Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 39



" Aku sudah melakukan banyak hal, bahkan aku juga tidak segan-segan menyakiti diriku sendiri demi dirimu, kenapa kau tidak memilihku, dan kenapa kau menjauhiku hanya karena perasaanmu sedikit berubah. Aku pernah kau cintai saat kau tidak mencintai istrimu, kenapa sekarang aku di abaikan seperti istrimu waktu itu? Kau menyakitiku, tap aku masih selalu memilihmu. Apakah selama dua tahun kedekatan kita sama sekali tidak memiliki arti bagimu? "


Mona menatap Arnold dengan tatapan menekan. Pria yang baru datang lima belas menit lalu itu seolah membuatnya tak bisa berbosa-basi lagi. Mengerti, dan memahami, rasanya dia juga sudah melakukanya selama dua tahun terakhir. Tapi apakah usaha itu juga tidak ada artinya?


Entah bagaimana membaca maksud hati Arnold, tapi sejujurnya Mona sangat tidak ingin menerima penolakan lagi dari pria itu. Sejenak dia mengalihkan padangan untuk menyeka air matanya. Diam Arnold seolah membuatnya menebak-nebak maksud yang akan menyakiti hatinya.


" Mona, semua yang terjadi ini aku tahu benar jika salahku. Aku tahu aku tidak bisa hanya dengan mengatakan maaf, lalu berlalu begitu saja. Tapi sungguh, aku tidak tahu kalau hatiku akan berubah, aku tidak menampik jika aku memang pernah memiliki rasa untukmu, tapi aku juga selalu dihantui bayangan Shen. Pada saat itu aku tidak pernah mencoba untuk mencintainya karena aku pikir dengan begitu aku bisa melampiaskan kekesalan yang tidak bisa aku tunjukkan pada kakek. Shen, dia juga selalu menunjukkan betapa hebatnya dia sebagai Ibu dari putriku, maka dari itu aku tidak pernah menjanjikan masa depan bersama denganmu. Mona, aku sungguh-sungguh meminta maaf. "


Arnold menatap Mona yang enggan menatapnya, dan memilih menatap jendela kaca yang ada disamping brankarnya. Iya, dia paham sekali bahwa apa yang dilakukan Mona semua karena untuk mencari perhatiannya, sama seperti yang dilakukan Shen waktu itu. Meski hatinya merasakan Iba dan rasa bersalah yang besar, tapi bagaimana mungkin dia menjalani hubungan dengan mengarahkan hatinya kepada dua wanita?


Sejenak ia menghela nafas seraya mendongakkan kepalanya. Sudah tidak tahu lagi bagaimana berkata-kata kepada Mona.


" Dulu, kau pernah mengiyakan permintaanku untuk kita berlibur ke Paris. Mungkin kau tidak tahu, tapi semenjak kau mengiyakan, semua mimpi indah tercipta begitu saja di benakku. Bagaimana indahnya kalau kita menyusuri kota Paris sembari bergandengan tangan, bagaimana bahagianya kita menghabiskan waktu liburan bersama dengan penuh cinta, tapi semua terasa menyakitkan karena semua penolakan kau yang berikan padaku. "


Arnold mengeraskan rahangnya, tentu dia mengingat tentang janji itu. Janji yang dia iyakan demi untuk mengusir kejenuhan dengan kehidupan rumah tangganya yang dirasa amat membuatnya penat.


" Arnold, apakah kau jatuh cinta dengan Shen yang sekarang? Kau jatuh cinta setelah dia kembali dengan penampilan barunya? " Mona menatap dengan tatapan tegas. Mungkin pertanyaan ini terdengar biasa saja, tapi justru ini sangat penting bagi Mona.


" Mona, aku akui aku menyukai Shen yang sekarang. Tapi bukan berarti aku juga tidak bisa menyukai Shen yang dulu. Jika aku mau, aku akan mengatakan apapun yang akan Shen turuti saat itu, tapi aku tidak melakukanya. Bukan karena aku tidak perduli, hanya egoku masih tidak mau mengerti tentang Shen. Entah sejak kapan perasaan itu timbul, tapi aku yakin benar jika semua ini datang tidak dengan tiba-tiba. "


Mona membuang muka, rasanya memang sulit untuk membuat Arnold yang mencintainya kembali, tapi dia akan mencoba menggunakan janji lama itu sebagai peruntungan.


" Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi ke Paris, anggap saja ini sebagai permintaan terakhirku sebelum berpisah denganmu. "


Arnold mengeryit karena bingung dan keberatan. Rasanya tidak mungkin kalau harus pergi dengan Mona, lalu kebohongan apa yang akan dia gunakan untuk beralasan? Kalaupun berbicara jujur, bagaimana mungkin Shen akan mengerti?


" Mona, kau boleh minta yang lain saja? Aku tidak bisa pergi denganmu. "


Mona tersenyum miring dengan tatapan kecewa.


