Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 52



Shen menitihkan air mata sembari menatap majalah gaun pernikahan yang dikirimkan oleh butik beberapa saat lalu. Padahal dia juga tahu kalau Mona tidak akan bisa memakai baju pernikahan itu, tapi demi membuat Arnold merasa iba padanya, dia harus terus menatap majalah itu tanpa berkedip untuk menghasilkan air mata.


" Padahal aku sudah memberikan kesempatan untukmu memperbaiki hubungan kita, tapi kalau seperti ini, aku juga tidak yakin akan sanggup bertahan walaupun Asha adalah alasannya. " Shen menunduk terus menatap majalah itu sedikit melotot menahan sakit karena air mata yang menetes belum cukup untuk terlihat sangat sedih. Kenapa sih repot-repot? Iya tentu saja karena Arnold tengah melihatnya dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Shen terisak-isak seolah dia sangat menderita, tapi memang benar menderita sih karena menahan mata perih hanya untuk menghasilkan banyak air mata.


" Apa aku harus segera mengajukan gugatan cerai? "


Arnold menatap dengan mata yang memerah menahan marah. Bukan marah dengan niatan Shen, tapi marah karena kemarahannya membuat semuanya menjadi kacau. Bukan tidak mungkin juga kalau pada akhirnya dia akan kehilangan Shen dan Asha.


" Arnold, padahal aku sudah menolak beberapa pria untuk bersamamu, tapi kau bahkan tidak bisa menolak satu wanita saja yang selama ini mengganggu rumah tangga kita. Aku benar-benar mulai membencimu! "


Arnold mencengkram kuat handle pintu kamar Shen hingga tangannya bergetar. Tak bisa dipungkiri, hatinya terasa sangat sakit saat Shen menangis dan mengatakan hal-hal itu. Tak tahan lagi, akhirnya Arnold menutup pintu kamar Shen perlahan tanpa suara.


" Ah! Sialan mataku sakit, ingus ku juga malah lebih banyak dari air mataku. " Ucap Shen seraya bangkit dari posisinya, lalu berjalan untuk mengambil beberapa lembar tisu.


" Arnold, kan sudah aku bilang kalau aku tidak akan memberikan apapun kepada Mona, bahkan sampah sekalipun. " Shen tersenyum miring, lalu menghempaskan tisu yang tadi ia gunakan ke lantai.


" Mona, kau pikir aku tidak melihat tatapan tajam yang kau perlihatkan pada anakku? Heh! Lihat dan rasakan bagaimana aku menyiksamu nanti. "


Mona dan Ibu Resa kini tengah duduk di ruang tengah sembari berbincang membicarakan masalah yang terjadi hari ini. Untungnya, tidak ada dari mereka yang mengetahui tentang Teo, jadi tidak ada pembahasan buruk tentang keluarga Shen.


" Mona, coba kau pikirkan kembali, aku rasa pernikahan ini bukanlah hal yang benar. "


Mona memaksakan senyumnya.


" Bibi, aku sungguh sangat mencintai Arnold, jadi bukan masalah bagiku untuk menjadi istri kedua. Lagi pula dari awal Bibi merestui kami kan? "


Ibu Resa menghela nafasnya.


" Mona, dulu aku tidak berdaya melawan Ayahku yang bersikeras menjodohkan Arnold dengan Shen. Tidak tahu seberapa menderitanya dia dengan pernikahan itu, hanya saja aku bisa melihat wajah lelah seolah tidak ingin pulang kalau dirumah. Kemudian kau datang, dan aku sebagai seorang Ibu membiarkan saja karena berharap Arnold akan bahagia. Tapi, keluarga Shen bukanlah keluarga yang bisa diremehkan. Berkat keluarga Shen jugalah perusahaan kami selamat dari krisis tiga puluh enam tahun lalu. Aku paham mendukung hubungan terlarang kalian adalah kesalahan, juga kegagalan ku sebagai seorang Ibu. Dengan adanya pernikahan kalian nanti, akan banyak sekali akibat buruk yang terjadi. "


Mona mengepalkan tangannya erat. Padahal dia sudah berkorban banyak, mulai dari dua kali mencoba bunuh diri, bahkan sekarang gendut begini juga untuk menarik perhatian Arnold. Masak iya dia akan ditolak juga kali ini?


