
" Ada apa denganmu?! " Ibu Lean menghampiri Digo yang kini tengah dipapah oleh satpam rumah untuk menuju ke kamarnya.
" Ada apa, pak? '' Tanya Ibu Lean yang tak mendapat jawaban dari putra pertamanya itu.
" Saya kurang tahu, Nyonya. "
Mencium ada aroma alkohol yang kuat dari tubuh anaknya, Ibu Lean hanya bisa mendesah menahan kesal, kemudian dia meminta satpam itu untuk mengantarkan Digo sampai ke kamar.
" Apa yang membuatmu minum sebanyak ini? " Tanya Ibu Lean yang paham benar dengan sifat putra pertamanya itu. Iya, selain tidak pernah dekat dengan wanita manapun, Digo juga jarang sekali minum sampa teler seperti ini.
Digo tak menjawab, dia masih duduk di tempat tidurnya dengan mata yang memerah.
" Digo, kau ini sudah dewasa, cobalah untuk bersikap dengan tenang, jika ada masalah tidak perlu menyelesaikan dengan cara yang tidak masuk akal ini! "
Digo mengangkat satu genggaman tangannya yang sedari tadi mengepal seperti menyembunyikan sesuatu.
" Ini, apa maksudnya? " Ibu Lean bertanya dengan tatapan kaget sembari mengambil satu benda kecil dari tangan Digo.
" Digo, alat penguji kehamilan milik siapa ini?! "
_ Malam itu _
Digo tertunduk lesu setelah Marisa pergi dari apartemen dengan air mata yang masih berjatuhan membasahi pipinya. Rasanya dia ingin sekali memeluk dan menahan wanita itu agar tidak pergi, tapi egonya yang memintanya untuk membalas dendam jauh lebih kuat dari rasa cinta yang mulai tumbuh dihatinya.
Dengan mata memerah menahan kesedihan, Digo menatap kue buatan Marsia yang baru saja ia buat. Tapi tiba-tiba matanya terarah kepada sebuah kotak kecil berwana coklat, tertarik untuk membukanya, Digo mengambil kotak itu dan membukanya.
Bak ditusuk ribuan samurai tajam, Digo merasakan sakit di dadanya yang luar biasa begitu melihat alat uji kehamilan di dalamnya. Awalnya dia memang tidak begitu memahaminya, meski dia mulai memiliki pendapat sendiri. Setelah dia membaca artikel tentang alat penguji kehamilan, sekaligus tahu apa hasilnya, Digo mengeraskan rahangnya dengan mata yang tak kuasa menahan tangis. Menyesal? Iya! Sekarang bukan hanya menyakiti Marisa saja, tapi dia juga menyakiti anaknya sendiri.
Digo kembali menatap kue buatan Marisa, juga beberapa hidangan lain yang ia tahu rasanya pasti akan sangat lezat seperti biasanya. Tapi sayangnya, hidangan yang ia buat malam ini malah menjadi hidangan terakhir yang memiliki kesan sangat menyakitkan.
_____
Plak!
Ibu Lean melayangkan satu pukulan keras di pipi Digo hingga tangannya terasa panas dan bergetar. Marah hingga tidak bisa berkata-kata, kecewa yang ia rasakan begitu membuat dadanya sakit. Putra pertama yang ia lahirkan dengan bahagia, dibesarkan penuh cinta, semua itu membuat Ibu Lean menaruh banyak harapan kepada putra pertamanya itu.
" Apa kau sudah gila?! Kau menyakiti gadis yang tidak tahu apapun, kau pikir hanya karena dia adiknya Mona dia juga bersalah?! Dimana otakmu, Digo?! " Ibu Lean memegangi dadanya yang terasa sesak hingga agak kesulitan untuk bernafas.
" Ibu! " Dengan tubuh yang juga sempoyongan Digo meraih tubuh Ibunya karena takut kalau Ibunya akan pingsan.
" Jangan perdulikan aku! Kalau kau memang putraku, kau tidak akan melakukan hal memalukan itu, kau juga tidak akan mungkin melakukan hal bodoh seperti ini. " Ibu Lean mulai lemas, dan tubuhnya terjatuh pelan ke lantai berkat Digo yang masih mencoba menahan tubuh Ibunya.
" Maaf, aku hanya memikirkan dendam itu, Ibu. Aku berjanji akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan, tapi tolong biarkan aku berpikir sebentar, Ibu. "
" Berpikir? Seharusnya sebelum kau bertindak kau berpikir dulu. Sekarang cari gadis itu, dan bawa dia padaku. "
Digo terdiam, rasanya memang dia belum siap bertemu Marisa, tapi dia juga tidak kuasa menolak titah dari Ibunya.
