Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 43



Dua hari sudah waktu berlalu, dan ini adalah awal dari hari dimana Mona mulai tidak bisa mengontrol makanannya. Tentu saja ini membuat Ibunya merasa heran, tapi karena pemikiran yang mengatakan kalau mungkin saja ini karena efek dari obat yang diberikan rumah sakit.


" Ibu, aku ingin makan ayam goreng mentega, lalu pakai sambal juga. "


Ibunya Mona mengeryit bingung. Baru dua jam lalu Mona menghabiskan sarapannya yang begitu banyak. Tiga sendok nasi, dua ikan goreng berukuran sedang, buah, dan juga susu satu gelas penuh. Memang sangat aneh, padahal dulu Mona amat menjaga pola makannya, lalu kenapa tiba-tiba jadi begini? Bahkan sudah dua hari juga anaknya selalu memoles warna merah berani di bibirnya, Mona yang ia tahu adalah Mona yang akan menyukai warna natural saja kan? Meskipun ada menggunakan lipstik warna berani, biasanya hanya akan dia gunakan ketika menghadiri acara resmi, atau pesta khusus.


" Mona, tapi kau kan belum lama makan, juga porsi makan mu tadi banyak loh. " Ucap Ibunya mengingatkan.


" Tidak apa-apa Bu, aku hanya ingin sedikit lebih gemuk saja. Nanti kalau badanku sudah agak berisi, aku tidak akan makan banyak lagi kok. " Ujar Mona lalu tersenyum kepada Ibunya. Merasa apa yang dikatakan anaknya masuk akal, tentu saja dia mengangguk setuju saja.


Dan semua berjalan seperti yamg sudah direncanakan. Mona bukan hanya tiga atau empat kali makan dalam porsi besar, tapi dia sudah lima kali makan, dan masih belum merasa bisa memuaskan keinginan untuk makannya. Sebenarnya dia agak merasa aneh dengan efek dari ramuan penambah berat badan itu, tapi karena nafsu makannya meningkat pesat dan sulit dipuaskan, mau tidak mau dia mengabaikan saja kecurigaan itu dan mementingkan keinginan makannya saja.


" Ayah, apa kau yakin Mona baik-baik saja? Dia yang seperti ini membuatku khawatir. " Ucap Ibu saat melihat anaknya, Mona menghabiskan banyak makanan malam ini.


Ayah menghela nafas, lalu memijat pelipisnya.


" Hanya banyak makan, kenapa kau khawatir sampai seperti ini? Aku malah lebih khawatir dengan Marisa yang tidak kunjung pulang. Kau boleh saja mengkhawatirkan Mona, tapi jangan lupa kalau Marisa juga anak kita. Dia pergi dengan hati yang terluka, takutnya dia akan mendendam dan enggan untuk kembali. "


Ibu menunduk pilu. Rasanya sudah tidak tahu bagaimana membujuk Marisa, setiap pagi, malam, siang, juga sore selalu dia kirim pesan untuk membujuknya kembali, dan juga meminta maaf. Tapi masih saja dia tidak ingin pulang, mungkin memang ini waktunya untuk dia sebagai Ibu merenungkan akan banyak hal yang dia lakukan sampai membuat putrinya begitu terluka, baru pikirkan bagaimana membujuknya untuk kembali ke keluarganya.


Setelah menghabiskan makan malamnya, Mona kembali ke kamar dengan perasaan lega karena sudah terpuaskan rasa laparnya malam ini.


" Arnold, tunggu aku datang dengan dengan penampilan baruku, kau pasti akan jatuh cinta lagi denganku. Lalu Shen, wanita bodoh yang sudah memberi saran bagus ini, dia akan kutendang jauh dari kehidupan kita. " Mona tersenyum memandangi pantulan dirinya dari meja rias yang ada di kamarnya.


***


" Kau yakin dengan apa yang kau lakukan? " Shen menatap heran kepada Arnold yang sibuk memindahkan barang-barang miliknya ke kamar Shen, dan dibantu oleh dua orang pelayan.


" Tentu saja yakin, kalau kita terus tidur terpisah, kapan kita akan punya adik untuk Asha. " Ujar Arnold yang masih saja sibuk menyusun barang-barangnya disana. Sungguh tidak tahu harus bagaimana dia berekspresi, tapi setidaknya dia tidak perlu menunjukkan mimik keberatan kan?


