Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 100 (Sabar, dan baca pas sudah buka puasa ya )



Disebuah hotel bintang lima yang berada di tengah-tengah pusat kota, Damien dan Shen kini tengah berada di sana menikmati makan malam romantis yang sudah disiapkan Damien. Pada awalnya disanalah rencana untuk malam pertamanya, tapi ya mau bagaimana lagi? Tadi siang itu dia benar-benar tidak bisa menahannya lagi, tapi untunglah Shen bilang untuk menahan diri dulu karena dia sudah sangat lapar, dan jadilah Damien bisa mewujudkan untuk menghabiskan malam meski tidak lagi malam pertama yang akan terjadi.


Setelah makan malam selesai, mereka memutuskan untuk sebentar mengobrol di balkon ditemani anggur merah yang berada di meja sana. Tidak banyak yang dibicarakan, karena lebih banyak lagi waktu yang mereka gunakan untuk saling menatap dan melempar senyum satu sama lain.


" Sayang, kau suka tempat ini? " Tanya Damien yang sedari tadi enggan melepaskan genggaman tangan mereka.


" Iya, hotel ini memang mewah, tapi bukan itu alasannya aku menyukainya. Aku menyukai ketenangan yang ada di sini. "


Damien tersenyum memandangi wajah Shen yang memejam menikmati udara malam yang menerpa tubuhnya. Cantik, itu lah yang terlihat dari wajah Shen saat dia tersenyum seperti sekarang ini. Damien menghela nafas, lalu mencium tangan Shen yang masih ia genggam. Tidak tahu bagaimana caranya untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, tapi setidaknya Damien bisa melakukan apapun demi wanita yang sedari pertama kali bertemu mampu menyita seluruh perhatiannya. Mungkin, dulu dia berpikir kalau hanya ingin menikmati tubuh Shen saja, tapi karena Shen terus membatasi diri dia hanya bisa mencari wanita yang mirip Shen untuk melampiaskan keinginannya kepada Shen. Jika saja dia tahu kalau di masa depan dia akan menikah dengan Shen, maka tidak mungkin dia melakukan tindakan gila itu.


" Kau sedang memikirkan apa? " Tanya Shen yang menyadari jika Damien nampak berpikir meski bibirnya tersenyum kepadanya.


" Memikirkan mu. "


Shen menjebik kesal, memikirkan mu? Untuk apa dipikirkan orang yang ada di hadapannya saat itu?


" Dasar pembohong! "


Damien terkekeh, lalu menarik tangan Shen dan menepuk pahanya.


" Duduk sini, sayang! "


" Tidak mau! "


" Ayolah... "


Sudah tidak usah membantah lagi, dia akhirnya memilih bangkit dan duduk dipangkuan Damien dengan wajah saling menatap.


" Sayang, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu. "


" Apa? "


Damien terdiam sesaat.


" Aku minta maaf karena memiliki pemikiran ini, tapi aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. "


" Cepat bicara, atau aku akan mencekik mu kalau terlalu berbelit-belit. " Ancam Shen yang tentu saja hanya bercanda.


Damien membelai rambut Shen, lalu menyelipkan kebelakang telinganya sebelum dia mengecup pipi mulus istrinya.


" Saat menikahimu aku masih saja ragu, apakah aku mencintaimu sungguhan? Ataukah aku hanya penasaran dengan tubuhmu saja karena sulit untuk aku dapatkan. "


Damien terkekeh melihat bagaimana wajah Shen mendelik marah kepadanya.


" Tapi, saat kita melakukannya tadi, aku jadi memahami satu hal. Aku menginginkan tubuhmu, juga ingin hatimu. Kedengarannya memang seperti kata-kata kebanyakan buaya darat lainnya, tapi aku sungguh-sungguh serius mengenai pernikahan ini. Shen sayangku, ada satu hal lagi yang istimewa darimu, kau tahu apa itu? "


" Apa? "


Damien tersenyum lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Shen.


" Rasamu sangat enak, aku bahkan tanpa sadar bisa melakukan banyak aksi yang tidak pernah aku lakukan saat bersama wanita-wanita yang dulu. "


Shen menelan salivanya, sialan! Ini masuk kedalam golongan romantis atau mesum sih?


" Jangan omong kosong, Damien! " Tidak tahu harus berkata apa, jadilah hanya kata-kata itu saja yang bisa Shen keluarkan.


