
Shen terdiam memandangi gelapnya malam dari balik jendela kaca yang berada di kamarnya. Mungkin, semua yang terjadi terlalu cepat baginya. Cinta, satu kata ini sungguh mampu membuat orang tak berdaya karena rasa dalam jatuh cinta sungguh tak terduga.
Sejenak pernah terlintas untuk kembali bersama Arnold demi Asha. Tapi masalah hati tiba-tiba saja terjadi, dan dia tidak bisa mengelak dengan mudah. Ini bukan hanya sekedar kisah cinta setelah bercerai lalu kembali, dan hidup dengan bahagia dan mengabaikan rasa sakit yang ia terima. Jauh, sekali dari keinginannya. Pada kenyataannya, tidak ada luka yang bisa diterima karena penghiatan. Tidak ada luka yang mampu menyembuhkan perselingkuhan pasangan yang pernah dicintai sepenuh hati.
Bak berdiri di tepian jurang, tapi juga serasa berada di tengah hamparan bunga lili yang indah. Indah, tapi menyeramkan, atau bahkan menyeramkan tapi indah. Seperti itulah suasana hati Shen yang dia sendiri masih belum bisa memahaminya.
" Shen? "
Shen menoleh ke arah sumber suara, dia tersenyum sebagai balasan dari seseorang yang memanggil namanya.
" Ibu?, ada apa malam-malam datang ke kamar? "
Ibu Lean tersenyum, dia berjalan mendekati putrinya yang tadi sempat duduk termenung.
" Apa yang sedang kau pikirkan akhir-akhir ini Shen? Maukah kau menceritakannya kepada Ibu? Meskipun tidak bisa melakukan apapun, sebagai seorang Ibu juga ingin menghibur putrinya kan? "
Shen tersenyum dengan tatapan pilu. Seperti inilah Ibunya, sangat tahu kalau ada hal yang sedang meresahkan hati anak-anaknya. Shen menghela nafas, dia mengubah posisi duduknya, berbaring dengan meletakkan kepalanya di pangkuan sang Ibu.
" Ibu, bagaimana bisa hatiku jatuh cinta dengan pria lain setelah bertahun-tahun mencintai Arnold? Apakah aku terlalu gampangan? "
Ibu Lean tersenyum, dia mengusap lembut kepala sang anak dengan tatapan penuh sayang. Meski tidak tahu detail ceritanya, tapi setidaknya dia akan menjawab seperti apa sudut pandangnya mengenai pertanyaan Shen.
" Shen, hatimu adalah milikmu. Jika kau jatuh cinta dengan yang lain, maka jangan menyalahkan siapapun, dan jangan pula menganggap dirimu gampangan. Kau, dan juga Arnold tidak lagi terikat pernikahan, bagaimana bisa disebut gampangan hanya karena kau jatuh cinta setelah bercerai? "
Shen terdiam sesaat, dia memejamkan mata menikmati lembut dan hangat sentuhan jemari lentik Ibunya yang terus bergerak memberikan sentuhan penuh kasih.
" Ibu, awalnya aku masih ingin bersama Arnold. Aku masih ingin mempertahankan rumah tanggaku, aku ingin hidup dengan bahagia seperti banyaknya keluarga di luaran sana. Tapi, semakin aku mencoba bertahan, aku semakin merasa Arnold memberikan jarak dengan kembali menarik Mona masuk ke dalam rumah tangga kami. Mulanya, aku ingin menjadi satu-satunya istri, tapi tanpa sadar aku juga telah menjadi egois dan ambisius. Lalu sekarang, hatiku tergerak kepada yang lain, aku harus bagaimana Ibu? "
" Shen, tenangkan dirimu terlebih dulu, cari tahu apa yang sebenarnya kau rasakan. Sekarang ini kau juga memiliki Asha, kalian harus bahagia, dan jangan berkorban lagi, kau benar-benar harus bahagia. "
" Iya, Ibu. "
Ibu Lean tersenyum memandangi Shen. Waktu berjalan dengan begitu cepat, perasaan baru saka kemarin Shen bermanja-manja di gendongannya, menangis dan berteriak memanggil Ibu setiap waktu. Tai hanya dengan sekejap mata, gadis kecilnya kini sudah memiliki anak, dia sudah mengalami sulit dan juga sakitnya menjalani rumah tangga hingga harus bercerai.
