Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 101



" Kau tahu kenapa kau bisa ada di posisi seperti ini, bahkan hingga dua kali? "


Mona terdiam karena tak bisa menjawab pertanyaan dari wanita tiga puluh delapan tahun yang kini duduk berseberangan dengannya. Sedikit melirik mencari tahu apa yang harus dia katakan, tapi nyatanya mengalihkan pandangan juga tak memberikan ide apapun. Lagi juga dia tidak memiliki persiapan apapun karena istri Bastian tiba-tiba saja datang tanpa kabar, terlebih Bastian juga tidak banyak berkomunikasi akhir-kahir ini.


" Nyonya, bisakah tinggalkan aku sekarang? Aku sungguh sangat lelah, bisakah? " Mona tak bisa lagi kalau harus menghadapi istri Bastian yang nampak tenang, tapi tatapannya sangat menyelidik dan tajam.


" Aku baru datang, dan kau sudah mengusirku? Aku datang kesini juga bukan hal yang kuinginkan, tapi aku harus memastikan apa yang mengganjal di benakku. "


Mona memeluk erat-erat perutnya yang kini semakin membesar, tidak tahu apa arti dari hal yang mengganjal itu, tapi rasanya Mona benar-benar tertekan saat ini.


" Nyonya, aku mengerti kalau aku bersalah. Tapi aku sudah mengatakan dengan jelas kepada Bastian bahwa aku hanya meminta tanggung jawab untuk anakku saja. Jadi jangan khawatir, aku tidak akan merebut posisimu. "


Wanita tiga puluh delapan tahun yang bernama Anita itu tersenyum dengan tenang, menatap dengan lembut tapi juga terasa menekan, bahkan satu gerakan ditubuhnya saja cukup membuat Mona merasa kewaspadaan.


" Kau membungkus maksudmu dengan alasan anak, tapi jangan pikir kalau aku tidak tahu apa maksudmu yang sebenarnya. Jujur, aku tidak keberatan jika saja Bastian akan menikahimu karena kau menekannya dengan meminta Bastian merelakan anaknya kepadamu sepenuhnya. Harus kuakui kau beruntung bisa memiliki bayi dari suamiku, tapi kau tidak beruntung karena istri Bastian adalah aku. "


Mona menelan salivanya sendiri, bagaimana bisa Anita menebak maksudnya dengan mudah? Padahal dia sudah berakting senatural mungkin agar terlihat sebagai wanita yang tertindas dan tidak berdaya, tapi kenapa disadari sangat cepat oleh Anita yang bahkan baru pertama kali dia berjumpa.


" Kau bisa mendapatkan perhatian dan secuil cintanya, tapi jangan salah, laki-laki itu mudah sekali merasakan bosan, sekarang boleh dia memikirkan mu, tapi tidak akan ada yang tahu satu jam lagi dia memikirkan siapa. Saranku, jangan mempermalukan dirimu sendiri, dan nikmati saja sisa waktu berhargamu yang sudah banyak kau buang dengan sia-sia. "


" Mona! "


Mona tersentak dam menoleh ke arah satu orang lagi yang datang dengan terburu-buru, tapi tidak dengan Anita, matanya datar seolah dia sudah bisa menduga kalau pria yang tak lain Bastian itu juga akan datang.


" Bastian? " Mona mengeryit bingung harus bagaimana menghadapi Anita yang adalah istri sahnya Bastian, dan juga Bastian sendiri.


Anita tersenyum, lalu bangkit untuk menghadap suaminya.


" Kau takut aku melukai wanitamu? "


Bastian menelan salivanya, matanya menatap seolah dia menyesal, bahkan dia seperti tengah menahan diri karena ingin memeluk sang istri.


" Sayang, aku- "


" Bastian, aku bukan orang yang bertindak sesuai dengan emosi, aku datang hanya ingin mengunjungi calon istrimu, juga anakmu yang akan segera lahir. Oh iya, " Anita menatap Mona yang berdiri tak bicara.


" Aku juga ingin meminta maaf karena putriku, Seva telah mendatangimu dan menyampaikan beberapa kata yang menyakiti hatimu. Tolong mengerti, Seva hanyalah gadis muda yang terluka saat Ibunya dikhianati, tapi juga jangan memintaku untuk memarahi anak gadisku, seiring berjalannya waktu dia juga akan mengerti dan memaklumi keadaan ini. "


" Sayang, sudah, kita pulang ya? " Ajak Bastian mencoba untuk meraih pergelangan tangan sang istri.


