
Damien terdiam dengan tatapan yang jelas sekali menunjukkan keberatannya dengan pembicaraan para orang tua yang kini ada disekitarnya. Iya, mereka adalah orang tua Sarah, juga Ayahnya Damien yang tiba-tiba muncul kembali setelah dua puluh tahun lebih tak pernah memperdulikannya.
Damien menghela nafas sebal, tidak tahu bagaimana cara orang jaman dahulu berpikir, sudah jelas dia ada disana, tapi sama sekali tidak di ajak berunding. Entah bodoh atau sengaja mengabaikan pendapatan Damien, sepertinya orang tua Sarah dan Ayahnya satu kumpulan orang-orang bodoh yang tidak perlu dia anggap ucapannya.
Damien bangkit dari duduknya, berniat untuk meninggalkan ruang tamu rumah Ibunya yang kini dijadikan ruang diskusi oleh mereka.
" Damien, kami belum selesai bicara. Duduklah, tunggu semuanya jelas, baru kau bisa pergi. " Ujar Ayahnya Damien dengan wajah tegas.
Damien tersenyum miring, berdecih sebal lalu menatap pria yang katanya adalah Ayah kandungnya.
" Pembicaraan ini kan milik kalian, aku tidak ada hubungannya dengan rencana kalian. "
" Damien! Perjodohan ini sudah direncanakan sejak kau kecil oleh aku dan Ibumu, kau tidak ada pilihan selain setuju. "
Damien kembali tersenyum mengejek. Rasanya sudah cukup membiarkan orang-orang itu berlama-lama di rumah Ibunya. Sekarang benar-bena sudah tidak bisa ia tahan lagi rasa kesalnya.
" Hei, orang tua! Kau ini siapa? Tiba-tiba datang setelah lama menghilang, lalu mengatakan bahwa aku sudah dijodohkan oleh Ibuku dan kau? Orang gila mana yang ingin kau tipu? "
Ayahnya Damien mengeraskan rahangnya menahan kesal, rasanya memang sulit menahan diri kalau berbicara dengan Damien, entah itu saat dia kecil, atau bahkan sekarang juga masih sama.
" Berbicaralah dengan sopan, Damien! Hormati kedua orang tua Sarah, jangan banyak berulah karena kau bukan lagi anak kecil. "
Damien tersenyum, lalu lama-lama dia terkekeh karena dia merasa jika ucapan Ayahnya benar-benar sangat menggelitik. Alice yang juga berada disana segera mendekati Damien, kenapa? Karena dia tahu Damien akan mengamuk kalau terus dipancing emosinya.
" Orang tua, justru karena aku sudah bukan anak kecil makanya aku bertingkah seperti ini. Kalau aku masih seperti dulu, aku hanya akan diam saja melihat mu masuk ke kamar pelayan, lalu entah melakukan apa disana. Kalau saja aku sudah sebesar ini, aku pasti akan merusak pintu, lalu mengarak kalian berdua. " Damien menatap Ayahnya, juga Ibu tirinya yang ternyata adalah mantan pelayan dirumahnya dulu.
" Damien! "
" Jangan mendekat! " Alice berdiri tegak menutupi tubuh Damien yang sepertinya akan mendapatkan pukulan dari sang Ayah. Alice menatap kedua. Netra sang Ayah dengan tajam, dan tatapan itu cukup untuk membuat Ayah mereka merasa sedih, lalu mengurungkan niatnya.
" Ibu kami tidak akan pernah menjodohkan anak-anaknya, karena dia tidak akan pernah mau memaksakan apapun, dia hanya akan mendukung apapun yang bisa membuat kami bahagia, jadi jangan memaksa Damien lagi. "
Ayah mereka terdiam menahan kesedihan karena perlakuan kedua anaknya yang sama sekali tak menganggapnya sebagai Ayah. Tahu, dia pernah melakukan sebuah kesalahan besar, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia tetap mencintai Alice juga Damien sebagai anak kandung mereka.
" Alice, perjodohan ini pernah kita bicarakan saat Damien usia tiga tahun, Ayah hanya ingin mengabulkan rencana itu. " Ucap Ayah mereka dengan nada suara yang melembut.
" Ibu kami, adalah wanita yang tidak suka memaksa, anda sendiri sudah merasakannya kan? Jadi tolong, biarkan kami tenang seperti sebelum kau, dan juga mantan pelayan kami datang kembali ke sini. " Ayah mereka terdiam karena menahan sakit akibat kebencian yang masih berkobar di mata kedua anaknya. Sementara Istrinya, atau mantan pelayan rumah hanya bisa menunduk karena tidak berdaya, juga tidak tahu apa yang harus dikatakan. Masalah hinaan, tentu dia sadar kalau itu memang benar, menerima saja meskipun hatinya meronta tak terima adalah keputusan yang bisa ia ambil saat ini.
