
" Ah.......! " Pekik Anya saat sahabatnya mendorong tubuhnya karena dia juga tidak bisa menahan sakit saat Anya menjambak kuat rambutnya.
" Jangan kira hanya karena kau kaya, aku akan selalu diam dan menuruti semua keinginanmu! Sudah cukup ya, aku tidak akan sudi menjadi teman rasa babu untukmu! " Temannya Anya yang bernama Kira itu tersenyum mengejek, dia meraih tengkuk Max yang sama sekali tidak berhenti dari kegiatannya meski ada Anya disana. Kira dengan ganas memainkan bibir Max, lalu meminta mengubah posisi agar dia berada di atas tubuh Max. Ia, dia sengaja memamerkan bahwa dia mampu melayani Max dengan lebih baik, jadi Max akan terus memilihnya meski dia bukan anak orang kaya seperti Anya.
" Kenapa kau melakukan ini, Max? " Tubuh Anya yang sudah lemas kini semakin tak beradaya karena rasa sakit di bagian perutnya. Keringat dingin mulai bercucuran, bahkan pandangan matanya juga kabur tak jelas. Tapi sialnya, dia masih bisa merasakan bahwa Kira dan Max sama sekali tidak perduli padanya yang kini jatuh terduduk, kesakitan karena dorongan Kira tadi. Jika saja Anya tidak lemas seperti sekarang, mungkin dia masih bisa bangkit. Tapi sungguh, dia tidak mengada-ngada bahwa dia memang tidak sanggup berdiri.
" Max, tolong aku! Aku mohon, aku kesakitan, Max.... "
Tak ada jawaban, tapi kedua orang yang ada di atas ranjang itu justru semakin bersemangat dengan apa yang mereka lakukan. Mengeluh nikmat tanpa perduli bagaimana kondisi wanita yang kini terduduk pilu.
" Max.... " Panggil lagi Anya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Sebenarnya ingin sekali dia mengatakan bahwa dia tengah hamil, tapi sungguh dia tidak sanggup lagi.
Merasa sebal, Kira kembali menjawab sinis permohonan Anya barusan.
" Cih! Dasar anak manja! Hanya di dorong sedikit saja sudah begitu menderita, apalagi kalau tertabrak mobil seperti kakak iparmu yang sering kau permalukan di depan umum itu? "
Anya tak lagi menjawab, dia hanya bisa membiarkan saja airmatanya jatuh karena tidak sanggup menggerakkan tangannya untuk mneyeka. Iya, dia tahu benar apa yang dilakukan olehnya itu salah. Tapi mau bagiamana lagi? Semua sudah terjadi, dan dia juga tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya kan?
" Salahkan saja takdir jelekk mu, oh! Atau tidak, semua ini adalah karma dari perselingkuhan kakakmu yang kau dukung secara terang-terangan. " Kira tersenyum sinis, sementara Max, pria bajingan itu sama sekali tidak mengindahkan ucapan Kira maupun Anya, dia hanya fokus dengan kegiatannya sendiri.
Setelah beberapa saat, Kira bangkit dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Semenatara Max, dia masih berbaring disana, sebentar dia melirik ke arah Anya, lalu kembali melihatnya dengan intens karena dia merasa ada yang tidak beres dengan wanita itu. Iya! Max bisa melihat dengan jelas wajah Anya yang begitu pucat, segera dia bangkit dengan tubuh polosnya untuk memeriksa kondisi wanita itu.
Tidak mungkin dia mati hanya karena di dorong oleh wanita tadi kan?
Max menggoyangkan tubuh Anya dengan kakinya, tapi karena Anya tak bergeming, maka Max mulai menggunakan tangan untuk memeriksa wajah Anya dengan mengangkat dagunya.
" Sial! " Maki Max saat mendapati tubuh Anya yang dingin. Segera dia memeriksa nadi Anya, dan akhirnya sebentar dia bernafas lega karena Anya masih hidup. Tak mau terlibat masalah jika Anya mati di kamar yang ia pesan, Max dengan terburu-buru memakai kembali pakaiannya, lalu membopong tubuh Anya untuk segera dibawa kerumah sakit.
