Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 75



Mona duduk di lantai kamarnya sembari memeluk kedua lututnya dengan erat. Dia menangis, tapi juga tak berani mengeluarkan suara tangisnya. Dia marah, kecewa, tersakiti oleh keadaan, juga kesal karena apa yang dia inginkan tak ada satupun yang dia dapatkan. Arnold, beserta cintanya semakin jauh meninggalkannya. Sekarang, gadis itu harus lagi menahan kesedihan karena merasa terhina dengan perlakuan Tuan Bastian, tapi juga tak punya hak untuk melawan. Kenapa? Karena membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Sejak malam lalu dia menemui Tuan Bastian, dia menjadi sering mengurung diri, sebisa mungkin agar tidak banyak berinteraksi dengan kedua orang tuanya.


Rasanya sudah sejauh itu dia berkorban demi uang, tapi kenapa tetap saja tidak bisa bahagia? Apalagi saat dia mengingat bagiamana lelaki paruh baya itu menyentuh tubuhnya, melakukan apa yang dia inginkan, dan memberi uang setelahnya.


Mona masih tak berdaya dengan kondisinya sekarang, rasanya ingin sekali bunuh diri, tapi lagi-lagi kebodohannya berkata harus bertahan demi Arnold. Gila kan? Iya, egonya yang selalu terdepan, ditambah lagi seorang Mona yang terbiasa bersaing dan memenangkan penghargaan, baginya Arnold juga seperti itu. Kekalahan yang ia terima dari Shen, seolah membuatnya murka hingga terus berusaha untuk menang, sampai dia lupa kalau Arnold bukanlah piala atau sejenisnya.


***


Damien dan Asha kini kembali bertemu setelah pulang sekolah. Tidak tahu memang caranya mengusir pria itu, ditambah lagi Asha terlihat senang dengan adanya Damien.


Bak keluarga bahagia, Asha kini berada di gendongan Damien menuju taman yang ada disamping sekolah, lalu bermain bersama disana. Tidak tahu pesona apa yang dimiliki Damien bagi Asha, tapi sepertinya mereka masih bisa lebih akrab lagi, batin Shen.


Damien berjalan menuju Shen duduk, dan membiarkan Asha bermain bersama anak-anak yang berada disana. Dia menyeka keringat di dahinya, lalu duduk disebelah Shen.


" Apakah mendekati Asha adalah salah satu usahamu? " Shen menatap Damien yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Tapi tak lama Damien mendesah sebal, lalu mencubit pelan pipi Shen.


" Ah! " Shen menjauhkan tangan Damien lalu, mengusap pipinya.


" Aku memang brengsek, tapi aku tidak akan memanfaatkan anak-anak hanya untuk kepentinganku. Shen, di dunia ini tidak semua laki-laki sama seperti yang kau pikirkan. Seperti kebanyakan manusia, aku memang memiliki sikap buruk, tapi aku juga memiliki sifat baik. "


Shen terdiam, pandanganya menunduk karena menyesal mempertanyakan hal itu. Meski tidak tahu membual atau tidak, tapi hatinya merasakan kelegaan yang dia sendiri juga tidak bisa pungkiri.


" Shen, kau ada janji nanti malam? " Tanya Damien.


Shen mengangguk.


" Bersama Arnold? "


" Iya, dia ingin menyenangkan Asha. " Entah sadar atau tidak, Shen tiba-tiba memberikan penjelasan seolah tidak ingin Damien menyalah pahami tentang makan malamnya bersama Arnold nanti malam.


" Begitu ya? Bagaimana kalau malam lusa? "


Shen terdiam sesaat.


" Aku sudah janji dengan Asha untuk menonton film kartun kesukaannya bersama Arnold. "


Damien memaksakan senyumnya. Susah juga ya ternyata? Arnold memang benar-benar sangat beruntung memiliki Asha.


" Baiklah, sepertinya aku memang tidak memiliki kesempatan untuk makan malam juga denganmu. " Damien mengakhiri ucapannya dengan senyum lebar yang menampilkan deretan gigi putihnya.


Shen memilih diam, entahlah, perasaannya juga kecewa. Tapi bukankah masih ada esok malam yang lainya? Kenapa Damien seolah ingin pergi? Apakah sudah akan kembali ke negaranya?


" Kau akan kembali ke negaramu? " Tanya Shen karena tidak bisa menahan lagi rasa ingin tahunya.


Damien tersenyum, lalu mengangguk setelahnya.


" Kapan? "


" Kau ingin tahu? Apa kau tidak rela aku pergi? "


" Omong kosong! " Shen mengalihkan pandangan. Sungguh, dadanya seperti berdenyut sakit setelah tahu jika Damien akan kembali ke negaranya, apakah ini perasaan tidak rela sungguhan?


