
Sepasang manusia kini tengah menikmati tautan bibir mereka yang terasa sangat manis. Iya, mereka adalah Damien, dan juga Shen. Awalnya Shen masih mencoba untuk menolak, tapi Damien seolah tak mengizinkan dan menahan tengkuknya agar tak mengubah posisi dan membuat bibir mereka berjauhan. Tapi juga entah setan dari mana yang merasuki Shen, nyatanya dia juga mulai terbuai dengan lembutnya bibir Damien yang menyalurkan kehangatan dari sana. Shen tanpa sadar mengikuti permainan bibir, juga mempersilahkan Damien menciumnya lebih dalam lagi. Benar saja, ciuman itu semakin lama semakin terasa panas, sepanas matahari siang hari itu.
" Damien! "
Shen menjauhkan tubuhnya, dan sontak membuat bibir mereka terlepas. Shen ternyata mulai tersadar saat tangan Damien mulai turun dan mengusap punggungnya.
" Maaf, Shen. Aku- "
" Lupakan saja apa yang terjadi barusan, aku hanya sedang kacau. " Shen dengan segera membuka pintu mobil, lalu berjalan cepat meninggalkan Damien dan masuk ke dalam rumahnya.
Damien mengusap wajahnya kasar, dia mendesah kesal karena menyesali apa yang dia lakukan tadi. Mulanya dia berpikir kalau Shen sudah memiliki rasa dan mulai menerimanya, tapi sekarang dia mulai paham kalau sangat sulit meyakinkan hati Shen setelah apa yang terjadi di kehidupan rumah tangganya kemarin.
Brak
Shen segera masuk kedalam kamarnya, memegangi dadanya yang bergerumuh kencang, bahkan seperti ingin meledak saja rasanya. Mengingat kembali saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Damien, menciumnya dengan lebih dalam, ditambah lagi aroma parfum yang sangat sedap dihirup dari tubuh Damien, Shen tanpa sadar menyentuh bibirnya sembari memejamkan mata.
" Kenapa ini?! Kenapa aku malah terus mengingat ini?! "
Shen berjalan menuju kamar mandi, mencuci wajahnya beberapa kali. Mungkin sesungguhnya dia jatuh cinta, hanya saja perasaan takut terluka menjadikannya pengecut dan bodoh meski dengan jelas bisa merasakannya.
***
" Digo, apa aku boleh menemui orang tuaku? Aku merindukan mereka. " Ijin Marisa yang sudah beberapa hari ini merasa gelisah, juga pikirannya terus tertuju dengan orang tuanya.
Digo terdiam sejenak, dia menutup laptopnya, lalu menatap Marisa dengan tatapan datar.
" Apa kau mau menginap? "
Marisa tersenyum seolah dia mulai merasa semangat. Iya, walau bagaimana juga mereka tetaplah orang tuanya, sebesar apapun luka yang mereka berikan, hati Marisa masih tidak sanggup kalau harus membenci mereka.
" Apa boleh? "
Digo tersenyum manis.
" Tidak. " Sontak langsung mengubah ekspresi menjadi cuek.
Marisa menatap Digo kesal. Sialan kan? Padahal dia juga ingin menginap, sudah lama juga tidak tidur di kamarnya.
" Kalau begitu aku akan pulang pukul sembilan malam nanti. " Ujar Marisa seraya berjalan mendekati kemari bajunya berniat untuk segera mengganti baju.
" Apa kau bilang? Sembilan malam? Kenapa tidak usah pulang saja! " Sebal Digo.
" Ya sudah, aku pulang setelah sarapan pagi, bagaimana? "
" Tidak, kembali jam tiga sore nanti. "
Marisa melongo kesal.
" Digo, kau ini sudah gila ya?! Ini pukul satu siang, perjalanan kerumah orang tuaku satu jam, pulang butuh satu jam. Kau mau aku sampai disana, lalu langsung pulang lagi? " Marisa semakin mendelik kan matanya karena kesal yang tak tertahankan. Coba saja pikir, memang siapa yang tidak akan kesal kalau begitu?
Digo berdehem beberapa kali karena merasa malu. Tapi ya mau bagaimana lagi? Dia bahkan mengira kalau waktu yang dia berikan sangat banyak. Jadi itu bukanlah salahnya, melainkan salah rumah orang tuanya Marisa yang kejauhan.
