Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 40



" Shen, tunggu! " Damien mengejar Shen yang berlari tiba-tiba saat bibir mereka sedikit lagi bersentuhan. Bukan merasa kecewa, tapi Damien merasa bersalah karena hampir saja melakukan hal yang tidak disukai oleh Shen. Jujur, itu bukanlah yang dia inginkan dan dia rencanakan, hanya saja melihat Shen dari jarak yang begitu dekat, rasanya dia tidak bisa menahan diri lagi.


" Shen! " Damien meraih pergelangan tangan Shen, lalu membuat sang pemilik tubuh menghentikan langkah kakinya, dan berbalik menatap ke arahnya.


" Shen, aku sungguh minta maaf. "


Shen terdiam, bukan tidak ingin memaafkan Damien, hanya saja pikiran kotornya tadi hampir saja membuatnya kehilangan akal sehat. Untunglah, saat sedikit lagi bibir mereka bersentuhan, suara petir menggelegar menyadarkan Shen akan tindakan salah yang akan terjadi itu.


" Shen, tolong jangan marah, aku tidak akan kurang ajar lagi. "


Shen masih terdiam. Baik Shen maupun Damien sama sekali tidak menghiraukan derasnya air hujan yang mengguyur tubuh keduanya.


" Shen, kau sungguh marah sampai tidak ingin bicara lagi denganku? "


" Tidak, tidak perlu meminta maaf. Lagi pula tidak terjadi apapun di antara kita tadi. Sekarang biarkan aku pergi, aku ingin kembali ke rumah suamiku. " Shen menarik paksa tangannya dari cengkraman Damien, meninggalkan Damien yang menatapnya kecewa.


" Shen, apa yang membuatmu bertahan? Apa yang baik dari pria itu sampai kau tidak memiliki niat berkhianat sama sekali. Apakah kadar cintamu begitu besar? Ataukah ada hal yang sedang kau rencanakan? " Damien memandangi tubuh Shen yang basah kuyup, dan mulai menjauh. Dengan segera dia berlari menyusul Shen, karena tidak mungkin membiarkan Shen pulang dengan keadaan seperti itu.


" Biarkan aku mengantarmu, kita beli baju dulu agar kau tidak masuk angin nantinya. " Ucap Damien seraya mengimbangi langkah kaki Shen.


" Tidak perlu, aku akan meminta Zera turun dari apartemennya dan meminjamkan baju untukku. "


" Baiklah, naik mobilku saja. Aku akan mengantarmu kesana. "


" Tidak perlu. "


" Tapi- "


Shen menghentikan langkahnya, dia menatap Damien tegas, bahkan lebih tegas dari biasanya.


" Damien, saat ini ada hal yang harus aku lakukan. Tapi jika kau terlalu dekat denganku, semua yang aku lakukan dengan susah payah akan hancur. Tolong, menjauh lah dariku, Damien. Anggap saja kau sedang membantuku dengan menjaga jarak dariku. "


Damien terdiam dengan wajah yang tak rela. Rasanya ingin sekali mengiyakan tapi tidak melaksanakan, tapi melihat bagaimana Shen meminta dengan wajah yang begitu memohon, Damien seolah tak memiliki kekuatan untuk berbohong dibalik kata iya.


" Sampai kapan aku harus menjauh darimu? "


Shen terdiam sebentar, kepalanya benar-benar sakit kalau menghadapi Damien yang cerewet dan banyak tanya itu. Tapi dari cara Damien bicara dan menatap, sepertinya dia bersedia untuk memenuhi keinginannya kali ini.


" Sampai semua tujuanku tercapai, Damien. "


Damien tersenyum, lalu mengangguk. Entah apa yamg dimaksud Shen, tapi dia memiliki keyakinan bahwa hari itu akan tiba. Shen yamg berdiri di hadapannya adalah Shen yang memiliki kekuatan dan keyakinan akan dirinya sendiri, maka meyakini Shen juga adalah pilihannya.


" Shen, aku tahu kau pasti bisa melakukan apa yang kau inginkan. Ok! Aku akan menuruti permintaanmu, dan begitu semua urusanmu selesai, jangan salahkan aku kalau datang secepat kilat. " Damien menghela nafas lega, lalu tersenyum sembari megepalkan tangan ke atas.


" Berjuanglah, Shen! Kau adalah wanita yang kuat dan hebat, aku yakin kau bisa melakukan apapun yang kau mau. "


Shen tersenyum.


Sepertinya menyingkirkan mu adalah hal yang sulit bagiku.


***


" Shen, dari mana saja? " Tanya Ibu Resa begitu Shen masuk kedalam rumahnya.


