Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 86



Shen dan Damien kini tengah duduk di sofa yang berada di kamarnya. Kenapa Damien membawa ke kamar? Alasannya adalah, karena dia tidak ingin Shen bertemu, atau bahkan sampai berbicara dengan Ayah, beserta keluarganya. Sudah cukup tenang, Damien kini sudah mulai bisa menceritakan hal apa yang bisa membuat tertekan seperti sekarang ini, padahal sejauh yang Shen tahu, Damien adalah orang yang tidak pernah terlihat memiliki beban, juga terlihat lepas saat berekspresi.


" Shen, aku tahu aku memang bukan pria baik, tapi aku janjikan satu hal padamu. Aku, tidak akan berselingkuh darimu, aku janji, dan akan menepati kata-kata ku barusan. "


" Kenapa kau bicara seolah-olah aku akan menjadi pasanganmu? "


Damien tersenyum, menyenderkan kepalanya di pundak Shen, lalu meraih tangan Shen dan menciumnya.


" Memang apa tujuanmu kalau bukan karena itu? "


" Aku hanya khawatir saja kok. Aku pikir kau sudah mati, jadi aku datang untuk berbelasungkawa. "


Damien menegakkan posisinya, menatap Shen sebal, lalu mencubit pelan pipi Shen.


" Bagaimana mungkin aku mati secepat itu? Kita saja belum melakukan anu, rugi sekali kalau sampai mati, kalaupun mati sungguhan, aku pasti akan jadi arwah gentayangan karena penasaran."


Shen memukul pelan kepala Damien sembari menahan rona merah diwajahnya.


" Bicaralah yang benar, apa tidak bisa jangan memikirkan hal kotor sehari saja? "


Damien terkekeh, lalu meraih tangan Shen dan menggenggamnya erat.


" Dua bulan lalu, aku benar-benar fokus untuk merawat ibuku, dan setelah Ibuku meninggal, aku seperti kehilangan arah hidup. Aku tidak pernah bisa tidur, kalaupun tertidur aku tidak pernah nyenyak karena bermimpi buruk terus menerus. Aku juga takut kecewa kalau saja kau dan Arnold kembali, jadi aku pikir akan lebih baik diam saja dulu. "


Shen menatap Damien yang memang terlihat penat. Pasti hal yang Damien ceritakan dengan singkat itu begitu berat baginya, tapi syukurlah dia bisa melewatinya meski wajahnya seperti mengatakan kehilangan daya hidup.


" Damien, Ibumu pasti bangga memiliki anak sepertimu. "


" Tentu saja, meskipun aku bajingan, tapi aku anak yang sangat disayang Ibuku loh. "


Shen menghela nafas sebalnya.


" Berhentilah mengatai diri sendiri. "


" Baik, sayang. "


" Shen, namaku Shen. "


" Ah, iya Shen sayang. "


" Dasar menggelikan! Ngomong-ngomong, kenapa cara bicaramu kepada Ayahmu begitu kasar? "


Damien nampak malas, juga terlihat marah saat Shen bertanya tentang pria yang adalah Ayah kandungnya sendri.


" Dia, menyebut dirinya Ayah, tapi dia melupakan peran seorang Ayah. "


" Maksudnya? "


" Dulu, aku sering sekali memergoki Ayahku memasuki kamar pelayan rumah, aku yang masih kecil tentu saja tidak paham. Hingga Ibuku memergoki mereka, semuanya menjadi berubah saat itu. Ayahku lebih memilih pelayan rumah karena dia bilang pelayan rumah sedang mengandung anaknya. Setelah kejadian itu, Ibuku lah yang bekerja untuk memberikan aku dan kakakku makan, menyekolahkan kami, bahkan dia menolak semua pria yang mendekatinya hanya karena tidak ingin fokusnya terbagi selain dengan bekerja dan anak-anaknya. Sementara pria itu, menghilang dengan mudahnya, lalu kembali tiba-tiba saat Ibuku meninggal. "


" Damien, aku tidak bisa bilang kalau kau tidak boleh mendendam, tapi cobalah untuk lepaskan saja. Lihatlah di sekililingmu, bukankah masih banyak yang lebih membutuhkanmu, juga menyayangimu? "


" Apa kau juga termasuk? "


Shen tersenyum dan mengangguk.


