Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 28



Mona menatap kepergian Arnold dan Shen dengan perasaan yang hancur. Rasanya sudah cukup hancur apa yang dia rasakan beberapa hari lalu, tapi lagi sekarang dia harus menyaksikan bagaimana Arnold memperlakukan Shen seolah dia adalah wanita yang dia cintai.


Sebentar Mona menarik nafas mengatur pola nafasnya yang sudah tak karuan itu. Sejujurnya dia sangat marah dan cemburu, tapi dia juga tidak boleh bertindak gegabah. Meskipun hatinya sudah mencoba untuk menyerah, tapi nalurinya sebagai insan yang jatuh cinta terus saja memprovokasi untuk terus berjuang, dan meyakini kalau Arnold hanya tergiur sesaat dengan penampilan baru Shen.


" Kak Mona, kakak ganti pakai bajuku saja ya? " Anya menawarkan sembari menatap Iba Mona yang terlihat menyedihkan dengan menahan rasa marah karena cemburu.


Arnold dan Shen kini tengah berada di dalam kamar mereka masing-masing untuk mengganti baju. Setelah selesai dengan pakaiannya, kini Shen keluar kamar untuk mengambil air. Tapi sejenak langkahnya terhenti begitu melihat Mona menaiki tangga menuju lantai dua yang berarti tujuannya adalah kamar, Arnold. Karena dilantai dua hanya ada kamar Shen, Asha, Arnold, dan juga ruang baca pribadi milik Arnold, tentu saja sudah jelas dia mau kemana.


Shen tersenyum, dia bergegas menuju kamar Arnold sebelum Mona menyadarinya.


Klek...


Suara pintu itu sukses membuat Arnold yang baru selesai memakai celana pendeknya berbalik menatap Shen.


" Shen? Ada apa? "


Shen tersenyum sejenak sembari memikirkan apa alasannya dia berada disana.


" Oh, itu, acara di sekolah Asha akan. berakhir sekitar dua jam lagi, jadi aku mengingatkan mu. "


" Iya, kau sudah memberitahu tadi pagi kan? Aku juga masih ingat. "


Shen tersenyum kikuk.


" Ada lagi? " Tanya Arnold yang tahu benar jika Shen masuk kedalam kamarnya pasti dia memiliki rencana. Dulu, saat Shen menerobos masuk, dia akan mencoba untuk menggodanya, atau kalau tidak dia akan mencuri ponsel dan mencari tahu dengan siapa saja Arnold berhubungan melalui pesan ataupun telepon.


" Memang aku tidak boleh masuk ke kamar mu? " Ucap Shen seraya melangkah maju mendekati Arnold yang masih bertelanjang dada.


" Aku, "


Grep...


Shen memeluk tubuh kekar Arnold yang terasa dingin karena basah beberapa saat lalu.


" Aku ingin sekali melakukanya denganmu, tapi datang bulan ku belum selesai. " Ucap Shen seraya menjalankan tangannya mengusap dada bidang di pelukkannya itu.


" Shen, jangan begini! " Arnold menahan tangan Shen yang sudah akan mengarah kebagian bawah. Bukanya tidak ingin disentuh Shen, hanya saja saat sudah bangun akan sulit ditidurkan seperti beberapa waktu lalu.


" Arnold, kenapa kau selalu menolak ku? " Shen menatap sedih.


" Bukan begitu, aku akan kesulitan nantinya. "


" Kalau begitu, aku akan membantumu. " Shen berbisik.


" Tapi- "


Shen memeluk tengkuk Arnold, menyergap bibirnya, perlahan dengan lembut, lalu lama kelamaan semakin buas. Entah akan berakhir seperti apa, tapi Arnold yang sudah sangat dalam terbuai hanya bisa menikmati apa yang Shen lakukan.


Bruk...


Shen dan Arnold kini berada di atas tempat tidur dengan Shen yang ada di atas tubuh Arnold. Dengan gerakan sensual dia mengarahkan pinggulnya maju mundur di atas bagian inti Arnold. Kedua tangannya mengusap lembut dada Arnold hingga si pemilik tidak tahan lagi untuk tidak mengeluh nikmat.


