
Shen terdiam memandangi seorang pria yang kini tengah menyodorkan cincin kepadanya. Siapa? Tentu saja itu Damien.
Beberapa saat lalu, Damien mendatangi orang tua Shen untuk membicarakan perihal melamar Shen yang akan Damien adakan disana. Bukan keluarga temu keluarga, melainkan secara pribadi dulu kepada Shen, barulah nanti kalau sudah setuju akan mendatangkan kakaknya untuk mengurus pernikahan.
" Calon mertua, kalian tidak keberatan kan? "
Ibu Lean terdiam karena dia masih belum bisa mempercayai Damien sepenuhnya, tapi berbeda dengan Ayah Gani yang tentu akan memasrahkan semuanya agar Shen saja yang menentukan, tapi sedikit berbelit dan lebih memastikan lagi niatan Damien.
" Kau yakin ingin menikahi putriku, apa kau tahu akan ada adik juga kakaknya, dan kami juga akan terus memantau mu? Mungkin kau tidak tahu, tapi apa yang dilakukan Arnold kemarin, pada akhirnya membuat kakak dan adik Shen menggila untuk balas dendam. Jadi pikirkan lah lagi sebelum benar-benar bertindak sejauh itu. " Ucap Ayah memperingati dengan tegas.
Damien tersenyum, ya elah kalau itu ya tentu saja dia tau. Mau pantau bagaimana? Kan Shen pasti akan ikut ke negaranya, dan lagi dia juga tidak berniat untuk selingkuh kok.
" Anu, calon Ayah mertua, aku sangat serius, dan aku juga sadar benar dengan apa yang aku lakukan ini, jadi kalau bisa berikan restu agar semuanya berjalan lancar. "
" Kenapa kau ingin menikahi putriku? Bukanya banyak juga gadis cantik yang mau denganmu. "
Damien kembali tersenyum.
" Terimakasih pujiannya calon Ibu mertua. "
" Aku tidak memujimu kok, aku hanya bosa-basi saja. " Sebal Ibu Lean yang tentu saja dia tidak buta, dia bisa melihat wajah tampan Damien, dan tentu saja banyak gadis yang meminatinya. Tapi ya, mana mungkin juga dia mengatakan yang sebenarnya?
" Eh, bukan pujian ya? " Damien menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Sebenarnya, dulu aku sama sekali tidak ingin menikah. Bukan hanya sekedar suka bermain-main dengan wanita, hanya saja aku juga merasakan bagaimana di posisi Asha. Ayahku, berselingkuh dengan pelayan rumah yang sudah di anggap saudari oleh Ibuku, lalu lebih memilih bercerai, dengan alasan pelayan rumah kami tengah mengandung. Tapi semenjak bertemu dengan Shen, juga Asha, aku sadar benar bahwa memiliki sebuah keluarga adalah hal yang membahagiakan, dan selama di antara kami tidak ada perselingkuhan, kami pasti akan bahagia meski tetap saja perselisihan selalu ada dalam sebuah hubungan. "
Ayah Gani tersenyum karena kini dia semakin yakin memasrahkan putri satu-satunya kepada pria yang katanya mantan bajingan. Sementara Ibu Lean, dia menatap Damien sembari menahan tangis.
" Eh, calon Bu mertua kenapa menatapku seperti ingin menangis? " Damien kebingungan sendiri.
Ibu Lean bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Damien, lalu duduk disebelah Damien dan memeluknya erat-erat.
" Kenapa kau tidak cerita dari kemarin kalau Ayahmu berselingkuh? Kalau tahu begitu, aku pasti akan datang ke negaramu, lalu membantu menghajar Ayahmu juga pasangan selingkuhnya itu! "
Ayah Gani menggeleng heran, dia tahu benar sih kalau istrinya sangat sensitif kalau mengenai kasus perselingkuhan, apalagi semenjak kejadian itu menimpa putrinya, semakin pula dia menggila kalau mendengar cerita tentang istri yang diselingkuhi.
Damien yang kaget terdiam sesaat memikirkan harus bagiamana merespon saat calon Ibu mertuanya memeluk? Ingin juga memeluk, tapi mata calon Ayah mertuanya terus saja memperhatikannya. Aduh, diam saja deh, tapi sepertinya menceritakan masa lalunya memang cukup menguntungkan. Bagiamana tidak? Calon Ibu mertua yang tadinya terlihat masih keberatan, sekarang malah memeluknya erat begini.
" Ibumu pasti sangat sedih ya? " Ujar Ibu Lean degan mimik sedih seolah dia lah yang diselingkuhi pasangannya.
