
Digo menatap aneh setiap sudut kamar Marisa. Tidak tahu arti dari tatapan semacam itu, hanya saja Marisa mengendus adanya bau-bau penghinaan. Digo berjalan ke kanan, lalu ke kiri, menempelkan telunjuknya untuk mengecek adakah debu, bahkan dia juga menekan-nekan tempat tidur lalu mengeryit. Belum lagi, dia memeriksa setiap tumpukan buku yang ada disana, melihat satu persatu photo-photo Marisa yang terpajang di kamarnya.
" Bahkan kamar pelayan dirumah saja lebih bagus dari ini, apa jangan-jangan kau anak tiri? "
Marisa mendesah sebal. Memang dia akui jika kamarnya, sekaligus isi kamarnya tentu saja tidak bisa disamakan dengan yang ada dirumah Digo. Tapi percayalah, kamar itu sudah ia tinggali sejak lama, dan rasanya juga nyaman-nyaman saja.
" Jendela ini apa tidak salah taruh? Bukanya harusnya akan lebih bagus kalau ditaruh di sebelah sana. " Tunjuk Digo ke arah selatan, tepatnya di sebelah lemari baju yang berdampingan dengan sofa.
" Jendela bukan barang biasa yang bisa dipindahkan kapanpun sesuka hati." Sebal Marisa.
" Cih! Jangan-jangan kau bukan lagi anak tiri, tapi anak pungut. "
" Digo, wajahku dengan kakakku kan sangat mirip, bagaimana bisa kau mengatakan hal semacam itu? "
Digo menoleh, menatap Marisa seolah dia tak setuju dengan ucapannya tadi. Segera dia berjalan mendekat, meraih dagunya, lalu membuat mereka bertatapan dengan lekat.
" Kalau aku mendengar lagi kata-kata seperti itu, aku tidak akan segan-segan membawamu ke dokter kecantikan, lalu mengubah keseluruhan wajahmu, kau paham? "
Marisa menelan salivanya dengan susah payah. Mungkinkah Digo mengartikan ucapannya tadi sebagai artian bahwa dia dan kakaknya mirip secara wajah dan tingkah?
" Kenapa diam? "
" Aku tahu, aku tidak akan mengatakan itu lagi. "
Digo melepaskan dagu Marisa, menjalankan tangannya untuk meraih tengkuknya.
" Aku ingin tahu bagaimana rasanya kasur di kamarmu. " Digo membenamkan bibirnya lembut menikmati benda kenyal yang tak bosan untuk dia nikmati.
Detik terus berjalan, ciuman yang tadinya begitu lembut kini berubah menjadi panas, dan seolah menuntut membutuhkan pelampiasan.
" Marisa? "
Glek!
Ibu dan Mona menatap Marisa dan Digo yang kini terpaksa menghentikan adegan ciumannya dengan tatapan kaget.
" Ma, Marisa, maaf Ibu tidak sopan karena langsung saja membuka pintu tanpa mengetuk dulu. " Ibu menunduk gugup, berbeda dengan Mona yang terus saja memperlihatkan wajah tak sukanya.
Digo menatap malas, tapi dia juga tidak mau menimbrung omongan.
" Ti tidak kok, tidak apa-apa. "
" Jangan terlalu dalam Marisa, apa yang kau jalani sekarang ini adalah jebakan mematikan. " Mona menatap marah Digo yang menyeringai tak menunjukkan sedikitpun rasa gentar.
***
Pagi hari.
Arnold datang pagi-pagi sekali untuk mengantarkan Asha ke sekolah. Sudah tiga hari memang, dan ini adalah jatah untuk Arnold bersama dengan Asha.
" Kau sudah siap? " Tanya Arnold seraya mengusap lembut kepala anaknya.
" Sudah, Ayah. "
" Shen, kau ikut mengantar Asha? " Tanya Arnold.
" Aku, sedang tidak enak badan. Tidak apa-apa kan kalau kau sendirian mengantar Asha? "
Arnold tersenyum dan mengangguk.
" Baiklah, kau istirahat saja dirumah. "
Sesampainya di sekolah Asha, Damien sudah berdiri di depan pintu gerbang untuk menunggu kedatangan Asha dan Shen.
" Paman! " Asha melepas genggaman tangannya bersama Arnold, lalu berlari menuju Damien dengan tangan yang merentang meminta untuk digendong. Seperti yang diharapkan, Damien segera membawa tubuh Asha kedalam gendongannya. Sejenak dia mencari keberadaan Shen, tapi karena tidak muncul juga, dia mulai sadar kalau Shen tidak datang untuk menghindarinya.