" Aku terjebak hujan, Ibu mertua. Tapi untunglah rumah temanku dekat, jadi aku bisa singgah menunggu hujan reda. "


" Shen, nanti bantu Ibu, dan Ibu dapur masak ya? Soalnya nanti malam kekasih Anya akan bergabung untuk makan malam. "


" Iya, aku akan membantu Ibu memasak nanti. " Shen tersenyum, lalu melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya.


Setelah beberapa saat dia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat, Shen memeriksa ponselnya yang sudah memiliki banyak sekali notifikasi pesan yang belum sempat ia baca. Dia hanya bisa tersenyum tipis membaca satu persatu pesan yang dikirim Arnold karena dia mendapat kabar dari Ibunya bahwa dia belum juga sampai dirumah.


Shen, kau ada dimana? Shen, apa yang sedang kau lakukan? Shen, hujan lebat! Kau ada dimana? Aku akan menjemputmu, kirim lokasimu!. Shen, kau sudah pulang? Shen, bla.. bla.. bla..


" Masuklah semakin dalam, Arnold. " Ucap Shen, lalu kembali tersenyum. Tak lama matanya menatap binar pesan yang sudah tertimpa banyak pesan setelahnya. Segera dia menghubungi si pemilik nomor itu.


" Halo? Oh, maaf karena aku baru membaca pesan anda. Jadi, kapan semuanya akan siap sesuai dengan desainku? Baiklah, semoga semuanya selesai secepatnya. "


Shen menjauhkan ponselnya, bibirnya tertarik indah dengan lengkungan bibir yang menggambarkan kebahagiaan yang tengah ia rasakan.


" AsLove land, sungguh tidak sabar untuk bertemu denganmu. " Shen kembali tersenyum bahagia.


***


Arnold terus saja mengecek ponselnya disela pekerjaannya. Maklum saja, Shen jarang sekali mengabaikan pesan darinya, jadi dia sungguh merasa khawatir. Belum lagi beberapa saat lalu hujan turun dengan sangat deras, dia jadi tambah tidak tenang.


" Ibu? " Arnold segera membaca lesan sang Ibu saat dia mendengar ada nada pesan yang masuk ke ponselnya. Iya, dia adalah Ibu Resa yang mengabari Arnold kalau Shen sudah kembali kerumah, tapi tidak bersama Asha, dan dia juga lupa menanyakan kemana cucunya. Iya, itu kan karena dia terlalu excited menyambut kekasihnya Anya.


Arnold mendesah lega. Tentu saja dia tidak perlu khawatir mengenai Asha, kalau Shen tenang-tenang saja, pasti Adha juga aman. Kalau tidak bersama Zera, pasti akan bersama dengan keluarganya Shen, batin Arnold.


" Tapi kenapa Shen mengabaikan pesanku? Apa dia sedang sibuk? Tapi sibuk apa? " Gumam Arnold.


Malam Hari.


Disebuah meja makan yamg telah tersusun rapi semua hidangan. Mulai dari sayur, lauk pauk, nasi merah, dan juga nasi putih, buah-buahan, desert, jus buah, susu, bahkan juga anggur non alkohol sudah berjejer rapih.


" Max, ngomong-ngomong, kapan kau akan membawa keluargamu kesini? " Tanya Ibu Resa.


" Max? " Anya menyenggol lengan Max karena pria itu masih tak menjawab. Kenapa? Itu karena Max terus memandangi wajah cantik Shen semenjak dia melihatnya tadi.


" Eh, apa? "


" Ibuku bertanya, kapan kau akan membawa keluargamu untuk berkenalan. " Ulang Anya sembari menatap Shen kesal.


" Oh, itu. Segera setelah pekerjaanku senggang, Bibi. "


Shen tersenyum miring menatap Anya yang juga menatapnya kesal.


" Selamat malam? " Sapa Arnold yang baru saja tiba. Shen bangkit dari duduknya untuk menyambut Arnold. Tak seperti biasanya, Arnold akan langsung berjalan kearahnya, lalu mengecup pucuk kepalanya.


" Ja- " Max segera menghentikan mulutnya. Iya, entah mengapa dia tidak rela ada yang mencium Shen hingga tanpa sadar dia mencoba untuk mencegah, bahkan dia sudah akan bangkit tadi.


" Ada apa, Max? " Tanya Anya bingung.


" Oh, itu! Pinggangku sakit. " Jawab Max bohong, iyalah dia bohong! Soalnya semua orang menatapnya.


Sialan! Teo kenapa tidak memberitahu kalau kakaknya sangat cantik? Dia malah memberikan gadis semacam ini padaku, kalau tahu dari dulu, aku lebih baik membunuh kakak ipar mu, lalu menggantikan posisinya.


Bersambung.......


Lagi-lagi maaf ya kalau banyak typo!