Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 51



Arnold kembali dengan menggenggam tangan seorang wanita dengan erat. Iya, tentu saja si pemilik tangan itu adalah Mona. Bukan hanya mereka berdua saja, tapi orang tua Shen juga tiba-tiba datang dengan wajah yang tidak biasa.


Sejenak Shen menarik nafas ringan, dan menghembuskan tanpa terlihat jelas tarikan dadanya. Sejenak dia berpikir, bagaimana harus bersikap di saat begini? Ah! Tapi saat Ibunya menutup mulutnya menahan tangis, ditambah lagi Arnold terus menggenggam tangan Mona yang entah mengapa wanita itu terus menunduk. Oh, mungkin dia malu dengan bentuk tubuhnya?


Shen segera menjalankan akting terbaiknya, dia membelakangkan kedua lengannya, mencubit sangat kuat hingga merah kebiruan, dan pada akhirnya menimbulkan air mata yang lumayan banyak.


" Ada apa ini? Arnold kenapa kau datang bersama Mona dan menggenggam tangannya? " Shen mulai sesegukan dan membiarkan air mata jatuh membasahi pipi tirusnya yang mulus.


Melihat sang putri menangis seolah sangat kesakitan, Ibu Lean jadi tidak bisa menahan lagi dan ikut menangis.


" Arnold, ke kenapa ini? " Tanya Ibu Resa gugup. Iya! Tentu saja dia gugup! Walau bagaimana pun, orang tua Shen juga bukan orang yang bisa mereka singgung apalagi secara terang-terangan begini.


" Aku akan menikahi Mona, jadi sebentar lagi Mona juga akan tinggal disini sebagai istriku, dan juga Ibu tiri untuk Asha. "


" Ayah..... " Asha yang ternyata berdiri tak jauh dari mereka kini menatap dengan begitu pilu.


" Asha? " Arnold sontak melepaskan genggaman tangannya dari Mona. Dia segera berjalan menuju Asha berdiri menahan tangis. Awalnya dia ingin memeluk erat tubuh putrinya, tapi keinginan itu tak bisa lagi terpenuhi karena Asha menolak dengan memundurkan langkahnya.


" Asha, maafkan Ayah. "


" Ayah sudah berjanji tidak akan menjadikan Bibi Mona sebagai Ibuku, kenapa Ayah mengingkari janji Ayah? " Asha menatap dengan tetesan air mata yang jatuh karena kekecewaan bagi anak usia enam tahun.


" Asha, Bibi Mona akan menjadi Ibumu yang baik, dia akan menyayangimu sama seperti Ibumu. "


" Jadi, apakah Ibuku tidak baik? " Asha menatap dengan tatapan yang sama.


" Bukan itu, Ibumu adalah Ibu yang terbaik, tapi Ayah harus melakukan ini. " Arnold bersimpuh menahan tangis saat Asha terus menepis tangannya yang ingin menggapai tubuh mungilnya.


" Jika Ibuku yang terbaik, kenapa Ayah tidak membiarkan saja Ibuku hanya satu? Aku tidak mau Ibu yang lain! "


Shen mengepalkan tangannya. Bukan cemburu, tapi dia marah dengan Arnold yang bertindak gila saat sedang marah. Tapi biarkan saja dia berusaha merayu Asha, karena sekarang Shen memiliki rencana baru yang tersusun rapih beberapa saat lalu.


" Asha, tolong mengertilah Ayah sekali ini saja. "


Asha semakin memundurkan langkahnya, dan dia memilih berlari memeluk Ibunya. Shen tersenyum, tapi tak menyeka air matanya sama sekali.


" Asha, kalau Ayahmu ingin menikah lagi maka biarkan saja, dan restui ya? Tidak apa-apa, karena siapapun tidak akan bisa menjadi Ibumu, selain Ibu. " Bujuk Shen seraya menyeka air matanya.


Sejenak Asha melirik Mona yamg tengah mengancam melalui tatapan tajam matanya. Tapi adanya Shen seolah membuatnya merasa bahwa dia pasti akan aman, maka Asha mengangguk saja.


" Ibu, temanku memiliki Ibu tiri juga, dia bilang, dia tidak bisa melakukan banyak hal seperti yang dilakukan Ibunya. Jadi, aku tidak akan marah lagi karena aku akan bersama Ibu yang tidak akan bisa digantikan. "


Shen tersenyum, dia bangkit dari posisi berjongkok karena tadi harus menyesuaikan tingginya dengan Asha. Shen kini tersenyum seraya menatap Mona.


