
Hari ini, Shen dan Zera akan segera kembali ke negara asal mereka. Tidak perlu mengunjungi tempat wisata atau semacamnya, karena Shen benar-benar tidak bisa menahan rindu kepada Asha lebih lama lagi. Memang sih, selama Shen berada disana mereka selalu melakukan panggilan video, bahkan Asha juga sering menanyakan Damien, dan pada akhirnya Damien lah yang lebih lama berbicara kepada Asha. Yah, kalau sudah begitu mana mungkin dia bisa mengurangi rasa rindunya kepada Asha?
" Damien, apa kau tidak berniat pindah tempat duduk? " Shen melirik Damien yang lengket sekali dengannya. Padahal sudah diminta untuk menyusul saja, tapi pria itu sama sekaki tidak mau mendengar, bahkan malah lebih sering membahas soal pernikahan. Huh,... Sepertinya Damien benar-benar kebelet nikah.
" Sayang, jangan sering-sering mengusirku dong. Nanti kalau aku diculik gadis cantik bagaimana? " Ledek Damien, lalu memamerkan barisan gigi rapih putihnya.
" Siapa juga yang sudi menculik mu? " Shen melengos sebal.
" Ups! Sorry... " Seorang gadis berambut pirang, bertubuh tubuh tinggi, dengan senyum manis menyapa dengan maksud menggoda kepada Damien. Tida tahu ini kebetulan atau apa, tapi gadis berambut pirang itu masih saja tersenyum kepada Damien. Apalagi jarak duduk mereka yang berseberangan, rasanya mudah sekali bagi gadis itu untuk terus memperhatikan Damien.
"Wah, benar-benar raja tebar pesona. " Gumam Shen kesal.
" Eh, sayang aku cuma sedikit senyum saja kok. "
" Senyum artinya senyum, mana ada senyum memiliki takaran. "
" Your girl friend? " Tanya gadis itu menunjuk Shen.
" Aku istrinya! " Shen memindahkan kaca mata hitam yang ia gunakan kepada Damien, lalu mengambil topi yang digunakan Zera untuk Damien gunakan.
Ya ampun! Tidak tahu lagi harus bagaimana mengungkapkan rasa bahagia ini, yang pasti Damien benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum karena kata-kata Shen Aku istrinya! Kalau saja bisa direkam, ingin sekali dia merekam suara, juga mimik Shen yang jelas sekali menunjukkan rasa cemburunya.
" Sayang, tenang saja ya? Hatiku, dan semua yang menempel di badanku ini adalah milikmu kok. Anu ku juga sudah tidak akan nakal lagi, Jadi sudah memenuhi syarat untuk menikah denganmu kan? "
Gadis berambut pirang itu hanya bisa menelan salivanya karena merasa malu telah menggoda pria di depan pasangannya, sementara Shen, dia malah tak henti-henti bergumam kesal.
Tak ada obrolan selama penerbangan berlangsung di antara Shen maupun Damien karena mereka kini tengah terlelap bersama dengan jemari yang saling mengait.
***
Digo menghela nafas setelah Marisa menceritakan semua yang menimpa Mona. Sejenak dia sempat berpikir, dan merasakan puas atas apa yang terjadi, tapi saat teringat Marisa, juga niatan berpisah yang terlihat bulat padanya, Digo kini kembali berpikir dengan mengesampingkan rasa bencinya terhadap Mona yang tak mudah untuk dihilangkan.
" Saat itu, aku sama sekali belum melakukan apapun kepada kakakmu, tapi Tuhan sudah mendahuluiku. Tentang pria bernama Bastian itu, tentu saja aku kenal. Dia adalah salah satu pria yang mengagumi kakakmu, bagian itu jujur memang yang memberi tahu kalau kakakmu sedang krisis keuangan. Tapi, aku tidak menyangka juga kalau pada akhirnya kakakmu menjalin hubungan dengan beberapa pria tua. "
Marisa terdiam karena masuk akal juga apa yang dikatakan Digo, sebenarnya Maris juga tahu kalau toko kosmetik kakaknya mulai sepi pengunjung setelah rumor tentang dirinya adalah wanita yang akan menikahi Arnold mencuat. Belum lagi, video yang seolah dia menyiksa Shen menyebar, keuangannya benar-benar seolah tertutup rapat. Untungnya, orang tua nya sudah memiliki usaha kecil-kecilan yang cukup untuk hidup mereka.
