Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 54



Disebuah ruang keluarga, orang tua Mona kini datang untuk membicarakan kebenaran tentang pernikahan putrinya dan Arnold.


Memang sih terkesan seperti tidak tahu malu, hanya saja Mona sudah membuat pengumuman meski secara tidak langsung. Seperti mengunggah photo masakan yang ia buat dengan keterangan, menyesuaikan diri untuk menjadi Nyonya Arnold. Belum lagi Mona sempat mengunggah photo kamar Arnold saat sang pemilik kamar berada diluar rumah dengan unggahan, calon kamar kita berdua ya, sayang. Dan banyak lagi unggahan yang menjurus ke arah pernikahan.


Tatapan mereka boleh saja menuntut, tapi saat mata mereka bertemu dengan mata Shen, seolah dia merasa tidak enak, jadilah hanya menunduk saja meski ucapan mereka terkesan memaksa.


" Nyonya, tolong maafkan putraku yang tidak bisa berpikir jernih saat itu. " Ujar Ibu Resa karena tak tahu lagi harus berbicara apa.


" Maaf, Nyonya Resa. Kami sudah tidak bisa memaklumi lagi, bahkan putri kami juga sudah tinggal disini beberapa hari belakangan, apa yang akan orang bicarakan tentang kami nantinya? "


Ibu Resa terdiam lagi karena sudah tidak tahu akan bicara apa lagi untuk mencegah hal itu terjadi.


Shen juga tak bisa lagi bicara, entah apa dia merasa sangat malas, atau mungkin merasa keheranan dengan tindakan kedua orang tua Mona yang menurutnya diluar akal Sehat.


Tak banyak yang bisa dibicarakan, Arnold juga terjebak oleh keadaan yang terus mendesaknya. Sejenak dia berpikir untuk membicarakan hal ini dengan Shen, tapi bagaimana cara menyampaikannya? Dia tahu benar jika Shen banyak menderita selama ini, sekarang pun juga harus menderita karena ulahnya.


Sudahlah, semua hal ini benar-benar membuatnya sakit kepala, stres, bahkan tidak memiliki mood untuk melakukan apapun. Terlebih sikap Adha yang sangat berubah, dia menjadi semakin tidak tahan lagi menghadapinya.


Sementara Mona, gadis itu terus saja tersenyum dengan mata yang berbinar bahagia karena besok adalah hari pernikahannya. Sayang sekali dia tidak dekat dengan kedua orang tuanya, kalau dekat, pasti dia akan memeluk orang tuanya, dan berterimakasih karena telah mendesak keluarga Arnold agar segera mengadakan pernikahan untuknya.


Shen menatap photo pernikahannya bersama Arnold dengan tatapan datar. Rasanya sudah mati rasa dengan semua kesakitan yang Arnold berikan. Jujur, pada awalnya Shen masih ingin mempertahankan rumah tangganya, dan membuktikan kepada Mona bahwa dia tidak akan kalah. Tapi apa boleh dikata, Ternyata Arnold malah semakin menunjukkan ketidak pantasan dirinya sebagai seorang suami yang baik meski Shen paham benar bahwa, Arnold adalah Ayah yang baik untuk Asha.


Sejenak Shen berpikir, mungkinkah memang pada akhirnya harus begini? Tidak! Dia tidak menerima semua ini, dia tida menerima kekalahannya, dan dia juga tidak akan menerima Mona sebagai Ibu tiri dari putrinya. Tak lama Shen tersenyum miring, dia meninggalkan tempat ia berdiri, lalu berjalan mendekati sebuah meja dimana ia meletakkan ponselnya untuk menghubungi Zera.


" Zera, kita mulai dari sekarang ya. "


Ok!


Shen tersenyum sinis.


" Bahagia lah, Mona. Karena besok kau akan menangis tiada henti. "


Shen meraih tasnya, lalu berjalan keluar untuk menyusul Asha yang siang tadi dijemput oleh orang tua Shen untuk ikut menghadiri undangan dari rekan bisnis Ayahnya. Sungguh dia beruntung karena alam tengah mendukungnya saat ini.


Selamat menikmati buah dari kebimbangan mu yang tidak berkesudahan itu. Selamat tinggal, suamiku.


***


Digo mencengkram ponselnya erat-erat setelah membaca pesan dari salah satu pelayan pekerja dirumah Arnold yang ia bayar.


" Jadi kau benar-benar akan menikahi wanita sialan itu? Heh! Lihat lah wanita sialan, lihat bagaimana aku menghancurkan mu dengan satu senjata saja. " Gumam Digo lalu menjauhkan ponselnya.


