
" Ah............! " Mona memegangi kepalanya saat melihat berat badannya naik degan begitu mengejutkan. Iya, ini sudah satu bulan berlalu, tapi dia tidak menyangka kalau berat badannya akan bertambah sebelas kilogram. Tahu, dan juga sadar kalau dia memang selalu tidak bisa menahan diri saat merasa lapar, dia juga selalu mengesampingkan keinginannya untuk berhenti makan. Tapi tidak tahu mengapa, semakin hari dia malah semakin tidak bisa mengontrol selera makannya yang membabi buta.
" Gila! Bagaimana ini? Tidak, aku tidak mau gemuk! " Mona berlari menuju cermin untuk melihat bagaimana penampilannya. Iya! Pipi tirusnya sudah tidak ada lagi, dagunya double, perutnya membesar, bahkan kalau dia duduk menjadi dua lipatan yang sangat jelas.
Bukanya tidak menyadari, hanya saja dia selalu mengabaikan itu semua, dan fokus memenuhi keinginan makannya yang selalu saja tidak bisa ditahan. Padahal satu bulan ini dia merasa kalau Arnold lebih banyak menatapnya, tapi kalau se-gemuk ini, mana percaya diri untuk bertemu Arnold.
Sebentar Mona memiringkan tubuhnya melihat sisi kanan dan kiri tubuhnya, lagi dia berpikir bahwa tubuhnya sama sekali tidak terlihat kegemukan, jadi dia rasa dia pasti bisa membuat Arnold jatuh cinta padanya lagi.
" Sudahlah, yang paling pentingkan aku tidak se-gemuk Shen dulu. Ini hanya berisi, jadi tidak akan ada yang akan mencela tubuhku. "
Mona meraih ponselnya, lalu memeriksa apakah ada pesan untuknya? Cih! Lagi-lagi tidak ada, padahal dia berharap akan mendapatkan pesan dari Arnold, atau dari Anya.
"Ngomong-ngomong soal Anya, dia itu sebenarnya kenapa sih? Sudah satu bulan ini sering sekali mengurung diri di kamar. Belum lagi dia sama sekali tidak memberikan informasi apapun tentang Shen. Dia ini kenapa ya kira-kira? Aneh memang! Setiap kali di ajak bicara, dia hanya akan mengangguk dengan tatapan kosong. " Gumam Mona.
***
Anya terduduk lesu di lantai kamarnya yang dingin. Suhu ruangan yang seharusnya cukup untuk membuat tubuh manusia menggigil, justru tak dapat dirasakan olehnya. Wajah pucat, tatapan yang kosong, semua itu terjadi karena masalah berat yang tengah ia hadapi.
Satu bulan sudah waktu terlewati tanpa adanya kabar dari Max. Entah bagaimana caranya untuk mencari pria itu, hanya saja setiap kali Anya mendatangi kantor, Anya selalu tak mendapatkan jawaban pasti. Anya menunduk lesu memandangi perut ratanya, rasanya ingin sekali mengusap dan mengajak bicara dengan bahagia sosok yang tengah hidup di rahimnya. Tapi, keinginan itu terpatahkan dengan hilangnya Max secara tiba-tiba. Mungkin, jika Max ada disampingnya, dia akan menyambut bahagia kehamilannya yang sudah akan masuk ke usia dua bulan. Mungkin juga dia sudah menikah dengan Max, lalu sibuk menyiapkan nama dan perlengkapan bayinya yang akan lahir nanti.
" Kemana kau Max? " Anya menggenggam erat ponsel yang ia beberapa saat lalu ia gunakan untuk memberi pesan dan mengubungi Max.
Sudahlah, kalau belum bisa ya tidak apa-apa, coba saja menunggu sebentar lagi, batin Anya.
Anya mengusap layar ponselnya lalu entah mengapa dia ingin membuka laman media sosialnya. Sejenak dia tersenyum melihat banyaknya video konyol yang lucu. Yah, ternyata itun juga mampu membuatnya melupakan sejenak segala rasa gundah dan kesedihannya.
Tak berapa lama karena merasa bosan, Anya mencoba untuk melihat akun media sosial milik Max. Tak ada yang bertambah pada unggahan photo, atau kegiatan yang lainya. Anya menghela nafasnya, pada awalnya dia ingin langsung menjauhkan ponsel darinya, tapi tiba-tiba jarinya tak sengaja menekan beranda. Dari situlah dunia Anya seakan hancur berantakan. Iya, dia melihat unggahan salah satu sahabat yang bisa dibilang lumayan dekat.
