
Pandangan lurus dengan tatapan penuh duka, Anya terus menjalankan kaki menyusuri ruang rumah untuk mencari Shen. Iya, di otaknya tidak ada yang lain selain maaf kepada si pemilik nama Shen yang dulu dia perlakukan dengan sangat buruk, bahkan dengan jahatnya dia mendukung penuh tindakan salah sang kakak.
Sejenak matanya memejam mencari kekuatan bagi tubuhnya yang masih saja terasa lemas. Dia membiarkan saja koper yang sedari tadi ia seret di ujung tangga.
" Nona Anya? Ada yang bisa dibantu? " Tanya satu pekerja dapur saat tak sengaja melihat Anya di sana degan mimik yang tidak biasa.
" Dimana kak Shen? "
Pelayan dapur itu menelan ludahnya, selama ini yang dia tahu adalah Anya yang suka sekali mencari gara-gara dengan Shen, apakah kali ini juga akan seperti itu? Terlebih mimik wajah Anya belum pernah ia lihat sebelumnya.
" Itu, Nona Shen ada di taman belakang bersama Nona kecil. "
Tanpa kata Anya berjalan menuju taman belakang. Sejenak langkah kakinya berhenti melihat Shen dan Asha yang nampak bahagia dengan kegiatan mereka yang tengah membersihkan daun-daun kering di tanaman bunga mereka. Tak terasa buliran air mata membasahi pipi tirusnya, rasanya dia tahu benar bahwa Shen adalah orang yang dulu memperlakukannya dengan tulus tanpa menginginkan apapun darinya seperti Mona yang memiliki maksud.
Segera Anya mengusap air matanya, menarik nafas dalam-dalam, lalu kembali menjalankan kakinya mendekat ke arah Shen dan Asha.
" Kak Shen? " Panggil Anya membuat Shen dan Asha kompak menghentikan kegiatan mereka.
Shen berdiri menatap Anya yang menatapnya dengan aneh. Pikirannya mulai menebak-nebak apa maksud tatapan itu, apakah Anya ingin membuat masalah lagi? Oh, kalau tidak salah Max juga menghilang tanpa kabar sudah cukup lama, apakah Anya akan menyalahkannya? Tidak! Semua hipotesa itu terbantahkan saat Anya tiba-tiba bersujud, memegangi kakinya dan menangis sesegukan.
" Maaf,..... "
Shen melotot kaget, iya Bagaiamana dia tidak kaget kalau tiba-tiba ada yang bersujud di kakinya? Apakah ini metode baru yang dimiliki Anya untuk membuatnya menderita lagi?, tebak Shen di dalam hati.
" Apa yang kau lakukan? " Shen mencoba membuat Anya untuk bangkit, tapi gadis itu malah menggeleng sembari menangis, dan kedua tangannya memegang erat kedua kaki Shen seolah memberitahu bahwa dia tidak akan bangkit untuk sekarang. Merasa adegan ini adalah contoh tidak baik untuk putrinya, segera Shen meminta Asha untuk masuk kedalam kamarnya, dan jangan keluar sebelum Shen memanggilnya.
" Anya, sandiwara apalagi yang sedang kau mainkan? "
Anya menggeleng, sungguh dia tidak bisa berkata-kata karena suara tangis seolah menguasai kerongkongannya.
" Bangunlah, aku tidak ingin orang menilai ku tidak baik kalau melihatku bersujud memegangi kakiku. "
Anya masih tak bergerak, dia tetap saja pada posisinya hingga ia benar-benar bisa menguasai dirinya dan meredam tangisannya.
" Kak, aku minta maaf untuk semua ha menyakitkan yang aku lakukan padamu. Aku sungguh meminta maaf dengan tulus. " Anya mendongak menatap dengan tatapan memohon.
Sebenarnya Shen masih tidak ingin mempercayai ucapan maaf yang terdengar aneh baginya itu, tapi melihat tatapan Anya, dan juga air mata yang seolah tumpah dengan tulus membuatnya tak bisa berkata-kata.
" Kak, aku tahu kesalahan yang aku lakukan sangat besar, tapi aku tidak bisa kalau tidak meminta maaf padamu. "
Shen menghela nafasnya, sudahlah! Mau dipikirkan sampai sejuta kali pun, pikirannya untuk mengerti memang agak sulit. Tapi dibanding itu, dia juga tidak ingin ada yang melihat itu semua, dan akan dijadikan bahan gosip yang tidak pantas.
