Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 97



Arnold memukul-mukul dadanya pelan saat rasa sesak juga sakit di dadanya tak tertahankan. Meski mulutnya mampu mengatakan selamat, tapi tetap saja tak ada yang bisa membuat hatinya kuat. Siapa yang bisa menduga kalau wanita yang dulu adalah istri setia, melakukan apapun untuknya, dan mencintainya sepenuh hati akan pergi di saat hatinya tak rela? Begini kehidupan, kemarin mengatakan benci, besok bisa saja merasakan cinta, kemarin mengatakan ingin berpisah, besok tidak sanggup bila jauh.


Sungguh dia masih belum bisa merelakan apa yang terjadi, dia masih enggan mengakui kehilangan Shen sepenuhnya, bahkan dia malah sengaja terus menggunakan cincin pernikahannya bersama Shen, padahal dulu sama sekali tidak pernah ia kenakan. Rasanya ingin sekali menculik Shen dan membawanya pergi, tapi dia juga tidak sanggup menghadapi kebencian Shen nantinya.


" Aku benar-benar, " Arnold berpegangan kepada dinding toilet agar membuat tubuhnya tetap kuat untuk berdiri.


" Aku sungguh kehilanganmu, Shen. " Arnold menangis tanpa suara.


" Jangan menangisi rasa sakitmu. " Digo berjalan mendekat, sungguh dia tidak percaya, tapi juga iba melihat Arnold yang terlihat sangat sedih di hari pernikahan adiknya.


Arnold membenahi posisi berdirinya perlahan.


" Setiap tindakan memiliki konsekuensi, kau seharusnya tahu kan? Jujur aku pikir Shen akan tetap kembali kepadamu dengan alasan Asha, tapi aku lupa kalau kesabaran juga kadang egois dengan menyatakan kalau kesabaran ada batasnya. Arnold, mulailah hidupmu yang baru, apa yang sudah terjadi jadikan saja pelajaran. "


***


Mona tertunduk tak bicara karena tatapan marah juga kecewa seorang gadis berusia dua puluh tahunan yang duduk di sofa apartemennya. Dia adalah Seva, anak angkat pertama dari Bastian, tidak tahu dari mana dia mendapatkan informasi tentang tempat tinggalnya, yang jelas Mona hanya bisa berhati-hati saja saat bicara, dan memposisikan dirinya juga sebagai korban.


" Apa anda tahu kenapa saya datang kesini? " Seva menatap nanar Mona yang sedari tadi terdiam seolah sengaja tidak ingin berbicara juga membahas apa yang akan dibicarakan Seva.


Mona menelan salivanya dengan tatapan datar, dan menatap seolah dia sama sekali tidak tahu.


" Tidak tahu, makanya aku diam menunggumu bicara. "


Seva tersenyum mengejek dengan pelupuk mata uang sudah terisi air mata.


" Aku datang karena ingin melihat secara langsung seperti apa wajah wanita simpanan Ayahku, dan seberapa hebat hingga membuat Ayah dan Ibuku bertengkar hebat padahal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas, selain wajah cantik kau tidak memiliki apapun lagi untuk di banggakan. Oh iya, kau juga memiliki rahim yang sehat dan bisa membuat Ayahku akan memiliki anak kandung, selamat ya? Selamat untuk kehamilanmu yang membawa bencana bagi hubungan Ayah dan Ibuku. "


Mona memeluk perutnya yang kini sudah membuncit. Rasanya ingin sekali berpura-pura tidak kenal dengan Ayahnya Seva, tapi itu pasti akan membuatnya semakin terlihat bodoh.


" Apa kau hidup bahagia sekarang? Haruskah aku bertepuk tangan untukmu? Oh, apakah aku harus menarik rambutmu, memukul, dan menginjak wajahmu seperti kebanyakan video saat bertemu wanita simpanan suami atau Ayahnya? Haruskah? "


Mona menggigit bibir bawahnya dengan mata memerah menahan tangis, jika saja tidak ada anak di dalam perutnya, tentu saja masa bodoh dengan itu semua.


" Ayahmu tidak akan memaafkan mu kalau sampai itu terjadi. "


Seva terkekeh dan membuatkan air matanya jatuh membasahi pipinya.