" Sarah, tolong antar orang tuamu kembali. " Pinta Alice yang langsung di angguki oleh Sarah.
" Oh iya, mantan Ibu dapur, aku lupa meminta maaf padamu, semua barang-barang yang tertinggal dirumah, aku sudah membakarnya karena takut disana tertinggal virus. "
Wanita itu mencengkram kuat kain dress yang ia kenakan, tatapannya masih menunduk menahan segala kesedihan, juga rasa marah yang tidak bisa ia ekspresikan secara langsung.
" Alice, berhentilah untuk mengungkit masa lalu, apa dengan begitu bisa membuat hatimu tenang? " Protes sang Ayah yang tidak senang istrinya disinggung.
" kalau begitu, enyah sejauh yang kalian bisa. Karena kalau salah satu dari kalian terlihat oleh kami, yang akan kami ingat hanyalah masa lalu tentang kalian saja. " Ujar Damien dengan tatapan dingin yang menyeramkan, bahkan tangannya juga mengepal seolah ingin memukul habis pria paruh baya yang kini berdiri tak jauh darinya.
" kenapa kalian mengatakan itu?! Memang apa salahnya kalau Ayahku menikahi Ibuku yang mantan pelayan kalian?! "
Semua menoleh ke arah gadis yang kira-kira usianya sekitar dua puluh lima tahunan.
" Ester? " Ibunya bangkit lalu meraih pundak sang anak, dan berniat membawanya pergi.
" Wuah, wajahnya mirip sekali dengan Ibunya, semoga hanya wajahnya saja. " Alice tersenyum mengejek.
" Kenapa mulutmu sangat jahat, huh?! Apa kesalahan Ibu dan Ayahku?! Kalian sama sekali tidak berhak mengatai mereka. " Protes Ester yang tentu saja dia tidak terima orang tuanya diperlakukan buruk karena memang dia tidak tahu yang sebenarnya.
" Anak yang polos. " Ujar Alice.
" Bodoh, lebih tepatnya. " Damien menimpali.
" Oh, i think so! "
" kalian, jangan keterlaluan! " Ester meneriaki dengan marah, sementara Alice dan Damien malah memilih tida perduli, lalu bergegas pergi.
" Cari tahu dulu, baru bisa membela Ayah dan Ibumu. " Alice menepuk pundak Ester, lalu melanjutkan langkah kakinya meninggalkan mereka.
Ester mengepal tangannya kesal, kenapa juga Ayah dan Ibunya hanya diam diperlakukan buruk seperti ini? Protesnya di dalam hati.
" Damien, mulutmu kan tajam, bagaimana kalau kau yang mengusir mereka? Saat aku pulang nanti malam, pastikan sudah tidak ada mereka ya? " Ucap Alice setelah mereka sampai di teras rumah.
" Mulutku tajam? Bukanya mulutmu bisa merobek baja? "
" Tapi aku malas berbicara dengan mereka lagi. "
" Aku juga, kalau begitu aku mau ambil kunci mobilku dulu. "
" Damien? "
Baru saja berbalik, kini Damien harus berbalik lagi karena ada suara menyebalkan yang memanggilnya.
" Ada apa lagi? "
" Bisakah kita bicara? " Tanya Sarah dengan nada suara yang ia buat selembut mungkin. Alice menjebik, lalu dia melenggang begitu saja karena tidak mau ikut dalam urusan cinta sebelah tangan mereka.
" Dari kemarin kau kan sudah banyak bicara. "
" Tapi kali ini aku sangat serius. Apakah kau tidak bisa menjalani hubungan denganku dulu? Nanti kau bisa tahu bagaimana rasanya, dan kau bisa mengambil keputusan setelah itu. "
" Rasa? Rasa yang bagaimana? Kalau melihat tampilan mu, palingan kau hanya bisa terlentang saja. "
" Hah? " Sarah mengerutkan dahi karena bukan itu yang dia maksud.
" Sudahlah, aku malas membahas hal yang tidak aku suka. " Damien kembali berbalik, lalu mulai melanjutkan langkah kakinya.
" Tunggu, Damien! " Sarah menahan pergelangan tangan Damien, dan Damien menepisnya.
" Damien! " Lagi, Damien menepisnya tanpa mau menoleh. Lagi, tangannya di tahan, dan Damien menepis tanpa menoleh juga.
Bug!
" Aw! " Sebuah sepatu telah mengenai kepala bagian belakangnya, tentu saja Damien memekik sakit juga kesal.
" Dasar bajingan! Aku bilang aku tidak mau meniduri mu! Eh? " Damien mengeryit karena melihat satu lagi wanita yang tidak asing di sebelah Sarah.
Bersambung...