Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 93



" Tidak perlu khawatir paman, anu ku sudah lelah berkelana kok. "


Shen terperangah kaget, Ayah Gani sangking terkejutnya dengan jawaban Damien hingga terbatuk, sementara Ibu Lean segera menutup kedua telinga Asha, lalu memintanya untuk bermain bersama dengan Teo.


" Ternyata kau benar-benar bajingan ya? " Ayah Gani menggeleng heran.


" Itu, paman, aku memang bajingan, tapi itu dulu. Jadi, sekarang ini aku sudah menjadi mantan bajingan. " Damien tersenyum karena merasa sudah bisa santai saat mata Ayah Gani tak setajam tadi.


" Pria yang sudah merasakan hal itu, tentu saja akan ketagihan dan sulit berhenti. Jadi, mana mungkin aku mengiyakan permintaan mu tadi. "


" Tapi aku tidak akan melakukan itu kok, paman. Lagi pula bukanya perempuan rasanya juga sama saja? Jadi aku sudah tidak penasaran, juga sudah tidak ingin lagi seperti itu. "


Ayah Gani menghela nafas menahan kesal.


" Maksudmu, anak ku juga sama seperti wanita-wanita mu dulu? " Ayah Gani mendelik marah, seolah dia menyampaikan melalui tatapan matanya akan menghabisi Damien kalau sampai Damien salah bicara.


Takut? Tidak, entah mengapa juga Damien seperti merasa jika apa yang dilakukan Ayah Gani adalah hal yang wajar, terlebih Shen pernah disakiti oleh seorang pria hingga celaka.


" Aku belum tahu rasanya, paman. Aku kan belum mencoba, tapi aku janji tidak akan selingkuh saat menikah. Kalau masih tidak percaya, buat surat perjanjian juga boleh. "


" Apa yang akan pertaruhkan agar aku bisa yakin dengan janjimu? "


" Apa ya? Harta tidak sebanding kan? Bagaimana kalau anuku saja? "


Ibu Lean merona malu, begitu juga dengan Shen yang malu tapi juga ingin sekali memukul kepala Damien sampai pecah.


" Bajingan tengik, apa yang kau bicarakan? Aku ini orang tuanya Shen, jadi jaga bicaramu. "


" Kan itu lebih memperjelas ketulusan ku, paman? Jika aku berselingkuh, aku rela dikebiri, atau boleh juga dipotong sampai habis. "


Ibu Lean dan Ayah Gani kompak berdehem malu dengan jawaban Damien yang terlalu jujur mainstream untuk di dengar oleh mereka.


" Jaga bicaramu, bodoh! " Kesal Shen dengan suara pelan.


" Menikah atau tidak, tentu saja bukan kami yang bisa menentukan semuanya. Shen, putri kamilah yang berhak menentukan. Jadi kami akan mengikuti apa yang Shen inginkan. "


Setelah pembahasan itu, Ibu Lean dan Ayah Gani kembali membahas tentang Damien.


" Ayah, bagaimana bisa Ayah tidak menolak? Ayah lihat anak muda tadi kan? Dia itu selengekan, belum lagi dia itu brengsek yang pernah menjalin hubungan dengan banyak wanita. Cih! Untung saja Shen tidak mempan dirayu seperti wanitanya dulu. "


Ayah Gani tersenyum, dia paham benar kekhawatiran istrinya, tapi dia malah merasa tidak ada yang perlu di khawatirkan.


" Kenapa Ayah malah tersenyum? Ayah memang tidak merasa keberatan dengan pria aneh itu? "


" Bu, pria itu mungkin benar memiliki riwayat yang buruk di masa lalu. Tapi, bagaimana dengan Arnold yang memiliki riwayat bersih dari hal-hal semacam ini? Dulu kita sangat meyakini bahwa Shen akan bahagia dengan Arnold yang sama sekali tidak pernah terlibat hubungan buruk dengan wanita, tapi hasilnya kita juga sama-sama sudah tahu kan? "


Ibu Lean menghela nafasnya.


" Itu dia yang Ibu maksud, Ayah. Kalau laki-laki seperti Arnold saja bisa berselingkuh, bagaimana dengan laki-laji semacam itu? "


" Lihatlah, Bu! " Ayah Gani meminta istrinya menyusul dirinya yang kini ada di jendela kamarnya. Dia memperlihatkan bagaimana Damien dan Asha tengah bermain, juga sesekali Damien menggoda Shen, dan akhirnya pukulan lah yang di dapatkan Damien.


