Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 85



Damien menatap satu wanita yang membuat matanya enggan untuk teralih. Sejenak dia mengerutkan dahi, memikirkan apakah ini masih halusinasi akibat banyaknya pil tidur yang dia konsumsi? Tapi, bagaimana dengan sepatu yang kini berada di depan sepasang kakinya?


" Aku ini gila, atau apa sih? " Damien menghela nafasnya karena masih tak percaya dengan sosok yang dia lihat. Ayolah, sosok yang mirip Shen itu pasti halusinasi. Kalau bukan berarti matanya sudah akan katarak, maklum saja, yang dia tahu Shen kan sangat sulit untuk di dekati, jadi mana mungkin dia akan datang menemui.


" Damien, apa kau benar-benar tidak ingin menyapa teman lama karena ada calon istrimu? "


Damien kembali mengeryit, dia memutar lagi tubuhnya untuk kembali menatap Shen yang dia pikir halusinasi.


" Shen, kalau hanya datang di halusinasi itu jangan terlalu nyata! Kau tidak tahu ya kalau aku tersiksa menahan diri untuk menemui mu? Pergilah, datang saat aku tidur saja, tapi kalau bisa berikan aku mimpi yang indah. " Damien mendesah sebal, lalu berniat berbalik lagi.


" Hei, brengsek! Aku sudah jauh-jauh datang, lalu sekarang kau menyuruhku kembali dan datang lagi nanti? Damien, kau pikir kau adalah pemilik dunia ya? "


Damien menajamkan matanya, berjalan mendekati Shen yang berdiri dengan satu kaki yang dilapisi kaos kaki berwarna hitam. Damien mendekatkan wajahnya untuk mengamati wajah Shen, masih tak percaya, dia menyentuh pipi Shen dengan jari telunjuknya, dan menusuk-nusuk pelan karena masih belum mempercayainya. Damien kini semakin mendekatkan wajahnya untuk mencium aroma parfum yang sering digunakan Shen, hah! Dia menatap Shen terperangah karena kaget juga masih tidak menyangka hingga tidak tahu harus melakukan apa.


" Apa sudah selesai bermain-main? " Shen menekan dagu Damien ke atas, dan membuat mulut Damien yang tadinya terperangah menjadi tertutup.


" Kau, kau, kau adalah Shen? Kau sungguhan Shen?! "


" Apa aku punya saudari kembar? "


Damien menatap kedua bola mata Shen penuh kerinduan. Segera dia meraih tubuh Shen, mendekapnya erat-erat, bahkan dia juga tak bisa menahan air mata harunya. Aneh sih, karena seorang Damien menangis bahagia hanya karena kedatangan seorang wanita. Tapi begitulah adanya, dan Damien juga tak merasa malu akan hal itu.


" Shen, aku merindukanmu. "


Shen tersenyum, dia memejamkan mata menikmati hangatnya dekapan pria yang dia rindukan itu.


" Kenapa kau tidak datang menemuiku kalau kau merindukanku? "


" Aku, aku ingin, tapi situasi disini, juga aku takut kau sudah kembali bersama dengan pria itu. Aku takut kecewa, maka aku memutuskan untuk menahannya lebih dulu. "


Shen mengurai pelukannya.


" Damien- " Belum sempat Shen mengatakan apapun, Damien sudah membungkam mulut Shen dengan bibir hangatnya. Masa bodoh dengan Sarah yang melotot kaget, juga cemburu, masa bodoh juga dengan Zera yang menggeleng heran dari kejauhan. Oh, mungkin mereka pikir, dunia benar-benar milik mereka sendiri.


" Damien, hentikan! "


" Hanya sebuah ciuman, Shen. " Damien sudah akan lagi mendekatkan bibirnya, tapi Shen lebih dulu menahan wajah itu dan mendorongnya mundur.


" Damien, sepatuku! Kakiku dingin! "


" Eh? " Damien menahan tawa, segera dia berlari mengambil sepatu Shen, lalu berjongkok membantu Shen memakai sepatunya. Hal itu sungguh membuat dada Sarah bergerumuh cemburu, juga merasakan sakit.


" Damien, apa kau tidak merasa keterlaluan dengan calon istrimu? Kau sudah menciumku, sekarang memakaikan sepatu, benar-benar tidak punya perasaan. "


Damien bangkit setelah sepatu Shen terpasang dengan benar, lalu meraih tangan Shen untuk dia tuntun masuk ke dalam rumahnya.


