
Tak ada yang bicara, semuanya fokus menikmati sarapan pagi ini. Tentu saja ini agak aneh bagi semuanya, karena biasanya juga akan ada celotehan Asha, atau Ibu Resa dan Anya yang ada saja mereka bicarakan.
Susana hening terjadi hingga kepergian Asha ke sekolahnya. Arnold juga tak bicara entah apa yang dia pikirkan.
" Asha, kenapa hari ini diam saja? Asha juga tidak bicara dengan Ibu semenjak bangun pagi tadi. " Tanya Shen yang merasakan adanya hal tidak beres dengan putrinya.
Asha masih terdiam dan terlihat sedih.
" Asha, ada apa? Ceritakan pada Ibu ya? " Bujuk Shen lagi.
" Ibu, apakah Ayah akan menikah dengan Bibi Mona? Apakah Bibi Mona juga akan menjadi Ibuku? "
Shen terdiam karena terkejut. Iya, padahal dia sudah sebisa mungkin melakukan agar Asha tidak mendengar tentang ini.
" Bagaimana bisa Asha tahu? "
Asha kembali menunduk sedih.
" Semalam aku keluar dari kamar ingin ke kamar Ibu karena haus. Tapi aku bertemu dengan Bibi Anya, dia yang memberitahuku. Katanya, sebentar lagi Bibi Mona akan segera menjadi Ibuku juga. Ibu, aku tidak ingin Bibi Mona menjadi Ibuku juga, aku hanya ingin punya satu Ibu saja. " Asha menatap Ibunya dengan tatapan memohon. Iya, dia tahu bagaimana Mona memperlakukannya dengan sangat jahat. Tapi karena Mona mengancam akan membunuh Ibunya kalau sampai dia mengadu, maka Asha hanya bisa diam saja meski dia merasakan ketakutan yang luar biasa saat dekat dengan Mona.
Shen sontak memeluk erat tubuh sang putri. Rasanya hancur sekali mendengar pertanyaan serta pernyataan Asha. Mungkin, dia bisa menahan segala kekesalan dan sakit yang ia rasakan sampai tujuannya tercapai, tapi kalau korbannya adalah Asha, mana mungkin dia tidak akan perduli?
" Asha, meskipun memang Bibi Mona menikah dengan Ayah, Ibu akan tetap menjadi Ibu satu-satunya untukmu. "
Mona, kekejaman dariku akan segera aku mulai.
Setelah mengantar Asha ke sekolah, Shen akhirnya memutuskan untuk menemui Arnold di kantornya. Satu jam lebih waktu yang harus ditempuh Shen karena jalanan yang macet parah. Tapi untunglah, kini ia sudah sampai disana.
Sebentar Shen menghela nafas sembari menatap bangunan yang tinggi bertuliskan BMS group. Iya, itu adalah kantor pusat milik keluarga Arnold yang didirikan oleh sang kakek yang telah kembali kepada sang pencipta sekitar tifa tahun yang lalu.
Langkah kaki Shen begitu anggun membuat banyak mata yang tertuju padanya. Tentu hal itu tak di perdulikan oleh Shen, karena fokusnya hanyalah bertemu dengan Arnold.
" Selamat pagi? " Sapa Shen kepada dua resepsionis.
" Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu? "
Shen tersenyum ramah.
" Saya ingin bertemu Arnold. "
Kedua resepsionis itu saling tatap bingung.
" Maaf, apa anda sudah membuat janji? "
" Belum, bisa tolong hubungi terlebih dulu? Karena ada hal penting yang harus saya bicarakan. " Ujar Shen.
" Kalau begitu, nama ada siapa? " Tanya resepsionis itu.
" Shenina. "
Jawaban itu sontak membuat kedua resepsionis mendelik tidak percaya. Iya, mereka pernah melihat Istri Bosnya yang yang bernama Shenina, tapi rasanya sangat jauh berbeda Shenina yang mereka lihat waktu itu.
Bukannya istri Bos namanya adalah Shenina? Ini siapa?
Resepsionis itu memaksakan senyumnya, dia menatap sebentar lalu meraih teleponnya.
" Selamat pagi, Sekretaris Andre? Ada tamu untuk Presdir. Shenina. Baik. "
Setelah menutup telepon itu, segera resepsionis itu tersenyum dan berlaku se-sopan mungkin.
" Maaf harus menunggu, Nyonya. Anda dipersilahkan masuk. "
Shenina mengangguk, dia tersenyum dan tidak lupa meninggalkan ucapan terimakasih kepada dua resepsionis itu.
