
Satu bulan berlalu, proses perceraian Arnold dan Shen juga lancar berkat pengacara yang Shen bayar. Bukan hal yang mudah rupanya saat mendengar putusan cerai, karena tetap saja rasanya sangat menyakitkan bagi Shen dan Arnold.
Masih mencintai? Iya! Kenapa bercerai? Tentu saja karena rasa sakit yang dirasakan Shen seolah membuatnya tak tenang, setiap kali harus waspada, menyusun rencana agar wanita yang mejadi selingkuhan suaminya menghilang dari hidupnya. Tapi lagi-lagi dia datang dengan ketebalan wajah yang semakin tak terukur. Belum lagi dia juga harus berpura-pura mengerti, mesra tanpa beban, bahkan juga membohongi diri sendiri hanya untuk satu tujuan itu.
Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah bercerai, tapi setidaknya Shen sudah bebas dari rasa berjaga-jaga. Tidak tahu apakah sungguh Arnold akan kembali mengejarnya, atau tidak. Jika memang jodohnya Arnold, pasti akan tetap saja bersama. Tapi jika Arnold dan dia hanya berjodoh sejenak, maka apapun yang dirasakan Shen, juga apa yang dirasakan Arnold juga hanga akan menjadi secuil masa lalu di masa yang akan datang.
" Aku berharap semua akan kembali seperti yang diharapkan. Apapun yang terjadi, kita tetap orang tua Asha yang harus saling menyayangi kan? " Ucap Arnold saat mereka sudah berada di luar ruangan sidang.
Shen tersenyum, lalu mengangguk. Rasanya dia ingin menangis, tapi dia juga harus menahannya.
" Tentu saja, mari bekerja sama dengan baik untuk putri kita. "
Arnold menahan tangis dengan helaan nafas panjangnya. Dia meraih Shen, lalu memeluknya erat-erat. Tentu saja dia pahan jika tidak akan mungkin baik-baik saja setelah perceraian ini, tapi apapun itu, Arnold masih akan mencoba mendekati Shen, lalu mengembalikan rumah tangganya dengan suasana baru, yaitu saling mencintai.
" Shen, semoga Tuhan kembali menyatukan kita. "
Shen terdiam, air matanya luruh tak tertahankan. Semoga? Haruskah dia mengaminkan ucapan itu? Haruskah dia percaya sekali lagi? Tapi bagaimana dengan hatinya yang masih tidak siap menerima kesakitan yang sama? Sudah, semua sudah berakhir dengan perceraian ini.
Shen masih terdiam tak bicara sepatah katapun sekembalinya dia ke rumah. Sebenarnya lagi-lagi dia bingung dengan apa yang dia inginkan. Hatinya sakit saat bercerai, tapi dia juga muak dengan siasat dan juga drama rumah tangga yang tak berkesudahan. Sejenak dia menoleh ke arah jendela kamarnya, matanya menelisik teliti lambaian dedaunan yang bergoyang saat tertiup angin.
Shen tersenyum, iya dia mulai paham jika memang seperti inilah kehidupan. Melepaskan seseorang yang kita anggap milik kita memang sangat sulit, tapi jika bersama tidak bahagia, bukankah akan menyakiti diri lebih lama?
" Iya, aku memang merasakan sakit. Tapi jika aku tidak bertahan dengan sakit ini, maka aku akan melewati banyak kebahagiaan yang selama ini aku abaikan. "
***
Marisa terdiam memandangi Digo yang nampak diam dengan wajah yang tidak seperti biasanya. Tidak perlu bertanya, itu semua terjadi karena perceraian sang adik perempuannya. Marisa juga bisa melihat bagiamana Shen jadi sangat pendiam sekembalinya dia dari persidangan. Tentu dia tidak tahu bagaimana rasanya bercerai, tapi dia juga tidak bisa menghilangkan rasa bersalah karena semua terjadi juga karena kakaknya yang sulit untuk diberitahu.
" Digo, apa kau membutuhkan sesuatu? " Tanya Marisa.
" Tidak ada. " Jawab Digo singkat.
Marisa tak lagi mau bertanya, dia cukup sadar diri kalau harus banyak diam sekarang ini. Dia berjalan keluar, lalu memutuskan untuk mendatangi kamar Shen. Sebentar dia mengetuk pintu kamar Shen, dan dia langsung masuk kedalam kamarnya saat Shen sudah mempersilahkannya untuk masuk.
" Kakak ipar, ada apa? " Tanya Shenina karena tidak biasanya Marisa mendatanginya terlebih dulu.
Marisa tersenyum, dia berjalan mendekati Shen, lalu duduk disebelahnya.
