
Satu bulan telah terlewati, dan satu bulan ini Arnold semakin menjadi dengan segala usahanya. Mulai setiap hari mengajak makan siang bersama dengan Shen dan Asha, mengirim bunga dengan rajin untuk Shen, mengirimnya pesan untuk Shen tidak perduli di balas atau tidak, dia juga sering kali menggunakan Asha untuk mengajak Shen berjalan-jalan bersama layaknya keluarga yang harmoni.
Tak hanya itu, karena satu bulan ini juga Damien seperti gencatan senjata tidak mau kalah dengan Arnold. Tidak tahu siapa yang memberitahu, tapi semenjak Arnold mengirim bunga padanya setiap hari, Damien juga melakukan yang sama. Parahnya lagi, Damien selalu muncul di manapun Shen berada. Mulai dari sekolah Asha, berbelanja, menonton film bersama Zera lun dia ikut serta.
" Huh.... " Shen menghempaskan tubuhnya ditempat tidur karena merasa lelah dengan satu bulan ini. Sebentar dia berpikir, apakah harus memiliki pasangan? Ah, lagi-lagi memikirkan ini hanya untuk menghentikan tindakan dua orang bodoh yang sedang mengejarnya itu.
" Masa bodoh sajalah, aku lelah sekali. Tidak tahu hal gila apa lagi yang akan mereka lakukan, tapi biarkan saja mereka bertingkah sesuka hati mereka. Aku malas mengurusinya. " Gumam Shen, perlahan-lahan mulai menutup mata dan masuk ke alam mimpi dengan tenang.
" Kenapa kau ada disini? " Tanya Arnold dingin kepada seorang pria yang terus saja memandangi kamar Shen dari kejauhan.
" Cih! Kau sendiri, apa yang kau lakukan? " Pria itu adalah Damien. Sebenarnya dia ingin sekali menghabiskan waktu bersama dengan Shen selama satu pekan sebelum ia kembali ke negaranya untuk mengurus beberapa masalah disana. Karena adanya Arnold, dia jadi kesulitan untuk mendapatkan waktu bersama Shen, entah dari otak licik Arnold berasal, tapi itu benar-benar membuatnya kalah karena Arnold selalu menggunakan Asha sebagai senjatanya.
" Shen tidak akan mungkin memilihmu. Ini hanyalah saran saja, tapi akan bagus jika kau lakukan, pergilah, dan kembali ke negaramu. Cari saja wanita cantik disana, Shen, pada akhirnya akan kembali padaku, juga putriku. " Arnold tersenyum miring menatap Damien yang hanya menghela nafas mendengar ucapannya.
" Bukankah kau sudah cukup lama berada disini? Dari pada hanya memandangi jendela kamar Shen, bukankah lebih menyenangkan jika meninabobokan wanita mu terlebih dulu? " Arnold melirik sebentar ke arah Damien yang tak terlihat marah, atau apapun dengan ucapannya.
" Dengar, tuan Arnold yang katanya terhormat. Dulu, kau juga diam-diam menguntit Shen dan aku saat Shen sedang berobat. Aku mendiamkan mu karena aku ingin melihat sampai dimana kau akan bertindak. Ternyata, sudah sampai situ ya? " Damien tersenyum, lalu mengubah posisi dirinya yang tadi tengah menyenderkan tubuh ke badan mobil, kini ia berdiri tegap berhadapan dengan Arnold yang beberapa centimeter lebih pendek darinya.
" Aku, Damien Alexander kholl, pria bajingan yang sudah tidur dengan setiap mantan pacarnya, aku bukan pria baik yang hanya memiliki satu wanita di masa lalu. Tetapi, yang kau tidak tahu adalah, aku tidak pernah berselingkuh dari mantan-manta pacarku. Jika memang aku merasa bosan atau tidak layak untuk mempertahankan lagi hubungan kami, maka aku lebih memilih mengakhirinya terlebih dulu, baru akan mencari yang baru. Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kau merasa lebih baik dariku? " Damien tersenyum seraya menyeka pundak Arnold beberapa kali.
" Aku tidak membenarkan perilaku ku, tapi yang harus di garis bawahi adalah, aku sama sekali tidak terikat dengan hubungan resmi, aku juga tidak memiliki anak yang turut menjadi saksi masa laluku. Tuan Arnold yang katanya terhormat, menilai ku sebagai bajingan, atau bahkan sampah sekalipun tentu bukan hal yang salah untukmu, juga untukku. Tapi, bisakah kau menilai dirimu sendiri? " Damien meninggalkan senyum sebelum dia masuk kedalam mobil, lalu melesat menjauh dari Arnold yang sekarang ini masih mengepal kuat menahan marah.
