
Disebuah meja makan yang kini telah dipenuhi penghuni rumah. Shen tak bisa menghentikan bibirnya yang ingin selalu saja tersenyum melihat wajah Digo dan Marisa secara bergantian. Masih tidak percaya, tapi buktinya nyata ada di depan mata. Sebenarnya Digo memang tampan, tapi selama ini kan tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Bahkan, Digo selalu membawa Shen saat dia mendapatkan undangan pernikahan dari temannya. Iya tentu saja dia masih bertanya-tanya, bagaimana kakaknya tiba-tiba menghamili seorang wanita cantik?
" Kak, apa saat kau melakukan pertama kali tidak salah arah? "
Semua orang menatap Shen dengan tatapan heran.
" Apa maksud pertanyaan mu? " Digo menusuk daging ikan di piringnya dengan tatapan mengancam Shen.
" Oh, tidak. Maksudku saat ingin menikah, apakah kau pergi ke gedung pernikahan yang benar? Aku takutnya pengantin mu tertukar. Memang, apa yang sedang kau pikirkan? "
Digo menelan salivanya merasa malu, juga kesal dengan Shen. Heh! bisa saja membuat alasan, padahal yang Shen maksud adalah bagian bawahnya tidak salah lubang kan? Cih! Benar-benar kurang ajar.
" Memikirkan? Aku sama sekali tidak memikirkan apapun. " Ujar Digo seraya melengos menolak bersipandang dengan Shen.
" Oh iya, kakak ipar. Bagaimana rasanya saat pertama kali kalian melakukan itu? Apa dia tidak salah memasukkan- "
" Shen! " Bentak semua orang, dan Ibu Lean menutup dua kuping Asha agar tidak terkontaminasi kejorokan Ibunya.
Marisa yang baru saja tersedak kini sudah berhasil mengatasinya.
" Apa sih? Aku mau tanya, apakah kakakku salah memasukkan cincin ke jarinya? Takutnya kakak memasukan ke jempol kan? "
Digo menahan kesal dengan mata yang menyipit bersiap-siap menyusun rencana untuk membalas adiknya.
" Shen, hentikan pertanyaan-pertanyaan mu yang ambigu itu. Makanlah yang banyak, karena setelah ini kita akan bermain-main, iya kan? "
" Uh! Kakak mengancam ku ya? " Shen terkekeh geli.
" Sebenarnya, aku tidak tahu salah atau tidak memasukkannya, soalnya aku tidak terlalu menyadarinya. "
Ucapan Marisa barusan sontak membuat Shen, Ayah dan Ibu, serta Teo tertawa kencang. Sementara Digo pria itu mengerang menahan kesal karena kejantanannya telah diragukan, bahkan oleh wanita yang jelas-jelas sedang mengandung anaknya.
" kakak ipar, kau ini benar-benar sedang mabuk waktu itu ya? Kalau begitu tidak seru dong? "
Marisa tersenyum lebar.
" Aku tidak terlalu mabuk kok, hanya saja waktu itu tidak menimbulkan rasa, jadi aku tidak tahu kalau cincinnya sudah terpasang. " Marisa kembali tersenyum.
" Pft.....! " Shen menahan tawanya lagi.
" Ah, aku jadi ingin memakan sosis mini ini deh. " Shen melirik ke arah Digo, lalu menggigit sosis itu dengan caranya yang seperti meledek.
" Shen, aku sangat mencintaimu. " Ucap Digo dengan mata yang melotot tajam.
" Oh, aku juga mencintaimu kak. "
Teo yang panas dingin mendengar obrolan itu hanya bisa banyak-bayak meminum air, lalu berdehem sebanyak yang dia bisa agar tenggorokannya tidak lagi terasa aneh.
Setelah makan malam, sebenarnya Digo ingin sekali memberikan pelajaran kepada Shen dengan menggilitik perutnya sampai dia menangis, tapi karena Asha sudah tidur, mau tidak mau dia hanya bisa mengurungkan niatnya karena tidak ingin tidur keponakannya terganggu. Dengan wajah kesal dia masuk ke dalam kamar, dan hanya bisa menelan salivanya saat melihat Marisa tengah mengenakan baju tidurnya.
" Kenapa melihatku seperti itu? " Tanya Marisa tak menghentikan kegiatannya.
