penderitaan putrinya, sekarang harus kehilangan cucu, bahkan juga melihat Digo dan Marisa yang tak akur di depan pusara sang anak.


" Marisa, kita pulang saja dulu. Nanti kita bicara lagi ya? " Bujuk lagi Digo.


" Marisa, Ibu tahu rasanya pasti sangat sakit, tapi kami juga merasakan sakitnya. Tolong, mari kita saking menguatkan ya? Morrison pasti tidak akan bahagia melihat Ibu dan juga keluarganya terus bersedih. " Ibu Lean menimpali.


Marisa terdiam sebentar, lalu dia mengusap papan nama sang anak, lalu menciumnya.


" Ibu akan kembali nanti, sayang. " Marisa bangkit dari posisinya, lalu berjalan mengikuti kemana Digo menuntunnya.


Setelah mereka pergi, Mona datang dengan pakaian serba hitam, juga kaca mata hitam sembari menenteng seikat bunga. Dia berjongkok di samping makan Morrison, lalu meletakkan bunga itu.


" Morrison? " Mona tersenyum mengingat nama itu adalah nama yang rencananya akan diberikan kepada Marisa sebelum lahir. Dulu, orang tua mereka mengira Marisa adalah bayi laki-laki, jadi mereka menyiapkan satu nama itu.


" Morrison, aku adalah bibi mu. Maaf karena baru menemui mu ya? Apapun yang terjadi, tolong bahagialah disana, jangan salahkan Ibu atau Ayahmu, salahkan saja Bibi. Bibi adalah orang yang bersalah. " Marisa membuka kaca mata hitamnya, menyeka air matanya dan mengusap nisan sang keponakan.


Hari terus berlalu, kesedihan masih saja dirasakan Shen dan keluarganya. Terlebih Marisa, dia sekarang ini sama sekali, bahkan bisa dibilang hampir tak bicara jika tidak mendesak. Digo sudah mencoba sebaik mungkin sebagai suami, hanya saja dia juga butuh kesabaran lebih kali ini. Ibu Lean dan Ayah Gani kini hanya bisa memberikan semangat, juga nasehat kepada Digo agar bisa lebih legowo menghadapi Marisa, dan Ibu Lean juga tak henti-hentinya memberikan dorongan semangat kepada sang menantu.


Rupanya untuk wanita bernama Shen, kesedihan tak hanya karena keadaan rumah, tapi juga karena hatinya yang masih menanti seseorang. Empat bulan lebih dia menunggu Damien menghubunginya, tapi pria itu malah seolah tak lagi menginginkannya.


" Dasar sialan! Apa dia semudah itu melupakan aku? Ck! " Shen menjauhkan ponsel ke ujung tempat tidur dengan perasaan sebal.


" Kalau penasaran, ya tinggal temui saja. " Ujar Teo yang entah sejak kapan melihatnya di ambang pintu.


" Jangan ikut campur, bocah! "


***


Damien memegang ponselnya yang jarang sekali ia gunakan empat bulan ini. Dia membuka photo-photonya saat bersama Asha dan Shen, mencoba menghilangkan atau sedikit saja mengurangi rasa rindunya itu.


" Shen, apa kabar? Aku ingin menghubungimu, tapi aku takut kecewa nantinya. "


Damien menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya sembari membayangkan wajah Shen saat tersenyum.


" Benar-benar membuatku gila! " Ujar Damien yang tak tahan dengan kegilaannya sendiri.


Bersambung...