Deg
Digo menelan salivanya sendiri. Saat ini dia memang masih sangat pusing dan butuh istirahat, tapi kalau ucapan Ibunya jadi kenyataan bukannya malah mengerikan?
" Ibu, aku akan berangkat sekarang. "
Digo membantu Ibunya untuk beristirahat di tempat tidurnya, lalu memanggil pelayan rumahnya agar bisa menjaga Ibunya dengan baik sampai Ayahnya pulang kerumah.
" Jangan lupa minum obat penghilang mabuk, dan jangan menyetir sendiri. Hari ini adalah hari pernikahan kakaknya, pasti dia ada disana. " Ucap Ibu Lean tapi wajahnya memilih menatap ke arah lain. Tindakan Ibu Lean itu sukses membuat Digo semakin merasa bersalah, segera dia mengangguk dan menjalankan apa yang diperintahkan Ibunya.
" Sialan! Aku bahagia sekali sampai wajahku memanas. Sungguh aku tidak tahu kalau Digo bisa menghamili wanita juga. Ya Tuhan, cucuku akan bertambah satu, terimakasih banyak, Tuhan. "
***
" Dari mana kau bisa belajar bicara seperti itu, huh?! " Mona mendelik kesal hingga sama sekali tidak perduli dengan anggota keluarga yang menonton mereka.
" Dari mana? Tentu saja dari semua rasa sakit yang kau berikan padaku! "
Mona sekali lagi menampar pipi Marisa. Lagi, Marisa tersenyum miris seolah-olah dia sama sekali tidak merasakan sakit.
" Kak, tahu kah kau saat Ibu selalu saja menjadikanmu patokan untukku? Marisa, kau harus bisa seperti kakakmu, pintar, cantik, bijak, dan pekerja keras. Setiap waktu, setiap detik nafasku selalu sesak karena tidak pernah sebanding denganmu di mata Ibu. Aku mencoba menjadi diriku, aku memberikan seluruh perhatian dan cinta untuk kalian, tapi balasan dari kalian adalah selalu menyuruhku untuk mengerti, dan berusaha agar menjadi seperti kakak. Kenapa tidak ada yang mau mengerti aku? " Marisa tertunduk sesegukan karena mengingat hari-hati yang menyesakkan baginya.
" Marisa, kita bicara di tempat lain saja ya? " Bujuk sang Ayah.
" Tidak, aku sudah tidak ingin berbicara baik-baik dengan Ayah, Ibu, juga kakak. Aku sial karena menjadi adik seorang Mona, aku sial hingga aku mulai membenci diriku sendiri! "
" Marisa! Diam, atau kau akan tahu akibatnya. " Ucap Ibu sembari melotot tajam.
" Kenapa? Kenapa Ibu begitu kejam padaku? Bukankah di saat kakak berkali-kali mencoba bunuh diri, histeris karena cinta bodohnya, Ibu selalu sabar? Ibu selalu mengusap kepalanya, Ibu bahkan menunggunya di depan kamar untuk memastikan keadaannya. Tapi kenapa Ibu tidak bisa seperti itu padaku? Apakah aku harus menyodorkan miliaran rupiah baru Ibu akan menyayangiku? Apakah sungguh kasih sayang dari seorang Ibu kandung juga harus dibeli dengan uang? "
Ibu terdiam, sementara Ayah kembali mencoba untuk membujuk karena malu dengan banyak orang yang melihat ini.
" Marisa, tolong mengertilah keadaan ini, kita bicara ditempat lain ya? "
Marisa berdecih dengan tatapan kesal kepada Ayahnya.
" Ayah, selain memintaku untuk mengerti keadaan kalian, adakah yang bisa Ayah lakukan? "
Ayah sontak membeku. Iya tentu saja dia ingat dengan jelas semua yang dia katakan kepada Marisa.
Marisa, jangan di ambil hati ucapan ibumu, dia hanya kesal. Marisa, jangan dipikirkan ya? Kakakmu hanya sedang suntuk. Marisa, tolong jangan marah dengan Ibumu, dia juga pusing memikirkan kakakmu. Marisa, biarkan saja baju barumu di pakai kakakmu ya? Dia kan harus menemui banyak orang penting. Marisa tolong mengertilah, kakakmu sedang pusing memikirkan pekerjaannya.
Bersambung....