" Ehem! Siapa juga yang melihatmu? Aku hanya heran, bagaimana mungkin wanita bisa memiliki bokong serata itu? "
Marisa mengigit bibir bawahnya menahan kesal.
" Bagian tubuhku rata, tapi jangan lupa kalau kau juga pernah menikmatinya. Oh, bukan pernah ya? Tapi hampir setiap malam. "
Lagi, Digo kembali menatap tubuh Marisa.
" Masih ingin melihat? Kalau iya, aku tidak jadi memakai baju. "
" Pa pakai ya pakai saja! Aku hanya heran, kenapa perutmu masih rata? Jangan-jangan kau berpura-pura hamil agar menikah denganku ya?! "
Marisa mendesah sebal, dia segera memaki baju tidurnya, lalu berbalik menatap Arnold.
" Kalau iya lalu kenapa? Mau bercerai? "
" Kau gila ya?! Baru saja menikah, tapi sudah mau bercerai. Kau mau orang-orang meragukan ku ya?! "
" Meragukan apa? " Marisa mengeryit mencari tahu apa maksud ucapan Digo, tapi setelah dia bisa menebaknya, dia jadi harus menahan tawa dibalik wajahnya yang datar.
" Oh, meragukan kekuatan itu mu? Memang kenapa kalau iya? Kalau di ingat-ingat, setiap kita melakukanya, saat aku baru mau memulai, kau sudah selesai. Terlebih, rasanya malah hanya seperti digelitik saja. Jadi mau tidak mau aku hanya berpura-pura saja menikmati untuk menjaga perasaanmu yang aku pikir sungguhan mencintaiku. "
Digo mendesah heran dengan ucapan Marisa yang benar-benar membuatnya kesal. Menggelitik saja? Rasa milik bawahnya hanya menggelitik? Ayolah dia sendiri juga tahu kalau ukuran anu nya lumayan besar. Lagi pula, tinggi badan seratus delapan puluh dua empat mana mungkin anunya kecil? Kalaupun ada, itu bukan Digo pastinya.
" Marisa, kau ini sedang menggoda atau apa? " Digo tersenyum miring, lalu mendekati Marisa yang kini mulai terlihat tegang.
" Menggoda? Aku malah merasa terhina, bagaimana bisa wanita dengan bokong rata sepertiku berani menggoda mu? "
" Oh, kalau begitu anggap saja aku sedang terpaksa tergoda. " Digo meraih tengkuk Marisa berniat menyambar bibirnya.
" Eh, jangan lupa. Dokter bilang kandunganku agak lemah, tidak boleh melakukan hubungan badan sebelum lewat trisemester pertama, kedua, ketiga, dan selanjutnya. "
Baru Digo akan menyentuh bibir Marisa, mau tidak mau dia harus mengurungkan niatnya dengan hati jengkel. Kalau trisemester pertama dia memang mendengar saran itu, tapi kalau kedua dan ketiga, bukanya mulut Marisa sedang mengada-ada?
" Siapa juga yang mau berbuat seperti itu? Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam. " Ucap Digo pelan ditelinga Marisa.
" Oh, selamat malam juga. "
***
Anya masih sibuk dengan pekerjaan sederhananya. Hari ini adalah hari dimana dia menerima gaji pertamanya, entah seberapa banyak, tapi ternyata menerima uang dari hasil kerja sendiri memang sangat menyenangkan.
" Anya, bagaimana kalau nanti malam pergi makan kudapan bersama? " Ajak teman Anya yang juga bekerja di sana.
Anya tersenyum, lalu menggeleng.
" Maaf, tapi aku ada hal lain yang harus aku lakukan. "
" Oh, baiklah. Nanti kalau berubah pikiran hubungi aku ya? " Anya mengangguk.
Sepulang kerja, Anya berjalan menuju sebuah mini kafe yang menjual burger kesukaannya. Tak tanggung-tanggung, dia membeli tiga puluh porsi untuk dibungkus.
Jalanan remang tak membuat Anya merasa takut, kenapa? Karena disana adalah tempat yang biasa ia lalui untuk menuju ke tempat tinggalnya. Tapi sebelum ke apartemen sederhananya, Anya membagikan tiga puluh burger untuk anak-anak jalanan yang tinggal disana.
Nak, semoga kau bisa makan enak juga disana ya?
Batin Anya saat melihat antusiasnya anak-anak di pinggiran jalan berebut burger darinya.
Bersambung....