" Paman, pakaian paman hari ini sangat rapih, paman akan pergi kemana? " Tanya Asha yang melihat penampilan Damien berbeda dari sebelumnya.
" Hari ini paman akan kembali ke negara paman, jadi paman datang kesini untuk memenuhi janji kepadamu. "
Asha terlihat sedih.
" Paman kapan akan datang lagi? "
" Belum tahu, tapi paman pasti akan datang lagi. "
" Asha, masuklah ke dalam, jangan sampai terlambat karena hal tidak penting. " Ucap Arnold yang tak suka melihat kedekatan Damien dan Putrinya. Apalagi saat Asha terang-terangan melepaskan tangannya demi berlari ke Damien yang jelas bukan siapa-siapanya.
" Tapi Ayah, paman Damien akan pergi, jadi sebentar lagi saja ya? " Pinta Asha yang masih belum rela melepaskan Damien.
" Asha, tidak ada yang lebih penting dari pada sekolahmu. "
Damien menghela nafasnya, jelas sekali lah dia bisa melihat betapa tidak sukanya Arnold dengan kedekatannya bersama Asha.
" Asha, masuklah kedalam, paman janji akan kembali menemui kalau semua urusan paman sudah selesai. " Damien menurunkan pelan tubuh Asha, dan membiarkan anak itu masuk kedalam sekolah meski dia terus saja menoleh dengan tatapan tak rela.
" Paman, jangan ingkar janji! Aku akan menunggu paman, dan aku juga akan merindukan paman! " Ucap Asha dengan suara yang begitu lantang.
Damien tersenyum bahagia.
" Iya, paman juga akan merindukanmu! "
Asha tersenyum dengan langkah kaki yang mundur demi untuk melambaikan tangan kepada Damien. Hal itu justru membuat Arnold semakin menggeram kesal. Padahal dia pikir, dia adalah seorang Ayah yang tidak akan mungkin memiliki saingan untuk putrinya, tapi kali ini Arnold paham jika Damien mulai memiliki arti bagi Asha putrinya.
" Bukankah kau akan kembali ke negaramu? Kenapa tidak bergegas dan segera pergi? " Arnold menatap Damien yang masih terdiam memandangi punggung Asha.
" Apa kau sedang mengusirku? "
Arnold tersenyum miring.
" Aku lebih mengingatkan, karena aku takut kalau sampai kau lupa. "
Damien mendesah sebal, sudahlah, tidak ada gunanya juga berdebat dengan Arnold. Selian menguras energi, pikirannya malah semakin tidak baik setelah tidak melihat shen.
Damien segera berjalan menuju taksi yang ia pesan, lalu menuju ke bandara.
Tak jauh dari laju taksi tersebut, rupanya Shen membuntuti Damien hingga sampailah di bandara. Shen menggunakan kaca mata hitam, juga penutup kepala agar Damien tidak bisa mengenalinya. Entah itu bodoh atau apa, tapi Shen masih merasa canggung, tapi dia juga ingin melihat Damien sebelum dia kembali ke negaranya.
Damien memutar tubuhnya mencari seseorang yang ingin sekali ia temui sebelum berangkat. Tapi begitu Damien melihat ke arah Shen, Shen degan cepat membalikkan badan membuat Damien semakin tak bisa mengenalinya.
" Shen, apa kau semarah itu? " Gumam Damien yang merasa sangat kecewa tida dapat menemui pujaan hatinya itu.
Shen kembali memutar tubuhnya, menatap dari kejauhan Damien yang kini menunduk memandangi layar ponsel dengan perasaan sedih.
" Damien, aku ingin sekali memeluk dan mengatakan jangan pergi, tapi aku juga tidak sanggup melakukannya. " Shen mencengkram kuat kain penutup kepalanya hingga air mata menetes pun, dia tidak menyadarinya.
Damien menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan pelan. Dia menyimpan kembali ponselnya karena merasa cukup melihat wajah Shen, Adha dan dirinya saat berada di pantai kemarin.
" Shen, jika kita memang berjodoh, Tuhan pasti akan kembali membawaku kesini, atau kau yang akan datang padaku. Tunggu aku, Shen. Ataukah, aku menunggumu, Shen. " Ucap Damien lalu melangkahkan kaki menjauh dari Shen yang masih menatapnya dengan kesedihan.
Bersambung....