" Bangunlah, kita duduk disana, dan kau bisa bicara dengan jelas setelah kau tenang. " Ajak Shen seraya membantu Anya untuk bangkit dari posisi yang tahu benar jika itu tidak nyaman. Shen melirik sebentar ke arah Anya sembari merasai tubuh Anya yang gemetar dan dingin. Entahlah, tiba-tiba dia seperti merasakan hawa kesedihan yang merambah ke tubuhnya.
Shen menyeka air matanya yang tak bisa ia tahan setelah Anya menceritakan semua hal yang terjadi antara dia dan Max. Meskipun dia pernah memiliki kebencian yang dalam kepada Anya, rasanya hatinya juga sakit dan iba saat gadis itu begitu menderita akan cintanya sampai harus kehilangan anak yang baru satu setengah bulan hidup di rahimnya.
Shen memeluk erat tubuh Anya yang masih gemetar dengan segala ketulusan hatinya. Meski dia tahu rasanya dikhianati sampai tak berdaya dan ingin mati, tapi dia beruntung karena Asha selalu menjadi sumber kekuatannya. Entah ini karma atau bukan, bagi Shen Anya sudah mendapatkan satu pelajaran berharga di dalam hidupnya. Sekarang sudah tidak perlu lagi memikirkan kebencian yang dulu ia miliki untuk Anya.
" Anya, kau tahu benar rasanya dikhianati sekarang kan? Rasanya sangat sakit, hatiku hancur, bahkan aku merasa akan gila saat itu. Aku terlalu memikirkan akan cinta, hingga aku lupa bahwa hidupku jauh berharga dari pada mencintai orang lain. Aku bahkan sampai mengalami kecelakaan karena itu. Tali tidak apa-apa, kau lihat saja aku sekarang, iya! Aku menjadi kuat karena luka itu, dan aku yakin kau juga akan bisa melaluinya. "
Anya kembali meneteskan air mata. Jemarinya saling mengait dan mencengkram kuat seolah dia memikirkan hal yang tidak sesuai dengan harapan Shen.
" Kak, aku kehilangan calon anakku, jadi aku tidak memiliki kekuatan sepertimu yang memiliki Asha. Aku pikir, setelah aku minta maaf padamu, aku ingin mati saja agar tidak lagi dengan rasa sakit ini. "
Shen terkejut dengan mata yang sedikit melotot. Dia menggenggam tangan Anya yang saling mencengkram kuat, memisahkan pelan kedua tangannya, lalu menggenggam penuh kehangatan.
" Anya, bagaimana bisa hanya seorang laki-laki saja kau akan mematikan dirimu? Kau pikir nyawamu itu hanya mainan? Sekarang yang harus kau lakukan adalah terus hidup dengan baik, dan bahagia. Jangan putus asa hanya karena pria itu, lihatlah keluar, Anya. Jutaan pria menantimu, dan siap membahagiakan mu. "
Anya menunduk pilu.
" Apakah aku bisa, dan apakah aku patas untuk bahagia? "
" Iya! Kenapa tidak? "
Anya mengangguk, lalu menatap Shen dan tersenyum.
" Apa kau akan melaporkan wanita itu dan Max ke polisi? "
" Tidak, kak. Aku tidak ingin kak Arnold dan Ibu tahu. Aku pikir, ini juga baik untukku. Setelah bicara dengan kakak, aku sudah bisa berpikir dengan jernih, dan aku akan mulai hidup dengan baik di luar negeri saja. "
" Kau yakin? "
" Iya, aku ingin meneruskan pendidikan S2 ku disana, lalu mencari kerja paruh waktu agar tidak melulu mengandalkan uang keluarga. "
Shen mengangguk dan tersenyum.
" Aku harap kau akan mendapatkan kebahagiaan di manapun kau berada. "
***
Max termenung menatap lembaran-lembaran dokumen yang menumpuk di meja kerjanya. Setelah keluarnya Anya dari rumah sakit, dia menjadi semakin tidak karuan, bahkan juga seringkali salah menjawab saat ada yang bertanya padanya.
" Bagaimana caranya menghilangkan ini? "
Bersambung...