
Marisa menatap pilu dengan lelehan air mata yang tak bisa lagi ia bendung. Hancur sekali rasanya melihat anaknya yang lahir dengan bobot rendah, tubuhnya tergeletak tak berdaya di dalam inkubator, banyaknya alat yang terpasang di tubuh bayi kecil itu sungguh membuat Marisa tak mampu bicara bahkan satu katapun selain isak tangisnya.
Marisa mengusap pelan tangan mungil bayinya yang berwarna merah dengan hati-hati. Sungguh sangat kecil hingga ia merasa gemetar karena takut, takut akan kehilangan bayinya.
" Maafkan Ibu ya sayang? Itu semua karena Ibu yang tidak bisa menjagamu dengan baik, Ibu yang tidak mengikuti saran dari Dokter sehingga kau menderita seperti ini. "
Shen tak kuasa menahan tangis, sebenarnya jika dipikirkan lagi, apa yang dilakukan Digo juga semua karena dirinya. Tapi sungguh ini semua tidak pernah terpikirkan oleh Shen sendiri.
" Kakak ipar, kau bisa menceritakan hal yang menarik untuk anak-anak, juga bisa menyanyikan lagu, dengan begitu yang dia dengar adalah hal-hal menyenangkan, karena kalau kau sedih, dia juga akan ikut sedih kan? " Shen memaksakan senyumnya, serata mengusap punggung Marisa pelan.
Marisa mengangguk, dia menyeka air matanya dengan segera, lalu mencoba sebaik mungkin agar bisa tersenyum.
" Hai buah hatiku? Kau adalah raja di hatiku, aku mencintaimu di setiap waktu. Aku mendoakan semua hal baik dalam tumbuh kembangmu. Ayo bangkit, kita bermain bersama, bernyanyi, berlari, menikmati indahnya dunia. Lihatlah terangnya dunia, nikmati sinar mentari yang hangat. Saat malam gelap, jangan takut karena Ibu dan bulan akan menemanimu bermain bersama bintang-bintang yang indah saling menyapa di langit. " Nyanyi Marisa dengan suara menahan pelan. Shen menahan suaranya agar tak disadari Marisa jika sedang menangis.
Sudah satu minggu ini, Shen terus menemani Marisa karena Marisa selalu menolak saat Digo ingin membantunya. Setelah Marisa sadar beberapa hari yang lalu, dia sempat kembali drop begitu mengetahui kondisi bayinya, tali syukurlah tiga hari ini dia terus membaik, dan bisa terus menemui bayinya di ruang NICU.
" Lihatlah, Digo. Lihat bagaimana Tuhan menghukum mu. Ibu tahu, kau melakukan ini atas dasar kau menyayangi adikmu. Tapi kenapa kau tidak memikirkan bagaimana Marisa dan bayimu? Sama sepertimu saat Shen di sakiti oleh wanita itu, Marisa juga tidak menginginkannya. Jangan ikut campur lagi, biarkan saja Tuhan yang menghukumnya. Lagi pula, Shen sudah baik-baik saja. Tapi sekarang, aku tidak yakin kau dan Marisa akan baik-baik saja. "
Digo menunduk lesu. Benar, apa yang dikatakan Ibunya tentu tidaklah salah. Jika saja boleh diganti, maka dia juga akan dengan senang hati menyerahkan diri dan menerima hukuman ini dari pada harus melihat Marisa dan bayinya menderita. Ditambah lagi satu pekan ini, atau parahnya semenjak Marisa pulih tiga hari yang lalu, Marisa benar-benar menolak keras dirinya. Padahal, dia ingin sekali membantu Marisa bangkit dari brankar, lalu mendorong kursi roda yang ia duduki menuju ruang NICU dimana anaknya di rawat, tapi sepertinya itu tidak pernah terlaksana.
" Aku tahu aku salah, Ibu. Tapi semua itu tidak separah yang kalian pikirkan. Jujur aku memang mengambil tindakan, tapi Mona sendiri yang memilih jalan itu, bukan aku mendesak. "
Ibu Lean menghela nafasnya. Dia menoleh menatap putra pertamanya yang nampak penat dan terlihat sangat merasa bersalah dengan kejadian ini. Ibu Lean mengusap punggung putranya karena melas juga melihat Digo seperti sekarang ini.
