Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 98



Pagi ini Damien, Asha juga Shen sudah kembali kerumah orang tua Shen setelah mereka selesai sarapan pagi.


" Bagaimana malam pertamanya? " Tanya sang ayah saat Damien bersalaman dengan Ayah Gani. Pertanyaan ini mungkin akan dia jawab dengan penuh kebohongan seolah dia amat menikmati malam pertamanya kalau yang bertanya adalah orang lain, tapi ini? Bukankah sama artinya dengan meledek? Sialan! Padahal dia sudah meminta dengan Ayah dan Ibunya Shen untuk menghindari tanggal datang bulan, tapi memang kesabarannya sedang di uji oleh sang maha pencipta yang sepertinya memiliki dendam kepada dirinya.


Damien memaksakan senyumnya karena tidak mungkin juga dia menunjukkan rasa kesal itu kepada Ayah mertuanya kan?


" Enak, dan kami tidur dengan nyenyak. "


Ayah Gani tersenyum, lalu kembali meraih koran paginya.


" Kalau begitu, mulai nanti malam kalian tidur bertiga saja, enak dan nyenyak kan? "


" Siala- Eh, maksudnya siapa juga yang akan menolak? he... " Alasan Damien saat mata Ayah Gani menatanya tajam.


" Itu, Ayah mertua bisa tolong jaga Asha untuk nanti malam? Hanya malam nanti bisa kan? " Damien tersenyum seolah tak ada lagi canggung di antara mereka.


" Tidak janji, aku kan juga punya istri yang harus dilayani. "


Damien menahan kesal dengan senyum terpaksa nya.


" Tapi, Ayah mertua sedikit terlihat gampang lelah, tidak mungkin memakan waktu lama untuk anu anu kan? "


Sialan! Ayah Gani menutup, lalu melipat koran yang ia pegang dengan cepat.


" Maksudmu aku tua? "


Sudah punya cucu memang apa lagi namanya kalau bukan tua?


" Tidak kok, hanya saja hari pernikahan kami kan pasti menguras banyak tenaga, Ayah dan Ibu mertua. Jadi jangan terlalu lelah ya? "


" Menasehati dengan maksud menghina, cara bicaramu benar-benar sangat sopan sampai-sampai aku ingin menyumpal mulutmu dengan bom atom. "


Damien kembali tersenyum tersenyum.


" Maaf deh Ayah mertua, sebenarnya aku tidak keberatan kok tidur bersama Asha juga. Hanya saja ingin benar-benar lepas saat malam pertama, jadi tolong ya? "


Ayah Gani menghela nafasnya.


" Asha adalah cucuku, tentu saja aku akan menjaganya dengan sangat baik. Lagi pula Asha biasanya juga tidur sendiri di kamarnya. "


Damien mengeryit sebentar, lalu menatap Ayah mertuanya yang kini tengah menyeruput kopi susunya.


" Kalau begitu, semalam kenapa Asha tidur di hotel bersama kami? "


" Pft... ! "


" Ya ampun! " Untung saja koran milik Ayah mertuanya ada di atas meja, jadi bisa ia gunakan untuk menghindari banyaknya semburan kopi susu yang keluar dari mulut Ayah Gani.


" Itu, mungkin saja Asha sedang ingin tidur bersama Ibunya. " Ayah Gani menghindari kontak mata dengan Damien, dan itu membuat Damien mengendus bau-bau kebusukan dari Ayah mertuanya.


" Ayah mertua, lanjutkan saja mengopinya ya? Aku ingin menyusul Shen ke kamar. "


" Hem. " Ayah Gani masih menghindari kontak mata dengan Damien, bahkan saat Damien melintas di depan wajahnya Ayah Gani melengos membalikkan pandangan agar tak bertemu pandang dengan Damien.


Ayah mertua, kalau sampai alasan malam pertamaku gagal karenamu, aku benar-benar akan, akan apa? Mau membalas tapi takut Shen marah. Heh! Lihat saja nanti deh.


Baru saja Damien akan ke kamar Asha, ternyata Asha baru saja keluar dari kamar Ibunya sembari menenteng iPad di tangannya.


" Asha? "


" Paman, ada apa? "


Damien tersenyum ramah, lalu mengangkat tubuh Asha dan membawanya ke dalam gendongannya.


" Kau mau ke kamar? " Tanya Damien dan langsung di angguki oleh Asha.


" Ok. "


Setelah sampai di kamar Asha, Damien menurunkan dengan hati-hati tubuh Asha dan mendudukkannya di pinggiran tempat tidur.