" Jika tidak ada masa lalu seperti itu, mana mungkin aku bisa menjadi seperti sekarang? " Damien mencengkram kuat setir kemudinya. Sudah tiga puluh satu tahun dia hidup, dia hanya mengandalkan kebahagiaan duniawi demi melupakan betapa besar luka hati dan trauma mendalam akibat masa lalu. Jika boleh di ulang, atau bahkan lahir kembali, tentu Damien akan memilih untuk lahir di keluarga yang bahagia meski harus dengan keadaan miskin. Bukankah dengan begitu dia tidak akan menjadi bajingan seperti sekarang? Tapi apapun itu, nyatanya Damien sukses melalui hidupnya dengan hal yang dia anggap suka.
" Kau boleh punya Asha yang bisa dijadikan senjata, tapi aku punya keteguhan yang tidak akan mudah untuk dikalahkan. " Ucap Damien sembari menginjak pedas gas mobilnya agar lebih cepat melesat dan sampai di apartemennya degan segera.
***
" Ibu! " Panggil Asha.
" Sayang? " Shen bangkit dari kursinya, meninggalkan sarapan paginya yang baru saja akan dia mulai.
" Oh, Ibu merindukanmu. " Shen memeluk erat tubuh Asha.
" Maaf mengganggu, tapi Asha sudah merengek sedari pagi ingin segera bertemu Ibunya. " Ujar Arnold yang ikut serta untuk mengantar Asha.
" Kau sudah sarapan? " Tanya Shen kepada Asha.
" Sudah, Ibu. Pagi-pagi sekali Ayah sudah menyiapkan roti bakar dan susu hangat. Aku sudah sangat kenyang. " Asha msngusap-usap perutnya yang masih terasa begah.
" Benarkah? Kalau begitu kita langsung ke sekolah saja bagiamana? "
" Tentu saja, sayangnya Ibu. Setelah pulang sekolah nanti, Ibu akan menjemputmu lagi, oh kalau tidak Ibu akan menunggumu juga, bagaimana? "
Asha mengangguk cepat degan wajah bahagianya.
" Shen, makanlah sarapan mu dulu, kau belum menyentuhnya sama sekali. " Ujar sang Ayah mengingatkan.
" Nanti saja, Ayah. Aku juga tidak merasa lapar. "
Shen masuk kedalam kamarnya untuk berganti baju terlebih dulu, sementara keluarga Shen masih terlihat canggung untuk mengajak Arnold bicara seperti dulu. Jadilah mereka hanya mempersilahkan duduk, lalu sibuk mengobrol dengan Asha.
Setelah Shen rapih, mereka segera berangkat ke sekolah Asha.
" Semangat ya sayang? " Seperti biasa, Shen tersenyum menyemangati putrinya.
" Ok, Ibu! " Jawab Asha, lalu berjalan masuk dengan semangat.
" Kenapa masih disini? " Tanya Shen kepada Arnold yang masih berdiri di dekatnya.
" Sebentar lagi aku pergi, kau akan menunggu disini? Atau perlu aku antar dulu ke tempat lain? " Tanya Arnold.
" Tidak perlu, di taman sebelah ada kursi panjang. Aku akan menunggu disana saja. Kau juga bisa pergi sekarang. " Masih sama, Shen masih enggan menatap mata Arnold setelah mereka resmi bercerai. Tidak tahu apa alasan sesungguhnya, hanya saja kadang Shen merasa jika tatapan Arnold sangat tulus, dan dia menjadi takut kalau akan goyah.
Setelah kepergian Arnold, Shen kini memilih untuk duduk di bangku taman sebelah sekolah anaknya. Dia menghela nafas karena perutnya tiba-tiba saja merasa lapar.
" Ini! "
Shen terkejut saat tiba-tiba satu bungkus burger lengkap dengan topingnya disodorkan padanya. Shen mendongak melihat siapa yang memberinya meski sudah bisa menebak.
" Damien? Kau juga bisa tahu aku merasa lapar? " Ucap Shen laku menerima burger dari Damien.
" Hehe, mau bohong bilang iya, kau pasti akan mencela kan? Aku hanya belum sarapan, dan juga tidak ingin makan sendiri. " Ucap Damien seraya duduk disebelah Shen.
" Kau juga sudah mengikutiku sepagi ini? "
" Iya, apa kau tersentuh karena itu? "
" Mimpi! "
Bersambung...