Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 30



Marisa terdiam memandangi dinding kosong yang terus saja menampilkan adegan-adegan menyakitkan saat Digo merampas kesuciannya. Sakit, hancur, malu, kecewa, marah, benci, semua rasa itu mnejadi satu, bersatu membentuk belati tajam dan terus menghujam jantungnya. Jujur, jika memilih maka dia memilih mati setelah kehilangan kesuciannya.


Ingin sekali melampiaskan kemarahannya kepada Digo, tapi dia tidak mampu karena teringat dengan apa yang dilakukan kakaknya. Sejenak memang dia ingin mendatangi kakaknya, lalu melampiaskan saja semua yang ia rasakan. Lagi, kakaknya adalah anak yang paling dicintai keluarganya, anak yang memiliki prestasi membanggakan, bahkan juga karena kakaknya kedua orang tua, bahkan dirinya hidup dengan nyaman dan berkecukupan. Mana bisa dia melakukan itu? Dan kalau sampai orang tuanya tahu, bukankah dia akan membuat pemikiran Ibunya dibenarkan olehnya?


Sudah dua hari dia menangis dan mengurung diri di kamar di sebuah kamar kos yang sempit. Tidak makan, tidak minum, hingga wajahnya memucat, seluruh tubuhnya juga kehilangan energi. Mungkin bagi wanita yang mengikuti budaya barat, hal ini hanya akan dianggap sebagai hal wajar, tapi dia dibesarkan dengan adat istiadat, dan mengharuskannya menjunjung tinggi martabat serta kesucian diri yang mesti dijaga dengan sebaik mungkin.


Bug....


Tumbang sudah tubuh gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun itu. Tubuh lemasnya tergeletak tak berdaya di lantai dengan mata tertutup tapi masih saja mengeluarkan air mata.


***


" Kak, bisa berikan aku uang? "


Digo mengeryit bingung karena ini pertama kali Teo meminta uang padanya.


" Tumben sekali kau minta uang? Apa Ayah lupa mengirim uang bulanan mu? "


Teo menggeleng, tidak mungkin juga dia menceritakan apa tujuannya dengan uang itu.


" Aku ingin membeli barang kak, tapi karena brand terkenal, jadi uangku kurang. "


Digo mengangguk.


" Nanti aku transfer, tidak usah memasang wajah melas seperti itu. "


Teo tersenyum lalu mengangguk.


" Ok, kak. Aku tunggu ya?! "


" Iya. "


Teo berjalan dengan wajah sumringah. Sebenarnya dia bisa saja meminta Ayahnya, tapi kalau Ayahnya pasti akan mempertanyakan kegunaan yang itu degan detail, belum lagi dia juga tidak pandai berbohong kalau di depan Ayahnya.


Teo mengeluarkan ponselnya seraya berjalan menuju mobilnya.


" Kak Max, aku akan mengirim hadiah untuk Anya atas namamu. "


Kenapa kau membuang uang? Gadis itu dirayu sedikit saja sudah terbang tinggi karena bahagia.


" Agar lebih maksimal kak, aku akan mengirim kalung berlian edisi terbaru. Jadi jangan sampai salah ya? Dan jangan salah memanggilnya lagi, Anya namanya Anya, ok? "


Max terkekeh.


Ok, tapi kalung itu biarkan saja aku yang membelinya. Simpan uangmu, dan habiskan bersama pacarmu saja. Urusan wanita itu serahkan saja padaku.


" Tidak kak, kau sudah sangat membantuku, mengenai apa yang akan aku berikan kepada Anya agar dia makin menggilai mu, biarkan aku saja yang membelinya. "


Dasar anak bendel! Sudahlah, terserah kau saja.


Teo tersenyum.


" Ok, siap-siap kau dihubungi dia hari ini. Jangan lupa, namanya Anya, dan hadiahnya kalung berlian edisi terbaru. "


Ok, Ok! Aku akan mengingatnya.


Teo menjauhkan ponselnya setelah sambungan telepon itu terputus.


" Jangan salahkan aku, Anya. Meskipun kakakmu yang berselingkuh, tapi nyatanya kau juga menindas kakak ku selama ini. Jika nanti kau bersedih, salahkan saja sikap mu yang keterlaluan. " Teo mulai menginjak pedal gasnya melesat melintasi jalanan menuju kampusnya.


***


" Ben? "


Sapa Digo saat mendapati orang kepercayaannya mendatanginya ke kantor.


" Selamat pagi, Tuan. Maaf saya datang terlalu pagi. " Ujar Ben menunduk hormat.