" Tidak, Bastian. " Anita menjauhkan tangannya dengan anggun bersamaan dengan senyum di wajah cantiknya yang tak menghilang meski ingin sekali mengatakan sejuta kata kotor untuk Bastian dan Mona.


" Disini adalah tempatmu, Bastian. Wanitamu nampak kasihan dengan perut besarnya, apalagi hanya ditemani pelayan yang biasanya setia menemaniku, dia juga sudah tidak muda, tolong jangan membuatnya banyak bekerja keras. " Pelayan yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menunduk tak berdaya, mau bagaimana lagi? Sebenarnya dia lebih nyaman saat tinggal di rumah bersama Anita, tapi kalau tuannya sudah memberikan perintah, dia juga tidak bisa menolaknya.


" Anita, aku tahu sekali kau sangat kecewa dengan apa yang aku lakukan, aku sudah memberimu pengertian dan setiap hari meminta maaf, bisakah kau kembali seperti istriku yang biasanya? "


" Aku yang seharusnya meminta maaf untukmu, Bastian. Aku tidak bisa menjadi istri yang cukup untukmu, aku tidak memiliki rahim yang sehat untuk bisa melahirkan anakmu, dan aku juga sadar kalau aku tidak memiliki kualifikasi untuk disebut sempurna. Tapi yang membuatku sesak adalah, bagaimana bisa pria sepertimu asal memilih wanita? Tapi sekarang aku paham satu hal, Aku memang belum bisa melahirkan anak untukmu, tapi aku merasa beruntung dan juga bersyukur, karena aku jadi merasa kalau mungkin saja Tuhan ingin aku melahirkan anak dari pria lain. "


Bastian mengeraskan rahangnya, meraih paksa tangan istrinya dan membawa keluar dari apartemen Mona.


" Bastian, lebih baik lepaskan tanganku sebelum tanganku benar-benar patah. "


Bastian sontak berhenti, dan mengendurkan cengkraman tangannya.


" Berhentilah untuk berniat berpisah, aku tidak akan menyetujuinya. "


" Jangan lupakan anakmu yang akan lahir, Bastian. "


" Itu akan mnejadi anak kita. "


Anita tersenyum tipis, dia tahu benar kalau Bastian tidak akan mungkin memilih Mona meski wanita itu cantik juga bisa melahirkan anaknya, kenapa? Karena keadaan rahim yang kurang sehat juga karena ulah Bastian sendiri di masa lalu.


" Aku tidak bilang kalau aku mau menerimanya, Bastian. "


" Berhentilah memanggilku dengan Bastian, aku tersiksa setiap kali kau menyebut namaku setiap berbicara denganmu. "


" Setelah penghianatan mu, kau pikir aku masih bisa memanggilmu dengan sebutan sayang seperti biasanya? Kau lebih baik memikirkan lagi tindakanmu, Bastian. Aku juga ingin memiliki anak sendiri, jadi lepaskan saja aku, siapa tahu kalau nanti aku akan hamil setelah berganti pasangan. "


" Jika memang ingin memiliki anak sendiri, kita akan pergi keluar negeri untuk berkonsultasi, tapi tunggulah sampai anak ini lahir, bersabarlah sebentar lagi. "


Lihatlah Mona, wanita mengandalkan wajah cantik saja sungguh tidak cukup. Bukan hanya kehilangan harga diri, pada akhirnya juga tidak bisa merawat anakmu sendiri.


***


Arnold menenggak segelas wine penuh tanpa perduli sudah berapa banyak yang ia minum. Seperti ini hari-hari yang Arnold lalui setelah Shen memutuskan untuk memilih jalanya sendiri, dan semua semakin parah ketika Shen menikah beberapa hari yang lalu.


Bruk


Arnold menjatuhkan kepalanya dengan posisi wajah menghadap ke samping karena tak tahan lagi dengan pusing dikepalanya. Tapi saat melihat seorang wanita yang duduk di sudut ruangan sendiri dengan pakaian yang ia tahu itu adalah milik Shen, dia perlahan bangkit dengan dahi mengeryit demi memastikan lagi.


" Shen? " Arnold menyentuh wajahnya.


" Ah, sana! Jangan sembarangan menyentuh! " Rupanya dia juga mabuk, tapi suaranya juga mirip sekali dengan Shen.


" Shen, kau mabuk? Mau aku antar pulang? "


Bersambung....