" Pria itu memang terlihat los, tapi jika hanya ingin mempermainkan Shen, dia tentu tidak akan merepotkan diri datang kemari, juga tidak mungkin bisa begitu dekat dengan Asha. Kau dengar tadi? Dia bahkan bersedia membuat surat pernyataan dengan jaminan benda nya sendiri, memang pria yang gila cinta! " Ayah Gani terkekeh pelan, tapi Ibu Lean malah menjadi kesal sendiri.


***


" Sebenarnya, kau sadar tidak dengan apa yang kau lakukan? " Marisa menatap Digo dengan tatapan aneh, bagaimana tidak? Seharian ini dia terus saja melakukan hal-hal gila. Membantu di dapur tapi juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk mencium Marisa, menerobos mandi saat dia sedang mandi dengan alasan ingin membantu, tapi untunglah dia tidak melakukan hal yang mesum di dalam sana. Tak berhenti sampai disitu, Digo juga lah yang menyiapkan baju tidur terbuka untuk Marisa entah kapan juga bis ada di dalam lemarinya. Sekarang tahu apa yang dilakukan Digo? Pria itu kini tengah mengecat kuku kaki Marisa, bahkan dia juga mengecat kuku tangannya. Aneh? Iya tentu saja aneh bagi Marisa.


" Sadar kok, aku kan hanya membantumu merawat diri, ini tidak salah kan sayang? "


Aduh! Lagi-lagi sayang, kata sayang kalau keluarnya dari mulut Digo tentu hanya bisa membuat perutnya berasa keram, dan tidak bisa lagi banyak bicara.


" Sayang, setelah ini aku bantu memijit tubuhmu ya? Kau pasti lelah seharian ini. "


Marisa mengeryit bingung dengan kata-kata Digo barusan. Lelah? Bukankah kata itu seharunya lebih cocok untuk Digo? Bagaimana bisa dia tidak sadar kalau seharian ini dia sendirilah yang sibuk melakukan banyak hal.


Setelah selesai mengecat semua kuku Marisa, dan cat kuku juga sudah kering. Sekarang saatnya untuk memijat tubuh Marisa.


" Sayang, ayo berbaring, aku akan memijat tubuhmu. "


" Aku tidak mau, lagi pula aku juga tidak merasa lelah kok. " Ujar Marisa karena memang begitulah adanya.


Digo terdiam sesaat, tapi setelahnya dia menuntun tubuh Marisa untuk segera berbaring, lalu tengkurap agar dia bisa memijatnya.


" Digo, aku bilang kan tidak usah, aku tidak merasa lelah. "


" Kalau begitu anggap saja aku yang ingin memijat mu, jadi jangan menolak ya? "


Sebenarnya Marisa tahu sih kalau ada hal yang diinginkan Digo darinya, tapi lihat saja dulu sampai dimana dia akan berusaha.


Marisa diam menikmati pijatan tangan Digo yang terasa nyaman juga rupanya. Pelan-pelan Digo menggerakkan tangan, hingga tak lama sampailah tangan Digo di bagian paha. Masih tak berhenti, Digo dengan gerakan yang bisa dibilang menipu tiba-tiba sampailah di bagian yang memang sedang dia inginkan.


Masih ingin membiarkannya, jadilah tangan Digo seolah mendapatkan lampu hijau. Terus, tangan itu memijat, juga mengusap lembut.


" Badanku sudah sangat nyaman sekarang, jadi kau bisa berhenti. " Ucap Marisa seraya membalikkan tubuhnya ketika dia menyadari jemari Digo sudah akan menelusup masuk ke dalam kain penutup bagian bawahnya.


" Tapi sayang, bagaimana kalau sebentar lagi? " Pinta Digo dengan tatapan memohon.


" Tidak usah, kau pasti lelah juga kan? Kita tidur saja sekarang, hari sudah malam. "


Tidur? Disaat miliknya sudah tegak berdiri? Apakah hanya disuruh upacara dan gagal ditidurkan begini saja? Tidak, tidak bisa begini! Dengan baju tidur yang lumayan terbuka Marisa ada di dekatnya, mana mungkin dia bisa tidur.


" Sayang, maaf sedikit memaksa, tapi aku lebih suka pinggang yang pegal dari pada tangan. " Digo menjauhkan selimut yang baru saja Marisa gunakan untuk menutupi tubuhnya, lalu menindihnya dengan segera.


Bersambung...