" Damien! Apa yang mau kau lakukan?! " Shen terkejut begitu Damien mendekatkan dirinya untuk menautkan bibirnya.


" Just, kissing. "


" Damien! " Shen mencoba menghentikan Damien yang kini tengah menjalankan tangannya ke bagian belakang tubuhnya.


" Kau sempat tidur di halaman rumah ya? " Damien mengambil daun kering yang menempel di rambut bagian belakang Shen.


" Oh, itu. "


" Memang apa yang kau pikirkan? "


" Ti tidak ada! "


Damien terkekeh, sebenarnya saat mencium Shen barusan dia benar-benar sangat ingin menyergap tubuh wanita yang sangat dia rindukan itu, tapi untunglah dia masih bisa menahannya karena tidak ingin melakukannya sebelum mereka menikah. Dan lagi, Shen bisa-bisa membencinya karena tindakan kurang ajarnya.


***


Setelah pembahasan bersama dengan orang tua Digo selesai, Marisa kini kembali ke kamar untuk mengemas pakaiannya. Untungnya, hanya ada beberapa lembar baju yang memang miliknya sebelum masuk kerumah itu.


" Marisa, bagaimana caranya, dan katakan apa yang harus aku lakukan agar kau bisa membatalkan niatmu? " Digo menatap punggung Marisa, rasanya ingin sekali memeluknya dan menekan erat agar Marisa tak melanjutkan kegiatannya. Tapi, dia juga tahu benar bahwa hati Marisa kini tengah sangat sedih, jadi dia mencoba saja untuk bicara dengan lembut, siapa tahu akan membuat Marisa memikirkan kembali niatnya itu.


'' Bukankah kita sudah selesai membahasnya tadi? "


Tak tahan lagi, Digo berjalan mendekat, laku erat memeluk Marisa. Dia biarkan saja air mata penyesalan itu menetes dari matanya, dan semua itu membuat Marisa terdiam mematung menahan air matanya.


" Semua yang terjadi adalah salahku, aku minta maaf. Aku tahu aku tidak mungkin bisa menghidupkan anak kita, tapi tolong berikan aku sedikit waktu untuk menunjukan padamu bahwa aku bisa menjadi suami yang baik terlepas apapun masalah yang menjerat kita. "


Marisa menyeka air matanya yang lolos karena ia tidak bisa menahan lagi. Sejujurnya dia juga ingin bersama degan Digo, tapi hubungan mereka tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang kesalahan kakak kandungnya. Dan lagi, dia juga tidak mau melihat Digo bersedih atas apa yang terjadi dengan adiknya, dan juga nanti harus menjaga perasaan istrinya.


" Digo, kita bersama juga hanya akan membuat kita sama-sama tersakiti. Kau akan marah dan sakit begitu Shen tersakiti, lalu aku akan sedih saat kau menyakiti keluargaku biarpun aku tahu mereka bersalah. "


" Aku tidak akan menyakiti keluargamu lagi. " Ucap Digo semakin mengeratkan dekapannya.


" Kau tidak akan bisa melakukanya, Digo. Sementara aku yang egois dan kurang sadar diri ini juga selalu saja tidak tega melihat keluargaku menderita. Kalau kita menjadi dua orang asing, kita tidak perlu menjaga hati satu sama lain lagi, Digo. " Marisa mencoba menjauhkan tangan Digo, tapi pria itu malah semakin mengeratkan kedua lengannya yang erat memeluk Marisa.


" Satu bulan, Mari kita coba satu bulan ini. Kau dan aku harus berusaha mengatasinya, baru kita lihat akhirnya. Bagaimana? "


Bersambung.....