" Shen, hal yang tidak bisa Ibu terima adalah saat Arnold berselingkuh, bahkan membiarkan wanita itu ada dengan percaya diri di hadapan Ibu. Jika saja, sebab kalian bercerai bukan karena adanya perselingkuhan yang dilakukan Arnold, Ibu pasti akan bersujud memintamu kembali kepada Arnold. Kau adalah putriku satu-satunya, kau adalah gadis kecil selamanya di hati Ibu. Sebagai seorang Ibu, hal yang paling menyakitkan adalah ketika anaknya disakiti dan dikhianati oleh pasangannya. Boleh saja jika kau ingin kembali, tapi maafkan Ibu jika akan memperlihatkan betapa hati Ibu terluka. " Ucap Ibu lirih saat dia meyakini Shen sudah terlelap dipangkuannya.
" Jika kau sungguh jatuh cinta, maka Ibu akan selalu berdoa agar dia bukanlah Arnold yang lain. Shen, Ibu percayakan kebahagiaan putri kecil Ibu padamu, tolong jangan membuat Ibu melihat lagi putri Ibu berdarah-darah, tolong jangan menderita agar Ibu bisa bahagia di hari tua. Tidurlah, nak. Bangun esok dengan suasana hati yang lebih baik. "
Perlahan Ibu Lean meletakkan kepala Shen di atas bantal. Lalu memandangi sebentar wajah Shen sebelum akhirnya dia pergi.
Tes.....
Air mata jatuh dari sudut mata Shen begitu pintu kamar tertutup saat Ibunya keluar dari kamarnya. Dia tahu benar jika apa yang dia alami sesungguhnya lebih terasa menyakitkan bagi orang tua, juga kedua saudaranya. Tapi apakah sungguh bisa dia mempercayakan hatinya untuk mencintai pria lain setelah mengalami penderitaan itu? Dan bagaimana bisa dia mengulang kisah yang sama dengan mantan suami yang telah memberikan segunung luka?
Gadis kecil itu sangat mencintai Ayahnya, apakah mungkin harus kembali demi Asha dan bersiap jika harus mengulang kisah menyedihkan yang sama?
***
Hari terus berlalu, kebahagiaan kini semakin menyelimuti seisi rumah. Itu, itu semua karena perut Marisa yang mulai menonjol jelas, bahkan janinnya juga sudah mulai aktif bergerak. Tapi, ada satu orang yang masih tak bisa merasakan kebahagiaan sepenuhnya. Dia adalah shen, wanita itu masih tidak bisa menghilangkan bayangan Damien dari kepalanya. Kemanapun, dan dimana pun dia berada, dia selalu teringat dengan Damien. Apakah itu karena Damien sangat suka mengikuti kemanapun dia pergi dan muncul dengan mendadak?
Hai Babe? Hai calon istriku? Apa kau merindukanku? Apa kau tersentuh?
Shen menggelengkan kepala karena teringat beberapa kata yang paling sering Damien katakan. Mungkin, ini karena dia sudah lama tidak mendengar kabar tentang Damien, batin Shen.
" Ibu! " Asha berlari ke arahnya, memeluk Shen dengan gembira setelah tiga hati tidak bertemu langsung.
" Sayang, bagaimana kabarmu? " Tanya Shen seraya mengusap wajah sang putri.
" Aku tentu saja baik. "
" Kau sudah dari tadi sampai? " Tanya Arnold seraya berjalan mendekat.
" Tidak juga, mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu. "
" Shen, nanti malam ada acara? " Tanya Arnold.
" Tidak ada. "
" Ibu, kita pergi makan seafood ya? Mau kan Ayah? " Asha menatap memohon kepada Shen, lalu meraih tangan Arnold dan menggoyangkan untuk memohon kepada Ayahnya juga.
Arnold menghela nafasnya, lalu tersenyum seraya mengusap kepala Asha.
" Padahal, Ayah ingin mengajak Ibu saja. Tapi karena tuan putriku yang meminta, tentu saja Ayah akan setuju. "
Asha bersorak bahagia, sementara Shen hanya bisa terdiam dengan segala pemikirannya.
" Ibu setuju kan? "
Shen memaksakan senyumnya, lalu mengangguk setuju.
Asha, haruskah Ibu melakukan itu?
" Lihatlah, ini gara-gara kau membeli barang hanya karena kasihan kepada si penjual, sekarang kita jadi tidak punya ongkos untuk pulang. Kalau mau berkorban harus juga memikirkan diri sendiri, jangan dengan bodohnya membahagiakan satu orang, lalu kau membawa orang lain untuk merasakan susahnya. " Ucap seorang Ibu-Ibu yang tengah mengomeli suaminya. Tapi, kata-kata itu sungguh cukup membuat Shen memiliki keberanian untuk bertindak.
Bersambung....