" Ada apa, Digo? Sepertinya wajahmu sedang kesal. " Eli tersenyum sembari bertanya kepada Digo. Iya, sesuai dengan titah kedua orang tuanya, mereka ingin sekali kalau Digo dan Eli lebih sering bertemu agar bisa lebih akrab sebelum tanggal pernikahan mereka ditentukan.


" Tidak ada, lanjutkan saja makannya. "


Setelah makan malamnya selesai, seperti biasa Digo akan mengantarkan Eli pulang kerumahnya terlebih dulu.


" Maaf, aku ada urusan mendadak, jadi tidak bisa menemui orang tuamu hari ini. " Ucap Digo begitu mobil mewahnya terparkir di pelataran rumah Eli.


" Tidak apa, lain kali kan bisa. "


" Iya. "


Tak pakai aba-aba, Eli yang sudah tidak bisa menahan diri lagi langsung saja menyergap bibir Digo. Awalnya memang ragu karena Digo selalu menolaknya, tapi kali ini Digo mendiamkannya, berarti Digo juga menginginkannya kan? Cukup lama Eli menjarah bibir Digo, hingga tanpa sadar dia mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di leher Digo, bahkan sampai meninggalkan noda merah disana.


" Stop! " Digo menahan tangan Eli yang sudah akan menyentuh bagian intinya.


" Sudah cukup, kita belum menikah, tidak pantas melakukan ini. " Ujar Digo beralasan.


" Tidak apa-apa, masuklah. "


Setelah memastikan Eli masuk kedalam rumahnya, Digo kini bergegas menuju apartemen dimana Marisa tinggal. Dia sengaja membiarkan saja noda lipstik Eli tertinggal di bibirnya, di leher, juga ada sedikit di kerah bajunya.


" Digo? Lihat, aku membuat kue untuk- " Ucapan Marisa terhenti begitu melihat dengan jelas bagaimana penampilan Digo yang berantakan itu. Melihat bibir, leher, serta bekas lipstik di kerah kemejanya saja dia sudah sangat sakit, sampai tidak bisa bernafas sampai beberapa detik. Sekarang ditambah lagi resleting Digo terbuka, padahal Digo adalah orang yang sangat menjaga penampilan juga kerapihan pakaiannya. Iya, untuk resleting Digo sengaja menurunkannya sendiri sebelum masuk kedalam, tujuannya tentu untuk membuat Marisa semakin yakin dengan dugaannya.


" Apa, apa yang baru saja kau lakukan? "


Digo tersenyum seolah-olah dia tidak tahu apapun.


" Tidak ada, sayang. Aku hanya selesai meeting, lalu buru-buru kesini karena merindukanmu. " Digo meraih tengkuk Marisa berniat mencium bibirnya.


" Digo! Berhentilah berbohong! " Marisa mendorong kuat tubuh Digo hingga pria itu mundur beberapa langkah.


" Bohong? Aku tentu saja tidak pernah berbohong, karena aku kan mencintaimu. "


Plak!


Marisa yang tidak tahan lagi kini melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Digo.


" Jangan berpura-pura bodoh! Lihat ini! " Marisa membalikan tubuh Digo untuk melihat ke cermin yang ada tak jauh dari jendela.


" Kau masih ingin bilang tidak melakukan apapun?! "


" Oh, ini kan wajar sayang. Bagi pria hal seperti ini adalah hal yang lumrah. "


Marisa menggigit bibir bawahnya menatap Digo dengan tajam.


" Sebenarnya, apa artinya aku bagimu? "


" Bagiku, kau ya wanita. "


Marisa berdecih tak percaya dengan ucapan Digo.


" Apakah kau lupa kau berjanji akan menikahi ku? "


" Oh ya? Kapan? Aku tidak ingat. "


Plak!


Satu lagi tamparan diterima Dago.


" Kau brengsek! Kau sama saja dengan pria yang bernama Arnold! Kalian adalah bajingan terkutuk! " Ucap Marisa kesal sembari memukuli dada Digo.


" Cih! Aku sebenarnya bukan laki-laki brengsek seperti dia, tapi ini salahmu karena menjadi adik dari wanita sialan yang sudah menyakiti adikku. " Digo menepis tangan Marisa, lalu menatapnya remeh.


Marisa dengan tubuh bergetar, air mata yang berlinang deras menatap Digo yang berdiri dengan gagah dihadapannya.


" Kau, apakah kau sengaja melakukan semua ini padaku untuk membalas dendam? "


Digo tersenyum.


" Iya, bagaimana? Menyenangkan kan bermain denganku? "


Bersambung.....