" Marisa, apa yang di alami Mona saat ini semua berkaitan dengan apa yang dia lakukan di masa lalu, aku bukannya tidak ingin membantu, hanya saja Mona sudah sulit untuk di beri pemahaman yang benar. Biarkan kehidupan ini mengajarkan dia untuk menjadi pribadi yang lebih baik, aku tentu tidak akan melarangmu saat ingin menemuinya, tapi ingatlah untuk jangan membenarkan dia saat dia salah, karena itu juga penting bagi dirinya agar bisa mendidik anaknya nanti. "
" Aku tahu. " Ujar Marisa tanpa menatap Digo.
" Bagus. " Digo mengusap kepala Marisa hingga membuat rambut si pemilik berantakan.
" Hentikan, Digo! "
" Baik, sayang. "
***
Arnold terdiam memandangi cincin pernikahannya bersama Shen yang masih melekat di jari manisnya. Sudah harus melepaskannya, tapi mengapa dia bahkan tidak sanggup hanya dengan memikirkannya? Menyentuh untuk melepas juga sudah ia coba, tapi pada kenyatannya dia masih tidak bisa melakukannya.
Waktu boleh saja terus berjalan membawa hari yang baru, juga kebahagiaan yang baru. Tapi, mengapa rasanya malah semakin hampa? Asha memang mampu mengurangi kehampaan itu, tapi separuh hatinya masih saja kosong dan gelap tanpa adanya Shen disisinya. Jarum jam terus berputar, bahkan sangat mirip seperti hatinya yang tidak pernah beranjak meski waktu terus berjalan. Sadar, ia tetap tinggal di tempat dan memikirkan segala apa yang terjadi, hingga pada akhirnya Shen menghilang dari hidupnya.
Arnold menoleh ke arah meja kerjanya, disana masih bertengger bingkai photo dirinya, Asha juga Shen. Rasanya baru kemarin dia merasakan bagaimana indahnya hidup bersama dengan istri dan anak yang sama-sama saking mencintai, tapi hanya dengan sekejap mata semua itu berbalik menjadi menyakitkan karena satu tindakan bodohnya.
" Apakah sungguh hatimu begitu cepat berubah? " Arnold menyentuh photo itu, mengusapnya pelan dan menatap penuh tanya. Jika mengingat hari dimana Shen menegaskan bahwa dia tidak ingin bersamanya lagi untuk merajut benang yang sudah kadung kusut, dia masih saja ingin menolak keras, lalu terus berjuang sampai mereka benar-benar bisa hidup bersama lagi. Tapi, saat dia juga teringat dengan tatapan mata Shen yang nampak lelah berpura-pura bahagia saat bersamanya, hatinya juga terluka seolah dia begitu egois karena terus memaksa Shen bersamanya dan terus berpura-pura bahagia demi Asha.
" Shen, aku ingin terus berdoa untuk kau bahagia, tai aku juga takut melakukannya saat kau bahagia dengan yang lainya. Maaf karena masih egois ingin tetap bersamamu, meskipun tidak tahu sampai kapan aku akan seperti ini, aku janji akan terus berusaha mengedepankan kebahagiaanmu. " Arnold meletakkan lagi photo itu dengan perasaan sedih. Alasan saja jika dia melakukan segalanya untuk Asha, karena pada kenyatannya dia hanya tidak rela melepaskan Shen, dan egois dengan menggunakan Asha agar bisa menyita banyak waktu bersama Shen.
" Bolehlah aku berjuang sekali lagi, Shen? Apakah kau masih akan menolak saat aku benar-benar ingin melakukannya dengan seluruh kemampuanku, juga seluruh ketulusan dihatiku? "
Bersambung...