" Ah..... "


Shen mengangkat tubuhnya, lalu mengubah posisi tangannya untuk meraih bagian bawah Arnold yang sudah sekeras batu itu. Dengan gerakan lembut memijat, Shen memulai ritualnya. Terus, terus hingga si pemilik terus mengeluh nikmat tanpa perduli sosok wanita yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya dengan tubuh gemetar.


" Shh... Ah! " Lenguhan itu semakin kuat dan sering saat Shen memasukkan kedalam mulutnya. Hangat, sedikit basah, serasa dipijat yang menimbulkan rasa geli tapi nikmat, semua rasa itu benar-benar membuat Arnold hilang akal. Dia terus m*ndesah menikmati sentuhan Shen yang luar biasa, bahkan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Padahal hanya tangan dan mulut, bagaimana jika mereka sungguh menyatukan bagian bawa mereka? Batin Arnold di dalam hati.


" Shen, leher dan dada mu- "


" Tidak apa-apa. " Shen tersenyum, dia bangkit, lalu kembali mengecup bibir Arnold singkat.


" Aku akan mengambil air dulu di dapur, aku sempat lupa kalau aku haus. Oh iya, tutup bagian bawah mu, karena mulai sekarang tidak ada yang boleh melihatnya selain aku. Aku pergi dulu! "


" Disini tidak ada orang selain kau dan aku. " Ujar Arnold.


" Kan bisa saja ada mahluk halus yang tak kasat mata. "


Seperti yang ada di depan pintu.


Arnold tersenyum tipis setelah Shen mulai berjalan beberapa langkah menjauh darinya.


" Ya ampun! " Pekik Shen kaget karena melihat Mona terduduk lemas di lantai sembari menangis tanpa suara. Iya, tentu saja itu hanya pura-pura Shen kaget.


Arnold bergegas menaikkan lagi celana pendek yang ia kenakan, lalu berjalan cepat menghampiri Shen karena takut terjadi sesuatu dengan Shen.


" Ada ap- " Arnold mengeryit melihat Mona yang bersimpuh dengan mata berair.


" kenapa kau ada disini? " Tanya Arnold bingung.


" Sayang, bantu aku! "


Shen mendesah sebal.


" Oh, ayo Nona Mona! " Shen menarik tangan Mona dengan kasar, dan akhirnya Mona bisa berdiri dengan baik sekarang.


" Aku tidak memintamu! " Kesal Mona.


" Habis aku bingung, disini kan tidak ada yang namanya sayang. " Shen menaikkan sebelah alisnya.


" Berhenti berpura-pura bodoh, kau jelas tahu siapa yang aku maksud. " Mona menatap Arnold sekarang ini.


" Oh, suamiku? Aduh! Dia sedang lelah, takutnya nanti malah kalian jatuh bersama, suamiku sudah kehilangan banyak tenaga. " Shen menyunggingkan senyum liciknya, lalu melirik ke arah Mona.


Mona mengepal kuat, bukan karena ucapan Shen. Tapi karena banyaknya tanda merah dileher dan dada keduanya. Sekarang tentu dia paham benar jika bukan Shen saja yang menyergap Arnold, tapi melihat banyaknya tanda merah di tubuh Shen jelas sekali kalau Arnold juga begitu buas kepada wanita itu.


" Kenapa kau kemari? " Tanya Arnold.


" Kenapa? Tentu saja aku datang untuk menemui mu! "


" Ya ampun! Nona Mona ini kan kemarin sudah kehilangan banyak darah, lebih baik istirahat dirumah saja. Lagian menemui suamiku untuk apa? Minta darah? Sayangnya suamiku bukan pemilik PMI. " Shen kembali tersenyum.


" Aku tidak ingin berbicara denganmu, aku hanya ingin bicara dengan Arnold. " Ucap Mona menahan kesal.


" Oh, ya sudahlah! Aku juga harus ke dapur. " Shen mulai menjalankan kakinya dengan senyum tipis yang mengiringi langkahnya.


Meskipun kalian sedang berduaan pun, tentu saja tidak akan terjadi apa-apa.


" Arnold, lihat aku! Apakah aku tidak menarik lagi? Aku tidak kehilangan kemampuanku, aku bisa melakukan apa yang kau lakukan dengan Shen, jadi mari kita lakukan agar aku bisa membuktikannya. "


Bersambung......