
Setelah bersama-sama mengunjungi rumah sakit untuk memeriksa kandungan, Mona dan Bastian kini kembali ke apartemen yang Mona tinggali selama menjalin hubungan dengan Bastian. Berbeda dengan Bastian yang terlihat bahagia, Mona kini terlihat murung dan enggan untuk mengatakan apapun kepada pria yang selama beberapa bulan ini membantu perekonomiannya.
" Dengar, mulai besok aku akan memperkerjakan seseorang untuk menjagamu, dan tugasmu hanyalah menjaga baik-baik anakku, kau mengerti? "
Mona menghela nafasnya, sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya Bastian termasuk orang yang tampan meski sudah memiliki lumayan banyak kerutan, juga uban. Tidak tahu harus bersyukur atau bersedih, karena dibanding pria paruh baya yang pernah menjadikannya simpanan, hanya Bastian sajalah yang memiliki rupa juga uang di atas mereka semua.
" Kenapa kau diam saja? " Bastian berjalan mendekat, meraih wajah Mona dan membaut mereka saling bertatapan.
" Memang aku harus menjawab apa? Bukankah aku hanya perlu mematuhimu? "
Bastian menjauhkan dirinya, menatap jendela kaca seraya membuang nafas kasarnya.
" Tidak usah khawatir, masalah uang akan aku berikan berapapun yang kau inginkan. " Ucap Bastian tanpa menatap bagaimana raut wajah Mona saat ini.
" Ini bukan soal uang lagi, Bastian. "
Bastian mengeryit sedikit marah karena menduga kalau Mona akan menggunakan anaknya sebagai ancaman, atau bahkan akan memerasnya, hingga memintanya untuk menceraikan istri sahnya.
" Apa maksudmu? " Bastian mencengkram wajah Mona hingga dia lupa kalau Mona pasti akan merasakan sakit.
Mona melepaskan tangan Bastian, lalu menjauhkan dari wajahnya. Tatapannya tegas, juga seolah membantah dugaan Bastian akan dirinya.
" Dengar, aku tidak akan memeras mu, kau tidak usah takut. Mulai dari hari ini, kau hanya perlu bertanggung jawab atas bayinya, tidak usah memikirkan aku lagi. Tapi satu hal yang aku minta, setelah bayi ini lahir, biarkan aku tetap merawatnya, dan jangan memisahkan kami. "
Bastian terdiam memikirkan kata-kata Mona seolah menegaskan bahwa dia tidak ingin lagi memiliki hubungan apapun, selain hubungan antara bayinya dan juga Bastian sendiri.
" Tidak bisa, aku juga Ayahnya. Aku tentu akan mengenalkannya kepada istriku, dan jika istriku menginginkan anak ini, maka aku juga tidak bisa melarangnya. "
Mona menahan tangis begitu kalimat Bastian selesai di ucapkan.
" Apakah, kau mendekatiku hanya untuk memiliki anak? " Marisa menatap Bastian dengan mata memerah yang sudah mulai jatuh air matanya.
" Jika itu tujuanku, maka aku sudah akan melakukannya dari dulu dengan wanita yang lebih baik darimu. "
Mona terkekeh seraya mengusap airmatanya. Benar, sekarang ini harga dirinya memang tak lagi ada, jadi tentu sudah bukan hal baru jika dia akan dihina seperti ini.
" Baiklah, sekarang tinggalkan aku sendiri, mulai dari hari ini, aku akan memberikan laporan tentang perkembangan bayinya setiap kali mengunjungi Dokter melalui email. Kau tidak usah lagi datang untuk berkunjung, karena aku akan menjaga anakku sendiri dengan baik. " Mona berjalan meninggalkan Bastian yang terdiam di sana.
" Sialan! Kenapa juga berbicara begitu? " Bastian mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya sungguh bukan itu maksud hatinya, hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengakui kalau dia memang memiliki rasa tersendiri untuk Mona, dan itulah satu-satunya alasan dia membaut Mona hanya menjadi simpanannya, melarang dia menemui pria lain, dan masih terus mengikuti pergerakan Mona karena tidak ingin dikhianati.