Damien tersenyum, mau di sembunyikan seperti apa, nyatanya Damien bisa melihat bahwa Shen terlihat tidak rela. Tapi mau bagaimana lagi? Kepulangannya juga sangat penting, bahkan jauh lebih penting dari semua pekerjaan yang ia tinggalkan disana.


" Shen, aku pasti akan sangat merindukanmu, dan juga Asha. " Damien kini menatap Asha dan tersenyum.


" kau, apakah kau tidak akan datang lagi? "


Damien menghela nafas, dia juga memaksakan senyumnya.


" Aku ingin, tapi mungkin tidak akan bisa dalam beberapa bulan nanti, atau bahkan tahun. "


Shen mencengkram kain bajunya, menelan salivanya, kenapa rasanya sakit sekali?


Tak lagi bicara, Shen memilih untuk diam dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.


" Sampai jumpa lagi, Asha? " Damien melambaikan tangannya saat Asha dan Shen sudah berada di luar mobilnya.


" Kita bertemu besok lagi ya paman? " Pinta Asha.


Damien terdiam, dia memaksakan senyumnya, lalu mengangguk meski sempat ragu.


" Iya, baiklah. Hati-hati, jangan berlarian lagi, hari ini kakimu sudah sangat lelah kan? "


" Baik, paman. "


Shen meminta satpam rumahnya untuk mengantar Aska kedalam, sementara dia tinggal karena ada yang ingin dia tanyakan kepada Damien.


" Apa pekerjaanmu dalam masalah besar? " Tanya Shen dengan tatapan khawatir.


" Bukan, tapi seorang wanita sangat menginginkanku untuk segera kembali. " Damien terkekeh setelahnya.


" Aku serius bertanya, bisakah menjawab ku dengan benar? "


Damien membuka pintu mobilnya untuk masuk.


" Kau mengajakku bicara, tapi ditempat yang panas. Maaf ya? Panas matahari di negara ini sungguh sampai membuat kulit terasa sakit, jadi aku terpaksa duduk di dalam mobil. " Lagi-lagi dia tersenyum.


Shen mendesah sebal, dia mengikuti Damien untuk duduk di dalam mobil.


" Aku benar-benar serius bertanya, Damien. Apakah terjadi masalah besar? "


" Sudah kubilang kan, seorang wanita memintaku datang untuk menemaninya. Yang dia inginkan hanyalah aku, jadi aku tidak punya pilihan selain datang padanya kan? "


Shen terdiam dengan perasaan kecewa. Kenapa dia harus merasakan itu? Bukankah selama ini dia hanya bisa mencintai Arnold? Kenapa bisa jadi begini? Sejak kapan hatinya mulai berubah?


" Baiklah kalau begitu. Ternyata masalahmu adalah tentang wanita? " Shen tersenyum kelu.


" Apa kau sedih? " Damien mendekat dengan tatapan anehnya.


" Tidak, untuk apa sedih karena bajingan sepertimu? "


Damien tersenyum, dia menghela nafas lalu menjauhkan wajahnya.


" Jangan cemburu, wanita yang aku maksud adalah Ibuku. "


Shen sontak menatap Damien dengan tatapan yang tak lagi terlihat kecewa seperti beberapa detik lalu.


" Apa kau sedang mempermainkan ku? "


" Tidak, tapi sungguh aku harus kembali untuk menemani Ibuku yang jatuh sakit. " Damien terlihat sedih, dan ini adalah kali pertama Shen melihatnya.


" Apa Ibumu sakit parah? "


" Ibuku sudah lama menderita karena komplikasi. Tapi kali ini sepertinya serius. "


Shen bisa melihat bagaimana wajah Damien berubah menjadi sangat hangat seolah menggambarkan bahwa cinta kepada Ibunya sangatlah besar.


" Damien, aku berharap Ibumu akan segera membaik. " Shen menatap Damien dengan tulus.


" Tatapan tulus mu itu benar-benar jelas sekali saat aku berbicara tentang Ibuku. " Ujar Damien lalu tersenyum.


" Karena aku juga sangat menyayangi Ibuku. "


" Aku tahu. "


" Jadi, kapan kau akan berangkat? "


" Besok setelah memenuhi janjiku untuk menemui Asha. "


Shen mengangguk meski masih saja merasakan tidak rela.


" Baiklah, aku masuk kerumah sekarang. " Ujar Shen karena tidak bisa lagi menahan diri untuk menunjukkan apa yang sebenarnya dia rasakan.


" Tunggu, Shen! " Damien menahan Shen dengan memegang pergelangan tangannya.


" Ap- " Belum selesai Shen berbicara, bibir Damien sudah lebih dulu memblokir mulutnya.


Bersambung...