" Memang kenapa? Kenapa juga kau memanggilnya Nyonya tadi? "
" Itu, itu karena dia adalah Nyonya Shenina yang dulu datang dengan marah-marah itu. "
Satu resepsionis ternganga tidak percaya.
" Ma maksudnya, wanita cantik itu adalah istrinya Presdir yang dulu gendut dan menor seperti ondel-ondel? "
" Aku tidak berani mengiyakan, aku takut membicarakannya. "
" Ah, aku juga jadi ngeri. Tapi aku sungguh tidak menyangka kalau Nyonya Presdir akan berubah secantik itu, Nona Mona saja sudah kalah jauh. "
" Iya, Iya! Hentikan jangan bergosip lagi! "
Setibanya di ruang kerja Arnold, Shen menghela nafas sembari mencari kekuatan dan keberanian agar dia lancar saat berbicara nanti. Tak lupa dia mengetuk pintu terlebih dulu.
" Masuk! " Terdengar suara Arnold dari dalam, dan tentulah Shen segera membuka pintunya.
" Shen? " Arnold bangkit dan membuatkan saja pekerjaannya di meja.
" Kenapa juga kau harus mengetuk pintu? Kau bisa langsung masuk, tidak perlu juga menemui resepsionis jika datang lain kali. "
Shen tersenyum, padahal dulu saat pertama kali dia datang, Arnold sangat tidak senang hingga membiarkan saja dia menunggu sampai dia marah-marah tidak jelas dengan resepsionis.
" Maaf karena pagi-pagi aku sudah mengganggu, hanya saja aku tidak nyaman untuk bicara dirumah. "
Arnold mengangguk, dia berjalan mendekati Shen, meraih pinggulnya, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa yang ada disudut ruangan.
" Kau mau minum apa? " Tanya Arnold setelah Shen sudah berada diposisi duduk.
" Tidak perlu, aku tidak akan lama. "
Arnold memaksakan senyumnya, padahal dia sangat bahagia dengan kedatangan Shen, tapi mendengar Shen tidak akan lama, rasanya dia juga kecewa.
" Apa yang membuatmu datang? " Tanya Arnold yang kini sudah duduk disamping Shen.
" Ibu sudah mengajakmu bicara tentang Mona? "
Arnold terdiam sesaat, lalu mengangguk.
" Bagaimana? Kapan kau akan menikah dengan Mona? " Shen menatap tapi Arnold sama sekali tidak bisa mengartikan arti dari tatapan Shen kepadanya.
" Bagaimana menurutmu? " Arnold membalikkan kata-kata ini karena dia ingin tahu bagaimana respon Shen atas masalah ini. Mungkin Shen terlihat biasa-biasa saja tidak seperti dulu yang akan langsung mengekspresikan suasana hatinya. Jujur, Shen yang sekarang ini sangat sulit ditebak, bahkan segala tindakan Shen sangat membuat Arnold gelisah. Iya, gelisah kalau-kalau Shen akan meninggalkannya dan membawa Asha jauh darinya.
Mendengar pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan, jelas sekali Shen tahu kalau Arnold menginginkan jawaban dari mulut serta ekspresinya. Shen tersenyum, lalu menatap Arnold seolah tidak masalah baginya.
" Arnold, aku sudah terbiasa dikhianati olehmu. Aku sudah terbiasa menangis hingga aku rasa air mataku kering. Kau dan Mona, kalian punya cinta sendiri yang bisa kalian nikmati. Sementara aku? Aku hanyalah seorang istri yang tidak memiliki cinta itu. Aku bisa apa? Setelah aku pikir-pikir apapun yang aku lakukan untuk mengekspresikan rasa cintaku padamu, semua itu tidak akan membuatmu memilihku. Tidak apa-apa Arnold, jika kau merasa bahagia dengan Mona, aku tidak akan menghalangi mu, sebaliknya aku akan mendoakan agar kau bahagia bersama wanita mu. Sepertinya aku sudah tidak ingin bicara lagi, kau juga harus melanjutkan pekerjaanmu kan? "
Shen bangkit dari duduknya, meraih tasnya, lalu melangkahkan kaki.
Satu, dua, ti
Grep...
Arnold memeluk tubuh Shen dari belakang dengan erat.
" Shen, aku harap kau tidak bicara seperti itu lagi lain kali. "
Shen tersenyum tipis.
Bersambung.....