" Tidak apa-apa, ada apa? "


Digo menghela nafasnya, rasanya dia sudah dua hari menunggu kabar terbaru dari wanita itu.


" Katakan. "


" Pagi ini sahabatnya mengunjungi kamar kosnya, tapi sesaat terjadi keributan, dan ternyata Nona Marisa pingsan di dalam. Saat ini dia sudah berada di rumah sakit, Tuan. "


Digo tersenyum, dia sungguh tidak menyangka kalau gadis itu akan semenderita itu kehilangan kesuciannya. Tapi sudahlah, tidak penting juga memikirkan itu. Sekarang adalah waktunya bertindak ke langkah selanjutnya.


" Ben, belikan bunga dan buah. Sebentar lagi aku akan datang mengunjunginya. "


" Baik, Tuan. "


Beberapa jam kemudian.


Digo berjalan dengan menenteng sekeranjang buah-buahan, dan juga seikat bunga lili menelusuri lorong rumah sakit menuju kamar dimana Marisa di rawat.


Sejenak dia terdiam setelah sampai di depan pintu, dia mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat khawatir dengan keadaan Marisa.


Klek...


" Marisa? "


Marisa terperanjak mendengar suara Digo, teman yang tengah menemaninya mengobrol itu juga ikut kaget karena tidak menyangka kalau akan ada yang mengunjungi Marisa.


" A anda, anda, "


Digo meletakkan buah dan bunga itu di meja, lalu memeluk Marisa erat-erat.


" Maafkan aku, aku sudah dua hari ini mencari mu, tapi aku baru dapat kabar kalau kau sedang dirawat dirumah sakit. "


Marisa terdiam karena bingung dengan sikap Digo. Bukankah apa yang terjadi kemarin hanyalah untuk membalas perbuatan kakaknya? Kenapa Digo malah terlihat khawatir? Dan kenapa juga pelukannya sangat hangat?


" Apa yang sakit? Dimana kau merasa tidak nyaman? " Digo bertanya sembari menangkup wajah Marisa.


Marisa masih tak bisa menjawab, dia hanya bisa menelan salivanya karena masih tidak paham apa yang terjadi ini.


" Kenapa kau diam? Apa kau kesakitan hingga tidak bisa bicara? "


Merasa tak harus disana, teman Marisa memutuskan untuk pergi dan membiarkan mereka bicara.


" Anda, kenapa ada disini? " Tanya Marisa menahan air matanya karena teringat dengan kejadian malam itu.


Digo menunduk pilu, tapi hanya Marisa yang melihatnya seperti itu. Karena pada kenyataannya, Digo tengah tersenyum miring penuh kelicikan.


" Aku minta maaf, Marisa. Malam itu aku sungguh kehilangan kendali karena aku juga mabuk. "


Marisa tak lagi bicara, dia menutup mulutnya karena menahan suara tangisnya yang seolah akan lolos dari mulutnya.


" Marisa, aku sungguh minta maaf. Aku janji akan bertanggung jawab. Tapi tolong tunggu beberapa waktu karena ada banyak pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku janji, akan menikahi mu. "


Dan membawamu kedalam neraka.


" Menikahi ku? Kakak ku sudah merusak rumah tangga adikmu, hanya orang bodoh saja yang akan melakukannya! "


" Iya, aku tahu. Tapi aku memang bodoh, aku bodoh karena jatuh cinta degan adik dari wanita yang telah membuat adikku terluka. Aku juga tidak bisa menahan diriku untuk dengan siapa akan jatuh cinta kan? " Digo menatap Marisa seolah dia merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan. Bahkan, tatapan seolah dia jatuh cinta itu juga terlihat sungguh-sungguh hingga mampu menggetarkan hati Marisa.


" Kau, sungguh akan bertanggung jawab? " Marisa menatap mencari kesungguhan dari tatapan Digo.


" Iya, aku akan menikahi mu. "


Deg....


Marisa terpaku karena tatapan Digo barusan benar-benar membuatnya tahu kalau Digo sungguh-sungguh ingin menikahinya. Sejenak dia berpikir, apakah ini memang jalan dari Tuhan untuk membuatnya lepas dari bayang-bayang belas kasih kakaknya? Apakah ini juga jalan agar dia tidak lagi harus melakukan banyak hal untuk menyeimbangkan diri dengan kakaknya? Jujur, dia memang masih merasa ragu, tapi karena keadaan sudah seperti ini, dia sepertinya memang harus mengiyakan Digo.


Bersambung......