" Tapi aku benar-benar bersungguh-sungguh, rasamu benar-benar enak, sangat berbeda dengan yang pernah aku rasakan sebelumya. "


Shen terdiam menatap Damien karena sudah kehabisan kata-kata.


" Sayang, ayo kita nikmati malam ini dengan bebas. Tidak usah menahan diri seperti tadi siang lagi, kau dan aku adalah pasangan suami istri, jadi tidak usah malu lagi. " Ucap Damien seraya mendekatkan wajahnya untuk menikmati bibir indah istrinya.


Kecupan singkat sebentar, lalu berhenti sejenak saling menatap dengan dahi menempel, lalu mereka kembali saling beradu dengan mesra. Cukup lama, hingga pada akhirnya ciuman panas itu semakin membuat mereka begitu terpancing untuk melakukan yang lebih. Segera Damien bangkit dan membuat kaki Shen berpijak dengan benar, tapi masih tak mau melepaskan bibir mereka saat lidah sudah saling beradu di dalam sana. Di majukan sedikit langkah Damien dan itu membuat Shen mundur dan menempel ke tembok. Damien merarih satu kaki Shen agar sedikit terbuka, menekannya untuk memperdalam kembali ciuman mereka. Selang beberapa detik, Damien meraih pinggang Shen dengan dua tangannya, mengangkat tubuh itu dan mengarahkan kedua kakinya untuk melingkar pada pinggangnya, lalu membawa masuk menuju tempat tidur.


Bruk!


Tubuh Shen kini sudah berada di bawahnya, mendekapnya dengan keinginan menggebu hingga kulit mereka berdua seolah saling menyalurkan hawa panas yang semakin berkobar.


" Em.... " Keluh Shen saat mendapatkan serangan nakal diujung salah satu benda kembarnya. Tidak mau hanya sampai disitu, Damien melepas kain penutup tubuh istrinya hingga tidak ada satu helai benangpun disana. Dia tersenyum menatap tubuh polos nan indah itu, lalu dilanjutkan lagi kegiatannya yang sempat tertunda. Satu tangan memijat benda kembar bagian kiri, bibirnya menyerang bagian kanan, dan satu tangannya memberikan sentuhan, juga tarian jari disana yang pada akhirnya si Pemilik hanya bisa mengeluh menikmati semua rasa itu.


" Sa sayang... Ah! " Keluh Shen saat tak bisa menahan sesuatu yang seolah ingin membeludak dari bagian bawahnya.


" Terus sayang, aku suka suaramu seperti barusan. " Damien kini bangkit lalu membuang jauh pakaian yang melekat di tubuhnya, mengubah posisinya untuk fokus kepada bagian penting milik Shen. Dia mengarahkan kedua kaki Shen agar lebih terbuka, lalu menyerang bagian itu dengan lidah juga bibirnya.


" Sayang.... " Keluh lagi Shen yang merasai indah saat Damien menyerang bagian intinya dengan lidah yang menari-nari disana. Tak mau kalah dari Damien yang terus berusaha membawanya masuk dalam istilah surga dunia di atas tempat tidur, Shen mulai bangkit dari posisinya, menjauhkan bagian intinya dari Damien, lalu mengubah posisi dengan dia berada di atas Damien.


" Sekarang biarkan aku yang bergerak. " Shen tersenyum seraya meraih milik Damien yang sudah bagaikan batu kerasnya. Dia memijat dengan lembut, semakin lama semakin cepat, lalu memperlakukan layaknya lolipop yang manis. Mungkin terdengar memalukan, tapi dulu Shen sangat ingin seperti sekarang ini saat menyandang status sebagai istrinya Arnold. Semua sudah berlalu, meski bukan lagi Arnold pria yang menjadi suaminya, Shen akan melakukan apapun untuk membuat suaminya merasa cukup hanya dengan memilikinya, jadi tidak akan mencari pelampiasan dengan yang lainnya nanti.


" Sayang, ini enak sekali. " Keluh Damien secara jujur karena memang dia merasakan itu. Bagi seorang pemain wanita, tentu sudah biasa hal seperti ini dia rasakan, tapi Shen berbeda, dia sangat indah juga nikmatt. Tidak tahu apa yang membuatnya berbeda, tapi Damien menduga, mungkin ini karena adanya cinta di antara mereka sehingga apapun itu benar-benar terasa luar biasa.


Bersambung