Disebuah pantai yang tentu Anya tahu dimana itu berada, tapi bukan itu masalahnya. Temannya itu tengah mengunggah sebuah photo bersama dengan seorang laki-laki dengan begitu mesra. Bahkan, mereka juga nampak begitu mesra dengan berphoto saat mereka tengah berciuman bibir. Iya, pria itu adalah Max.
Dengan tatapan syok, Anya menjatuhkan tangannya yang tengah memegang ponsel ke lantai. Terkejut? Tentu saja! Dia bahkan tidak sanggup berkata-kata hingga tatapan kosongnya tanpa sadar meneteskan banyak air mata. Satu bulan lebih, hari demi hari ia lewati dengan kegelisahan. Hatinya berdebar setiap kali memikirkan banyak hal buruk meski dia enggan memikirkannya. Sungguh, dia tidak tahu harus bagaimana hingga hanya bisa diam dengan tatapan kosong.
Marah, kecewa, kesedihan yang mendalam, semua menjadi dua kali lipat karena sepasang manusia itu adalah teman juga pria yang dia anggap kekasihnya selama ini. Perlahan Anya mulai bangkit dari posisinya, tubuh yang lemas juga bergetar seolah tak sanggup untuk berjalan jauh, jadilah Anya kembali jatuh bersamaan dengan airmatanya yang terus menetes tiada henti.
Tidak! Tidak ada waktu lagi memikirkan semua itu. Anya kembali berdiri, dan syukurlah tubuhnya mulai sedikit kuat karena semangat yang baru saja datang ke tubuhnya. Dia berjalan mendekati lemari pakaiannya, mengeluarkan beberapa set, lalu tak lupa memasukkan ke dalam koper. Segera setelah semuanya selesai, Naya bergegas meninggalkan rumah dan segera menyusul Max disana. Tidak tahu bagaimana, dan apa yang akan dia lakukan nanti, tapi setidaknya dia harus meminta pertanggung jawaban dari pria itu untuk menikahinya, lalu membesarkan anak mereka bersama-sama.
Max, kenapa kau melakukan ini padaku? rasanya sangat sakit.
Beberapa jam kemudian.
Anya telah sampai disana, tak mau membuang banyak waktu, Anya segera mendatangi hotel dimana temannya menginap. Tidak tahu kebetulan atau apa, tapi saat Anya bertanya dengan temanya yang satu lagi, dia langsung memberitahu dimana temannya yang berphoto bersama Max menginap.
Tak butuh waktu lama karena hotelnya juga tak jauh dari laut. Berkat uang yang dia miliki juga, Anya bisa tahu dikamar berapa mereka menginap. Sesampainya di depan pintu kamar hotel itu, Anya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Berkat aksescard yang dia dapatkan, kini Anya dengan leluasa bisa membuka pintu kamar itu tanpa disadari oleh sepasang manusia yang tengah mengeluh nikmat disana.
Deg....
Sakit, sakit sekali melihat pria yang satu bulan lebih dia rindukan kini tengah menyatukan tubuhnya bersama sahabat yang juga lumayan dekat dengannya. Padahal, jelas-jelas Anya sudah mengenalkan Max sebagai kekasihnya kepada sahabatnya itu. Tapi kenapa masih saja sahabatnya mengkhianatinya?
Anya mengepalkan kedua tangannya setelah menyeka air matanya. Dia berjalan pelan tanpa suara, maju hingga dekat dengan ranjang yang kini tengah menjadi saksi adegan panas kekasih dan sahabatnya.
" Wah, kalian semangat sekali ya? "
Kedua orang itu sontak menghentikan kegiatannya. Teman Anya nampak kaget, sementara Max tersenyum tipis seolah dia tahu bahwa Anya akan datang.
" Kenapa kau bisa masuk? " Tanya temannya Anya seraya gelagapan.
" Tidak usah dihiraukan, kita selesaikan dulu kegiatan ini! " Max merebahkan tubuh wanita itu dan kembali melanjutkan kegiatan panasnya tanpa memperdulikan Anya yang kini menangis tanpa suara.
" Max! Berhenti! "
Max tidak perduli, dan dia masih saja melanjutkan kegiatannya.
" Max! "
Bersambung....