" Menikahlah dengan Suamiku, Mona. Layani dia, jadilah menantu yang baik juga. Tidak perlu memikirkan Asha, karena Asha adalah anakku, kau bisa menjalankan peranmu, dan aku akan menjalankan peranku. Tenang saja, aku sendirilah yang akan menyiapkan pesta pernikahan kalian, dan aku juga akan memindahkan semua barang-barang Arnold ke kamarnya. Kalian bisa tinggal disana bersama, dan aku akan tinggal hanya sebagai Ibu dari Asha saja. "


Arnold mengepalkan tangannya karena tak kuasa menahan kekesalan begitu Shen selesai berucap. Dia membawa Mona untuk dinikahi hanya karena marah, bukan untuk membuat tembok pemisah lagi antara dia dan Shen.


" Ayah, Ibu, kalian berdua pulang saja ya? Tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja. "


Digo yang juga baru datang kini mulai memahami situasi begitu melihat lengan Shen yang lebam kebiruan dan masih tertinggal jejak merah seperti baru saja terjadi. Digo tersenyum, lalu ikut membujuk orang tuanya untuk segera pergi.


" Ayah, Ibu, Ayo kita pulang. "


" Tapi, "


" Tidak apa-apa, kita pulang saja dulu. "


" Digo! Kenapa kau meminta kami meninggalkan Shen? Kenapa kau tiba-tiba tidak perduli dengan adikmu, huh?! " Protes Ibu Lean.


" Bukan itu Ibu, hanya saja aku baru paham kenapa Shen terus meyakinkan kita agar dia bisa kembali ke rumah itu. "


" Maksudmu? " Ibu Lean dan Ayah menatap Digo penuh tanya.


" Shen memiliki rencananya sendiri, maka biarkan saja dia menjalankannya. Shen sedang berusaha dengan caranya, jadi mari kita lihat aja apa yang akan di dapatkannya nanti. " Digo tersenyum karena merasa bangga bahwa adiknya sudah tidak mungkin lagi akan bisa dibodohi seperti dulu.


" Jadi, kapan kalian akan menikah? " Tanya Shen kepada Arnold dan Mona yang kini duduk di seberangnya.


" Besok. " Jawab Arnold singkat. Semenatara Mona, wajah wanita itu seolah baru aja tersiram air panas yang membuatnya terus saja memerah berbinar-binar.


" Baguslah, aku akan membantu untuk menyiapkan segala keperluannya. ' Shen tersenyum seolah-olah menahan tangis, lalu melangkah meninggalkan Arnold, Mona, dan Ibu Resa.


" Arnold, kau ini bagaimana bisa melakukan hal bodoh?! Kau tidak tahu kalau orang tuanya Shen, juga anak pertama mereka mampu membuat perusahaan dalam bahaya? "


" Maaf, tapi aku sedang tidak ingin memikirkannya. " Arnold bangkit dari duduknya, berjalan menuju tangga, dan naik menuju kamar Shen.


Beberapa kali dia menggerakkan handel pintu, tapi tetap saja pintu itu tidak terbuka karena Shen menguncinya dari dalam.


Tok Tok


" Shen, buka pintunya! "


Tak ada suara apapun, kembali Arnold mengetuk pintu itu.


Heh! Mari kita bermain beberapa hari lagi, Arnold.


" Shen! Buka pintunya! "


Sudah pasti tidak akan mungkin dibuka, Arnold berjalan ke ruang bacanya, lalu mengambil kunci cadangan untuk bisa masuk ke kamar Shen.


Begitu dia berhasil membuka pintu kamarnya, Arnold mematung karena melihat Shen duduk di lantai, memeluk kedua lututnya dan terisak pilu. Rasanya dia ingin sekali menghampiri Shen dan memeluknya, tapi karena kesal yang belum mereda, pada akhirnya Arnold memilih untuk kembali menutup pintu dan menuju kamarnya untuk merenung.


Cukup lama Arnold duduk melamun memikirkan apa yang dia lakukan hari ini. Menyesal, sungguh dia sangat menyesal karena membawa Mona dan dengan lantangnya mengatakan jika ingin menikahinya. Padahal hubungannya dengan Shen baru saja akan dimulai sebagai keluarga harmonis. Tapi semua hancur hanya karena kemarahannya yang tidak terkontrol itu.


Bersambung...