" Apa kau ingin bermain bersama sekarang? " Damien mengusap lembut kepala Asha dengan senyum yang penuh perhatian.


" Aku ingin, tapi Ayah baru saja menghubungi dan ingin datang untuk menjemput ku, sebentar lagi pasti Ayah datang. "


" Padahal kalau tidur bertiga lagi kan seru. " Ujar Damien dengan wajah merajuk.


" Tapi ini kan sudah ada dirumah, tidak akan ada monster yang datang. " Jawab Asha dengan tatapan polosnya.


" Monster? Jadi semalam Asha takut kalau akan ada Monster yang datang? " Asha mengangguk.


" Tapi, paman tidak boleh mengatakan ini kepada siapapun lagi ya? Soalnya kakek bilang ini adalah rahasia. Tapi karena paman tidur dengan Ibu, jadi aku harus memberi tahu paman. "


Damien tertawa dengan terpaksa meski hatinya tengah sebal dengan Ayah mertuanya itu.


" Maksudmu, kakek yang mengatakan kalau akan ada monster yang datang semalam? "


Asha mengangguk lagi.


" Kakek bilang, monster hanya takut dengan tuan putri yang cantik sepertiku, jadi aku harus tinggal bersama Ibu akan monster tidak mengganggu tidur Ibu. "


Sialan! Apa yang di maksud monster itu aku?


" Oh, begitu ya Asha? "


Dasar Ayah mertua jahat! Tidak tahu ya kalau anu ku sudah hampir setahun semedi? Kalau sampai gagal lagi, takutnya bro kecilku bisa kehilangan daya untuk bisa berdiri.


Satu jam kemudian, Arnold datang untuk menjemput Asha, dan seperti biasanya Shen juga akan mengantar mereka sampai ke pintu gerbang. Tapi ada yang sedikit berbeda kali ini, dan itu adalah tatapan Arnold yang tidak biasa, matanya merah dan agak sembab, bahkan nyaris seperti menghabiskan malam dengan menangis. Sebenarnya Damien tidak ingin memperdulikan bagaimana tatapan Arnold saat melihat Shen, tapi saat melihat Shen menepuk punggung Arnold, dan tak lama setelah itu Arnold memeluk erat Shen, tentu saja hatinya tidak bisa menerima apa yang dia lihat.


" Kenapa kau diam saja? " Tanya Shen saat mendapati Damien tengah duduk di teras rumah dan masih tak bicara saat Shen duduk disampingnya.


Damien memaksakan senyumnya.


" Tidak ada, hanya ingin diam saja hari ini. "


Shen mengeryit bingung, tapi sudahlah! Ada hal juga yang harus dia lakukan sekarang.


" Ya sudah, aku ke atas dulu ya? "


Damien terlihat sedih begitu Shen meninggalkannya disana.


" Dasar tidak peka, bukanya perempuan paling ahli soal begini? Bilang tidak apa-apa padahal sedang marah, tapi kalau laki-laki yang mengatakan ini kenapa seperti tidak memiliki arti sih? "


Damien bangkit dari duduknya, berjalan menyusul Shen yang kini ada di lantai kamarnya.


" Sayang, apa yang sedang kau lakukan? " Tanya Damien karena mendapati istrinya tengah membongkar isi lemarinya.


" Mencari sesuatu. " Ujar Shen tak menghentikan kegiatannya.


" Mau ku bantu? "


" Ti tidak usah, kau keluar saja dulu. "


Damien mengeryit bingung.


" Tadi aku melihatmu dan Arnold berpelukan, sekarang kau mengusirku keluar, apa aku ini suami loncatan saja? "


" Batu loncatan, tidak ada istilah suami loncatan. " Ujar Shen.


" Jadi sungguh aku hanya sebatas itu? "


Shen menghela nafas sebalnya, dan kini menatap Damien dengan tegas.


" Arnold memelukku saat dia mengucapkan selamat kepadaku, dan berharap aku hidup dengan bahagia. Aku memintamu keluar karena aku ingin mencari lingerie yang sempat aku beli beberapa bulan lalu. "


" Oh. " Damien manggut-manggut mendengar ucapan Shen, tali saat satu kata benda terdengar fantastis.


" Lingerie? Lingerie?! "


" Sudah cukup kan aku menjelaskan, jadi keluarlah. "


Damien tersenyum, Asha tidak ada, Ayah mertua yang resek itu juga sudah berangkat kerja, bukannya ini waktunya untuk melakukan anu?


Bersambung...