Mona duduk terdiam memandangi hasil USG kandungannya, hanya ada gambar tak jelas, tapi Mona sadar benar jika gambar tak jelas itu adalah gambar anaknya yang belum berkembang sempurna. Air matanya luruh, mengingat kata-kata Bastian yang akan memberikan anaknya saat istrinya menginginkannya. Benar, Mona tidak mencintai Bastian sama sekali, tapi dia mencintai anaknya, dia tentu sanggup menghilangkan Bastian, tapi tidak akan mungkin menghilangkan anaknya dan membiarkannya menganggap orang lain sebagai Ibu.
" Apakah ini sungguh karma? " Mona menangis tanpa suara. Dia kembali mengingat bagaimana dulu dia selalu mengancam Shen akan menjadikan Asha anaknya, membuat Asha melupakan Shen sebagai Ibunya, dan sekarang semua hal menyakitkan itu berbalik padanya. Takut, juga tidak rela, Mona tahu benar sekarang bahwa itulah yang Shen rasakan saat dia mengancamnya.
" Harus bagaimana? " Mona memeluk hasil USG dengan pilu, dan hati yang terus menegaskan bahwa dia tidak akan rela meski dia bingung bagaimana caranya agar bisa membuat anaknya terus bersamanya nanti.
***
" Peluk saja guling itu. " Jawab Marisa.
Digo menghela nafas sebalnya. Iya sih, semua kan dia juga yang mulai. Dulu saja sok jual mahal degan membatasi tempat tidur, sekarang giliran Marisa yang memberikan batas, dan rasanya memang menyebalkan. Meskipun rumah tangganya masih dalam tahap rekontruksi, tapi bukankah boleh dan sah saja kalau hanya berpelukan? Eh, melakukan anu juga masih boleh kan?
" Marisa, kau sudah tidur? "
" Hem.. "
" Marisa, Marisa, Marisa? " Terus saja Digo memanggil nama Marisa, tujuannya adalah supaya dia bisa memeluk Marisa kalau Marisa tidak menjawab, itu pasti dia sudah tidur kan?
" Marisa? " Panggil Digo lirih, sudah tiga kali, dan itu berarti Marisa sudah tidur kan? Segera Digo menyingkirkan guling yang ada ditengah-tengah mereka, lalu membuangnya jauh ke lantai. Segera dia menggerakkan tangannya pelan untuk memeluk Marisa.
" Apa kau pikir aku bisa tidur saat kau terus memanggil namaku? "
" Eh, Marisa kau belum tidur juga? " Digo kembali menyimpan tangannya.
" Bisa, kalau saja mulutmu berhenti memanggil namaku. "
" Oh, baiklah. " Digo lagi-lagi harus menahan dirinya, dan tunggu sampai Marisa benar-benar tertidur, barulah dia akan memeluk Marisa dengan bebas.
Satu jam, dua jam, akhirnya Marisa benar-benar tidur, jadi inilah waktunya untuk dia bisa memeluk Marisa, menikmati aroma tubuhnya, lalu tertidur dengan tenang.
***
" Shen, kita menikah yuk? "
" Uhuk! Uhuk! " Shen dan Zera kompak tersedak, terbatuk-batuk bersamaan. Bagiamana tidak, mengajak menikah tapi cara bicaranya seperti mengajak untuk membeli yogurt. Ditambah lagi Zera dan Shen barusan sedang menyeruput teh hijau kesukaan mereka, jelas saja teh itu muncrat kemana-mana.
" Damien, kau mengajakku menikah atau membeli terasi? " Shen menatap kesal seraya menyeka bibirnya dengan tisu.
" Dasar pria bodoh! Menikah berarti menikah, bukan untuk main-main! " Kesal Zera.
" Menikah, ya memang menikah kan? Salahnya dimana? Makanya aku mengajak Shen, kan tidak mungkin menikahi diri sendiri? "
" Bodoh! Bukan itu maksudnya, apa kau tidak bisa melamar dengan baik? "
" Maksudnya,seperti yang ada si drama-drama, dan Novel? Melamar di atas helikopter, terus di tempat ramai, menggunakan petasan, semacam itu? "
" Ya kurang lebih begitulah. " Ujar Zera.
" Makanya aku tanya Shen dulu, nanti kalau aku sudah menyodorkan cincin, dilihat banyak orang, lalu ditolak bagaimana? Aku ya harus tahu dulu Shen mau atau tidak, baru nanti- Hup! "
" Banyak sekali bicaramu! " Ucap Shen setelah memasukkan sandwich ke mulut Damien yang terus saja mengoceh menikah, menikah sedari bangun tidur tadi.
Bersambung...