" Tidak apa-apa calon Ibu mertua, Ibuku sudah tidak merasakan sakit apapun, hampir dua bulan lalu Tuhan memintanya untuk tenang dan bahagia di surga. "
Ibu Lean menjauhkan tubuhnya, menutup mulutnya yang terperangah sedih dengan kedua tangannya, menatap pilu bahkan hingga berair matanya.
" Ya ampun, aku benar-benar sedih mendengarnya. " Ibu Lean hendak kembali memeluk Damien, tapi degan cepat Ayah Gani mencegahnya dengan meraih tangannya agar segera kembali didekatnya.
" Ibu, jangan berlebihan. " Ujar Ayah Gani memperingatkan.
" Damien, kau tinggal disini saja ya? Biar kan aku yang mengurus, dan menjagamu, kalau nanti Shen menolak mu, kau bisa menjadi anak angkat ku kok. "
" Baik, calon Ibu mertua. " Ucap Damien laku tersenyum mengiri langkah kaki calon Ibu mertuanya yang kini berjalan masuk ke dalam kamar.
" Pft....! " Damien menutup mulutnya saat tak sengaja melihat ekspresi kesal Ayah Gani yang tak berani ia tunjukkan kepada istrinya tadi.
" Kau sedang mentertawakan ku? " Ayah Gani menajamkan matanya kepada Damien.
" Eh, ti tidak kok, calon Ayah mertua. " Damien tersenyum kikuk, sementara Ayah Gani tersenyum miring kepada Damien.
" Boleh saja kau mentertawakan ku, tapi saat kau benar-benar menikah dengan Shen nanti, aku lah orang yang akan paling banyak tertawa. "
Damien menelan salivanya karena tiba-tiba merasa itu akan ia alami cepat atau lambat.
" Shen memang memiliki hati yang baik, tapi jangan lupa kalau Shen adalah anak kami yang artinya, dia mewarisi sifat Ibunya, juga sifat ku. " Ayah Gani meninggalkan senyum miring yang membuat Damien tak berdaya lagi untuk menjawab.
" Selamat berjuang, anak muda. Saran ku, perkuat dulu mental mu sebelum benar-benar menikahi anakku. " Ayah Gani menepuk pundak Damien beberapa kali, lalu berjalan pergi menyusul istrinya.
" Shen baik hati kan? Heh! Tidak mungkin kan? " Gumam Damien seraya bangkit dari posisinya untuk mulai mempersiapkan segalanya.
Setelah persiapan yang matang, akhirnya kini semua orang bekerja sama untuk mendukung Damien.
Mereka kompak makan bersama meski Shen terus saja mengeryit bingung dengan perlakuan Ibunya kepada Damien yang berbanding terbalik dengan hari kemarin. Bagiamana tidak? Ibu Lean terus saja menyendokkan makanan untuk Damien, bahkan juga bertanya apakah mau lauk yang lain? Hah! Pokonya seperti Damien adalah anak kandung yang baru saja ditemukan oleh Ibunya.
Setelah makan malam selesai, Damien mengajak Shen untuk ke teras rumah dengan mata tertutup.
" Damien, sebenarnya apa-apaan ini? " Tanya Shen yang sebenarnya sudah menduga kalau Damien pasti akan memberikan kejutan karena ini adalah hari ulang tahunnya. Tapi karena selama tujuh tahun dia habiskan dengan kesedihan saat ulang tahun, maka Shen sengaja tidak ingin mengingat hari lahirnya ini.
" Open your eyes! " Ucap Damien pelan di telinga Shen.
Shen terkejut melihat halaman rumahnya menjadi sangat indah dengan lampu-lampu kecil, juga hiasan rumput-rumput seolah dia tengah berada di hutan yang dipenuhi dengan kunang-kunang. Senyum Shen terbit saat melihat kembang api bertuliskan Happy Birthday, lalu tulisan kedua muncul dengan kata Will You Marry Me?
Damien memposisikan kakinya, mengeluarkan cincin dari saku celananya, lalu menatap Shen penuh keyakinan.
" Marry me, please.... "
Shen menoleh ke Asha, dan dia mendapati putrinya tersenyum, lalu dia menatap kedua orang tuanya yang mengangguk berarti setuju, lalu Digo dan Marisa yang tersenyum seolah tak keberatan, lalu Teo yang menahan air mata karena merasa bahagia.
" Ya, I Will. "
Damien tersenyum bahagia hingga tak tahan dia menangis seraya memakaikan cincin di jemari Shen, bangkit dan memeluknya.
Bersambung...