
Marisa meregangkan tubuhnya setelah matanya terbuka beberapa detik yang lalu, ini sudah empat bulan lebih dia tinggal bersama dengan Digo di apartemen. Tidak tahu dari mana asal kepercayaan dihatinya, tapi semenjak pembicaraan terakhir tentang Mona, hatinya mulai tergerak dan memberikan kesempatan bagi pria itu hingga empat bulan sudah mereka hidup berdua di tempat tinggal yang baru.
Tidak banyak yang berubah, hanya saja tingkah manis Digo saja yang berlebihan saat meminta untuk melakukan hubungan suami istri, tapi setelah selesai, pria menyebalkan yang berstatus suaminya itu akan kembali bertingkah sok cuek, tapi juga pemalu di beberapa momen tertentu.
Marisa tersenyum setelah menghela menghembuskan nafas panjangnya, lelah juga hanya berbaring di tempat tidur seharian, mau iseng mencari kerja Digo tidak membolehkannya, menemui Mona juga tidak akan baik kalau terlaku sering, apalagi semenjak Marisa menyadari jika kakaknya masihlah belum kapok, dia kembali menjaga jarak sesuai perintah Digo demi memperkecil efek dari perbuatan Mona nantinya.
Jika Marisa kini sudah mulai merasakan kebahagiaan lagi, maka satu wanita di belahan bumi lain malah tengah menikmati masa sedih yang enggan menghilang dari hidupnya. Dia tentu saja Anya, meski ada beberapa pria yang mencoba untuk mendekat, gadis itu benar-benar membentengi diri dengan sangat kuat. Bahkan orang yang mengenalnya sempat menduga bahwa Anya memiliki kelainan ketertarikan, tapi juga itu terbantahkan saat ada satu wanita yang memiliki kelaianan mencoba mendekatinya, tapi Anya juga menolak dengan keras. Memang membuat bingung, tapi mana mungkin juga Anya menjelaskan kepada orang lain tentang masa lalunya? Bukankah menceritakan juga tidak akan mengubah kenyataan yang sudah terjadi?
" Anya, kau mau ku antar pulang tidak? " Seorang pria yang bekerja sebagai kasir tempat dia bekerja menawari bantuan, tapi tentu saja dia juga memiliki maksud untuk mendekati Anya yang sudah terkenal sekali susah di dekati, sehingga banyak pria yang penasaran dengan Anya karena mereka menganggap Anya sangat menarik dan misterius.
" Tidak perlu, aku bisa sendiri. " Jawab Anya dengan wajah dingin seperti biasanya. Karena jam kerja sudah selesai, tentu saja Anya harus segera kembali, meski tahu ini sudah gelap, tapi Anya tak lagi merasakan takut saat harus melintasi jalanan sepi, kenapa? Itu karena beberapa hari setelah kejadian dia pria yang hendak melecehkannya, seorang pria misterius selalu berjalan di belakangnya dengan jarak yang bisa dibilang lumayan jauh. Awalnya Anya merasa takut kalau dia adalah salah satu teman dari dua pria yang kini mendekam di penjara, tapi ternyata pria itu tidak melakukan apapun, bahkan sampai Anya sampai ke rumah sewanya. Hari terus berlanjut setelah itu, dan pria itu setiap malam mengikuti dari belakang seolah sengaja ingin menjaganya agar selamat sampai dirumah.
Anya menoleh sebentar kebelakang, dan dia tersenyum karena pria itu ternyata mengikuti seperti biasanya.
Aku harus tahu siapa, dan kenapa kau melakukan semua ini.
Anya terus menjalankan langkah kakinya semakin cepat, bahkan dia sampai berlari saat sampai di tempat yang gelap tanpa penerangan. Dia berlari ke gang kecil pembatas gedung tinggi yamg sudah tidak terpakai, menyalakan senter ponselnya laku menutup dengan tangan agar tak mengeluarkan cahaya.
" Ah! " Teriak Anya, dan tak lama pria itu berlari ke arahnya.
Penerangan yang bisa dibilang hampir tidak ada itu membuat si pria kebingungan karena Anya sengaja menyembunyikan diri.