" Kau baik-baik saja? " Tanya Marisa.
Shen tersenyum.
" Baik, kenapa? "
Marisa memaksakan senyumnya, ya Tuhan... Sungguh jahat sekali apa yang dilakukan kakaknya, pada akhirnya sebuah keluarga harus bercerai karenanya.
" Aku, ingin meminta maaf atas nama kakakku, Mona. Sebenarnya aku adalah adiknya, hanya saja aku tidak berani memberitahumu karena takut kau akan membenciku. " Marisa tertunduk tidak tahu bagaimana jelasnya ekspresi bersalah dari wajah cantiknya itu.
Shen terkekeh.
" Aku tahu kok, Ibu sudah menceritakan semuanya padaku. "
" Jadi, selama ini kau sudah tahu kalau aku adiknya Mona? "
Shen mengangguk, lalu tersenyum setelahnya.
" Aku yang seharunya meminta maaf, karena aku, kakak ipar menjadi sasaran pembalasan dendam. "
Marisa tersenyum melihat betapa baiknya hati Shen persis seperti yang Ibu Lean katakan tentangnya.
" Sebenarnya aku sangat iri dengan cinta yang kau dapatkan dari kakak mu, dan aku lihat Teo juga sangat sayang padamu. Dulu, aku dan kakak juga begitu, tapi setelah kakak dikenal banyak orang, ditambah lagi menjalin hubungan terlarang itu, kami jadi semakin jauh meski tinggal di atap yang sama. "
Shen menghela nafasnya.
" Kakak, dan juga adik ku melakukan pembalasan dendam untukku, meskipun aku menyayangkan apa yang mereka lakukan, tapi setidaknya aku lagi-lagi melihat betapa mereka menyayangiku sebagai saudara kandung mereka. "
***
Mona tertawa bahagia karena mendapatkan kabar tentang perceraian Arnold dan Shen yang telah resmi hari ini. Dia bahkan sampai tak memperdulikan banyaknya orang yang menatapnya aneh karena tertawa sendiri degan begitu bahagia.
Ini sudah lewat satu bulan lebih, tapi dia harus menahan diri sampai beberapa waktu lagi hingga berat badan di tubuhnya kembali seperti semula.
" Shen, kau sendirilah yang semakin memperbesar peluang ku untuk menikah dengan Arnold. " Mona meletakkan ponselnya, meraih botol air miliknya lalu menenggaknya hingga habis. Sebenarnya beberapa saat lalu dia sudah merasakan lelah setelah hampir dua jam menghabiskan waktu ditempat fitnes, tapi karena kabar bahagia tentang perceraian Arnold dan Shen, seketika lelah itu menghilang.
" Baiklah, lakukan tiga puluh menit lagi, baru kembali ke rumah. " Ujar Mona seraya bangkit dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Sudah masa bodoh dengan tatapan orang yang tak menyukai Mona, wanita itu sudah dibilang tebal muka saat ini. Sebenarnya dia juga sering mendapatkan sindiran, juga tatapan sinis dari pengunjung tempat fitnes yang mengetahui tentang gosip yang terus menyebar, bahkan banyak sekali artikel-artikel baru bermunculan memojokkan Mona dengan banyak sekali tudingan-tudingan miring. Bukan tidak ingin membantah, hanya saja kalau muncul dengan penampilan seperti badut di kamera akan semakin membuat orang bergunjing lebih dahsyat dari sebelumnya?
***
Setelah puas berbagi cerita dengan Shen, Marisa kembali ke kamar dengan perasaan lega. Eh? Tapi pria yang ia tinggalkan degan posisi merenung sepertinya tidak berubah juga. Marisa menghela nafas, lalu berjalan mendekati Digo, dan duduk disebelahnya.
" Aku tahu kau sedih karena melihat Shen sedih. Tapi Shen akan baik-baik saja. "
" Jangan sok ta- "
" Aku bukanya Tuhan, tentu saja aku sudah bertanya dengan Shen. Aku juga memperhatikan dia saat bicara. Dia terlihat sedih, tapi dia juga terlihat lega. "
Digo menelan salivanya saat bola matanya bertemu dengan bola mata indah Marisa.
" Kenapa? Wajahmu kok sudah berubah? Sekarang malah seperti ingin memakan ku. " Marisa tersenyum meledek.
" Ja jangan gila ya! "
" Padahal kan sudah lewat dua hari dari trisemster pertama, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Aku juga tidak memaksa kan? " Marisa bangkit dari duduknya berniat keluar dari kamar untuk mengambil buah di dapur.
" Tunggu! "
Marisa tersenyum tipis.
Bersambung....