" Kau pikir aku takut? Aku bisa saja melakukannya sekarang, tapi aku tumbuh besar dengan atitude yang Ibuku ajarkan. Apakah kau tahu kenapa Ibuku tidak menemui meski dia marah dan sedih? Itu karena dia merasa kau hanyalah sampah kotor baginya, dan kau juga bukan ancaman untuknya. Mungkin kau bisa mengambil hati Ayahku, lalu membuat Ayah dan Ibuku bercerai, tapi satu hal yang kau perlu tahu, ada atau tidak Ayahku di dalam kehidupan kami, itu tidak akan berpengaruh. Kau tahu kenapa? Karena Ibuku, tidak membutuhkan seorang penghianat. Harus kuakui, kau juga Ayahku memang sangat cocok, bagaimana kalau menikah saja? "


Mona terdiam sesaat karena memikirkan kata-kata apa yang bisa ia gunakan untuk membuat mulut Seva terdiam.


" Pulanglah, anak-anak seharunya fokus belajar, bukan mengurusi urusan orang tua. "


Seva tersenyum miring sembari meletakkan satu telapak tangannya di meja, lalu menatap Mona dengan tatapan mengejek.


" Benar, aku lebih muda darimu, tapi aku punya otak yang lebih baik darimu. Di usiamu sekarang, apa yang sudah kau capai selain menjadi orang ketiga? Pikirkan satu hal, bagaimana jika anak di dalam kandungan mu adalah perempuan, bagaimana jika dia akan merasakan menjadi Ibuku, oh! Dia akan menjadi orang ketiga sepertimu? "


Mona menatap Seva marah dengan mata merah berair. Boleh dia di hina, tapi bagaimana bisa dia terima kalau bayi yang di kandungannya mendapatkan hinaan seperti ini?


" Jaga kata-katamu, atau aku akan membuat Ayah dan Ibumu benar-benar bercerai. " Ancam Mona yang tak mau lagi menahan emosi.


" Lakukan, lakukan sebisa mu, karena aku ingin melihat sampai dimana usahamu, juga sampai sejauh apa kebobrokan Ayahku. " Seva tersenyum miring sembari menggegeleng heran dengan wanita yang kini tengah hamil di hadapannya.


" Kau tahu apa yang menyedihkan darimu? " Seva menatap dengan dingin.


" Kau tidak pernah sadar akan seberapa besar kebodohanmu, kau juga tidak pernah sadar bahwa kau sekarang ini sedang menghancurkan dirimu sendiri. "


Mona menatap kedua bola mata Seva dengan wajah datarnya.


" Apa yang kau katakan hari ini benar-benar cukup membuatku tertarik untuk memaksa Ayahmu menceraikan Ibumu. " Mona tersenyum miring.


" Aku tunggu hari itu tiba, dan mari lihat siapa yang akan menderita. " Seva bangkit dari posisinya, lalu berjalan untuk keluar.


" Satu hal yang ingin aku beri tahu padamu, yang sedang kau coba injak bukanlah semut, melainkan singa yang sedang tidur. " Seva melanjutkan langkahnya melewati seorang pelayan yang ditugaskan Ayahnya untuk menjaga Mona.


***


Damien terdiam di pinggiran tempat tidur karena merasa sedih, sedih? Iya dia sedih sekali karena malam pertamanya tidak sesuai dengan ekspetasi. Padahal dia tadi sudah menggendong Shen ala bridal style, tapi tidak lama Asha datang dan ingin tinggal di kamar hotel yang sudah dihias seromantis mungkin. Kesal sih, tapi dia juga tidak mungkin kesal dengan anak seperti Asha kan? Dia hanya kesal karena gagal melakukan anu anuan, sudah begitu harus berjauhan dengan Shen karena Asha sudah tertidur di tengah-tengah mereka sembari memeluk Ibunya.


Sabar ya bro, hari itu akan tiba kok.


Damien berucap kepada bagian bawahnya sendiri.


" Aku tahu kau sedang menggerutu di dalam hati, tapi hari ini juga kan melelahkan untuk kita karena tamu undanganya lumayan banyak. Besok saja, dan anggap kita sedang mengumpulkan energi. " Sialan! Batin Shen, sebenarnya dia malu sekali mengatakan itu, tapi demi membuat Damien cepat tertidur, mau tidak mau katakan saja hal memalukan itu.


Benar saja, Damien kini mulai tersenyum lebar, lalu dengan cepat berbaring miring menatapnya karena Asha tidur sedikit ke bawah. Mereka sebentar saling menatap dengan senyum, lalu Damien mendekatkan bibirnya untuk mengecup bibir Shen singkat.


" Good night, sayang. "


" Good night. "


Bersambung....