" Anya?! " Teriak pria itu.
Anya menarik jaket pria itu, lalu mengarahkan ponsel yang senternya sudah menyala ke wajahnya.
" Max? "
Seketika Anya menjadi lemas seraya menurunkan ponselnya. Max juga sama terkejutnya, meski dia menyadari jika Anya sudah lama menyadari jika ada yang mengikutinya, tapi dia tidak menyangka kalau pada akhirnya Anya akan melakukan ini.
" Kenapa, kenapa kau melakukan ini? Kau, juga orang yang waktu itu menolongku? "
Tidak tahu bagaimana ekspresi Max, tapi demi dirinya sendiri dia mencoba lari meninggalkan Max. Tapi, langkah kaki kecilnya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kaki jenjang Max yang hanya beberapa langkah saja sudah bisa membuat tubuh Anya terperangkap di dalam pelukannya.
" Sudah cukup, Anya. Aku tahu kau tidak akan nyaman jika melihatku, tapi kenapa kau juga harus sampai melakukan ini? "
" Lepaskan aku! "
Max semakin mengeratkan pelukannya, memejamkan mata menikmati aroma tubuh wanita yang membuatnya hilang akal setahun ini. Di bahkan mengabaikan banyak hal, juga bekerja melalui laptop hanya demi bisa menjaga Anya sendiri secara diam-diam.
" Katakan padaku, Anya. Katakan apa yang bisa aku lakukan agar kau bisa memaafkan ku, dan bagaimana caranya bisa mengurangi rasa sakitmu. "
Dengan mata memerah dan tatapan yang tajam, Anya menatap Max yang menatapnya pilu.
" Kalau begitu, matilah, susul anakku dan katakan kau menyesal, dan minta maaf padanya. "
Max terdiam sesaat, dia menatap kembali mata Anya yang sama sekali tidak main-main dengan ucapannya. Max menghembuskan nafas beratnya, mengeluarkan sesuatu yaitu pisau lipat yang selalu ia bawa untuk menjaga diri juga Anya kalau sampai ada yang mengganggu Anya lagi. Max meraih tangan Anya setelah pisau lipat itu siap digunakan, lalu meletakkan di tangan Anya.
" Kalau begitu, lakukan dengan cepat. Tapi jangan lupa tersenyum padaku saat aku sudah di ujung sekarat. Lampiaskan kemarahanmu, kekecewaanmu, lampiaskan rasa sakitmu aku tidak akan sekalipun menepis tanganmu, lakukan Anya! " Max mundur satu langkah dari Anya, membuka baju juga jaketnya, lalu mengarahkan pisau itu ke dadanya.
" Akan ku beritahu letak organ-organ vital yang bisa mempercepat kematian. Disini jantung, ini paru-paru, ini hati, lambung,- "
" Cukup! " Anya kini mulai gemetar hingga seluruh tubuhnya terasa dingin.
" Baiklah, kau bisa menusuk, atau bahkan membelah bagian mana yang kau mau, lakukanlah. "
" Kau mengancamku?! Kau pikir aku tidak berani?! "
Max tersenyum, lalu dia menekan tangan Anya yang tengah memegang pisau, lalu menggaris nya ke bawah sehingga darah segar keluar dari sana.
" Jangan! " Pekik Anya sontak menarik tangannya, dan membuat pisau itu terjatuh beriringan dengan tubuhnya yang terjatuh duduk sembari menangis tersedu-sedu.
Max segera bersimpuh dan memeluk Anya erat.
" Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu, Maaf. "
Setelah Anya mulai tenang, Max akhirnya mengantarkan Anya kerumah sewanya dan mengabaikan saja dadanya yang terasa perih dan masih mengeluarkan darah.
" Masuklah, istirahat, dan coba lupakan apa yang terjadi hari ini. "
Baru saja Max berbalik, Anya menahan jaket Max dan membuatnya berhenti.
" Obati dulu lukamu, setidaknya tunggu sampai darahnya berhenti mengalir. " Max tersenyum.
Bersambung...
Untuk part Arnold othor tahan dulu karena lagi puasa masak part ewita mulu 😂