" Kalau begitu, jelaskan kepada Marisa sejujurnya. Mulailah menjadi pribadi yang jujur akan perasaanmu, Digo. Ibu tahu kau mencintai Marisa, jadi jangan menutupinya dengan tingkah bodoh mu itu. "
" Iya, aku akan jelaskan setelah keadaan membaik. "
***
Damien berdiri dengan wajah peluh setelah satu bulan kepergian Ibunya kembali kepada sang pencipta. Empat bulan ini dia benar-benar menjadi anak yang sangat telaten mengurus Ibunya. Tidak ada memegang ponsel, bahkan dia hampir tidak pernah meninggalkan Ibunya barang satu meter. Tiga bulan menghabiskan waktu siang dan malam menemani Ibunya, merawat, mondar-mandir rumah, ke rumah sakit. Bahkan dia juga tidak segan-segan memandikan Ibunya, membersihkan kotorannya, menggantikan baju, menyisir, dan banyak hal lain juga yang sudah ia lakukan dengan harapan Ibunya akan hidup lebih lama. Tapi apalah daya jika takdir sudah tak bisa lagi dibantah. Satu bulan sudah Ibunya meninggal, tapi duka itu sama sekali tak bisa hilang dari seorang Damien.
" Dam, pergilah istirahat ya? Kau sudah dua hari tidak juga tidur. " Seorang wanita cantik bernama Sarah kini membujuk Damien dengan memeluk lengan Damien yang masih berdiri terdiam memandangi photo sang Ibu.
" Enyah, aku tidak membutuhkan simpati darimu. " Damien menepis kasar tangan Sarah, lalu bergegas meninggalkannya.
" Damien, ini sudah satu bulan. Kau sudah harus bisa bangkit dari duka mu. Sebentar lagi upacara pernikahan kita akan diadakan, jadi kau harus bisa mengontrol emosimu. "
Damien menghentikan langkahnya, berbalik menatap Sarah dengan dingin.
" Siapa kau? Berani sekali kau membicarakan pernikahan denganku. "
Sarah menelan salivanya karena takut melihat tatapan dingin menakutkan Damien yang dia tahu Damien adalah pria yang mudah bergaul dan suka sekali menggoda gadis cantik.
" Ayahku? Siapa memangnya Ayahku? Pria bajingan itu kau sebut Ayahku? Kalau begitu, bagaimana jika menikah saja dengan pria itu? " Damien segera meninggalkan Sarah dengan perasaan marah. Dia masuk kedalam mobil, dan segera menuju tempat dimana ia bisa tenang selama satu bulan ini yaitu, tepat dimana Ibunya dimakamkan.
Damien menatap pusara sang Ibu dengan tatapan sedih.
" Good evening, mom? " Damien tersenyum meski matanya masih menunjukkan betapa dia masih tak bisa merelakan kehilangan Ibunya. Dia duduk di di samping makan Ibunya, memeluk papan nama sang Ibu hingga ia mulai merasa tenang.
" Damien, Ayo kita kembali! "
Damien membuka matanya, perlahan tatapan itu mulai tertuju pada seorang wanita yang kini tengah mennjulurkan satu tangan untuknya.
" Shen? "
" Shen? Siapa Shen? "
Damien mengeryit karena dia mulai kenal suara itu. Segera dia mengusap matanya agar tak salah mengenali.
" Kakak? "
" Shen itu siapa? Kekasihmu? " Kakak Damien adalah seorang wanita berumur tiga puluh tiga tahun bernama Alice.
Damien menghela nafas sebalnya. Seperti itulah dia selama empat bulan terakhir. Dia sering sekali berhalusinasi, juga bermimpi tentang Shen dan juga Ibunya. Terlebih satu bulan ini dia terus saja bermimpi buruk tentang Shen. Mulai dari Shen menikah kembali dengan Arnold, Shen tertabrak mobil, Shen sakit parah seperti Ibunya, dan masih banyak lagi mimpi buruk yang lain.
" Damien, hentikan mengkonsumsi obat tidur. Kau sudah lihat bahwa orang yang meninggal tidak akan bisa kembali kan? Ibu sudah tenang, jadi berhentilah menjadi mayat hidup. "
" Aku tidak bisa melakukanya, kakak. "
" Kenapa? Kau kan bisa menyibukkan diri dengan mengejar wanita seperti kemarin-kemarin kau menghilang itu. Oh, atau jangan-jangan, wanita itu adalah Shen yang kau sebut tadi? "
" Shen mungkin juga sudah kembali dengan mantan suaminya, aku takut akan kecewa lagi setelah kehilangan Ibu. Aku merasa sudah tidak ada yang bisa membuatku bahagia sekarang ini. "
" Wanita kan banyak. "
" Rasa lobang nya sama saja, aku sudah tidak mau lagi. "
Alice menahan kesal ingin sekali rasanya mengumpat adiknya itu. Padahal kakaknya sendiri kan juga perempuan?! Tega sekali berbicara seperti itu.
" Bagaimana dengan Sarah? "
" Suruh saja dia jadi tukang sikat toilet kalau kakaj mau. " Damien bangkit dan meninggalkan Alice yang menggerutu kesal tanpa suara.
Bersambung....