" Memangnya calon istriku ada berapa? Bukanya cuma ada kau saja? "


" Itu, dia? "


" Oh, siapa ya? Aku tidak kenal. " Damien menarik tangan Shen untuk di bawa masuk ke dalam rumah.


" Ckckck... Kasihan, tapi aku malah lebih kasihan. " Ujar Zera menggeleng heran.


" Damien, siapa wanita ini? " Tanya Ayahnya Damien yang hendak menuju keluar bersama dengan istri juga Ester putrinya.


" Calon istriku. " Jawab Damien tanpa menatap Ayahnya, seolah tak ada arti pria itu baginya.


" Damien, bagiamana dengan Sarah? "


Damien menghentikan langkah kakinya, menatap dingin pria yang harusnya ia sebut Ayah, dia juga melarang Shen untuk membungkuk menyapa Ayahnya.


" Jika kau mau, jadikan saja dia istrimu. Aku, sudah punya Shen, jadi tidak menginginkan yang lain lagi. Bukankah berselingkuh adalah hobimu? bagaimana kalau coba saja dengan yang jauh lebih muda? Lagi pula, istrimu yang sekarang kan terlihat lebih tua darimu, orang yang melihat pasti akan mengira istrimu itu sebagai ibumu. "


" Damien! " Bentak Ayah yang tak habis pikir, bagaimana bisa Damien mengatakan hal yang begitu menyakiti.


" Tidak perduli kau kakakku atau bukan, aku benar-benar membencimu. " Ujar Ester yang tida terima perlakuan Damien terhadap Ibunya.


" Masa bodoh, lagi pula aku juga tidak kenal kau siapa. Suka atau tidak padaku, kau pikir aku perduli? " Damien kembali menarik tangan Shen, lalu membawanya ke lantai atas. Atau lebih tepatnya ke kamarnya.


" Damien, kenapa kau membawaku ke sini? " Shen mendelik mendapati dirinya berada di kamar Damien.


" Ingin menciummu sampai puas. "


" Tunggu! Jangan gila Damien! Bisa-bisa kau ingkar janji kan?! "


Damien tersenyum, dia meletakkan wajahnya di pundak Shen, menunduk dan menangis.


" Damien, kau baik-baik saja? " Tanya Shen yang mulai sadar jika Damien tengah menangis.


" Shen, temani aku sebentar untuk menangis ya? Aku sudah lama menahan diri agar tidak menangis. Rasanya sesak sampai ingin mati setiap saat. " Shen mengangguk, menepuk pelan punggung Damien.


***


" Marisa, kau yakin dengan keputuanmu? Ini bukanlah jalan keluar untuk mengakhiri kesedihan, Marisa. Coba kau pikirkan lagi, masalah Digo biar Ibu dan Ayah yang akan memperingatinya agar tidak membuat kesalahan lagi. " Ibu Lean menatap Marisa dengan tatapan memohon setelah mendengar kalimat Marisa yang membuatnya gemetar.


Marisa menatap kedua netra Ibu mertuanya yang selalu saja menunjukkan ketulusan.


" Ibu, ini bukan sepenuhnya kesalahan Digo. Aku juga bersalah, aku tidak bisa mengontrol emosi, aku juga kurang memahami keadaan. Ibu, aku dan Digo terikat dengan balas dendam, sulit untuk bertahan dengan ini semua. Keputusan ini sungguh bukan semata-mata karena aku sedang sedih dan marah, tapi banyak hal yang tidak akan bisa kita pungkiri. "


Digo terdiam menahan segala perasaan kacau, juga sedih yang sulit sekali ditahan. Dia pikir, dia sudah melakukan segalanya, atau semua yang ia bisa. Tapi tetap saja berpisah adalah hal yang di inginkan Marisa.


" Marisa, tolong pikirkan lagi ya? " Pinta Ibu Lean.


Marisa menggeleng pelan.


" Ibu, kalau kami terus bersama, aku dan Digo akan sama-sama tersiksa. "


Digo mengepalkan tangannya kuat.


" Bagaimana jika aku baik-baik saja? Kau juga bisa, Marisa. "


" Semua yang terjadi tidak akan mungkin bak-baik saja, Digo. "


Bersambung....