Setelah sampai di mobil, Max mengeryit karena melihat banyak darah di lengan dan tangannya.
Perempuan ini apa sedang datang bulan?, Batin Max tanpa mau berpikir macam-macam lagi.
***
Max terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya ini memang sudah ada di dalam rencananya, tapi tidak tahu mengapa, saat mengalaminya langsung itu cukup membuatnya tertekan. Dia kembali mengingat bagiamana Anya merintih meminta tolong dengan suara lemah, tapi dia malah sibuk dengan adegan panasnya seperti yang sudah dia susun rencana itu dengan rapih.
Setelah berbicara degan Dokter, Max kini terdiam memandangi Anya yang belum sadarkan diri. Sebenarnya dia juga bingung kenapa dia menjadi seperti ini. Apakah itu karena dia tahu kalau dia adalah Ayah kandung dari janin yang meninggal itu? Apakah seperti ini perasaan seorang Ayah yang kehilangan anaknya? Max mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa pusing sendiri dengan otaknya yang sibuk berpikir kesana kemari.
Malam harinya.
Anya terdiam dengan tatapan kosong, iya! Dia sudah tahu apa yang terjadi dengan calon anaknya. Menyesal, sungguh dia menyesal karena tidak menyayangi janin itu, bahkan dia juga enggan mengusap perutnya meski dia menginginkan itu. Sekarang semua sudah hancur, Max brengsek itu juga sudah sangat melukai hatinya hingga dia kehilangan energi untuk hidup. Bayi yang tumbuh di rahimnya juga sudah tidak ada, cinta kini sudah berganti kecewa yang luar biasa.
Anya mencengkram erat selimut yang menutupi kedua kakinya. Matanya kembali menerawang memikirkan semua hal yang terjadi di dalam hidupnya. Shenina...... Satu nama itu adalah gambaran terjelas di dalam hidupnya. Dia kini tahu bagaimana menjadi Shen, bagaimana sakit, dan seperti tidak ingin hidup lagi saat lelaki yang dicintai berselingkuh.
Maaf, Kak Shen.
Anya membiarkan saja air matanya jatuh tanpa niatan untuk menyeka. Sungguh dia sangat hancur hingga rasanya ingin mati saja. Tapi, semua itu harus dia tahan karena dia juga ingin meminta maaf terlebih dahulu kepada Kakak ipar yang selama ini ia sakiti.
Empat hari sudah berlalu, ini adalah saatnya Anya keluar dari rumah sakit. Tida ada yang mengunjungi, itu semua karena dia mengatakan kepada Ibu dan kakaknya bahwa dia ingin berlibur dan tidak perlu mengkhawatirkannya. Sementara Max, pria itu selalu diam-diam datang untuk melihat bagaimana kondisi Anya, bahkan dia juga pernah duduk di kursi tunggu hingga fajar datang entah apa tujuannya.
" Selamat pagi, Nona Anya? " Sapa seorang perawat yang kini masuk ke dalam ruang rawat untuk membantu Anya membereskan dirinya.
" Pagi. " Jawab Anya tak berekspresi.
" Ini barang-barang anda. Kemarin ada seseorang yang menitipkan, dan meminta untuk menyerahkan kepada anda saat anda keluar dari rumah sakit. "
Anya tersenyum singkat, lalu menerima sebuah koper berukuran sedang yang tak lain adalah miliknya yang tertinggal di hotel Max dan Kira waktu itu. Sebentar dadanya terasa nyeri mengingat peristiwa menyakitkan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
" Terimakasih. " Ucap Anya. Perawat itu tersenyum, lalu mengangguk.
Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di kota penuh kenangan menyakitkan ini lagi. Selamat tinggal, dan untukmu juga Max. Terimakasih untuk luka yang kau torehkan, aku tidak akan melupakan ini. Aku tidak akan lupa saat aku kehilangan anakku, bersamaan dengan melihat betapa menjijikkannya dirimu.
Bersambung......