" Jangan terus bergerundel seperti Ibu-ibu, cepat ganti bajumu, aku akan mengantarmu. " Ujar Digo yang sebal mendengar Marisa memaki panjang lebar dengan suara yang tidak jelas seperti kebanyakan Ibu-ibu mengomel.
Sesampainya disana, Marisa dan Digo disambut dengan bahagia oleh kedua orang tuanya. Bahagia? Oh, maksudnya mereka berpura-pura bahagia karena merasa sungkan, juga takut kepada Digo. Mona juga ikut menyambut meski tak sedikitpun senyum terlihat diwajahnya.
" Tidak usah seperti itu, Ibu. Dia tinggal dirumah mewah, dia tidak akan kekurangan apapun, jadi dia juga tidak membutuhkan apapun dari sini. " Ujar Mona tanpa ekspresi.
Ibu semakin menunduk karena bingung harus bagaimana. Sementara Ayah mereka lebih banyak berdiam diri karena menahan rasa marah terhadap Digo, juga rasa bersalah terhadap Marisa.
" Aku datang kesini karena merindukan kalian, apa alasan itu tidak masuk akal? " Marisa menatap kedua orang tuanya, juga Mona secara bergantian.
" Rindu? Kau masih ingat untuk merindukan kami? " Mona menatap Marisa sebentar, lalu membuang tatapan setelahnya.
Marisa terdiam menahan tangis.
" Teh ini kenapa baunya agak tidak enak? " Ujar Digo mengendus sebelum meminumnya.
" Benarkah? " Ibu terperanjak kaget.
Marisa menggerakan tangan Digo untuk mendekatkan teh itu ke hidungnya.
" Ini, apa teh ini sudah kadaluarsa bu? "
Ibu terdiam karena bingung harus menjawab apa.
" Ibu? "
" Berhentilah mendikte, Marisa! Iya, teh itu kadaluarsa! Kami sedang kesulitan ekonomi, jadi maaf kalau harus menyediakan teh kadaluarsa untuk suami tersayang mu itu. " Mona sampai berdiri dengan tatapan marah saat menyampaikan kata-kata itu.
Marisa kaget, dia terperangah menatap kedua orang tuanya yang tak berdaya untuk menjawab.
" Ayah, Ibu, apakah sesulit itu? "
" Jangan mengasihani kami, Marisa. Ayah dan Ibu sudah biasa menjadi tanggung jawabku. Kau pikirkan saja kehidupan pribadimu. " Mona meninggalkan mereka semua dengan perasaan kesalnya.
Marisa terdiam setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Mona. Dia tahu benar kalau Mona marah dengan keputusannya, tapi dia juga marah dengan tindakan kakaknya sekarang ini. Benar, sampai detik ini dia sama sekali tidak pernah membantu perihal ekonomi. Bukan tanpa sebab, selain belum bekerja, Marisa juga merasa tidak pantas kalau harus meminta uang dari Digo, lalu dia berikan kepada orang tuanya.
" Ayah, Ibu, aku minta maaf karena tidak mengetahui hal ini. Aku janji akan memberi kalian uang, tapi maaf karena tidak bisa sekarang. " Malu sekali rasanya harus mengatakan ini di hadapan Digo, tapi mau bagaimana lagi? Dia juga merasa bersalah dengan apa yang di alami oleh kedua kurang tuanya.
Digo menghela nafasnya.
" Ayahmu terlihat masih bugar, kenapa tidak bekerja dan memilih mengandalkan anak? "
Perkataan Digo barusan sungguh seperti sebuah pukulan bagi Marisa dan kedua orang tuanya terlebih Ayah. Iya, dia bersalah karena hal itu.
" Ayah sudah pernah mencari pekerjaan, tapi setelah di PHK dulu, tidak ada satu pun yang mau menerima Ayah. " Ujar Marisa menjelaskan.
Digo tersenyum miring.
" Alasan macam apa itu? Dulu kalian bukanya memiliki cukup uang? Kenapa tidak membuka usaha sendiri saja? "
Marisa menunduk karena tidak bisa menjawab lagi, kalau masalah itu, dia sendiri juga sama sekali tidak mengerti sampai detik ini.
" Kirim secukupnya untuk memulai usaha, dan jangan membuat malu diri sendiri karena gagal memenuhi tanggung jawab sebagai seorang Ayah. " Digo menyerahkan ponselnya kepada Marisa agar dia mengirim uang untuk orang tuanya.
Bersambung....