" Bibi, Arnold dan Shen kan tidak bercerai, hanya saja bertambah satu istri dari Arnold. Jadi jangan terlalu banyak berpikir buruk, semua pasti akan baik-baik saja. "


" Berhenti membicarakan tentang pernikahan, aku merasa bahwa aku harus memikirkannya lagi. " Ucap Arnold yang entah sejak kapan berdiri tak jauh dari mereka.


Ibu Resa dan Mona kompak bangkit dari posisi duduknya, lalu menatap Arnold bingung.


" Tapi kau kan sudah berjanji, kau juga sudah memberitahu semua orang. " Protes Mona setelah beberapa saat Mona terkejut tanpa kata.


" Tidak bisa begitu, Arnold! Bagaimana aku menghadapi orang lain kalau tahu apa yang kau katakan barusan? "


" Tidak ada orang asing yang tahu, jadi jangan banyak berpikir. "


" Arnold, kalau begitu baiklah kau bisa memikirkannya lagi. Menikah besok juga terlalu buru-buru, tapi izinkan aku tinggal disini, dan aku akan menjaga Ibumu serta menjadi teman Ibumu agar dia tidak kesepian. " Pinta Mona.


" Tida- "


" Itu ide yang bagus. " Saut Shen yang juga baru saja muncul degan segelas jus kiwi ditangannya.


Arnold menatap Shen kaget, begitu juga dengan Ibu Reda dan Mona.


" Kau bisa mengenal Arnold lebih dalam lagi, dan juga mencoba belajar menjadi menantu yang baik. Aku juga jadi memiliki kesempatan agak lega untuk mempersiapkan pernikahan kalian. " Shen tadinya ingin langsung berbalik, tapi dia kembali menghentikan langkahnya, lalu menatap Arnold, dan Mona bergantian.


" Kalian juga bisa tidur di kamar yang sama, lagi pula bukan hal baru untuk kalian kan? aku juga sudah memindahkan barang Arnold tadi, jadi hanya perlu menyiapkan pakaian baru untukmu saja. Oh, kalau kau mau, kau juga boleh memakai pakaianku saat aku gemuk seperti badut. " Shen tersenyum miring lalu mulai menjauh dari mereka.


Tidur di kamar yang sama? Seorang istri sah mempersilahkan wanita lain untuk tidur di kamar suaminya? Arnold menahan kecewa yang luar biasa di dadanya. Iya, dia akui jika dia adalah pria bajingan yang pernah mengkhianati istri. Tapi apakah Shen tidak bisa cemburu seperti kebanyakan istri lainnya?


Sementara Mona, wanita itu juga memendam kekesalan atas kata-kata Shen yang menghinanya tadi. Memakai baju bekasnya saat dia seperti badut dulunya? Sialan! Rasanya ingin sekali dia menarik rambut Shen, menjambak nya hingga rambut itu rontok, lalu memukul pipi Shen beberapa kali. Huh..... Baiklah, sekarang memang hanya bisa mempraktekkan di dalam hati, siapa tahu nantinya akan ada kesempatan untuk merealisasikan imajinasinya.


" Arnold, apakah aku sungguh boleh tidur di kamar mu? " Mona segera bertanya karena siapa tahu Arnold sungguh mengiyakan.


" Rumah ini tidak kekurangan kamar tamu. " Ucapan Arnold, barusan sungguh-sungguh membuat Mona terdiam menahan kecewa.


Segera setelah itu, Arnold melangkahkan kaki untuk menyusul Shen yang sudah lebih dulu pergi ke kamarnya. Sejenak dia berhenti di depan pintu kamar Shen, lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menguatkan dirinya agar tidak gugup saat berbicara dengan Shen nanti.


Tok Tok


Shen yang ada di dalam kamar kebingungan karena tidak tahu kalau Arnold akan menyusulnya secepat itu. Dia padahal baru saja memasang masker kulit untuk wajahnya, haduh! Mau tidak mau ya tida usah dibuka pintu yang sengaja ia kunci tadi.


" Shen, buka pintunya! "


Shen terdiam sejenak, lalu berdehem pelan untuk mengatur suaranya.


" Arnold, aku mohon mengertilah. Aku ingin sendiri dulu saat ini. Kalau memang kau hanya ingin membahas tentang pernikahan, maka tolong tahan saja. Aku benar-benar tidak sanggup lagi mendengarnya. Hiks hiks "


Bersambung....