" Aku tidak menginginkan yang lain, karena kalau aku ingin lain dari itu, maka hanya kau yang aku mau. "


Arnold terdiam, sejenak berpikir, lalu tanpa kata dia meninggalkan ruang rawat yang ditinggali Mona. Langkah kaki jenjangnya mengiri kepalanya yang terus berpikir bagaimana dia bisa mewujudkan keinginan Mona, tapi dia juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Shen padanya.


Sudah lima tahun hubungan mereka mengambang tanpa kepastian, dan saat dia mulai meyakini untuk bertahan dengan Shen, kenapa semua ink harus terjadi? Sialnya dia juga tidak mampu mengabaikan Mona begitu saja, jadi apa yang harus dia lakukan sekarang?


***


Disebuah taman bermain, Shen kini tengah tersenyum menatap putrinya yang berlarian dan bermain bersama dengan temannya.


" Kau belum mau pulang? " Seorang pria kini duduk disampingnya, lalu memberikan senyum indahnya kepada Shen yang menatapnya sebal. Iya, lagi-lagi pria itu adalah Damien. Sejenak boleh dia tersenyum, tapi melihat tanpa merah yang tertinggal di leher Shen, rasanya dia benar-bena tidak ingin tersenyum lagi.


" Kenapa kau ada disini? " Shen menatap sebentar, lalu kembali melihat ke arah putrinya.


" Aku kan mengikuti kemana kau pergi. "


Shen mengeryit, lalu membuang muka setelah Damien lagi-lagi tersenyum padanya.


Sebentar Shen teralihkan dengan panggilan suara dari Ibunya, cepat dia mengangkat, lalu menanyakan kenapa Ibunya menghubunginya.


Shen, Asha dimana? Ibu akan menjemputnya karena Ibu, dan juga Ayah ingin membawa Asha ke pusat belanja.


" Kami ada di taman dekat sekolah Asha, Ibu. "


Bagus sekali, Ibu ada di dekat situ. Tunggu ya? Ibu dan Ayah akan sampai sekitar sepuluh menit lagi, kau mau ikut?


" Tidak, Ibu. Aku ingin segera pulang dan istirahat saja. "


Ok, baiklah.


" Shen!, Asha! " Panggil Ibu Lean dengan semangat.


" Nenek....! " Asha tersenyum bahagia, lalu berlari ke arah nenek dan kakeknya yang merentangkan tangan menyambutnya.


" Ibu, Ayah? "


" Halo, Bibi, dan Paman? Apa kabar? "


Ayah dan Ibu saling menatap penuh tanya melihat adanya Damien di dekat Shen.


" Kau siapa? " Tanya Ibu Lean.


" Ah, saya Damien, senang bertemu paman dan bibi. " Damien menyodorkan tangannya untuk menjabat keduanya.


Ibu dan Ayahnya Shen nampak ramah, dia juga ikut memperkenalkan diri dengan senyum yang mengembang indah.


" Jadi ini alasanmu tidak mau ikut kami, Shen? " Tanya Ibu Lean.


Shen melotot kaget.


" Ibu, ini tidak ada hubungannya dengan si brengsek ini! Aku memang ingin pulang dan istirahat kok. Lagi pula aku juga sudah bersuami, tentu saja aku harus tahu batasan. "


Ayah dan Ibunya Shen mengangguk paham, lalu berpamitan untuk segera berangkat.


" Eh, mau kemana? " Tanya Damien saat Shen membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah.


" Mau pulang! "


" Bagaimana denganku? " Tunjuk Damien pada dirinya sendiri.


" Pulang saja ke negaramu! "


" Ya sudah, ayo kita pulang ke negaraku! "


" Gila! "


Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba hujan deras mengguyur, dan membuat semua anak-anak yang tengah bermain berlarian untuk meneduh. Sementara Damien segera meraih tangan Shen, lalu membawanya me sebuah rumah-rumahan yang ada di taman bermain.


" Ih! Kenapa menarikku kesini? Kau tahu kalau sempit kan? " Kesal Shen.


Damien tersenyum, tapi dia terus menatap wajah Shen yang kini terus mengomel entah apa itu.


Kini bukan hanya hujan deras saja, tapi petir menggelegar membuat Shen beringsut sembari menutup kedua telinganya.


Damien memeluk Shen meskipun dia agak takut kalau saja Shen mengomel, tali sepertinya petir itu benar-benar membawa keberuntungan baginya karena Shen sama sekali tidak menolak.


" Tidak apa-apa, hanya petir, aku ada disini. "


Deg....


Shen tertegun seraya menatap Damien. Iya, kata-kata itu adalah kata-kata yang selalu diucapkan kepadanya oleh sang Ayah saat ada petir yang menakutkan seperti sekarang ini. Tanpa sadar tatapan mereka bertemu, dan seperti menyalurkan sesuatu diluar kendali mereka. Wajah mereka saling mendekati satu sama lain.


Bersambung.....


Maaf kalau banyak typo ya...