Shen mencoba sebaik mungkin agar bisa memperlihatkan senyum terbaiknya. Dia berjalan mendekati Arnold, lalu memeluknya dari belakang.


" Terimakasih karena bersedia tinggal di kamar yang sama denganku. "


Arnold tersenyum bahagia, sontak dia meninggalkan pekerjaannya, lalu berbalik untuk memeluk Shen.


" Aku yang seharusnya berterimakasih padamu, terimakasih karena sudah memberikan kesempatan untukku. "


Shen tersenyum tipis.


Masuklah lebih dalam, cintai aku lebih banyak lagi, bahkan harus melebihi ekspetasi. Cintai aku sebanyak yang kau bisa, dan aku akan melakukan apa yang aku bisa.


Arnold memberikan kecupan di pucuk kepala Shen.


" Shen, mulai hari ini kita harus menyiapkan hari untuk kita berdua saja ya? Selama kita menikah jarang sekali kita bicara berdua selain membicarakan anak kita. Aku harap kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama mulai sekarang, dan aku juga sebisa mungkin akan memberikan banyak waktu untukmu dan Asha. "


" Iya. "


Seperti pagi ini, Arnold semakin dibuat jatuh cinta saat Shen begitu tahu bagaimana menciptakan suasana menjadi romantis. Saat Shen memasangkan dasi untuk Arnold, dia selalu mengatakan bahwa Arnold adalah pria paling tampan untuknya, bahkan setiap Shen tidak pernah absen memberikan ciuman selamat pagi untuknya.


Beberapa hari terakhir benar-benar dirasa sangat indah untuk seorang Arnold. Iya, dia memang pernah merasakan cinta saat bersama Mona, tapi kali ini rasa itu sungguh berbeda. Entah mengapa dia tidak pernah merasa puas bersama Shen meski setiap malam selalu tidur diranjang yang sama, dan memeluknya sepanjang malam. Dia selalu saja tersenyum bahagia bahkan sampai lupa dimana dia berada. Diruang rapat saat rapat berlangsung, dia bahkan tanpa sadar tersenyum mengingat bagiamana Shen memperlakukannya dengan sangat baik. Entah sebodoh apa dulu dia karena mengabaikan istri yang begitu berbakti, tapi syukurlah istrinya masih bersamanya, jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, dan akan mencurahkan rasa cinta sepenuhnya untuk istrinya.


***


Sudah beberapa hari setelah kedatangan Max, Anya kini terlihat sangat berubah. Max tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa memberinya kabar apapun. Awalnya dia pikir kalau Max sedang sibuk, tapi ini sudah empat hari, dan Max masih saja tidak ada kabarnya.


" Sial! Kemana Max sebenarnya? Apa dia pergi keluar negeri? Kalau iya, kenapa dia tidak memberitahuku? " Anya menahan kesal seraya menunduk lesu memeluk lututnya.


" Anya, ada apa? " Tanya Ibu Resa yang tak sengaja melihat Anya duduk sembari memeluk kedua lututnya.


Anya menatap Ibunya, lalu mulai menangis.


" Ibu, Max sudah empat hari tidak memberikan kabar, aku takut, Ibu. " Jawab Anya lalu kembali menangis.


Ibu Resa menghela nafasnya, dia berjalan mendekati Anya, lalu duduk disampingnya.


" Anya, Max itu kan orang sibuk. Mungkin dia sedang ada pekerjaan di luar negeri seperti yang kau ceritakan lada Ibu. "


" Tapi dia tidak mengabari ku. "


" Mungkin tidak sempat karena buru-buru. "


Anya menghela nafas sebalnya.


" Mungkin iya. "


Ibu Resa tersenyum, lalu mengusap kepala Anya.


" Ya sudah, Ibu masuk dulu karena Ibu harus siap-siap untuk pergi arisan. "


" Arisan? Sekarang tanggal berapa memangnya? "


" Tanggal satu. "


Anya tersentak dan diam setelah menelan ludahnya.


" Ada apa, Anya? "


" Oh, tidak apa-apa Ibu. "


Ya Tuhan, datang bulan ku sudah telat beberapa hari, jangan bilang....


Bersambung...